
“Nggak Sher. Aku nggak rela kalau kamu pergi gitu aja. Aku nggak mungkin lepasin kamu begitu saja. Nggak ini nggak boleh. Sherra kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap hidup, lihat dunia ini setelah semua yang kamu lakukan”. Ucapku pada diri sendiri. Cukup lama aku bergelut dengan pikiran dan perasaan ku sendiri. Dan sekitar 20 menit kemudian dokter keluar ruang operasi.
“Bagaimana dokter keadaan adek saya. operasinya bagaimana?”. Tanya Bu Inez pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi.
“Pasien beruntung, lukanya tidak mengenai urat sarafnya, kalau itu terjadi kemungkinan adik anda tidak bisa diselamatkan. Dan untuk saat ini operasinya berjalan lancar. Luka di bagian leher sangat sensitif dan sangat berbahaya. Dan untuk sekarang ini adik anda masih dalam kondisi yang cukup memprihatinkan dan kami akan terus memeriksanya dalam waktu 2x24 jam ini, semoga ada perkembangannya. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat”.
“Terimakasih Tuhan”. Bu inez menangis bahagia dan dipeluk oleh Mira. Sedangkan aku, hanya bisa merasa lega mendengar itu, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun dalam hati aku juga merasa itu berita yang cukup menenangkan.
Seminggu lamanya Sherra terbaring dirumah sakit dalam keadaan tidak sadar, atau bisa dibilang koma. Dan selama itu aku sama sekali tidak pernah masuk ke ruangannya dan hanya berdiam diri diluar ruangan. Aku masih belum memiliki keberanian yang kuat untuk menemui Sherra, walaupun Sherra sendiri tidak bisa berbicara padaku.
Dan seperti biasa hari ini aku datang ke rumah sakit lagi, menunggu diluar ruangan, hingga Kak Mira berteriak dari dalam ruangan. Aku yang panik langsung berdiri dan melihat ke pintu kaca.
“Sherra sadar”. Ucapku kaget. Melihat itu aku hanya bisa diam dan langsung bergegas pergi. Aku belum siap untuk menemui Sherra lagi dan lagi.
...----------------...
Sherra POV
Kepalaku sakit, sangat sakit. Aku merasa badanku yang kaku karena cukup lama tidak bergerak. Aku hanya melihat, saat aku bangun pandangan yang awalnya buram dan membayang mulai terasa jelas dan bersih. Aku lihat didepan mataku Kak Inez dan Dokter.
“Kak”. Aku memanggil lirih Kak Inez untuk memastikan apakah aku masih dunia.
“Iya dek”. Suara Kak Inez terdengar bergetar dan dia mengelus pipiku dengan lembut.
“Aku masih hidup?”. Tanyaku tidak percaya.
“Iya dek, kamu masih hidup”. Kak inez mulai memelukku.
“Saya permisi dulu. Mari”. Pamit dokter.
“Sayang kamu jangan mikirin yang aneh-aneh dulu sekarang ya. Fokus aja untuk pemulihan dan kesembuhan kamu oke”. Dan aku hanya mengangguk.
“Oh iya, Kakak mau pergi ketemu client dulu ya.”.
“Client?”. Tanyaku binggung.
“Iya client. Sekarang kan kakak udah kembali ambil alih perusahaan kita dek. Ini udah hampir 3 tahun loh”. Ucap Kak Inez terkikik.
“Mira, Pop, Chat. Saya titip Sherra”.
“Oke buk, eh kak”. Mira kebinggungan harus memanggil Kak Inez seperti apa.
“Sherra, lo kenapa sih?”. Tanya Mira padaku setelah Kak Inez pergi.
“Lo kenapa bisa ada disini. Gue pikir lo bakalan benci dan jijik sama gue setelah semua ini”. Ucapku to the point.
“Jijik. Benci. Pikiran lo ternyata dangkal juga ya. Lo ingat gue juga pernah jadi orang yang lebih menjijikan dari lo. Tapi, lo sama sekali kan nggak benci sama gue, justru lo semakin dekat dengan gue. Sher, nggak ada alasan buat gue untuk benci apalagi jijik sama lo, setelah apa yang udah lo lakuin buat kita. Mungkin lo nggak sadar, tapi secara langsung lo itu udah merubah hidup kita, ke arah yang lebih baik. Berkat lo juga kita keluar dari dunia yang haram itu. Dari diri dan kepribadian kita yang bar-bar dan jelek. Dan karena lo hanya merasa sakit hati ke keluarga Kay, terus ngelakuin hal-hal kaya gitu kita harus benci sama lo. Nggak, kita juga tau balas budi dan bagaimanapun juga lo kita bakal tetap nerima lo di hidup kita, sebagai teman, sahabat atau mungkin saudara”.
“Mira bener. Justru kita mau berterimakasih banyak sama lo. Kita tau kok lo itu adalah orang yang baik. Lo itu hanya buta karena dendam saat itu. Buktinya udah banyak. Lo itu Cuma berkilah doang kan, mengatakan hal-hal buruk ke kita, sok-sokan ngancam kita, padahal aslinya lo juga peduli kan sama kita”. Tambah Chatrine.
