
Malam setelah penculikan Kay
“SHERRA”. Teriak gue pada Sherra yang sedang duduk manis di ruang tamu rumahnya.
“Hai Mira”. Ucapnya dengan nada bahagia lebih tepatnya berpura-pura bahagia.
“Ada apa lo kesini?”. Tanyanya mulai dingin dan kembali ke ekspresi datar.
“Apa yang bakal lo lakuin ke Kay?”. Tanya gue.
“Itu bukan urusan lo. Mending lo pergi dari sini”. Usirnya menatap tajam.
“Lo mau bunuh Kay?”.
“Gue bilang itu bukan urusan lo. Pergi”
“Sher, lo kenapa sih. Gue percaya Lo itu orang baik, jangan lakuin hal-hal kaya gini”. Gue memohon padanya.
“Pergi. Lo nggak kenal gue. Dan lo nggak tau gue yang sebenarnya”.
“Gue tau, kita tau lo baik. Gue bahkan masih ingat kebaikan lo. Awal mula gue kenal lo, gue yakin lo orang yang baik”. Ucap gue sambil berusaha menenangkan Sherra agar tidak menyakiti Kay dan orangtuanya.
Flashback
“LO”. Teriak kita bertiga serempak. Kami benar-benar tidak menyangka siapa yang ada di depan kami saat ini. Orang yang tidak kami duga-duga. Ya dia Sherra, sedang berada didalam mobilnya dengan tampilan yang sangat jauh berbeda dengan disekolah, yang terlihat seperi kutu buku yang culun dan polos. Tapi saat ini dia dengan tampilan seperti orang kaya yang amat kaya dan terlihat menakutkan dengan tatapan dinginnya. Bukan, kaya yang mewah dan glamor yang gue maksud, tapi kaya seperti seorang mafia pembunuh.
“Lo mau bawa kita kemana?”. Tanya gue mulai takut saat dia tidak menuju kerumah kami. Justru dia pergi ke tempat gelap dan menakutkan.
“Bermain”. Ucapnya singkat sambil terus melihat kedepan.
“Maksud lo apa. Lo jangan macam-macam ya sama kita”. Dan dia hanya diam sampai di suatu tempat dan turun dari mobil , dia pergi berjalan menuju suatu tempat dalam hutan. Apa ini. Apa ini rumah. Ditempat seram dan gelap seperti ini, ternyata ada rumah megah yang jauh dari kata seram.
“Apa kalian akan tetap diluar?”. Tanyanya menatap kami lama.
“Bibi, tolong makan malamnya”. Ucapnya beranjak pergi ke ruangan yang mungkin saja itu kamarnya.
“Silahkan masuk”. Ucap seseorang perempuan berumur 40an yang dipanggil Bibi oleh Sherra tadi.
“Duduk dulu, makan malam sedang disiapkan”. Ucap Bibi itu formal.
“Wah rumahnya besar sekali”. Ucap Poppy takjub.
“Silahkan minumannya”. Tawar Bibi itu.
“Terimakasih”. Ucap kami sungkan, namun setelah itu gue ngerasa mulai ngantuk dan akhirnya ketiduran.
“Bangun”. Seseorang berbicara dan gue buka mata dan melihat Sherra sedang duduk menatap kami.
“LO”. Teriakku.
“MAU LO APAIN KITA HAH”. Ucapku marah.
“Gue udah bilang tadi, bermain sama lo bertiga”. Ucapnya dengan senyum sinis.
“Jangan macam-macam ya lo”. Gue mulai takut saat dia mendekati Poppy yang masih pingsan dan gue masih berusaha menghentikan orang gila ini. Gue juga melihat tempat kita disekap sekarang benar-benar sangat menakutkan, penuh dengan botol-botol dengan bentuk janin, tapi gue nggak yakin. Nggak hanya itu tempat ini penuh dengan senjata tajam dan hal-hal yang mungkin digunakan pembunuh berantai. Apa jangan-jangan Sherra benar-benar pembunuh berantai.
“Bangun”. Sherra menampar Poppy yang masih tidak sadar, sampai akhirnya Poppy mulai sadar dan mengerang.
“Anjing, berani lo nampar Poppy”. Amarahku.
“Kenapa, lo marah gue nampar dia. Terus lo nggak masalah nampar gue di depan murid sekolahan”. Ucapnya mulai mendekatiku.
