
Keesokan harinya.
Siang itu Pak Sugeng di temani beberapa warga dusun Rahayu, yaitu Pak kumis, Pak Rojak dan Pak Kohim mulai mencari kembali keberadaan pak Anton. Namun, sudah berjam-jam mereka mencari dan menelusuri Area jalan perhutanan tetap saja hasilnya nihil, Pak Anton tidak di temukan.
"Bagai mana ini Pak Sugeng. Jejak pak Anton sama sekali tidak di temukan" ucap Pak Kohim.
"Jangan-jangan?"
"Jangan-jangan apa pa kumis?"
"Pak Anton di bawa hewan buas Pak"
"Ah gak mungkin pak kumis, Meskipun Dusun ini di bawah kaki gunung, jarang sekali ada hewan buas yang turun gunung" jelas Pak Sugeng.
"Iya nih, pak kumis. Saya yang tiap hari nyari rumput buat ternak, belum pernah ketemu hewan buas" ujar Pak Kohim.
"Ya sudah, sekarang kita cari lagi keberadaan Pak Anton" Jelas Pak Sugeng. Mereka terus mencari keberadaan Pak Anton. Berjam-jam sudah mereka mencari namun hasilnya masih sama.
"Bagaimana kalau kita ke Curug Ayu, mungkin Pak Anton lagi beristirahat di sana" saran Pak Rojak.
Sesampainya di Curug Ayu. Ternyata di sana tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Bagaimana ini pak sugeng, hari sudah mulai sore. Tapi, pak Anton belum kita temukan" ujar Pak Kumis.
"Ya sudah, sekarang kita balik saja, Mungkin Pak Anton sudah berada di rumah"
"Mudah-mudahan saja pak!" Sore itu mereka pun memutuskan untuk kembali ke dusun Rahayu. Namun, sesampainya di Dusun Rahayu.
"Bagaimana pak Sugeng, Apakah suami saya sudah ditemukan?" Tanya istri pak Anton yang memang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Belum Bu, sudah saya cari ke mana-mana. Tapi, suami ibu belum kami ketahui keberadaannya"
"Tolong Pak Sugeng, carikan suami saya. Saya sangat khawatir. Saya takut terjadi sesuatu dengan suami saya"
"Bagaimana, kalau kita cari di area hutan terlarang itu Pak Sugeng" ujar Pak Kohim. Pak Sugeng berpikir sejenak.
"Ya sudah, sekarang lebih baik ibu tunggu di rumah saja, biar kami yang mencari keberadaan Pak Anton"
"Terimakasih pak Sugeng!"
Hari mulai menjelang gelap. Dengan penerangan seadanya mereka terus mencari keberadaan pak Anton.
Menit-menit pun berlalu.
"Pak Sugeng saya mau nanya?" Ucap Pak Kohim.
__ADS_1
"Mau nanya apa him?"
"Saya kan baru jadi warga dusun Rahayu. Memangnya ada sejarah apa sih Pak dengan hutan terlarang itu?"
"Buat warga dusun Rahayu asli mah, sudah enggak aneh him"
"Maksudnya Pak Sugeng?"
"Him, di sana itu sebenarnya bukan hutang terlarang" celetuk Pak Rojak.
"Lantas, kalau bukan hutan terlarang, terus apa Jak ?"
"Di sana itu, cuma dusun kosong. Dusun yang tidak berpenghuni"
"Lah, kok bisa gak berpenghuni?"
"Cerita nya panjang him, disebut hutan terlarang hanya untuk menakuti anak anak saja agar jangan main terlalu jauh. Sekarang kita fokus saja dulu nyari Pak Anton" ujar Pak Sugeng. Namun, Mereka yang sedang mencari keberadaan Pak Anton benar-benar Di buat kaget saat hendak menuju hutan terlarang. Mereka melihat ada ceceran darah yang sudah mengering dari area semak-semak.
"Pak Sugeng, ini daerah siapa?" Tanya Pak Rojak.
"Mungkin ini darah babi hutan yang diburu oleh warga dusun lain" Ujar Pak Kohim.
"Him, di sekitar sini hanya ada dusun kita. dusun Rahayu. Dusun tetangga jaraknya lumayan jauh. Masa berburu babi hutan sampai ke sini-sini" celetuk Pak kumis.
