
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 Wib. Suara-suara hewan malam sudah mulai terdengar. Saat itu penerangan hanya dari senter yang di bawa oleh Pak Sugeng. Disisi lain, Mocil yang berada di paling belakang benar-benar sangat ketakutan.
Setelah melalui perjalanan yang cukup menguras tenaga. Denis, Silvi, David dan Mocil sampai di Dusun Rahayu.
"Mereka siapa, pak?" Tanya Denis.
"Tenang aja, mereka warga dusun" jelas Pak Sugeng.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Pak Sugeng.
"Tadinya kita bertiga mau menyusul Pak Sugeng"
"Kalian tenang aja, Oh ya ini anak-anak yang kemarin saya ceritakan. Mereka mau melakukan KKN di dusun ini" Jelas Pak Sugeng.
"Iya Pak, mohon bantuannya, Minggu depan kami berempat mau melaksanakan KKN di dusun ini. kalau sekarang kita-kita hanya mau survey lokasi dulu, Pak" Ujar Denis.
"Oh ya, Pak Sugeng sudah memberitahu larangan apa saja yang tidak boleh di lakukan di dusun kita ini?" Tanya salah satu warga.
"Itu nanti saja, sekarang kita antar mereka untuk istirahat terlebih dahulu"
"Lantas, Pak Siman kemana Pak?"
"Dia saya suruh nunggu kendaraan mereka!" Jelas Pak Sugeng
"Yasudah kalau gitu, mari jalan, hari sudah mulai gelap" ucap salah satu warga.
Denis, Silvi, David dan Mocil mulai memasuki Dusun Rahayu. Terlihat jelas rumah warga Dusun Rahayu masih terbuat dari anyaman bambu dan penerangan pun semua dari lampu bohlam kuning .
"Maaf pak Sugeng, sekarang baru jam 18.30 wib. kok, warga gak ada yang beraktifitas di luar rumah?" Tanya David.
"Para warga dusun disini memang seperti itu, saat menjelang malam, mereka hanya melakukan kegiatan di dalam rumah" jelas Pak Sugeng.
"Dusunnya sepi benar ya, Vid?" tanya Mocil resah.
"Kan, tadi sudah di jelasin sama, Pak Sugeng"
"Iya, gue juga tahu. Tapi, loe gak ngerasa ada yang aneh" ujar Mocil.
"Aneh, sih. kayak dusun hantu"
"Kalian ngomong apa, sih. Gak enak kalo di denger sama pak Sugeng." ucap Silvi.
"Iya, Sorry-sorry"
__ADS_1
Mereka terus berjalan melewati setiap rumah-rumah warga dusun Rahayu satu persatu dan saat itu Silvi benar-benar merasa heran, karena dia melihat setiap rumah terdapat sajen kemenyan dekat pintu rumah. Silvi enggan bertanya karena dia merasa takut.
Selang beberapa menit. Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung yang pagarnya pun masih terbuat dari anyaman bambu halnya seperti rumah warga dusun yang lain.
"Kami pulang dulu ya Pak Sugeng, nanti sejam lagi kita kita kemari lagi" ucap salah satu warga.
"Oh iya, terimakasih" ucap Pak Sugeng. Pak Sugeng langsung mempersilahkan Denis, Silvi, David dan Mocil untuk masuk kedalam rumah.
"Ini rumah siapa, Pak?"
"Ini rumah saya, silahkan masuk, jangan sungkan. anggap saja rumah sendiri" jelas Pak Sugeng.
Sesampainya di dalam rumah.
"Silahkan duduk, yah seperti ini kondisi rumah bapak" mereka pun langsung duduk di alas tikar.
"Makasih banyak pak, sudah mau menjamu kita-kita" jelas Denis.
"Bu, tolong ambilkan air 4 gelas" Pinta Pak Sugeng ke istrinya.
"Sebelumnya saya mau memperkenalkan ketiga rekan saya, Pak. Ini Silvi, David dan Mocil. insyallah kami hanya berempat saja yang akan melaksanakan KKN di dusun ini. Dan ini surat dari pihak kampus surat ijin untuk kami melakukan observasi" jelas Denis. Saat itu juga istri Pak Sugeng datang menghampiri mereka sambil membawa nampan berisikan air minum untuk mereka.