“Pembunuh”. Ucapku meludahi wajahnya dan terlihat matanya penuh amarah dan mengusap kasar wajahnya.
PLAK...
“Gue benci dengan orang yang menggangu ketenangan hidup gue”. Ucapnya pergi mendekati pisau-pisau pajangannya setelah menampar gue.
“Lihat, ini penentu hidup lo”. Ucapnya menghadapkan mata pisau ke leher gue.
“Ple-please, jangan, gu-gue minta maaf udah mempermaluin lo didepan sekolahan. Tolong jangan sakitin kita, kita bakal lakuin apapun yang lo mau untuk nebus kesalahan kita”. Ucap gue yang bergetar melihat pisau yang menempel dileher gue.
__ADS_1
“Apapun”. Ucapnya dengan smirknya.
“I-iya apapun”. Ucap gue mulai lega saat dia menjauhkan pisau itu dari gue.
“Oke, kalau gitu besok disekolah minta maaf ke semua orang yang lo lo dan lo bully dan ganggu. Permalukan diri kalian semalu-malunya. Gue benci pengganggu hidup orang lain. Mereka sama sekali nggak memiliki salah apapun pada kalian dan kalian tetap menganggu mereka. Itu hal yang paling gue benci. Dan satu hal lagi, mulai sekarang lo bertiga jadi anak panah gue”. Ucapnya mulai duduk .
“Ingat. Lo bertiga harus bersikap seperti biasa pada gue kalau di keramaian. Gue hanya bersikap baik didepan keramaian. Dan tentu saja berbeda dengan gue saat ini. Jadi jangan kalian berfikiran bahwa gue benar-benar baik. Paham lo bertiga”.
“Oke, kita bakalan ikutin kata-kata lo”. Ucap gue tanpa pikir panjang lagi dan tidak mau berurusan dengan psycho gila ini.Setelah cukup lama diam, Sherra mulai melepaskan ikatan kami.
“Ikut gue”. Ucapnya keluar ruangan itu dan kita hanya mengikutinya hingga dia berhenti di meja makan.
“Kenapa. Kalian tidak ingin makan?”. Tanyanya dan akhirnya kita duduk dan mencoba tetap tenang, walaupun saat ini gue sendiri merasa masih takut dengan Sherra. Kita mencoba makan dengan perasaan was-was.
“Hmm enak”. Ucap Popy keceplosan.
“Tentu saja. Itu daging manusia”. Ucap Sherra santai sambil terus menikmati makanannya dan mendengar itu kita kaget dan gue memuntahkan makanan dari mulut gue.
“Ma-ma-manusia?”. Tanya gue tak percaya.
“Kenapa, lo nggak percaya”. Tanyanya dingin.
“Kalau lo menikmati silahkan dimakan saja”. Ucapnya lagi-lagi terdengar biasa saja memakan daging manusia.
“Heh, itu tidak benar. Itu daging rusa”. Bibi datang membawa dessert untuk makanan penutup, sedangkan Sherra yang melihat kebodohan kami hanya tetap tenang dengan makanannya dan tersenyum miring menertawai kami.
Flashback End
“Nggak hanya itu Sher. Kita masih ingat dengan jelas saat lo nolongin kita waktu diamuk oleh Bokap. Dan lo juga nyelamatin Poppy yang waktu itu dalam bahaya. Lo yang laporin bokap kita ke polisi. Nggak sampe situ gue juga masih ingat waktu malam saat kami pulang kelas tambahan, kita diganggu sama laki-laki mesum itu dan gue masih ingat jelas waktu kita ketakutan lo malah ngetawain dan gue yakin itu juga senyum tulus lo yang pertamakali gue lihat. Dan ini lihat”. Ucap gue sambil melihatkan ke Sherra sebuah video.
“Ini lo kan?”. tanya gue pada Sherra yang sedang melihat video itu.
“Gue udah tau semuanya Sherra”. Ucap gue.
“Apa yang lo tau?”. Ucapnya mematung masih dengan ekspresi andalannya.
“Kebaikan lo pada kita bertiga. Lo nggak perlu tau dari siapa gue dapat video ini. Tapi lo udah banyak nolong gue, Poppy dan Chatrine”.