“Sok tau lo pada”. Ucapku masih dengan suara lirih karena heran dengan kepedean mereka.
__ADS_1
“Bukan sok tau. Kita udah lihat sendiri kok. Waktu di taman, gue yakin seratus persen, itu kepribadian lo sebenarnya, baik, lemah dan juga butuh sandaran. Gue yakin saat itu lo hanya kesepian kan. Semua cerita lo emang palsu, lo bilang lo sakit kanker dulu, tapi pada nyatanya lo benar-benar sakit. Mental lo yang sakit. Tapi tetap aja lo, semua cerita lo serasa nyata bagi kita. Tangisan lo gue tau itu air mata yang lo tahan selama ini. kalau ada apa-apa cerita ke kita, jangan lo pendam sendiri”. Poppy juga ikut menasehati dan aku hanya diam melamun dengan perkataan mereka semua.
“Gue udah pernah bilang, gue bantu kalian karena gua butuh kalian juga”. Ucapku mencoba berkilah lagi.
“Ssst, basi tau nggak. Lo nggak boleh banyak bohong lagi. Kita udah tau semuanya. Mulai sekarang lo yang bakal kita awasi”. Mira menutup mulutku agar tidak lanjut berbicara lagi.
“Kenapa lo?”. Tanyaku saat mereka tiba-tiba menyengir.
“Kita udah tanya ini sama Bu Inez, eh sama Kak Inez maksudnya. Dan dia mengizinkan, Cuma dia minta kita izin sama lo juga”. Ucap Poppy.
“Izin apaan?”. Tanyaku was-was.
“Kita boleh tinggal sama lo nggak. Dirumah lo yang dihutan itu”. Mira mencolek-colek lenganku.
“Apaan sih lo colek-colek. Najis. Nggak, gue nggak ngizinin”. Tolakku tanpa pikir panjang.
“Sher ayo...lah”. ucapan Mira terputus saat pintu terbuka.
“Kita lanjutin lagi nanti ya”. Dan mereka bertiga keluar dari ruanganku.
“Pergi lo”. Usirku dengan nada sinis.
“Gue mau ngomong”. Ucapnya serius.
“Cepat”. Ucapku dingin.
“Kenapa?”. Tanyanya dan aku hanya mengernyit heran dengannya.
“Kenapa lo nggak suka, lo sakit hati karena gue udah ngelakuin itu?!!”. Tanyaku balik.
“Lo pikir gue bakalan biarin lo mati kaya gitu aja, setelah semua rasa sakit dan kesedihan yang gue rasain”. Perkataannya barusan membuatku naik pitam.
“Apa lo bilang, rasa sakit? Kesedihan. Sadar nggak lo sama yang lo omongin barusan. itu belum seberapa. Lo nggak tau kan apa yang gue rasain, 10 tahun. lo bayangin 10 tahun gue nggak ngerasain kasih sayang orangtua gue, 10 tahun gue harus menderita, trauma, sakit, kesepian, semuanya. Dan lo bilang nggak terima. Lo pikir gue bisa tetap hidup dengan biarin orang yang hancurin hidup gue berkeliaran bebas diluar sini, tertawa, berbahagia dan menikmati segalanya yang mana itu harusnya milik gue dan orangtua gue”. Aku mulai emosi, nada bicaraku sudah mulai memberat dan mataku mulai marah, kepalaku sakit menahan tangis. Jujur kondisiku saat ini sangat tidak baik. Aku benar-benar merasakan sakit yang amat sangat dikepalaku.
“Pergi lo dari sini”. Usirku membuang muka.
“Gue belum selesai”.
“Gue nggak peduli, pergi lo dari sini sekarang”. Setiap kataku penuh penekanan.
“Udah Kay mending lo pergi dulu”. Mira masuk kembali ke ruanganku dan membawa Kay keluar.
...----------------...
Sebulan kemudian....
“Kak”. Ucapku memeluk Kak Sean.
“Dek, kamu baik-baik aja kan?”. Tanyanya khawatir.
"Kamu kenapa sih harus ngelakuin itu. Kamu mau ninggalin kakak”. Kak Sean cemberut.
__ADS_1
“Aku nggak bermaksud kak. Aku minta maaf udah buat kakak khawatir. Aku juga minta maaf karena baru bisa mengunjungi kakak sekarang”.
“Kakak ngambek deh”. Kak Sean mencoba bercanda agar situasi tidak terlalu serius.
"Kak aku janji, aku bakalan terus hidup, sampai kakak keluar dari sini. Aku nggak bakal lakuin hal-hal bodoh lagi. I’m promise”.
“Kakak percaya sama kamu. Dan Kak Inez, sehat selalu ya. Kakak harus jagain harta kita yang paling berharga ini”. ucap Kak Sean paa Kak Inez yang berada di sampingku.
