
Sean POV
“Gue mau kabarin ke kalian. Saat ini kondisi Sherra Kritis, dia kehilangan banyak darah dan koma. Sherra juga lagi di ruang sterilisasi dan kita belum bisa untuk lihat dan mengunjungi dia sekarang.”. Gue mengirim pesan ke grup chat kita, yang anggotanya pasti lah hanya kita berenam, gue, Sherra, Kay, Poppy, Mira, Chatrine
“Terus, kapan bisa lihat dia Sean?”. tanya Kay.
“Gue nggak tau pasti, Cuma dokter bilang saat ini, tunggu sampai kondisi Sherra normal dan dia dipindahin ke ruang perawatan, baru bisa kita kunjungi. Dan sekarang juga gue nggak bisa lihat kedalam, bahkan Bu Inez pun nggak bisa”.
Dan kali ini gue pergi kerumah gue dan memilih istirahat setelah hari yang panjang kemarin. Perasaan gue campur aduk sekarang. Gue merasa ada sedikit kejanggalan dengan kejadian kemarin.
“Sean”. panggil Kakak gue.
“Iya”. Jawab gue singkat.
“Makanannya udah siap. Makan siang dulu”. Ucap Kakak gue.
“Ya, bentar”. Ucap gue sambil memakai baju.
“Gimana perasaan kamu?”. Tanya Kakak gue saat gue udah duduk dikursi makan.
“Perasaan apaan?”. Tanyaku berpura-pura tidak tau dan malas mengingat kejadian kemarin.
“Ya gitu. Yang pasti sangat-sangat tidak terduga”.
“Habis ini aku mau keluar”.
...----------------...
Kay POV
Hari ini aku nggak berani untuk keluar rumah karena kejadian kemarin benar-benar membuat aku takut untuk bepergian keluar. Aku juga udah ceritain ini ke Mami Papi dan mereka udah coba ngelapor ke Polisi. Karena orang itu nggak hanya celakain keluarga aku, tapi juga teman-teman aku. Sekarang aku berada di kamar ditemani mami sedangkan Papi tentunya pergi kerja. Sampai tiba-tiba ada yang menelepon Mami dan aku menyuruh Mami untuk Loudspeaker.
“Ha-halo Mi, ini aku Ammar”. Ucap bang Ammar terdengar ketakutan.
__ADS_1
“Ammar, Ammar, kamu kenapa nak?”. Tanya Mami yang ikut panik.
“Mi tolongin Ammar, Dia mau bunuh Ammar mi”. Ucap Bang Ammar dengan suara yang ngos-ngosan. Aku rasa bang Ammar sedang mencoba lari dari peneror itu, tidak lebih tepatnya dari Psycho pembunuh itu.
“Abang ada dimana?”. ucapku merebut ponsel dari Mami.
Tut...tuttt....tutttt
Ponsel Bang Ammar tiba-tiba mati. Sial Bang Ammar bahkan belum sempat beritahu dimana keberadaanya. Akhirnya Mami menelpon Papi dan Papi akhirnya segera pulang ke rumah dan melapor lagi ke Polisi.
2 jam kemudian kami dapat telepon yang aku pikir itu dari Bang Ammar, tapi ternyata aku salah, telepon itu dari polisi.
“Selamat siang, apakah ini benar dari keluarga saudara Ammar?”. Tanya Polisi.
“I-iya benar, saya Papanya”. Jawab Papi.
“Saya ingin mengabarkan bahwa anak Bapak saat ini sedang dalam pencarian setelah jatuh ke sungai di dasar jurang”. Jelas Polisi itu.
“Kami pihak kepolisian mendapat informasi dari seorang saksi mata, bahwa saudara Ammar dan seorang tewas setelah terlibat pertengkaran. Dan saat ini orang yang terlibat tewas ditempat kejadian dan Saudara Ammar terjatuh ke sungai dasar jurang”. Jelas Pak Polisi lagi.
“Dimana lokasinya Pak, saya akan segera kesana”. Ucap Papi berusaha menahan tangisnya, sedangkan Aku dan Mami sudah mulai menangis dan berpelukan. Setelah mendapat lokasi kejadian Papi segera bergegas pergi, tapi aku dan Mami mencoba ikut tapi Papi melarang. Karena kami bersikeras ikut akhirnya Papi memperbolehkan Dan tak jauh dari rumah aku melihat mobil yang dipakai Bang Ammar tadi terbuka dipinggir jalan.
Di TKP....
Aku melihat lokasi kejadian itu sudah dipenuhi dengan banyak polisi dan tim pencarian untuk mencari kak Ammar. Aku juga melihat orang yang diduga peneror selama ini sedang dievakuasi. Dan yang paling buat aku terkejut disana aku juga melihat Sean dan Bu Inez.
“Kay, kamu yang sabar ya”. Ucap Bu Inez memelukku sangat erat dan aku menangis sejadi-jadinya.
“Kay, kamu harus kuat. Gue yakin lo bisa menghadapi ini semua”. Ucap Sean ikut mencoba menenangkanku.
