
Waktu menunjukan pukul 19.30Wib. Mocil yang sudah tidak tahan ingin buang air kecil, memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.
Sesampainya di dalam dapur, Mocil berpapasan dengan istri Pak Sugeng yang sedang mendingin kan nasi yang sudah matang dengan kipas tradisional.
"Permisi Bu, saya mau numpang ke kamar mandi?" Ucap Mocil.
"Silahkan, Nak. Buka aja pintunya, kamar mandi ada di belakang rumah"
"Terimakasih, Bu" Mocil menghampiri pintu yang di maksud. Namun, setelah pintu itu dia buka, Mocil hanya berdiam diri di depan pintu. Istri Pak Sugeng merasa heran dan langsung menghampirinya.
"Kenapa, Nak?" Tanya istri Pak Sugeng.
"Bangun-bangun makan nasi sama mecin!" Ujar Mocil kaget.
"Ga jadi ke kamar mandinya, Nak?"
"Jadi, Bu. Tapi, ini beneran kamar mandinya ada diluar sana. Di luar sana kan gelap, Bu?" Tanya Mocil
"Iya, Nak. Kebetulan untuk kamar mandi memang belum terpasang lampu" istri Pak Sugeng lalu mengambil sebuah lampu pelita untuk Mocil.
"Pakai lampu pelita ini aja, Nak"
"Makasih, Bu. Biar saya pakai lampu senter dari handphone saya aja" Mocil mengambil handphone miliknya. Tapi.
"Aduh, kenapa mati di saat kondisi kayak gini, sih!" Keluh Mocil.
"Yasudah, Bu. Saya pinjam lampu pelita nya. Handphone saya mati" Istri Pak Sugeng mengambil kembali lampu pelita yang sudah dia taruh tadi.
"Ini Nak, lampunya. Kamar mandinya dari sini tinggal lurus aja" jelas istri Pak Sugeng.
Malam itu yang Mocil lihat di sekitar kanan dan kirinya hanya ada pepohonan singkong yang rimbun. Tak sesekali daun pohon singkong itu bergerak karena tiupan angin yang membuat buluk kuduk Mocil berdiri. Mocil benar benar merasa gelisah.
Sesampainya di kamar mandi.
__ADS_1
"Gini amat kamar mandinya, serem"
Kamar mandi itu terbuat dari anyaman bambu, tidak memiliki atap dan pintunya hanya terbuat dari sebilah seng tua, bila ingin membukanya cukup di geser. Karena sudah kebelet, Mocil langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengesampingkan rasa takutnya.
"Ah, leganya" ujar Mocil. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar mandi sebanyak tiga kali. Karena pintu kamar mandi tersebut dari sebilah seng tua, suaranya pun sangat nyaring terdengar.
"Siapa?" Tanya Mocil.
"Jangan bercanda, dong!" Ujar Mocil resah. Mocil pun bergegas menyelesaikan buang air kecilnya dengan terburu-buru. Namun saat hendak mau keluar dari dalam kamar mandi. Mocil di buat kaget. Di depan pintu sudah berdiri David yang sedang berdiri di hadapannya dengan menempelkan senter handphone di bawah dagunya. Dan terlihat jelas wajah David sangat menakutkan.
"Setaaaaaaannnnn!" Teriak Mocil. Mocil langsung Jongkok dan menutup kedua wajahnya.
"Tolong, Tan. Jangan makan saya. Saya masih perjaka!"
"Cil, Cil. Ini gue David" ucap David. Mocil memberanikan diri untuk membuka mata.
"****** loe. Bikin gue jantungan aja!"
Namun, baru saja mereka mau pergi meninggalkan kamar mandi, pintu yang terbuat dari seng itu terjatuh tertiup angin. Sontak David dan Mocil pun kaget dan langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di dalam rumah, David dan Mocil kembali duduk dan ikut membahas permasalahan untuk bahan KKN mereka nanti.
"Jadi kalau kami boleh tahu, larangan di dusun ini apa ya pak?" Tanya Silvi.
"Larangan di dusun jangan berkata kotor, jangan keluar di atas jam 19.00 malam. Dan jangan pernah pergi ke hutan terlarang itu"
"Lantas sekarang sudah mau jam 20.00 malam. Jadi kita kita gak di perbolehkan untuk pulang, Pak?" Tanya Denis.
"Iya, pak. Hari ini saya mau jemput ayah saya di bandara jam 22.00 malam" ujar David.
"Tenang aja, nanti bapak antar. Bapak juga mau jemput pak Siman." Ucap Pak Sugeng. Tiba-tiba.
"Assalamualaikum Pak Sugeng!" Ucap salah satu warga.
__ADS_1
"Waallaikumsalam, nah kebetulan, yang mau mengantarkan kalian sudah datang"
Malam itu mereka pun memutuskan untuk pulang
Dalam perjalanan pulang, Denis, Silvi, David dan Mocil di ingatkan kembali ketika tepat berada di jalan bercabang.
"Ingat ya, kalian di larang ke hutan terlarang. Kalau memang kalian nekat ke sana. Bapak dan warga dusun tidak mau bertanggung jawab apabila nantinya terjadi sesuatu" Jelas Pak Sugeng.
"Iya, Pak. Kita kita mengerti. Oh ya Pak, ini batu tapak tilas atau semacamnya, pak?" Tanya Denis.
"Bukan, ini hanya batu biasa. Batu ini hanya penanda saja. Kalau ada warga dusun yang sedang mencari kayu bakar agar tidak salah ambil jalan. Yasudah, kita lanjutkan jalan lagi, hari sudah semakin malam" jelas Pak Sugeng.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalannya.
Kali ini Mocil beruntung, karena di belakangnya masih ada satu warga dusun yang mengantarkan nya. Namun, tiba-tiba tali sepatu milik Mocil terlepas. Mocil berhenti sejenak dan jongkok untuk mengikat tali sepatu milik nya. Tapi, warga dusun yang berada di belakangnya terus berjalan dan mendahuluinya.
Setelah mengikat kembali tali sepatu, Mocil pun berdiri untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi, lagi-lagi Mocil terkejut, karena di hadapannya David sudah berdiri dengan lampu senter handphone di wajahnya seperti halnya waktu di kamar mandi.
"Setaaaaaaaaan!" Teriak Mocil.
"Ini gue Cil, David" sambil menenangkan Mocil yang sudah terlanjur panik.
"Ah ******, loe. Bikin gue mati berdiri aja!" Keluh Mocil. Mendengar teriakan Mocil. Pak Sugeng serta yang lainnya menghampiri mereka berdua.
"Kalian kenapa, terjadi sesuatu?" Tanya Pak Sugeng cemas.
"Engga pak, saya cuma kaget aja" ucap Mocil.
"Yaudah, kalau gitu kita jalan lagi" Ujar Pak Sugeng.
Menit demi menit pun berlalu. Akhirnya, mereka sampai juga di lokasi dimana kendaraan mereka di titipkan ke Pak Siman. Dan di sana pak Siman sudah tertidur pulas di gubuk tua itu.
Setelah mengucapkan terimakasih. Malam itu mereka pun pamit pulang.
__ADS_1