“Gue udah pernah bilang sama kalian, yang gue lakuin itu hanya untuk kebutuhan dendam gue. Agar kalian mau bantuin gue”. Ucap Sherra dengan mukanya yang mulai terlihat geram.
“Dan ingat satu hal ini. Saat kita dibuly habis-habisan disekolah karena penangkapan bokap kita. Lo ada untuk kita. Lo belain kita didepan mereka semua. Lo bahkan nenangin kita. Gue yakin saat itu bukan kebutuhan dendam Lo”.
"Kalau emang itu kebutuhan dendam lo. Kenapa lo nggak bersikap seperti ini waktu itu. Bukankah waktu itu hanya ada kita berempat tapi lo cerita dan nenangin kita seperti Sherra yang baik, Sherra yang kita kenal. Bukan seperti Sherra pendendam seperti ini. Lo nangis, dan gue yakin itu tangis lo yang lo tahan selama ini. Gue yakin lo kesepian,makanya lo bersikap kaya gini, iyakan. Tangisan lo, senyuman lo semuanya nggak pernah palsu dimata kita Sher”. Ucap gue menatap dalam Sherra yang juga sedang menatap gue.
“Hentikan kegilaan kalian. Ini gue yang sebenarnya. Itu semua yang asa didepan kalian hanya kepalsuan. Lo bertiga nggak usah sok mengenal gue apalagi sampai ngelarang gue lakuin ini semua. Lo nggak tau hidup gue lebih dalam. Sekarang pergi”. Ucap Sherra yang menatap tajam, dingin dan penuh kemarahan. Bisa kita lihat matanya yang menahan tangisan dan amarah yang bercampur, rahangnya yang mulai tegas yang menggambarkan dia meredam emosinya.
“Pergi gue bilang, sebelum gue hilang kesabaran”.
Flashback
Gue yang baru selesai membeli makanan, tidak sengaja melihat ketiga orang yang pernah mempermalukan gue masuk ke salah satu bar club.
“Aku segera pulang”. Gue menutup telepon dari Kak Inez dan mengikuti ketiga ***** itu.
"Oh, jadi ini yang mereka lakukan”. Gue tersenyum miring saat mengetahui apa yang mereka lakukan. Ini bisa gue jadiin kunci untuk ancam mereka agar ngikutin kemauan gue.
Seminggu kemudian....
Setelah rahasia ketiga orang itu terbongkar, gue mulai sering mengikuti mereka. dan kali ini, sepertinya memang jadwal mereka datang ka bar itu. Gue hanya membiarkan mereka bertiga masuk, dan gue hanya duduk diam di mobil yang gue kendarai sendiri. Tapi semakin lama gue makin penasaran apa yang mereka lakukan, pada akhirnya gue masuk kesana. Bar ini cukup besar dan gue juga susah mencari keberadaan Mira, Poppy, dan Chatrine. Dan tak lama gue lihat cewek yang pastinya itu adalah Chatrine berjalan sempoyongan, dan tak lama setelah itu ada 2 laki-laki yang sama mabuknya mengikuti Chatrine dari belakang.
Awalnya gue hanya membiarkan mereka untuk melakukan itu karena memang itu sudah hal yang biasa dilakukan pelacur. Akhirnya karena gue merasa yang terjadi itu adalah hal yang sudah biasa, gue memilih untuk keluar bar. Namun, gue melihat Poppy dan Mira yang setengah mabuk, terlihat kebinggungan dan panik. Mereka memeriksa semua ruangan di bar itu. Hah, gue rasa mereka berdua sedang mencari Chatrine. Dan pada akhirnya setelah hilang arah, mereka bisa menemukan ruangan Chatrine bersama 2 laki-laki tadi. Dan gue hanya diam diluar ruangan itu.
“LEPASIN”. Teriak yang gue yakini itu suara Poppy.
"AKKHH”. Lagi-lagi gue mendengar teriakan dan itu membuat gue menjadi tambah penasaran dengan yang terjadi. Gue melihat rambut Poppy yang ditarik oleh salah seorang pria mabuk itu. Sedangkan Chatrine yang mulai hilang kesadaran terbaring di sofa dengan pakaian setengah terbuka. Sedangkan Mira berusaha menahan laki-laki yang mau berbuat sesuatu padaa Chatrine.