“Ibu sama Sean kenapa bisa ada disini?”. Ucapku setelah mencoba berhenti menangis.
“Sejujurnya kita juga nggak sengaja kesini Kay. Kebetulan juga tadi gue habis dari rumah sakit dan mau nganterin Bu Inez pulang. Tapi Bu Inez pengen lihat keadaan lo, makanya kita ke rumah lo takutnya lo kenapa-napa karena kejadian kemarin, apalagi kita nggak sempat lihat lo setelah selesai camping kan. Tapi sebelum nyampe di depan rumah lo, kita nggak sengaja lihat Bang Ammar dihadang dan dikasih sesuatu sama seseorang akhirnya kita ngikutin Mobil itu dan tau-taunya kejadian itu terjadi”. Jelas Sean.
__ADS_1
“Kay, gue minta maaf nggak bisa nolongin Bang Ammar”. Ucap Sean merasa bersalah dan matanya berkaca-kaca.
“Lo nggak perlu minta maaf Se. Ini juga bukan salah lo. Ini murni kesalahan keluarga gue”. Ucapku berusaha tegar dan agar mereka juga tidak merasa semakin bersalah.
Hampir 1 jam kami menunggu pencarian Bang Ammar dan akhirnya Bang Ammar ditemukan. Aku melihat jasad Bang Ammar yang sudah pucat, tangannya berkerut karena terlalu lama di air, dan yang paling menyakiti hatiku melihat lubang yang ada di kepala Bang Ammar yang aku yakini itu pasti tembakan dari pembunuh itu. Melihat kondisi Bang Ammar yang menyedihkan itu membuat tangis Mami pecah dan tak terkecuali aku sendiri. Papi juga menangis tapi berusaha untuk tetap tegar dan kuat demi aku dan Mami. Bu Inez yang berada di belakangku memelukku sangat erat dan tiba-tiba Mami pingsan.
Di rumah Sakit
Jenazah Bang Ammar di autopsi dan Mami juga sedang terbaring di ruang rawat. Papi menemani Mami di dalam, sedangkan aku tetapi diluar ruangan Mami ditemani oleh Sean dan Bu Inez.
“Kay kamu udah nggak usah takut lagi ya sekarang. Sekarang ada Ibu, Sean, Papi, Mami kamu yang bakalan nemanin kamu. Dan juga peneror kemarin itu udah nggak ada. Jadi kamu harus bisa kuat ya nak”. Ucap Bu Inez lagi-lagi membuatku kuat dan memelukku.
“Iya Kay, gue janji bakal jagain lo mulai sekarang. Dan gue juga udah denger kejadian kemarin dari Sherra. Masalah kotak itu. Seharusnya itu bisa buat lo senang setidaknya, tapi malah jadi buat lo takut. Gue minta maaf ya”. Ucap Sean merasa bersalah.
“Lo nggak perlu minta maaf Sean, lagian ini juga bukan salah lo juga kok. Ini emang udah jadi salah satu hukuman buat gue kayanya. Dan gue juga berharap bahwa kejadian kaya gini nggak terjadi. Dan Bu Inez makasih banyak ya Ibu nemanin aku sekarang,jadinya aku merasa aman sekarang”. Tak lama datang Kak Mira, Kak Poppy dan Kak Chatrine.
“Ya ampun Kay, gue turut berduka cita atas kejadian yang menimpa lo ya”. Ucap kak Poppy.
“Kay gua juga ikut sedih sama kejadian yang menimpa lo ini. Semoga lo kuat ya. Ucap kak Chatrine.
“Kay, mulai sekarang kalau ada apa-apa lo bilangin ke kita ya. Jangan lo pendem sendiri. Kalau Sherra nggak ada bisa cerita ke kita kok. Apalagi sekarang Sherra juga lagi nggak adaa disamping lo kan”. Ucap Kak Mira sambil memelukku.
“I-iya, makasih banyak kak”. Ucapku.
“Oh iya Kay, gue yang nelpon Mira tadi untuk nemani lo disini. Gue sama Bu Inez harus ke kantor Polisi untuk ngasih keterangan sebagai saksi, lo nggak papa kan kalau ditinggal sama mereka?. Tanya Sean pada Kay dan Kay hanya mengangguk.
“Bu hati-hati ya. Lo juga nggak usah khawatir sama Kay, dia bakalan aman kok sama kita bertiga”. Ucap Kak Mira pada Bu Inez dan Sean.
“Kenapa kalian mau nemanin aku disini? Padahal kemarin di camp aku udah bahayain nyawa kalian”. Tanyaku pada ketiga kakak ini.
“Karena lo teman Sherra. Sherra udah banyak banget kebaikannya sama kita. Dan kita juga mau balas budi sama dia. Dan Sherra bilang untuk balas kebaikan dia kita cukup jagain lo juga. Kita juga udah anggap lo temen kok. Dan gue juga minta maaf soal kemarin udah marah-marah sama lo”. Kak Poppy terlihat benar-benar merasa bersalah.
"Aku udah maafin kok". Ucapku pelan.
__ADS_1