EasY On ME

EasY On ME
Secret


__ADS_3

Flashback


“Aish sialan pake acara bocor segala lagi”. Umpat gue dan Akhirnya Gue memilih meninggalkan mobil gue dan bejalan ke jalan besar cari taxi. ****, udah capek seharian kerja ini mobil pake acara bocor segala. Merusak suasana hati gue aja". Umpat gue sambil terus berjalan ke jalan besar dan menelepon montir langganan gue.


“Pak ke Hybe Green Village ya”. Si sopir taxi diam aja. Sombong amat nih Bapak-bapak. Gue terus mencoba menelepon montir langganan gue untuk jemput mobil gue pagi besok, tapi nggak aktif, ah sudahlah besok aja gue telpon lagi. Lama-kelamaan kepala dan mata gue mulai berat sampai akhirnya gue tertidur.


Besoknya...


"Dimana ini? Aissh, ban**at siapa yang berani-beraninya ngelakuin ini ke gue. Woiii buka rantai gue. An**ng, siapa lo, kalau berani sini one by one. Pecundang lo, sini Anj**ng, ban***at”. Umpat gue mencoba membuka rantai.


“WOIII, SETANN, SINI LO, SIAPA LO HAH, BUKA RANTAI GUE, MAJU LO SINI, GUE NGGAK TAKUT”. Teriak gue semakin membesar dan Sekarang benar-benar nggak ada cara lagi, gue benar-benar terjebak disini.


Tengah malam.....


Tiba-tiba seseorang dengan pakaian serba merah datang, bahkan penutup wajahnya benar-benar menakutkan dia benar-benar seperti pembunuh berdarah dingin. Psycho.


“SIAPA LO, HAH, KALAU BERANI TUNJUKIN WAJAH LO, AYO BICARA SIAPA LO, BERANI-BERANINYA LO LAKUIN INI KE GUE, WOII LO DENGERIN GUE NGGAK SIH, LO BUDEK APA HAH, KALAU LO MAU UANG BILANG, GUE BISA NGASIH BERAPAPUN KE LO”. Teriak gue pada psycho itu. Dia hanya diam melihat gue marah-marah dan teriak-teriak seperti itu. Apakah dia sengaja tidak bersuara agar gue tidak mengetahui identitasnya. Ini memang sudah seringkali menjadi trik para pembunuh dan penculik sepertinya untuk berusaha menyembunyikan identitasnya.


“Akhhh, siapapun tolong gue, tolong lepasin gue”. Rintih gue dengan suara yang sudah mengecil.

__ADS_1


Tenggorokan gue benar-benar sakit, seharian gue teriak tapi apa. Hasilnya nihil. Emangnya dimana ini sampai tidak ada yang mendengar teriakan gue. Sekarang gimana nasib gue, gue kelaparan, gue haus seharian orang itu tidak memberi gue makan. Atau jangan-jangan dia ingin membunuh tanpa menyentuh gue. Apa benar orang itu ingin gue mati kedinginan dan kelaparan. Rantai ditangan dan pasung di Kaki gue benar-benar bikin badan gue kesakitan. Gue ngak bisa melakukan apapun saat ini.


Paginya saat gue bangun, gue lihat sepotong roti dan segelas air. Tangan gue juga dilepaskan tapi nggak dengan kaki gue. Ah, itu artinya orang itu tidak berniat membuat gue mati kelaparan. Tapi apa tujuannya. Apa yang diinginkannya dari gue. Ah sudahlah gue nggak mau mikirin itu dulu sekarang, setidaknya gue bisa mengisi perut dulu sekarang.


Lagi-lagi orang itu datang di tengah malam, bedanya malam ini dia memberikan gue Makanan yang lebih baik, ya sepiring nasi putih, hanya nasi tanpa lauk apapun, gue tetap makan makanan itu, gue bahkan nggak memikirkan apakah itu sudah diracun atau bagaimana. Orang itu hanya melihat gue makan dari kejauhan. Selesai gue makan, dia mulai mendekat, jujur saat ini gue mulai ketakutan.


“Si-siapa lo? Apa tujuan lo ngelakuin ini ke gue?”. Tanya gue memalingkan muka ke bawah dan dia masih tidak berbicara.