“Pasti dong Se. Kamu juga harus selalu jaga kesehatan disini. Pura-pura bahagia aja disini, tapi kalau kamu benar-benar bahagia itu lebih baik. Kakak mau setelah keluar dari sini kamu bantu kakak ngurusin perusahaan. De morgan harus bangkit”. Ucap Kak Inez.
“Sampai ketemu lagi kak”. Ucapku mengakhiri percakapan dan kak Sean kembali dibawa ke sel dan kami pergi dari kantor polisi.
“Kak, kakak pergi duluan aja. Kakak ada survey kan”. Ucapku pada Kak Inez.
“Terus kamu?”. Tanya Kak Inez.
“Aku mau mampir dulu ke suatu tempat”.
“Kemana dekkk?”. Kak Inez panik, takut aku melakukan hal-hal bodoh lagi.
"Aku mau temuin orangtua Kay. Kakak nggak usah khawatir, aku baik-baik aja. Promise. Aku nggak akan berulah”. Ucapku dan untung saja Kak Inez berhasil aku bujuk setelah dia mencoba melarangku. Karena kak Inez takut aku tidak bisa menahan emosi melihat mereka.
Aku pergi mengunjungi orangtua Kay, setelah merenung cukup lama, akhirnya aku bertekad harus bertemu dengan mereka. saat ini aku sedang menunggu polisi di ruang kunjung menjemput kedua orangtua Kay.
“She-Sherra”. Kaget Papi Kay
“Apa kabar?”. Aku mencoba menghilangkan rasa marahku dan emosi pada mereka dan berusaha bersikap tenang.
“Kami baik nak”. Ucap Mami Kay.
“Syukur kalau gitu”. Ucapku singkat.
“Nak, kami minta maaf atas segalanya. Kami benar-benar menyesal melakukan itu. Jujur tante juga merasa nggak tenang setelah kejadian itu. Tante harus mengonsumsi obat penenang setelah kejadian itu. Tante benar-benar minta maaf”. Tiba-tiba Mami Kay berlutut dihadapanku.
“Lupain aja”. Ucapku.
“Aku kesini Cuma mau lihat keadaan kalian. Sekalian aku juga mau minta maaf untuk yang terjadi. Maaf karena udah memperlakukan kalian seperti itu, maaf karena aku melukai kalian dan meneror hidup kalian saat itu”. Ucapku masih dengan wajah datar.
“Kami sudah memaafkan kamu nak Sherra. Itu bukan salah kamu, wajar saja kalau kamu berbuat seperti, karena kami juga sudah membuat hidup kamu menderita. Ini sepenuhnya adalah salah kami. Kami nggak pernah dendam terhadap apa yang kamu lakuin ke kami. Kami ikhlas menerimanya”. Ucap Papi Kay.
“Nak, kenapa kamu menolak dengan hukuman kami?”. Mami Kay bertanya dengan takut.
“Lihat saya. apakah kalian juga mau anak kalian menjadi seperti saya. saya masih memegang kepercayaan orangtua saya. nyawa nggak harus dibayar dengan nyawa. Dan kehilangan juga nggak harus dibayar kehilangan. Kalian tau, aku hanya berharap orang seperti aku di dunia biar hanya tetap aku saja. Aku nggak mau kejadian yang sama terjadi. Aku tau rasanya kehilangan, aku tau rasanya nggak punya siapapun disisiku. Dan nggak aku nggak mau anak kalian merasakan apa yang aku rasakan selama ini. setidaknya kalian masih tetap hidup, Kay juga masih melihat kalian setiap hari kesini. Kay masih bisa merasakan sentuhan orangtuanya".
“Nak, kami yang buat kamu kaya gini. Orangtua kamu adalah orang baik, sangatttt baikk dan bahkan anaknya pun adalah orang baik. Jika saja kami tidak melakukan itu. Kamu pasti bisa menjadi orang yang bahagia saat ini”. ucap Papi Kay menggenggam tangganku.
“Itu udah masa lalu. Aku berusaha untuk memaafkan kalian dan melupakan semuanya. Memang benar, rasa marah itu tidak baik, jadi aku akan menghentikan semuanya sekarang. Kalian baik-baik disini. Aku pamit”. Ucapku langsung berdiri tapi Mami Kay menahan tanganku.
“Tunggu nak. Tante tau nggak seharusnya kami mengatakan ini ke kamu. Tante nggak pantas untuk meminta ini ke kamu. Tante harus mengatakan ini ke kamu. Bisakah kamu tolong tante, kabulkan satu permintaan tante”. Ucap Mami Kay menatapku dengan penuh harap dan aku hanya menatap balik tante itu seakan-akan bertanya apa yang bisa aku bantu.
“Rumah yang kami tempati sekarang sudah tidak bisa dihuni lagi, itu bukan hak kami lagi. Jadi , tante nggak tau bagaimana Kay, dimana dia akan tinggal. Tante mohon, bisakah kamu membiarkannya tinggal bersama kamu?”.
__ADS_1
“Aku akan memikirkannya”. Ucapku setelah terdiam cukup lama dan melepaskan tangan Mami Kay.