
“Gimana kamu udah merasa nyaman dengan kepulangan Abang kamu?”. Tanyaku pada Kay yang saat ini sedang sibuk memasukkan sim card barunya ke Handphone.
“Senang sih”. Jawabnya singkat dan tanpa menoleh kepadaku.
“Sih? Kok sih Kay?”. Tanyaku heran
“Ya aku senang kok sher Abangku selamat dan baik-baik aja, tapi aku kangen mami papi. Bahkan untuk terakhir kalinya aku nggak bisa lihat orangtua ku”. Keluh Kay dengan suara yang penuh kesedihan.
“Kay aku yakin kamu orang yang kuat. Kamu yang sabar ya. Semoga dengan kembalinya abang kamu, kamu bisa lebih baik-baik aja. Dan lagian sekarang kamu juga udah ganti nomor HP kan jadi aku yakin si peneror itu nggak akan pernah bisa gangguin kamu lagi”. Ucapku yang mencoba menghibur Kay
“Makasih ya Sher, kamu benar-benar teman aku yang paling baik. Padahal kita baru kenal tapi kamu baik banget sama aku”. Ucap Kay yang sudah mulai sedikit tersenyum.
“Seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu Kay, berkat kamu aku bisa merasakan yang namanya punya teman”. Balasku tersenyum kembali padanya.
Tak lama Sean datang ke tempat duduk ku dan Key
“Dah sembuh lo?”. Tanya Sean tanpa basa basi.
“Apa peduli lo”. Balas Kay jutek.
“Biasa aja sih gue, kok nyolot banget sih lo kalau ngomong, padahal gue nanya baik-baik”. Ucap Sean yang lebih terdengar seperti peduli.
“Baik-baik darimananya. Nggak pakai alamat lansung nyerocos aja lo”. Ungkap Kay dengan tatapan julid.
“Yaudah sih tinggal jawab aja kali”. Cerocos Sean lagi.
“Ya lo liat aja kali, gue udah masuk sekolah berarti gue udah sembuh. Itu aja kok repot”. Nada bicara Kay mulai kesal.
“Dih aneh lo”. Balas Sean yang langsung pergi ke tempat duduknya.
“Ekhemm, kayanya ada yang suka kamu nih”. Goda ku pada Kay.
__ADS_1
“Eh, eh apaan sih sher”. Balas Kay yang sepertinya tersipu malu
“Eh Sher kamu lihat nggak tadi si Sean ko jalan pincang gitu ya?”. Tanya Kay mengalihkan pembicaraan.
“Eh emang iya ya?”. Tanyaku dan Kay hanya mengangguk hingga akhirnya bel masuk mulai berbunyi. Aku dan Kay kembali fokus ke depan menunggu guru yang mengajar datang.
Istirahat pertama Kay pergi menghampiri sean dan memberikan sebungkus roti dan minuman kaleng pada Sean.
“Nih buat lo”. Kata Kay sambi menyodorkan kedua tangannya yang memegang roti dan minuman itu.
“Tumben baik, lo suka sama gue ya”. Goda Sean pada Kay sambil menaik-naikkan alisnya.
“Nggak usah kegeeran lo, udah ambil aja atau gue tarik kebaikan gue”. Ucap ky mencoba mengerjai Sean.
“Iya iya nih gue ambil, thanks”. Ucap Sean sembari mengambil makanan dan minuman itu dari tangan Kay sebelum Kay berubah pikiran.
“Btw kok lo tumben baik sama gue”. Tanya Sean yang masih penasaran pada Kay yang tiba-tiba memberinya makanan tadi.
“Ya nggak ada alasan sih, karena gue lihat kayanyo lo lagi cacat, eh maksud gue pincang. Kenapa lo?”. Tanya Kay yang seakan-akan menertawakan kondisi Sean, tapi Kay hanya bercanda aja kok,wkwk.
“Oh”. Ucap key singkat dan melenggang kembali ke kursinya.