“Hah, ada apa. Mereka menolak?!”. Gue heran sendiri melihat itu. Kenapa mereka menolak. Gue berjalan keluar bar dan pergi ke mobil. Gue mengambil masker dan topi dan menutupi diri agar identitas gue tidak diketahui. Tak lupa gue juga mengambil alat-alat yang gue gunain untuk beraksi, dan gue hanya mengambil sebilah pisau dan satu suntikan yang sudah gue isi cairan untuk bius dan sarung tangan untuk menutupi sidik jari gue. Dan gue kembali kedalam.
PLAK...PLAKK...
“Dasar pelacur lo. Jangan sok menolak gue. JALANG”. Amarah laki-laki itu.
__ADS_1
"ANJING”. Balas Mira meludahi salah satu pria yang sudah terjatuh.
Dan tak perlu menunggu lama, gue mulai beraksi dan masuk ruangan itu diam-diam. Gue mengeluarkan suntikan tadi dan menusukkannya ke laki-laki yang jatuh itu, hingga dia lemes. Dan laki-laki yang masih mencoba memperkosa Chatrine sama sekali tidak sadar apa yang gue lakuin ke temannya. Karena gue Cuma punya satu suntikan, akhirnya gue mengambil botol bir yang ada di ruangan itu dan memukul kepalanya. Laki-laki itu terjatuh diatas Chatrine dan gue menariknya hingga jatuh ke lantai. Tapi ternyata dia masih kuat untuk melawan gue. Gue yang sudah menguasai teknik berkelahi, tentu saja meladeninya. Tentu saja, dia kalah, laki-laki itu sudah mabuk ditambah lagi kepalanya yang terluka karena pukulan botol itu. Namun dia tidak menyerah begitu saja. Melihat dia yang begitu percaya diri untuk mengalahkan gue, akhirnya dengan senang hati, gue membenturkan kepalanya ke lantai. Dan gue hanya tersenyum bahagia dalam masker yang gue pakai.
“Aissh sialan”. Umpat gue pelan saat seseorang mencekik leher gue dengan lengannya. Dan Gue nggak ada pilihan lagi selain mengeluarkan pisau yang gue bawa.
“Akhh”. Ucapnya pelan dan gue yang sudah terlepas mendorongnya ke dinding.
“Lo, berani nyentuh gue”. Kesal gue dan memperdalam pisau yang sudah tertancap di dada kanannya. Gue mencabut pisau itu setelah laki-laki itu mulai jatuh lemas ke lantai.
“Ternyata, bius itu nggak mempan buat lo”. Bisik gue pada laki-laki yang sudah mulai kehilangan kesadaran.
“Rasain ini”. Ucap gue lagi pelan dan menikam lengannya yang sudah mencekik gue tadi. Dan setelah gue menyelesaikan kedua orang ini, gue bergegas keluar.
“TUNGGU”. Teriak Mira yang mencoba menyadarkan Chatrine. Tapi gue nggak menggubris dan tetap berjalan keluar.
Gue keluar dari bar dan duduk selama beberapa saat di mobil. Hingga tak lama Mira dan Poppy dalam keadaan berantakan keluar dengan membopong Chatrine yang masih tidak sadar.
Tentu setelah kejadian itu gue makin senang untuk mengikuti mereka bertiga. Setelah hampir 3 hari ketiga orang itu tidak keluar dari rumahnya kecuali saat sekolah saja. Yang gue tau mereka hanya dipanggil ke kantor polisi untuk memberi keterangan pada polisi terkait insiden malam itu. Dan gue sama sekali nggak peduli apapun yang mereka katakan ke polisi. Yang penting gue sudah bermain aman dan gue nggak bakal tertangkap karena hampir membunuh 2 bajingan gila itu. Toh, selama ini gue nggak pernah sama sekali dicurigai untuk hal-hal seperti itu.
Sore ini gue baru kembali dari rumah Kay dan Gue juga secara nggak sengaja melihat Mira yang marah-marah ditelpon. Gue menyuruh sopir gue berhenti dan gue nyamperin Mira. Tapi tidak secara langsung, gue hanya mendengar dari jauh, tidak terlalu jauh, jarak yang bisa membuat gue mendengar obrolan Mira dan bokapnya. Maybe.
“Pak, kita kesini”. Ucap gue melihatkan layar ponsel pada sopir gue.
