
“Ingat ya, kalau mau kemana-mana harus ada yang mendampingi, kalian jangan ada yang bepergian sendirian. Sekarang silahkan bangun tenda sesuai dengan kelompok yang sudah dibagi di bis tadi”. Perintah Bu Inez.
“Baik Bu”. Ucap kami semua yang ada disana.
“Kalian bisa bangun tenda?”. Sean bertanya.
“Coba dulu”. Kay menjawab dengan jutek.
“Yaudah”. Sean ikut menjawab dengan jutek.
“Ih kalian berdua ini benar-benar ya, berantem mulu, ntar jodoh loh”. Aku menggoda mereka.
“WOII, udah buruan, jangan berantem sekarang, keburu malam nih”. Teriak Kak Mira yang sibuk dengan tenda.
“Eh iya kak, segera kesana”. Ucapku merasa kasihan melihat ketiga kakak itu kesusahan mendirikan tenda.
“Lo pegang sebelah sini Kay, Sher Lo tolong tahan ini ya”. Perintah Mira.
“Widih Mira, pintar juga lo”. Goda Kak Chatrine.
“Lah baru tau lo”. Kak Mira berpura-pura songgong.
“Nah, nah dikit lagi, ayok bisa”. Kak Poppy berusaha memberi semangat.
“Bacot banget deh lu, tolongin kek, nggak tepuk tangan aja lo disana”. Kesal Kak Mira dan Kak Chatrine.
“HA KAN, ANJIR LU POP”. Umpat Kak Mira kesal.
“Lah salah gue dimana nyet”. Ucap Kak Poppy dengan tampang tidak bersalah.
“Ya kakak kelamaan sih, kan roboh lagi tendanya”. Ucapku takut-takut salah kata, aku juga sedikit kesal.
“Hehe sorry ya, gue lihat-lihat kayanya kalian bisa berempat makanya gue Cuma bantu semangat”. Kak Poppy menyengir tanpa dosa.
“Butuh bantuan nggak?”. Tawar Sean tiba-tiba berada didaerah kami lagi.
“Bro, sini ntar dong”. Panggil Sean pada salah satu teman setendanya.
“Minggir deh kalian, daritadi riweh banget gue liat”. Sean menyela ditengah-tengah kami membuat kami semua terdorong ke tepi.
“Yaudah iya, lo yang paling hebat deh Tuan Sean”. Kay meledek Sean yang terlihat begitu percaya diri.
Malam hari....
“Perjalanan tadi melelahkan banget ya”. Ucap Kay yang berbaring di tenda dan aku yang sibuk mengunyah cemilan.
“Iya, jauh juga ternyata. Padahal kita berangkat jam 10 pagi tapi nyampe sini udah jam 3 aja, belum lagi jalan kedalam 20 menit”.
“Hooh, habis itu bangun tenda. Hadeuhh capek”. Kay pura-pura pingsan
“Tapi kan yang bangun tenda Sean”. Aku mencoba menggoda Kay.
“Ya tapi tetap awalnya kita juga yang coba mendirikan tenda tapi gagal”. Kay cemberut.
“KAY, SHER, SINI”. Teriak Kak Chatrine.
“Nih cobain masakan gue”. Tawar Kak Poppy saat kami sudah berada ditempat mereka.
“Makan malam kamu apa?”. Tanyaku pada Kay.
“Tadi mami buatin daging kambing panggang”. Ucap Kay sambil membuka tempat makannya.
“Gimana, enak nggak?”. Tanya Kak Poppy padaku saat aku memasukkan nasi goreng buatannya ke mulutku.
“Hmmm, enak banget kak”. Ucapku mengacungkan jempolku.
“Yess, pasti dong Poppy gitu loh, Chef yang bakalan mendobrak dunia permakanan”. Bangga Kak Poppy.
“Ye, ye serah lu, gue Cuma dukung doang”. Kak Chatrine terlihat sudah biasa dengan yang dilakukan Kak Poppy barusan.