“Udah gitu doang? Bentar amat baik lo ke gue”. Tanya Sean yang heran sama Kay yang kadang jutek, kadang nyebelin, dan ya nggak ketebak tuh anak.
Sedangkan aku yang melihat drama dua orang ini hanya bisa tersenyum geli dan sesekali aku menggoda Kay
"Kenapa dia Kay?". Tanyaku berbisik pada Kay agar tidak terdengar oleh Sean.
"Katanya sih jatuh dari motor". Ucap Kay ikut berbisik.
"Dia suka balapan ya, aduh kasihan mana masih muda udah suka hal-hal yang bahaya ya Kay". Candaku pada Kay.
__ADS_1
"Iya yah, kasihan banget masih muda suka ngelakuin hal yang nyakitin diri sendiri, gimana nanti besar coba". Ucap Kay membalas candaanku dan kami tertawa dengan lelucon kami barusan. Ya begitulah kami hal yang nggak lucu bagi orang lain, tapi lucu bagi kami. Aku menemukan teman sefrekuensi dengan ku dan aku benar-benar bahagia dan bersyukur untuk itu.
"Ngetawain apa kalian!?". Tanya Sean penasaran.
"Dia nggak tau kan kalau kita lagi gibahin dia". Tanya Key terkejut karena Sean yang tiba-tiba bertanya.
"Nggak tau juga aku Kay, kayanya nggak kedengaran deh, masa iya jarak segini bisa kedengaran, lagian kita bisik-bisik juga kan tadi". Ucapku harap-harap cemas, karena takut Sean mendengarkan pembicaraan kami tentang dia. Bisa-bisa Sean marah lagi.
"Woiii, Kalian dengerin gue ngomong kan". Tiba-tiba Sean berteriak ke telinga kami.
"Astaga Sean, Anjing Lepas, Anak Setan". Ucapku, Key, dan Sean berbarengan. Aku yang masih terkejut memegang dadaku dengan tangan, sedangkan Kay yang tiba-tiba ngomong anjing masih berdiri menahan amarah. Dan Sean yang keceplosan memanggil Kay anak setan saat ini meringis kesakitan karena Kay yang tiba-tiba berdiri dari kursinya dan mengenai Paha Sean yang terluka. Dan yang pasti saat ini kami bertiga menjadi bahan tontonan seisi kelas. Sangat malu.
"SEANNNNNNN". Teriak Kay menggelegar setelah lama berdiri diam menahan amarah tadi, sedangkan Sean masih berkutat dengan rasa sakit di pahanya.
"LO CARI MATI HAH, KALAU SAMPAI TELINGA GUE RUSAK GIMANA". Teriak Kay lagi.
"Weh anak set, nggak maksud gue cewek ceroboh, lo udah nyakitin gue, lo juga yang marah, Terus ngapain lo teriak-teriak hah, Gue nggak budeg, lagian teriakkan lo itu lebih memecahkan telinga daripada teriakan gue tadi, dan ini siapa mau tanggungjawab sama kaki gue yang berharga". Balas Sean yang masih terduduk dilantai memegangi pahanya.
"Heh ada apa ini ribut-ribut?". Tiba-tiba Bu Inez masuk kelas.
"I-ini Buk, Sean pahanya sakit Buk". Ucapku
"Yaudah kalian semua duduk ke kursi masing-masing dan Kay tolong bawa Sean ke UKS". Bu Inez akhirnya menghentikan teriakan Kay.
"Eh Sher kamu aja bantuin aku yang gantiin ngantar Sean ya". Bisikku pada Kay.
"Yaudah deh biar aku aja, daripada kalian berantem lagi".
"Makasih ya Sher, Muahh". Balas Kayy sambil bergaya hendak menciumku.
"Mampus lo". Ucapku meledek Sean.
__ADS_1
"Awas lu ya". Balas Sean yang dipapah Sherra.
"Nih gue udah awas". Ucapku kembali meledeknya.