EasY On ME

EasY On ME
Demands


__ADS_3

Hari ini adalah sidang pertama orangtua ku untuk kasus pembunuhan berencana terhadap orangtua Sherra. Aku benar-benar kecewa, sedih dan juga trauma. Semuanya bercampur aduk saat ini. Awalnya aku bertanya-tanya bagaimana dengan orang suruhan Mami Papi saat malam kejadian itu. Apakah adil jika hanya Mami dan Papi yang menerima semua ini, sedangkan mereka bebas hidup diluar sana. Ternyata semuanya salah, Polisi bisa berhasil menangkap salah satu dari kedua orang itu. Namun sayangnya salah satu dari mereka mencoba kabur dan berakhir ditembak polisi dan yang satu lagi entah dimana keberadaanya, dari info tetangga nya orang itu sudah meninggal karena dikeroyok warga karena ketahuan mencuri.


Hakim ketua: Terdakwa satu


Nama: Jerry Adreww Yusviee


Tempat lahir/ umur: Surabaya/ 45


Jenis kelamain: laki-laki


Kewarganegaraan : Indonesia


Pekerjaan :pengusaha


Terdakwa kedua


Nama: Hangini soraya


Tempat lahir : Bali/41 tahun


Jenis kelamin : perempuan


Kewarganegaraan: Indonesia


Pekerjaan: Pegawai swasta


Hakim ketua : Saudara terdakwa, apakah saudara dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani dan siap mengikuti sidang hari ini?


Terdakwa: Ya, saya siap dalam keadaan sehat baik jasmani maupun rohani dan saya siap mengikuti persidangan hari ini.


Hakim ketua : Baiklah kepada saudara jaksa penuntut umum, apakah sudah siap membacakan dakwaannya?

__ADS_1


JPU : sudah siap majelis hakim yang terhormat.


Hakim ketua : Baik saudara terdakwa, apakah saudara terdakwa mengerti dengan dakwaaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum?


Terdakwa: saya mengerti pak hakim.


Hakim ketua: Apakah saudara akan mengajukan eksepsi terhadap dakwaan jaksa penuntut umum?


Terdakwa: Untuk eksepsi saya serahkan sepenuhnya kepada penasehat hukum saya.


Hakim ketua: Apakah penasehat hukum terdakwa akan mengajukan eksepsi?


Penasehat hukum : Majelis hakim terhormat, kami tidak mengajukan eksepsi, oleh karena terdakwa sudah memahami dakwaan tersebut pak hakim.


Hakim ketua: Baik, karena penasehat hukum tidak mengajukan eksepsi maka sidang kita lanjutkan dengan pemeriksaan barang bukti dan saksi-saksi kepada jaksa penuntut umum. Apakah telah siap dengan barang bukti dan saksi-saksinya.


JPU: Sudah siap pak hakim.


JPU: 5 orang saksi Pak Hakim.


Hakim ketua: silahkan dihadirkan saksi pertama.


Hakim ketua: Baiklah pertama-tama saya akan menanyakan identitas saudari sebagaimana terdapat didalam BAP dan saya harap saudari menjawab dengan jelas.


Nama: Sherra Amberlee de Morgan


Tanggal lahir/ umur: 20 Mei 2001/ 17 tahun


Jenis kelamin: perempuan


Pekerjaan: Siswi

__ADS_1


Kewarganegaraan : Indonesia


Hakim ketua: Baiklah sebelum saudari memberi keterangan persidangan ini, menurut UU saudari harus bersumpah atau berjanji terlebih dahulu. Untuk itu saudara bersedia bersumpah terlebih dahulu?


Saksi korban 1 (Sherra) : saya bersedia Pak hakim. (membaca sumpah)


Hakim ketua: Saudari kenal dengan terdakwa?


Sherra: saya kenal Pak.


Hakim ketua: Saudari saksi apakah mengetahui terkait perkara apa saudari diperiksa dalam persidangan ini?


Sherra: Tentu saja saya tahu Pak hakim . pembunuhan terhadap orang tua saya (semua peserta sidang terkejut, Kecuali Kak Sean, Kak Inez, Kay, Poppy, Mira, Chatrine, dan saksi dipersidangan ini)


Hakim ketua: Bagaimana saudari tahu mengenai pembunuhan itu?