“Habis ini acara apaan Kak biasanya?”. Tanyaku pada ketiga kakak ini karena mereka sudah punya pengalaman sebelum ini.
“Ya biasanya hari pertama ini malamnya Cuma duduk doang, belum api unggun sih. Paling cuma kaya pemberitahuan guru-guru atau cerita, main-main, gitu doang sih, karena kita kan pasti juga kelelahan”. Jelas Kak Mira.
“Besok pagi biasanya baru tuh cari-cari kayu bakar, cari persedian air, tapi disini air banyak kok, danau disini airnya jernih banget, tapi agak jauh 15 menit dari tempat kita”. Tambah Kak Chatrine.
Besoknya...
Aku bangun lebih dulu dibandingkan keempat orang ini, ya siapa lagi kalau bukan Kay, Kak Mira, Kak Poppy dan Kak Chatrine. Aku memilih keluar tenda untuk mencari udara segar. Tapi diluar masih sedikit gelap dan dingin. Jadi aku memakai mantel buluku dan membawa sebotol air minum karena kebiasaan pagiku setelah bangun tidur yaitu minum air.
“Se, kok kamu disini?”. Tanyaku kaget saat melihat Sean duduk sendirian dibawah pohon.
“Iya, kebetulan aja gue bangun cepat. Wajarlah gue agak risih gabung tidur bareng orang lain”.
“Tapi tidur kamu nyenyak kan?”. Tanyaku khawatir.
“Nyenyak sih, tapi ya gitu agak kurang nyaman aja sih”.
Sekitar hampir 20 menitan hanya aku dan Sean yang berada diluar tenda, sedangkan yang lain masih terlelap dialam mimpinya, mungkin kelelahan sisa kemarin.
“Pagiii”. Sapa Kay yang keluar tenda dengan muka bantalnya.
“Pagi juga Kay”. Ucapku tertawa melihat wajah Kay.
“Kok udah diluar aja Sher, berduaan lagi sama Sean”. Curiga Kay.
“Eh, eh, nggak ada apa-apa kok diantara kita. Kamu jangan cemburu Kay, aku nggak bakal nikung kamu kok”. Godaku Pada Kay.
“Lo tenang aja, gue nggak bakal kepincut sama siapapun kecuali lo”. Wajah seringai Sean muncul.
“Dih apaan sih lo, cowo mesum”. Kay bergidik jijik melihat ekspresi Sean.
“Ayo, ayoo sini ngumpul”. Tak lama Bu Inez keluar tenda dan menyuruh berkumpul
__ADS_1
“Oke pagi ini kita absen lagi ya, setelah itu sarapan pagi baru kita siap-siap cari kayu bakar, air pastinya, dan juga nanti setelah itu kita bakal menjelajahi tempat ini”. Setelah sarapan pagi, kami bersiap-siap melakukan kegiatan selanjutnya, yaitu mencari kayu bakar.
“Gue sama Sherra, cari air. Kalian berempat cari kayu bakar aja. Jauh kan danaunya, jadi gue sama Sherra aja".
“Lo mau buat teman gue capek, lo aja sendiri, ngapain ngajak-ngajak teman gue”. Ucap Kay sarkas sambil berkacak pinggang.
“Udah nggak papa, aku sama Sean aja”.
“Tapi Sherr”.
“Udah nggak papa santai aja. Aku yang nemani Sean. Kalian berempat aja, lagian kan kita butuh banyak kayu bakar jadi lebih butuh banyak orang”. Ucapku.
“Yaudah kalau gitu, kamu nemanin Sean aja ya. Nanti biar Sean sendiri yang ngangkat airnya. Dan lo, awas aja lo macam-macam sama Sherra”. Kay menatap tajam Sean
1 jam kemudian....
“Baik karena sekarang sudah terkumpul kayu bakar dan persediaan air, mari kita masak untuk makan siang”. Ajak Bu Inez.
