DUSUN RAHAYU

DUSUN RAHAYU
BAB 7


__ADS_3

Bu Sri hanya terdiam. Raut wajahnya menggambarkan seperti ada sesuatu peristiwa pilu yang dia rasakan.


"Kenapa, Bu Sri?" Tanya Silvi.


"Gak apa-apa, Sil. Oh, ya. Ibu mau ke perpustakaan dulu, ya?" Bu Sri langsung meninggalkannya. Saat itu Silvi merasa kebingungan akan sikap Bu Sri.


***


Keesokan harinya.


Silvi sedang berada di ruang tamu sambil menyusun kegiatan untuk KKN nanti. Mbok Mirna pun datang menghampirinya.


"Di minum dulu teh hangat nya, Non" Ucap Mbok Mirna.


"Iya, Mbok. Makasih" ujar Silvi. Namun di saat Mbok Mirna menaruh teh hangat itu, dia terdiam saat melihat proposal KKN yang berlokasi di dusun Lengger.


"Kenapa, Mbok?"


"Oh, gak apa-apa, Non" Mbok Mirna langsung mengambil proposal KKN itu.


"Mbok tahu, tentang dusun Lengger?" Tanya Silvi.


"Dapat dari mana, Non?"


"Dari perpustakaan kampus, Mbok."


"Mbok jadi teringat sesuatu" Mbok Mirna pun pergi menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu. Setelah kembali Mbok Mirna memberikan sebuah kalung untuk Silvi.


"Cantik banget kalungnya, terimakasih ya, Mbok." Mbok Mirna pun pergi meninggalkannya menuju dapur.


***


Siang itu Silvi sedang rebahan di atas ranjang tidurnya sambil memandangi langit-langit.


"Sebenarnya Ibu ada dimana?" Tanya hati Silvi.


Seketika itu juga terdengar suara klakson. Silvi bergegas keluar rumah. Dan suara klakson itu berasal dari kendaraan milik Denis.


Hari ini mereka berdua mau pergi ke dusun Rahayu untuk melakukan observasi ulang ke Dusun Rahayu.


"Jadi gak, Sil?"


"Kemana, den?"

__ADS_1


"Katanya mau ke dusun Rahayu?"


"Oh iya, gue lupa. Bentar ya gue ganti baju dulu!" Setelah persiapan selesai Silvi pun berpamitan dengan Mbok Mirna.


"Mbok, Silvi mau pergi dulu ya sama Denis"


"Mau kemana, Non?"


"Mau ke dusun rahayu, Mbok. Ada beberapa pertanyaan yang Silvi mau tanyakan ke Pak Sugeng!" Jelas Silvi.


"Pak Sugeng?" Tanya Mbok Mirna dengan mimik wajah yang serius.


"Iya, Mbok. Dia kepala dusun Rahayu!"


"Ya sudah, hati-hati. Jangan lupa banyak berdoa!"


"Iya, Mbok"


Siang itu Silvi dan Denis pun berangkat menuju dusun Rahayu dan karena perjalanan landai tanpa kemacetan, tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di jalan menuju lokasi Dusun Rahayu.


Denis memarkirkan kendaraanya dekat gubuk tua yang dahulu Pak Siman menunggu kendaraan mereka. Namun, di pertengahan jalan, dari kejauhan mereka berdua melihat ada seseorang yang sedang duduk beristirahat di pinggir jalan yang akan mereka lalui.


"Den, itu setan apa orang?" ucap Silvi.


"Ya orang, Sil. Paling warga dusun Rahayu lagi nyari kayu bakar" jawab Denis.


"Ada yang bisa saya bantu, Nek" tanya Silvi


"Nenek lagi istirahat saja, nak"


"Nenek, mau kemana. Kok, sendirian di tengah hutan gini?"


"Nenek lagi nyari kayu bakar, Nak"


"Biar saya bawakan ranting kayunya, Nek" ujar Denis.


"Gak usah, nak. Nanti merepotkan kalian"


"Kebetulan kita-kita mau ke dusun Rahayu, jadi biar sekalian Nenek saya anterin"


"Ya Saudah, kalau tidak merepotkan kalian" Denis langsung mengambil seikat kayu ranting milik Nenek itu dan melanjutkan perjalanan.


"Kalian ada perlu apa ke dusun Rahayu?"

__ADS_1


"Insyallah, kami mau melaksanakan KKN Nek, di dusun Rahayu" mendengar apa yang di katakan Silvi. Nenek tua itu pun menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa, Nek?" Tanya Silvi. Nenek tua itu langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum.


"Gak apa-apa, Nak. Ayo kita lanjutkan lagi perjalannya" ucap Nenek tua itu dengan nada datar yang membuat Silvi dan Denis merasa heran.


Sesampainya di persimpangan jalan yang menuju ke arah dusun Rahayu. Nenek tua itu mengambil jalan kanan menuju hutan terlarang yang di ceritakan Pak Sugeng.


"Nenek mau kemana?"


"Kalian tidak jadi ngantar Nenek Pulang?"


"Tapi, Nek. Dusun Rahayu jalannya lurus bukan ke arah sana!" Ujar Silvi.


"Rumah Nenek memang bukan di Dusun Rahayu, Nak!"


"Lantas rumah Nenek, dimana?"


"Rumah Nenek ada di ujung jalan sana, Nak!" Jelas Nenek tua itu.


"Tapi, Nek. Kata Pak Sugeng, di sana itu hutan terlarang " ungkap Denis.


"Kalian jangan percaya, di sini gak ada yang namanya hutan terlarang"


"Tapi, Nek!"


"Ya sudah den, lagi pula kita cuma sebentar aja nganterin Nenek ini pulang, kalau sudah sampai, kita langsung pergi"


"Terimakasih, Nak!" Ucap Nenek tua itu. Mereka pun melanjutkan perjalan menuju rumah Nenek tua itu dengan mengambil jalan yang di larang oleh Pak Sugeng.


"Masih jauh, Nek?"


"Dikit lagi sampai!"


Menit demi menit pun berlalu. Mereka pun hampir sampai di kediaman Nenek tua itu. Di Saat Silvi dan Denis mau memasuki perkampungan Nenek tua itu, Silvi sangat terkejut. Karena, dia melihat tulisan usang di sebuah gapura tua. Tulisan itu bertuliskan selamat datang di dusun Lengger.


"Ini dusun Lengger, Nek?"


"Iya, Nak. Nenek tinggal Disini" jelas Nenek tua itu. Mereka terus semakin dalam memasuki dusun Lengger. Mereka terus melewati rumah warga satu persatu. Tapi, anehnya rumah yang mereka lewati itu sudah rusak, terbengkalai dan bahkan banyak yang sudah di tutupi dedaunan liar.


"Sepi benar, Nek. Warga yang lain pada kemana, Nek" tanya Silvi.


"Warga yang lain sudah pada pergi, Nak"

__ADS_1


"Nenek, gak takut?"


"Kenapa harus takut, Nak."


__ADS_2