“Tunggu disini Pak. Dan diam jangan mengatakan apapun”. Gue pun masuk kedalam perusahaan lebih tepatnya itu seperti tempat prostitusi tersembunyi, kalau gue lihat-lihat. Seperti biasa gue masuk dengan menutupi diri gue agar identitas gue nggak terbongkar.
“Eh siapa lo?”. Teriak seseorang pada gue.
“Gue mau ketemu boss lo”.
“Mau ngapain lo. Ada urusan apa lo?”. Tanyanya lagi.
“Itu bukan urusan lo. Ini urusan pribadi”.
“Oh gue tau. Lo salah satu wanitanya ya. Silahkan”. Ucapnya menertawakan gue.
“Dimana dia?”. Tanya gue to the point karena gue sudah muak.
“Diruangannya. Diatas”. Dan gue segera bergegas ke sana dengan senjata yang sudah gue sembunyikan.
Tok..tok..
“Masuk”. Ucap tua bangka itu pada gue.
“Eh, eh apa yang kamu lakukan”. Ucapnya kaget saat gue masuk dan mengunci pintu dari dalam.
“Saya dengar ruangan ini kedap suara”. Ucapku seakan-akan menggoda pria tua ini yang tak lain dan tak bukan adalah Bokap Mira.
“Tentu sayang”. Ucapnya seakan tergoda.
“Bagus”. Dan gue mulai mendekat ke arah pria tua itu, memeluknya dan dia balas memelukku. Diam-diam gue mengeluarkan suntikan yang sama yang gue gunain ke bajingan di bar itu.
“A-apa yang kamu lakukan”. Ucapnya kaget saat gue menusukkan jarum ke lehernya dan tak perlu waktu lama dia pingsan. Kesempatan ini gue gunain untuk mengikat pria tu bangka bau tanah ini.
“Lo, pria tua bangka. Bukannya bentar lagi lo mati dan lo berulah kaya gini. Hah, denger gue”. Ucap gue mendekatkan wajah gue yang tertutup ke hadapannya yang baru sadar.
“Lihat apa yang gue bawa”. Gue menunjukkan sebilah pisau ke hadapannya.
“Gue mau main sama lo sebentar”. Gue mengarahkan pisau itu dari dadanya dan mulai menjalankan pisau itu hingga ke arah bawah.
“Disini”. Gue memberhentikan pisau gue di dekat selangkangannya.
“A-apa yang mau anda lakukan”. Tanyanya panik, dan lebih tepatnya ketakutan.
“Kalau lo nggak berhentiin bisnis haram lo ini. Lo bakal kehilangan harta berharga lo ini. Dan jangan pernah lo gunain anak lo untuk bisnis sialan lo ini”. Ucap gue geram.
“Apa urusannya sama anda?”. Tanyanya yang masih ketakutan karena pisau yang berada di harta berharganya.
“Gue benci dengan siapapun yang menganggu jalan gue. Anak-anak lo itu berguna buat gue dan kalau lo nyakitin mereka, artinya lo menghambat permainan gue. Ini peringatan pertama dan terakhir buat lo. Dan gue nggak main-main dengan perkataan gue”. Gue menjauh dari pria tua ini dan keluar ruangan itu dengan membanting pintu.
Setelah itu, gue kembali ke mobil dan meminta sopir gue untuk menunggu beberapa saat sebelum pergi. Dan ternyata pria tua itu sudah lepas dari ikatan gue tadi, Gue yakin anal buahnya lah yang melepaskan ikatan itu. Terlihat dia keluar dari kantornya dengan keadaan yang marah dan emosi. Gue senang. Gue mengikuti pria tua bangka itu yang ternyata dia menuju kerumahnya. Gue melihat semua kejadian itu, hah ternyata dia masih tidak kapok dengan ancaman gue. Pada akhirnya gue harus melaporkan itu ke polisi, karena dia mencoba membunuh Poppy. Gue bisa tau karena, jujur gue sudah memasang kamera tersembunyi dirumah Mira dan itu memang adalah kejahatan, tapi ini untuk kebutuhan gue. Mau nggak mau, gue harus menyelamatkan Poppy yang sudah tergeletak, karena sekali lagi, gue butuh mereka.
__ADS_1
Flashback End