“Oke Buk”. Semangat kami semua.
“Kay, bantu gue motong sayur sama bawangnya, Sherra tolong jagain tenda, banyak barang berharga gue dalamnya, itung-itung istirahat lo kan jalan jauh tadi, Mir masak nasi, Chat tolong lo potong baso ayamnya, Sean nyalain api unggun”. Perintah kak Poppy pada kami.
“Lo ngapain?”. Tanya Kak Mira pada Kak Poppy.
“Ya gue kan meracik bumbu dan masaknya”. Kak Poppy menyolot.
“Kak aku udah selesai motong sayur sama bawangnya nih”. Kataku pada Kak Poppy yang asik mencuci ayam.
“Yaudah tarok sana aja, lo istirahat dulu aja, ntar kalau gue butuh lo lagi gua panggil”.
“Tuh, dah nyala”. Sean menunjuk ke Api yang menyala dan meminum air lalu pergi ke tendanya.
“Bye, berasnya uda gue cuci, tuh tinggal nunggu mateng, semangat”. Goda Mira pada Poppy yang akan sibuk untuk masak untuk kami nanti.
“Noh, gue juga udah selesai motong basonya. Yang enak lo masak, jangan lo kasih racun”. Chatrine ikut menggoda lalu pergi meninggalkan Poppy.
“WOII, KURANGAJAR PADA LO SEMUA, TEMANI GUE KEK”. Teriak Poppy kesal.
Setelah makan siang...
“Gimana semuanya udah pada kenyang belum?”. Tanya Bu Inez
“Nggak kenyang lagi Bu, ini udah mau mati kekenyangan kayanya”. Ucap salah seseorang sambil memegangi perutnya.
“Oke, syukurlah kalau kalian puas makannya. Kalau gitu 10 menit lagi siap-siap kita bakal mulai jelajahi dan mulai permainanya, senternya dibawa, kalau bisa bawa jaket juga karena sore itu udah mulai dingin, dan pastiin yang benar-benar dibutuhkan dibawa ya. Siapapun yang bisa melewati berbagai tantangan nanti dan yang dulu nyampe sini bakalan ada hadiahnya”. Bu Inez mengingatkan.
“Gue bakalan dibelakang jaga kalian, lo Di depan Mir”. Suruh Sean pada Kak Mira.
“Hati-hati”. Sekali lagi Sean mengingatkan.
“Ini gimana caranya?”. Tanyaku pada mereka saat melihat ada dua jalan bercabang.
“Ya kita cari petunjuk dulu lah pastinya, mana jalan yang benarnya, kita nggak bisa ngasal”. Ucap Sean sibuk memperhatikan sekitar untuk mencari petunjuk.
“Sorry ya, dulu gue ngga pernah ikut beginian, kita selalu ditenda aja”. Ucap Kak Chatrine.
“Payah lu”. Ucap Sean.
“Aku rasa Kiri jalan yang benar”. Ucap Kay tiba-tiba.
“Kenapa lo yakin?”. Tanya Kak Poppy.
“Disini jalannya agak cerah gitu, lebih terbuka dan pohonnya juga lebih rindang gitu”. Ucap Kay menjelaskan.
“Yaudah deh kita coba dulu aja kesini, kalau salah ya balik lagi kesini”. Kak Mira mulai berjalan.
“Nah kan bener ini jalannya”. Teriak Kay girang saat tahu jalan yang dipilihnya benar.
“Tu ada pos”. Tunjuk Sean dan kami mulai berjalan ke arah pos itu.
“Oke silahkan kalian buka kunci gembok ini, dengan menjawab pertanyaan ini”. Kata salah satu penjaga pos itu.
“Apaan sih nih, bahasa mana ni, kagak ngerti gue”. Kak Mira mengeluh.
“Apaan sih?”. Tanya Sean ikut binggung.