Sherra: Di malam kejadian itu saya sedang berada di dalam kamar bersama dengan Kak Sean dan juga Bibi. Saat itu saya hanya tahu orangtua saya kedatangan rekan kerjanya, tidak lebih tepatnya itu adalah kunjungan sebagai sahabat. Saya tetap bermain dikamar dengan Bibi dan Kak Sean, hingga tiba-tiba saya mendengar keributan dibawah dan saat saya mengintip keluar saya baru menyadari bahwa orangtua saya sudah tidak sadarkan diri sehingga terjadi semua kekejian mereka malam itu. Bibi mencoba menahan kami di kamar dan membuat kami untuk diam lalu kami keluar diam-diam keluar rumah dari balkon kamar tempat kami berada. Dan saat itu, kami sudah berhasilkeluar dan tidak lama mereka keluar dari rumah saya membawa beberapa barang dan rumah saya sendiri sudah mulai terbakar.


Saksi kedua yaitu kak Sean yang mana kesaksiannya sama dengan ku. Kami sama-sama melihat kejadian yang sama. Lalu dipanggil saksi ketiga yaitu Bibi.


Hakim ketua: Bisa Saudari ceritakan apa yang saudari lihat pada saat malam kejadian?


Bibi: Tentu Pak, apa yang saya lihat sama dengan yang sudah dikatakan oleh Sherra dan Sean. awalnya saya menyuruh Sean keluar terlebih dahulu dengan membawa Sherra. Saya sempat melihat beberapa hal yang mereka lakukan. Saat kedua majikan saya sudah tidak sadarkan diri. terdakwa mengacak-acak rumah itu, saya tidak tau apa yang mereka cari tapi yang pasti saya hanya melihat merek mengacau. Dan saat itu juga Pak Morgan sudah mulai sadar dan terdakwa marah-marah dan menampar Pak Morgan untuk memberitahu letak surat kepemilikan kantor dan tanah. Saya merasa takut melihat bagaimana mereka menusuk Nyonya yang setengah sadar. Setelah itu saya tidak kuat dan pergi keluar menyusul anak-anak.(dilanjutkan dengan saksi keempat Kak Inez)


Kak Inez: Malam itu saya baru pulang dari kegiatan ekskul sekolah. Saya bergegas menuju ke rumah, namun dari jauh saya menyadari bahwa rumah saya terlihat ramai. Jadi saya menunggu diluar untuk beberapa waktu. Saya bertemu dengan Sean dan Sherra yang sedang menangis. Saya tanya apa yang terjadi dan mereka menjelaskan yang sedang terjadi. Makanya saya kembali ke pintu depan dan benar saja, saat itu saya sudah melihat rumah saya penuh darah dan sangat berantakan. Orang-orang itu memeriksa semua ruangan dirumah saya, mengacak-acak dan tak lama membawa beberapa kertas atau surat dari kamar orangtua saya. Dan setelah itu mereka melanjutkan menyiksa orangtua saya. saya melihat semuanya. (setelah Kak Inez dihadirkan saksi terakhir yaitu Pak Nazar, sopir kami sejak lama)


Pak Nazar: Saya tidak terlalu tau mengenai kejadian didalam. Namun, saat itu saya juga baru pulang dari menjemput Mbak Inez dari sekolahnya. Dan saya memang berniat untuk memarkirkan mobil ke garasi, tapi saya urungkan saat saya melihat anak-anak pak Morgan terlihat berkumpul diluar rumah, jadi saya menghampiri mereka dan saya melihat jelas disana nyonya dan tuan sudah berdarah-darah dan sudah tidak sadar. Jadi saya juga merasa takut anak-anak trauma, oleh sebab itu saya mengajak bibi membawa mereka ke mobil, terlebih dahulu. Saya menunggu disana terlebih dahulu untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti, itu sudah saya serahkan buktinya. Dan setelah itu mereka terlihat menuangkan sesuatu diberbagai sudut. Melihat itu saya langsung pergi membawa anak-anak dari sana dan dari kejauhan kami sudah melihat rumah itu terbakar.


Dan sidang terus berlanjut cukup lama. Sidang lanjutannya akan dilakukan seminggu lagi. Aku hanya tertunduk lesu melihat posisi orangtua ku saat ini. Mereka memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku awalnya marah pada Sherra karena semua yang dia lakukan beberapa waktu ini pada keluargaku. Tapi Sherra juga nggak bersalah, karena kalau bukan karena perbuatan orangtuaku, Sherra pasti tidak akan melakukan itu. Sidang berakhir dan aku memilih untuk langsung pulang untuk menenangkan diri.


“Lo mau mati”. Ucap seseorang yang baru saja menarikku yang hampir tertabrak.

__ADS_1


“Ngapain lo melamun dijalanan. Kalau emang lo mau mati seharusnya lo bilang dari kemarin, gue bisa bantu”. Ucapnya lagi, siapa lagi kalau bukan Sherra. Dan aku hanya bisa menatapnya yang pergi dari hadapanku. Kenapa juga dia harus menyelamatkanku bukan seharusnya dia senang kalau aku mati.


__ADS_2