“Lo-lo mau uang gue, gue bakal kasih, apapun yang lo mau, gue bakal turutin, asal lo melepaskan gue”. Gue sudah tidak sabaran.


“HAHAHAAH, UANG? SAYA TIDAK MEMBUTUHKAN UANG BUSUKMU”. Dia mulai berbicara tapi ini bukan seperti suara orang yang berbicara langsung, apakah dia menggunakan sesuatu untuk menyamarkan suaranya.


“TERUS APA YANG LO MAU,HAH?”. Tanya gue yang mulai berteriak padanya. Gue kehabisan kesabaran.


"Anda bertanya apa yang saya mau kan?! Kalau gitu saya akan menjawabnya.


“SAYA”. Perlahan dia mengoreskan pisau kecil itu di paha kananku.


“AHHHH”. Teriakku saat tiba-tiba dia mengores kecil pahaku.

__ADS_1


“MAU”. Dan mulai menggores lengan kananku.


“BANG**AT, SAKIT, AHHHHH”. Teriakku semakin menggelegar karena kesakitan.


“NYAWAMU”. Dan dia mulai meletakkan ujung pisau itu di pipi kananku tapi dia tidak menorehnya.


“ PSIKOPAT GILA, GUE MOHON JANGAN LAKUIN ITU, JANGAN LUKAI PIPI GUE, CUKUP, CUKUP GUE MOHON”. Teriakku memohon padanya tapi dia tidak mendengar permohonanku dan mulai menoreh perlahan, Dia menggores wajahku sedikit tapi ini benar-benar dalam, gue bisa merasakan itu. Perih, sakit. Dan dia menekan luka dipipiku.


“AKHHHHHH, SIALAN, LEPASIN TANGAN KOTOR LO”. Teriak gue tepat didepan wajahnya dan gue ludahi topeng yang digunakannya.


PLAKK....


Dia menampar pipi gue yang barusan dilukainya. Psycho gila. Iihat saja saat gue ada kesempatan gue yang bakal bunuh lo. Dendam gue.


2 hari kemudian....


2 hari Psycho itu hanya memandangi dari jauh setiap malamnya. Dan ini tepat hari keempat gue dipasung dan dirantai. Dan dia hari ini datang di pagi hari. Psycho itu perlahan mulai mendekatiku. Setelah berada di depanku secara langsung dia menyuntikkan sesuatu di leherku. Dan tidak lama setelah itu kepala gue merasa berdenyut dan mata gue mulai gelap.


Saat gue bangun gue berada dalam mobil dan di daerah yang menurut gue daerah hutan. Gue lihat disekeliling gue hingga tak lama gue lihat psycho itu berada tidak jauh dari lokasi mobil yang saat ini gue tempati. Gue lihat psycho itu sedang menelepon seseorang, dan gue pikir ini adalah kesempatan gue untuk melarikan diri. Gue mencoba membuka pintu mobil dengan kondisi tangan gue terikat dibelakang tubuh dan syukurnya dengan susah payah gue berhasil keluar mobil itu dan berjalan perlahan agar tidak ketahuan. Selama gue berlari, gue tetap mencoba membuka ikatan tangan gue dan berhasil. Nahasnya psycho itu sadar pintu mobil terbuka dan mulai mengejar gue dan akhirnya gue tertangkap tapi karena saat itu situasi gue yang sudah bebas akhirnya gue bisa melawan psycho itu dan bisa membuatnya cidera, itu akan membuatnya sulit untuk mengejar gue. Gue berlari sekencang mungkin. Tapi tetap saja gue susah untuk kabur dan keluar dari sini karena hutan lebat ini benar-benar seperti labirin bagi gue.

__ADS_1


“Sialan tempat apa ini”. Umpat gue yang benar-benar sudah kehilangan akal dan mengacak-acak rambut gue.


“Akhh, kenapa bisa-bisanya dia nemuin gue di tempat ini”. Desis gue saat melihat psycho itu berada didepan gue. Gue tanpa pikir panjang menembakan pistol yang gue curi tadi ke paha kirinya dan gue akhirnya bisa kabur dengan lebih nyaman. Karena gue yakin psycho itu sedang kesakitan dan nggak kan bisa mengejar gue lagi.


__ADS_2