“Bentar deh, ini kayanya bahasa panda. Kita butuh untuk mencocokkan angka sama hurufnya. Kalau udah dapat pasangan yang tepat kita bisa lakuin hitungan ini”. Ucap ku yang seakan-akan merasa ini adalah hal yang tidak terlalu susah.
“Ada yang bawa pena, atau alat tulis lain nggak?”. Tanyaku.
“Ni gue ada paku, lo tulis ditanah aja”. Ucap Kak Poppy memberikan paku itu padaku.
“Yess ketemuu, coba-coba”. Ucapku bahagia dan ternyata gemboknya berhasil terbuka dan kami bisa melewati pos 1.
“Capek nih gue”. Keluh Kak Mira.
“Nggak lo doang, kita juga capek”. Ucap Sean yang duduk sebentar.
“Udahlah kita istirahat dulu aja”. Ucap Kak Mira
“Iya, lagian masih ada 2 pos lagi yang harus kita lalui”. Ucapku mengiyakan keinginan kak Mira.
“Nah iya apalagi jalan ke satu pos 30 menit lebih, belum lagi kalau ada simpang-simpang kaya tadi, belum juga nanti di pos pake tantangan gitu. Malam nih kita nyampe”. Ucap Kak Poppy sambil berkaca dengan cermin kecil yang dibawanya.
“Udahlah yuk, kemalaman nanti kita”. Ajakku setelah beristirahat 7 menitan.
“Ya yokk”. Kay berdiri.
“Wahhhhh, parah ada lagi simpang disini”. Ucap Kay terperangah.
“Gimana nih, bakal lebih susah milih kita”. Ucapku cemberut.
“Yaudah gini aja kita bagi 2, karena gue laki-laki gentle mungkin lebih kuat, jadi nanti gue berdua selebihnya kalian berempat karena kalian cewe-cewe. Nanti yang jalannya bener kita saling hubungin aja biar yang salah jalan bisa nyusul ke jalan kelompok yang benar. Gimana”. Sean mengusulkan.
__ADS_1
“Yaudah terus siapa yang mau sama lo, kalau gue sih ogah, ntar lo buat yang nggak-nggak lagi?”. Ucap Kak Mira bergidik.
“Gue juga nggak lah”. Tolak Kay.
“Huftt, udah aku aja nemanin Sean”. Ucapku pasrah saat tidak ada yang mau dengan Sean.
"Yaudah Sher, yuk kita pergi. Hati-hati kalian. Hubungi gue kalau ada apa-apa”. Ucap Sean sambil menarik tangan ku ke jalur kiri, sedangkan mereka berempat jalur kanan”.
...----------------...
Key POV
Sudah hampir 20 menitan kami berjalan berempat setelah pisah jalan dengan Sean dan Sherra.
“AHHHHH”. Kak Chatrine teriak dan kami melihat apa yang terjadi di belakang dan kita sangat sangat syok melihat apa yang terjadi. Kak Chatrine diseret oleh orang berjubah itu kita sudah berusaha mengejar tapi mereka sudah terlalu jauh dan kami sudah kehilangan jejak.
“Mir, jadi sekarang gimana, gue takut, gue nggak bisa lagi lanjutin ini”. Tangis Kak Poppy pecah.
“Poppy, diem lo”. Ucap Kak Mira dingin.
“Kita harus segera pergi dari sini”. Ajakku yang sudah gemetaran.
“PERGI?PERGI LO BILANG HAH”. Amuk Kak Poppy padaku.
“Pop please”. Kak Mira juga terlihat frustasi.
“LO LIAT, CHATRINE DICULIK DAN LO DENGAN GAMPANGNYA BILANG KITA HARUS PERGI DARI SINI. LO GILA HAH, LO EGOIS KEY. KALAU LO MAU PERGI DARI SINI SILAHKAN LO PERGI SENDIRI. GUE BAKAL CARI CHATRINE SENDIRI”. Kak Poppy mengguncangkan badanku.