"Sudah sudah, yang penting kita harus cari tahu ini darah siapa" ujar Pak Sugeng. Baru saja mereka menelusuri jalan, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan temuan yang membuat mereka mual dan muntah. Mereka menemukan usus dan jantung yang sudah dikerubungi lalat
"Jangan-jangan ini organ tubuh Pak Anton?"
"Jangan berburuk sangka, sebaiknya kita pastikan terlebih dahulu" Jelas Pak Sugeng. Namun, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan temuan yang menjijikan.
"Pak Sugeng ini potongan kaki siapa?"
"Pak Sugeng ada potongan tangan Juga di sini!" Ujar Pak Rojak.
"Apa mungkin ini bagian tubuh Pak Anton?" Tanya Pak Sugeng.
"Mungkin Pak Anton di mangsa hewan buas. Sampai sampai hanya meninggalkan bagian ini saja" ujar Pak kumis.
" Ya sudah, jangan dilanjutkan lagi pencariannya. sekarang kita sudah menemukan titik terang keberadaan Pak Anton."
"Tapi pak Sugeng, kira-kira siapa yang sudah membuat pak Anton seperti ini?"
"Mungkin ini hanya hewan buas yang benar-benar lapar dan turun gunung, Jak. Sekarang kalian bawa potongan tubuh ini untuk memastikan apakah benar ini anggota tubuh pak Anton atau bukan!" Jelas Pak Sugeng.
Sesampainya di Dusun Rahayu, istri dari Pak Anton langsung histeris setelah melihat apa yang di bawa oleh Pak Sugeng
__ADS_1
"Sabar Bu. Semua sudah ada jalannya. Mungkin ini takdir dari pak Anton"
"Kenapa bisa seperti ini pak. Suami saya salah apa?"
"Kalau boleh saya tahu, apakah ada saudara pak Anton di luar dusun atau di kota, Bu?"
"Suami saya pernah cerita, dia hanya punya seorang kakak. Tapi, dia gak pernah cerita kakaknya itu tinggalnya di mana"
"Ya sudah Bu. Ibu harap bersabar, Sekarang waktunya kita kebumikan bagian tubuh suami ibu. Kalau nanti ada saudara dari suami ibu mencarinya, ceritakan aja apa yang sebenarnya terjadi" Ujar Pak Sugeng.
"Iya pak, sebelumnya saya ucapkan terimakasih sudah di terima tinggal di dusun ini. Walaupun saya termasuk warga baru, saya benar-benar ucapkan terimakasih. Besok atau lusa saya ijin pamit meninggalkan dusun ini"
"Memangnya ibu mau kemana?"
"Saya mau merantau ke kota agar bisa melupakan kejadian ini. saya harap Pak Sugeng mengerti dengan kondisi saya"
"Kalau itu keputusan Ibu, saya sebagai kepala dusun tidak bisa melarang. saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Ibu dan untuk sementara, jangan ada yang mencari pakan ternak atau keluar dusun seorang diri. Kemungkinan masih ada hewan buas yang sedang kelaparan."
***
Keesokan harinya.
Siang itu Silvi sedang duduk santai di teras rumah.
"Teh hangatnya, Non!"
"Makasih Mbok. Oh, ya. Silvi mau nanya Mbok. Mbok tahu tentang dusun Lengger ?"
"Memang kenapa, Non?"
"Kemarin Silvi sama Denis mampir ke dusun Rahayu. Tapi, kita berdua salah ambil jalan dan gak sengaja masuk ke salah satu dusun gak berpenghuni. Dan dusun Itu bertuliskan dusun Lengger"
Mendengar pertanyaan Silvi, Mbok Mirna seakan-akan bingung dan harus menjawab apa.
"Mbok kurang tahu non. Ya sudah Mbok mau masak dulu"
"Si Mbok kenapa ya?" Tanya Hati Sisil. Silvi pun segera menelpon Denis.
"Hello, den. Loe lagi dimana?"
"Gue lagi di rumah si Mocil, Sil. Lagi maen Ps sama si David."
"Loe bisa antar gue gak?"
"Kemana, Sil?"
__ADS_1
"Ke rumah Bu Sri!" Jawab Silvi.