
Inez POV
Di kantor polisi akhirnya kami, aku dan Sean masuk ke ruang interogasi sebagai saksi atas kejadian yang menimpa Ammar, abang Kay, muridku.
“Bisakah saudari ceritakan kenapa saudari bisa berada disana dengan saudara Sean?”. Tanya detektif yang menginterogasi.
“Jadi hari ini saya baru dari rumah sakit melihat murid saya yang dirawat disana. Dan kebetulan Sean juga ada disana dan menawarkan mengantar saya pulang. Hanya saja karena saya merasa khawatir dengan Kay, yang juga murid saya setelah terjebak di hutan waktu camping kemarin saya menyuruh Sean untuk putar balik ke rumah Kay dan saat mendekati rumah Kay, kami melihat kakaknya Kay, Ammar dihadang dan dibawa pergi oleh dua orang dan akhirnya kami mengikuti mobil itu hingga sampai di TKP".
“Baik, bisakah saudari ceritakan, bagaimana kronologis kejadian itu?”. Tanya Detektif itu lagi.
“Awalnya saya hanya melihat kedua orang yang menghadang dan menyekap Ammar tadi dibayar seseorang berjubah merah dan bertopeng. Lalu kedua orang itu pergi dengan mobil yang sudah ada disana sebelumnya. Sedangkan Ammar yang kelihatannya baru sadar langsung keluar mobil dan diam-diam menarik jubah yang dipakai orang itu. Dan Ammar terlihat berusaha juga membuka topeng yang dipakai orang itu. Dan topeng ini benar-benar terbuka dan setelah itu terlihat bahwa saudara Ammar yang terkejut dan mereka mulai berbicara normal. Tapi saya tidak tau apa yang mereka bicarakan. Saat itu saya pikir mereka sudah mulai berdamai karena sama sekali tidak ada pertengkaran fisik. Dan saat itu juga Kami, Saya dan Sean mencoba menelepon Kelurga Ammar, dan juga polisi, sayangnya Disana tidak terdapat jaringan sehingga kami tidak bisa menelepon siapapun. Saat kami lengah sebentar, mereka terlihat sudah terlibat perkelahian fisik, mereka saling memukul yang pada akhirnya Ammar terpojok ke dasar jurang. Dan pria betopeng tadi sudah mengarahkan pistolnya ke kepala Ammar. Dan tanpa saya sadari ternyata saat itu Ammar juga sudah menusuk perut pria itu dengan sesuatu yang tidak jelas, tap bentuknya panjang seperti keris. Mungkin karena sudah kesakitan pria itu akhirnya menembak kepala Ammar dan akhirnya jatuh ke bawah di Sungai itu Pak”. Jelasku panjang lebar dan tentunya apa yang aku katakan adalah apa yang aku lihat. Tidak dikurangi maupun dilebihkan, itu sesuai fakta yang ada.
“Kenapa saudari Inez dan saudara Sean tidak mencoba menolong atau menghentikan kedua pihak?”. Kesekian kalinya detektif itu bertanya.
“Pak, saya tidak berani ikut campur dan turun tangan dalam peristiwa itu Pak. Mereka memiliki senjata, saya hanya takut jika saya dan Sean menghentikan mereka. Diantara kami bisa terluka Pak dan sangat sulit lagi nantinya kami untuk melaporkan kejadian ini. Apalagi itu didaerah yang sama sekali tidak ada orang, jika sampai ada korban jiwa lagi tentu akan lebih sulit untuk menemukan kami".
“Apakah saudari memiliki bukti atau rekaman terkait kejadian itu?”. Tanya Detektif lagi.
“Sejujurnya saya punya rekaman videonya Pak. Hanya saja saat Ammar terjatuh ke Sungai itu saya dan Sean hilang akal dan akhirnya memilih pergi turun ke bawah jurang dan menyusuri Sungai. Saat itu Sean sempat melihat Ammar terapung dan kami mencoba untuk meraihnya. Hanya saja arus yang terlalu besar menyeret Ammar dan saya juga sudah kehilangan kendali sempat terbawa arus juga Pak. Untungnya berhasil diselamatkan Sean. Tapi saya kehilangan Ponsel saya Pak. Setelah kejadian itu barulah kami menelepon pihak kepolisian dengan Ponsel Pria bertopeng itu”. Jelasku lagi.
“Ponsel pria bertopeng? Bagaimana bisa?”. Tanya detektif itu.
__ADS_1
“Saya hanya melihat ponselnya tergeletak disamping pria itu, jadi saya mengambil dan mencoba menghubungi polisi, saya juga tidak terlalu yakin apakah itu ponsel pria itu atau milik Ammar”.
“Lalu dimana ponsel itu?”
“Saya meletakkannya ditempat saya mengambilnya setelah saya menelpon polisi, dan sekarang saya tidak tau dimana letak ponsel itu".
“Bagaimana dengan ponsel saudara Sean?”. Pertanyaan yang kesekian kalinya.
“ Saya nggak tau Pak, hanya saja saat kejadian itu hanya ponsel saya yang merekam kejadian yang terjadi”. Jawabku juga untuk kesekian kalinya.
“Baik pernyataan Saudari kami terima. Terimakasih atas kerjasamanya”. Ucap Detektif itu
“Baik sama-sama Pak. Saya pamit dulu”.