“POP, UDAH POP. LO DENGER GUE NGGAK. BERHENTI.LO NGGAK BISA KAYA GINI. LO PIKIR KEMARAHAN LO BISA BUAT KITA NEMUIN CHATRINE”. Kak Mira menarik Kak Poppy untuk berhenti mengguncang badanku.
“Pop, please, nggak lo doang yang kehilangan chatrine, kita juga sama disini. Nggak gini caranya Pop. Seharusnya lo denger dulu apa yang mau dibilang Kay. Apa yang dibilang Kay itu ada benarnya. Andai kata lo pergi cari Chatrine sendiri, yang ada lo bisa celaka, lo bisa dalam bahaya juga. Kalau kita balik ke camp kita bisa minta bantuan orang-orang yang ada disana”. Kak mira berusaha menahan kemarahannya pada Kak Poppy.
“Kak aku minta maaf atas perkataanku. Aku nggak bermaksud egois”. Aku tertunduk merasa bersalah bercampur rasa takut.
“Udah, nggak usah melow-melow. Sekarang kita harus lanjut jalan. Kita udah setengah jalan dan kita juga udah terlanjur menghadapi banyak hal dari tadi Jadi nggak ada alasan kita nyerah sekarang”. Ajak Kak Mira dan kami mulai lanjut berjalan mencari jalan menuju tenda.
“TOLONGG”. Lagi-lagi teriakkan diantara kami terdengar dan itu tak lain dan tak bukan adalah suara dari Kak Poppy. Aku dan Kak Mira melihat kak Poppy yang sudah tak sadarkan diri dan digendong oleh orang itu dan lagi-lagi kami tidak bisa mengejar kecepatan orang itu yang sudah hilang dalam sekejap. Bagaimana bisa orang itu menyusup diam-diam dan menarik mereka dengan mudahnya.
“Kak Mira”. Ucapku bergetar dan sudah mulai mengeluarkan air mata.
“Udah, udah lo tenang”. Kak Mira memelukku.
“Kita lanjut ke tenda lagi, sebelum hal-hal lain terjadi”. Kak Mira mulai menggenggam tanganku yang sudah bergetar dan dingin.
“Kak bukannya kita harus melewati 2 pos lagi. Tapi 1 pos saja kita nggak sampai-sampai daritadi”. Ucapku dengan suara yang masih ketakutan.
“Lo tunggu bentar disini. Gue lihat sini bentar. Lo jangan kemana-mana”.
“Ta-tapi Kak. Aku takut sendirian”.
“Bentaran aja”. Kak Mira meyakinkanku dan pergi melihat ke sisi kiri pohon. Tapi aku sudah menunggu lebih dari 5 menit dan Kak Mira belum juga kembali.
“Kak, Kak Mira, Kak jangan becanda. Kak please, aku takut Kak, jangan main-main Kak”. Ucapku sembari mencari keberadaan Kak Mira tapi aku sama sekali tidak menemukannya dan yang aku lihat hanya jejak sepatu yang ditarik. Apa jangan-jangan Kak Mira juga diculik orang itu. Ini semua salahku, karena kebencian orang itu padaku, dia ikut mencelakai teman-temanku.
Akhirnya aku pergi sendiri mencari jalan menuju tenda. Selama hampir satu jam lebih aku berjalan sendirian dan dengan rasa ketakutan. Aku coba terus mencari bantuan, semoga tuhan menolongku. Tapi aku hanya merasa daritadi berputar-putar saja didaerah ini.
“OH GEEZ, PLEASE HELP ME. PLEASEEEE”. Teriakku frustasi dan aku hanya diam berdiri selama beberapa menit. Aku nggak tau lagi apa yang aku pikirkan sekarang. Apa aku harus pasrah saja saat ini aku menjadi target selanjutnya dari peneror itu. Walaupun aku tau dari awal targetnya itu memang aku.
