DUSUN RAHAYU

DUSUN RAHAYU
BAB 8


__ADS_3

Silvi dan Denis benar benar heran, kenapa ada seorang nenek nenek tua berani tinggal di dusun yang tak berpenghuni. Untuk di lihat saja sangat menyeramkan apa lagi untuk di tinggali.


"Nek, kami antarnya sampai di sini saja ya?" Ujar Denis. Nenek tua itu menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah mereka berdua sambil tersenyum.


"Jangan takut, Nak. Nenek bukan setan. Nenek juga manusia, sama seperti kalian"


"Tapi, Nek. Ini dusun sangat sepi"


"Memang, dusun ini sudah lama tak berpenghuni, jadi memang sepi"


"Banyak setannya dong, Nek"


"Jangan ngomong sembarangan, Den. Maaf ya, Nek. Teman saya memang suka ngawur kalau bicara" ucap Silvi.


"Engga apa-apa, Nak"


"Tapi, Nenek berani tinggal sendirian di dusun ini?" Tanya Denis.


"Nenek tinggal dengan anak Nenek. Jadi, gimana. Kalian mau mampir ke rumah Nenek dulu?"


"Iya, Nek. Kami mau mampir kok!" Jawab Silvi.


"Yasudah, kita lanjutkan lagi perjalannya. Rumah Nenek dikit lagi sampai" Dengan terpaksa Denis mengikuti keinginan Silvi untuk mampir kerumah Nenek tua itu.


"Apek benar nasib gua" keluh hati Denis.


Menit demi menit pun berlalu. Akhirnya mereka sampai di rumah Nenek tua itu. Rumah nenek tua itu seperti rumah warga yang lain, terbuat dari anyaman bambu.


"Silahkan masuk, Nak!" Nenek tua itu pun mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


"Yakin Sil, kita masuk?" Denis dan Silvi cemas.


"Sebenarnya gue juga takut, den"


"Lagian, kan gue bilang, nganterin sampai di ujung jalan yang tadi"


"Iya, tapi kan gue gak enak sama Nenek itu. Kasian kalau di tinggal sendiri" ujar Silvi. Mereka berdua hanya berdiam diri di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Kenapa, kalian takut?" Tanya Nenek tua itu dari dalam rumah.


"Iya, nek sebentar. Kami lepas sepatu dulu"


"Gak perlu, Nak. Pakai saja sepatunya"


"Gimana, Sil. Loe aja deh yang masuk, gue nunggu di luar"


"Gak ah, gue gak berani. Ayo masuk temenin gue. Gak enak sama si Nenek" dengan terpaksa akhirnya mereka berdua pun masuk kedalam rumah nenek tua itu.


Sesampainya di dalam rumah nenek tua itu. Ternyata tidak semengerikan apa yang mereka bayangkan. Rumah Nenek tua itu benar benar terawat.


"Sil, si nenek nya kemana?"


"Di dapur kali, Den" jawab Silvi. Silvi pun bergegas pergi menuju dapur dan mengintip dari balik pintu.


Dia melihat Nenek tua itu sedang menuangkan dua gelas air teh hangat untuk mereka.


"Kenapa, Nak. Duduk saja dulu."


"Iya nek, iya" jawab Silvi gugup. Sambil menunggu, Silvi dan Denis terus memperhatikan suasana rumah Nenek tua itu.


"Hus, kalau di denger sama si nenek gak enak, den"


"Tadi, si nenek bilang tinggal sama anaknya. Anaknya mana ya?"


"Mungkin lagi keluar kali, den" ujar Silvi. Nenek tua itu datang menghampiri mereka sambil membawa teh hangat dan sepiring singkong kukus.


"Di minum dulu, Nak?" Denis dan Silvi saling bertatapan muka. Seolah-olah mengisyaratkan siapa dulu yang mau minum dan mencicipi singkong pemberian si Nenek.


"Kenapa, kalian masih merasa takut?"


"Maaf Nek, Kalau boleh tahu. Nenek kok berani tinggal di dusun ini?"


"Nenek, sudah cinta dengan dusun ini. Berat untuk nenek meninggalkan nya. Di dusun ini banyak kenangan yang harus di jaga"


"Kalau kami boleh tahu. Nama Nenek siapa ya?"

__ADS_1


"Panggil aja Mbok Ayu, Nak"


"Oh iya, Mbok Ayu. ngomong-ngomong dimana anak Mbok?" tanya Silvi. Tiba-tiba, terdengar suara yang begitu keras dari balik salah satu kamar milik rumah nenek tua itu.


"Gebruk!" Suara pukulan pintu.


"Suara apa itu, Mbok!"


"Tenang, saja Nak. Bukan apa-apa!" Jelas si Nenek. Namun lagi-lagi terdengar suara keras dari dalam kamar itu. Nenek tua itu pun langsung menghampiri pintu itu.


"Diam!" Teriak si nenek. Dan seketika dari dalam kamar itu pun terasa hening.


Silvi dan Denis pun kaget dengan sikap Nenek tua itu.


"Ada apa, Mbok?" Tanya Silvi.


"Tenang saja, Nak. Silahkan minum saja teh nya. Mumpung masih hangat."


"Saya lagi puasa, Mbok!" Ujar Denis berbohong.


"Saya cicipi ya, Mbok. Singkongnya" ujar Silvi


"Silahkan, Nak." Silvi pun mengambil singkong rebus pemberian Nenek tua itu. Namun, di saat Silvi hendak mengambil singkong itu. Nenek tua itu melihat kalung yang di pakai oleh Silvi dan langsung memukul tangan Silvi yang sedang menggenggam singkong sampai-sampai singkong itu pun terjatuh.


"Kenapa, Mbok?"


"Lebih baik kalian pergi dari dusun ini"


"Tapi Mbok, saya belum mencicipi singkongnya"


"Gak perlu, Nak"


"Hayu, kita kita pergi. Firasat gue gak enak!" Bisik Denis.


"Sebelumnya terimakasih atas jamuan nya, Mbok"


"Sama-sama, Nak" Silvi dan Denis pun langsung pergi meninggalkan kediaman nenek tua itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya gue keluar juga dari dusun menyeramkan itu" Ujar Denis.


__ADS_2