“Yah, tadi sih saya juga sempat disuruh ketemu dulu sama 2 orang yang siang tadi itu, yang nyekap abangnya Key. Cuma untuk memastikan apakah emang itu orangnya. Soalnya wajah mereka tertangkap kamera mobil yang dipakai untuk menculik itu”. Jelasnya.
“Kalau boleh tau, ponsel kamu mana waktu kejadian itu?”.
“Ketinggalan dimobil. Kan gara-gara buru-buru biar nggak kehilangan jejak tadi akhirnya nggak sempat ngambil ponsel, udah saya jelasin ke Polisinya kok Buk”.
“Ya sudah kita kembali ke Rumah Sakit sekarang”. Ajakku pada Sean dan kami segera kembali ke rumah sakit dan disana aku lihat bahwa Autopsi Ammar baru saja selesai.
__ADS_1
“Kay”. Panggil Sean tiba-tiba pada Kay.
“Kenapa?”. Tanya Kay dengan matanya yang sembab.
“Gue mau ngasih tau sesuatu”. Ucap Sean yang membuat kami semua penasaran.
“Apa”. Balas Kay singkat.
“Tapi gue nggak yakin lo percaya sama gue atau nggak. Tapi yang pasti gue udah ngasih tau ini sama lo”.
“Bilang aja. Urusan percaya nggak percaya belakangan aja”. Ucap Kay yang sudah semakin serius.
“Jadi sebenarnya gue kenal sama pria itu. Pria yang mati itu gue sangat kenal sama dia. Dulu dia itu salah satu anggota geng motor gue sekarang. Nggak lama setelah gue gabung geng motor ini dia keluar. Gue nggak tau apa alasannya keluar dari geng, gue pikir dia benci dan marah dengan bergabungnya gue. Karena merasa bersalah akhirnya gue beraniin diri bertanya alasannya keluar. Dan dia bilang bahwa dia punya masalah internal sama gengnya karena salah paham dan dia di fitnah. Dan akhirnya daripada dia diusir, Dia sendiri dengan sukarela keluar geng”. Jelas Sean
“Terus, apa hubungannya sama peristiwa ini. Kalau lo mau bilang dia sebagai kenalan lo aja mending nggak usah deh”. Kay terlihat sangat kesal dan mungkin Kay marah.
“Yang mau gue bilangin itu. Orang yang fitnah dia itu Abang lo. Bang Ammar. Dia sakit hati Bang Ammar udah fitnah dia, sampai-sampai gengnya benci sama dia, Bang Ammar itu juga nggak hanya fitnah laki-laki itu di Gengnya aja tapi sampai ke tempat kerjanya. Bahkan laki-laki itu harus kehilangan pekerjaannya yang udah susah payah dia dapatkan. Dia diusir, dipermalukan, Bahkan Bang Ammar sampai berani rebut calon tunangannya. Bang Ammar hamilin wanita itu dan ninggalin dia. Cewe itu bunuh diri dan akhirnya laki-laki itu sakit hati sama Abang Lo”. Jelas Sean.
“A-apa, nggak, nggak mungkin Bang Ammar ngelakuin itu ke orang lain. Dia nggak akan pernah mungkin ngelakuin itu. Bang Ammar orang yang baik, dia sayang sama teman-temannya. Nggak mungkin. Itu pasti bohong kan”. Ucap Kay terkejut dan histeris. Gue dan Mira mencoba menenangkan Kay.
“Gue minta maaf Kay untuk ngomongin itu sekarang. Gue hanya ingin lo tau apa yang abang lo lakuin. Sampai-sampai laki-laki itu bisa senekat itu sama Abang lo dan keluarga lo”. Ucap Sean merasa bersalah.
__ADS_1
“Kenapa lo nggak hentiin dia. Lo ada disana saat kejadian. Kalau lo kenal orang itu kenapa lo nggak hentiin SE. KENAPA HAH. LO TAU DIA MAU NGELAKUIN ITU KE KELUARGA GUE TERUTAMA BANG AMMAR. KENAPA LO NGGAK COBA TAHAN DIA”. Ucap Kay yang awalnya lunak tiba-tiba teriak dan benar-benar marah. Kay melepaskan pegangan kami dan memukul-mukul Sean.
“Sorry Kay. Gue nggak tau dia bakalan ngelakuin itu. Udah hampir 6 bulan sejak dia keluar dari geng kita dan gue nggak pernah lagi lihat dia. Dia menghilang gitu aja. Nggak ada kabar berita darinya. Gue Cuma tau dia bilang gitu sama gue dan pergi ninggalin geng tanpa pamit. Sampai akhirnya tadi gue lihat dia lagi disana. Gue bisa lihat matanya penuh dendam. Dia megang senjata dan gue nggk bisa bantuin Abang lo. Karena orang itu juga bisa nekat bunuh gue dan juga Bu Inez. Mungkin lo bertanya-tanya kenapa dia mau cerita itu ke gue, padahal gue anak baru di geng motor itu. Jawabannya karena dia nggak mau kalau sampai gue bernasib sama kaya dia. Jadi gue benar-benar minta maaf sama lo Kay. Lo boleh benci gue. Lo boleh mukul gue. Silahkan. Ini juga memang salah gue karena nggak jujur sama lo tadi. Gue nggak sanggup cerita disaat kondisi lo yang syok tadi”. Ucap Sean, matanya merah menahan tangis, suaranya penuh penyesalan, dan terlihat raut wajah yang tidak pernah kami lihat sebelumnya.