“Kay”. Aku merasa dipanggil dan aku merasa takut untuk melihat siapa yang ada dibelakangku.
“Kay”. Lagi-lagi orang itu memanggilku dan kali ini dia memegang bahuku.
“To-tolong jangan sakitin aku”. Ucapku terduduk.
“Kay, ini gue”. Ucap orang itu.
“Kak-Kak Mira. Kakak kemana aja tadi”. Ucapku menangis lagi dan memeluknya.
“Gue minta maaf Kay. Gue tiba-tiba kesasar tadi dan gue juga panik nyariin lo. Waktu gue kesasar tadi gue ketemu sama Sean dan Sherra. Mereka nggak jauh dari sini, gue nggak sengaja denger teriakkan tadi dan suaranya mirip lo. Akhirnya Sean nyuruh gue jemput lo kesini”.
“Yaudah kita langsung aja ke tempat mereka”. ucap Kak Mira menarik tanganku.
“Lo nggak perlu khawatir lagi, Poppy dan Chatrine berhasil diselamatin Sean dan Sherra dan mereka juga ada disana”. Ucap Kak Mira sambil terus sibuk mencari jalan menuju tempat Sean dan Sherra.
“Sher-Sherra”. Ucapku kaget saat melihat Sherra yang terbaring di tanah sambil berlumuran darah.
“Sean apa yang terjadi?”. Tanya Kak Mira kaget.
“Tadi Sherra baik-baik aja. Terus dimana Poppy Chatrine”. Kak Mira benar-benar terkejut dan bahkan matanya nggak berkedip melihat apa yang terjadi didepannya.
“Gue minta maaf. Orang bertopeng tadi ada disini dan dia coba nembak gue. Ta-tapi Sherra yang kena karena lindungi Gue”. Sean menangis dan ini pertama kali aku lihat dia sehancur itu.
“Terus, terus dimana saudara-saudara gue?”. Tanya Kak Mira lagi.
“Mereka udah ke tenda, gue nyuruh mereka cari bantuan”. Sean masih berusaha menghentikan pendarahan Sherra, sedangkan Aku hanya bisa menatap Sherra yang sudah setengah sadar dan Aku memegang tangannya.
“Terus kalau mereka kesasar gimana?”. Kak Mira mulai marah.
“Gue udah tau jalan dekat ke tenda dari sini dan gue juga udah arahin mereka. lo nggak usah khawatir, mereka bakalan aman”. Sean masih sibuk menahan agar darah Sherra tidak keluar lebih banyak lagi.
“Gue udah nelpon ambulance dan mereka pasti akan datang sebentar lagi”. Ucap Sean yang matanya merah karena menangis.
Tak lama Kak Poppy dan Kak Chatrine datang dengan Bu Inez dan beberapa petugas kesehatan.
“Tolong Minggir”. Kata salah satu petugas kesehatan itu.
“Kalian pergi aja ke tenda, tolong beresin barang-barang Sherra. Gue bakal ikut sama Bu Inez nganter Sherra ke Rumah Sakit. Gue bakalan kabari kalian nanti”. Ucap Sean mulai mengikuti Perawat yang menggotong Sherra dan kami berempat pergi ketenda diiringi dua orang pengawas.
“Bukannya, jalan masuk kesini jauh. Kok bisa mereka datang dengan cepat?”. Tanya Kak Poppy yang masih syok dengan kejadian-kejadian yang terjadi tadi.
“Jalan disini lebih dekat dengan jalan keluar dek. Disini juga lebih dekat ke tenda”. Ucap salah satu pengawas itu.
“Terus kenapa kita nggak lewat sini aja waktu dateng Pak?”. Tanya Kak Poppy lagi.
__ADS_1
“Karena biasanya jalan disini rawan, banyak jurang dan curam jadinya disini bahaya dilewatin. Disini juga banyak binatang buas Jalan ini udah ditutup, nggak tau kenapa kalian bisa ada disini”. Jelas Bu pengawas itu.