"Di minum dulu airnya, kalian kan habis berjalan jauh dan ini ada sedikit singkong rebus, silahkan kalian cicipi" ucap istri Pak Sugeng. Tanpa rasa canggung mereka berempat mulai meminum air pemberian istri Pak Sugeng dan mencicipi sajian singkong rebus buatan istri pak Sugeng.
"Sama-Sama neng" istri Pak Sugeng pun meninggalkan mereka menuju arah dapur.
"Kalau ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan tanya aja, jangan sungkan" ucap Pak Sugeng.
"Vid, keluarin buku. kalau perlu apa yang di jawab Pak Sugeng catat aja"
"Oke siap" ujar David. Denis pun mulai bertanya tanya mengenai dusun yang akan nanti mereka tinggali untuk melaksanakan KKN.
"Kalau boleh tahu, Pekerjaan utama warga di dusun ini apa ya, Pak?" Tanya Denis.
"Warga di dusun sini rata-rata semuanya petani, mulai dari tani padi, jagung, singkong bahkan sampai sayur sayuran"
"Kalau panen, hasilnya di jual kemana Pak, atau disini masih melakukan sistem barter untuk menjual hasil panennya?"
"Kalau panen, kami menjualnya ke kota melalui dusun tetangga. Karena, hanya dusun tetangga yang bisa di masuki kendaraan roda empat. Butuh waktu tempuh 7 jam kalau kalian ingin ke dusun tetangga"
"Lumayan jauh juga ya, apa warga dusun sini tidak pegal ngangkut hasil panennya, Pak?" tanya Silvi.
"Kalau panen, biasanya warga dusun ini nyewa kendaraan roda dua dari dusun tetangga, jadi para warga tidak terlalu capek"
__ADS_1
"Catat, Vid!" ujar Denis.
"Ok, siap!"
"Kalau hasil panen, Pak. Misalnya jagung, apa semuanya di jual atau di olah lagi sama warga dusun sini?"
"Rata-rata sih di jual!"
"Catat lagi, Vid"
"Oke, siap!"
"Lantas, untuk masalah air di dusun ini bagai mana pak?"
"Kalau masalah air. insyallah Disini air sumur tercukupi, yah hanya saja Disini masih manual menggunakan tali"
"Kalau itu nanti bisa kami usahakan pak. Nanti kita kita bisa bawakan mesin air, jadi para warga dusun ini gak perlu capek-capek lagi buat ngambil air sumur"
"Jangan repot-repot, Nak. Kalian datang ke dusun ini aja saya sudah senang. Karena, terakhir kali ada tamu datang ke dusun ini, mungkin 30 tahun yang lalu"
"Seriusan, Pak? memangnya dusun ini dilarang di kunjungi atau memang jarang ada yang tahu tentang lokasinya?"
"Dusun ini letaknya memang terpencil, jadi jarang ada yang tahu, lagi pula kepala keluarga di dusun ini bisa di hitung pakai jari. Yah, kurang lebih ada 20 kepala keluarga. Untuk listrik aja baru 2 tahun masuk ke dusun ini"
"Sebelum ada listrik, penerangan dusun ini pakai apa, Pak?" tanya Denis.
"Biasanya untuk penerangan warga dusun ini menggunakan pelita atau pun obor" Jelas Pak Sugeng.
"Catat lagi, Vid"
"Oke, siap!"
"Sil, loe ada yang mau di tanyain gak?" ujar Denis. Silvi terdiam sejenak.
"Ada gak, Sil?"
"Saya mau nanya pak. Tadi kan ada warga dusun ini yang bilang larangan apa saja yang dilarang di dusun ini, kalau boleh tahu apa saja ya, Pak?" tanya Silvi.
"Kamu kenapa, Nak? kayaknya gelisah banget?" potong Pak Sugeng.
"Saya kebelet, Pak. Boleh minta ijin ke kamar mandi?"
"Kamu ke dapur aja, nanti tinggal lurus"
__ADS_1
"Makasih, Pak" ujar Mocil. Mocil langsung bergegas pergi menuju kamar mandi.