
Bandara jaya
sebuah pesawat mendarat perlahan,garbarata merapat,dan penumpang turun dengan tertib di bawa instruksi pramugari,
Yosua Wijaya tidak pernah pulang selama tujuh tahun,begitu kaki nya menginjak tanah,dia memejamkan matanya dan menghirup napas dengan dalam dalam, udara kampung halaman ini membuatnya rindu
pada saat ini,ada banyak orang keluar dari kabin. seorang wanita menggendong seorang anak bayi bersamanya,bayi tersebut tampak nya belum satu tahun, hidungnya penuh ingus, dan sedang menghisap jari jari nya dengan asik.
sebenar nya Yosua Wijaya tidak mengenal ibu dan anak itu،,tetapi barang barang dalam pelukan nya menarik perhatian dia.
sebuah kotak persegi yang di tutupi dengan kain hitam, yang seharusnya nya adalah sebuah guci abu kremasi. ini adalah hal yang wajar, hanya saja terlihat sebagian kain merah di bawah kain hitam .
"minggir!minggir!"
terdengar teriakan orang dari arah belakang.
sekolompok orang berjalan bersama dengan seorang laki laki muda berkacamata hitam, dan satu per persatu orang di dorong ke samping. walaupun mereka sebel ,tetapi tidak ada yang berani bersuara .
"minggir!dasar manusia yang tidak tahu diri" ucapan seorang pengawal mendorong wanita itu dengan kuat .
wanita itu tersandung dan jatuh ke lantai . bayi di belakang nya terkejut dan menangis dengan keras , lalu guci itu jatuh ke lantai ,kain hitam nya terbuka , memperlihatkan kain kain merah di dalam nya ,lebih tepat nya sebuah bendera , di atas nya tersulam gambar kepala naga yang berwarna keemasan.
"cih, bener bener sial"
pria berkacamata itu melirik guci di lantai dengan ekspresi jijik.
kemudian, dia meludahi wanita tersebut , dan ludah tepat mengenai guci kremasi itu.
wanita itu mengangkat kepala nya menatap nya sekilas, lalu buru buru menundukkan kepala nya lagi, dia segera menggunakan lengan baju nya untuk membersihkan berulang kali sambil menggigit bibir nya ,dia melihat segala sisi guci itu dan memastikan tidak ada kerusakan , barulah merasa lega . kemudian, dia melepaskan gendongan di belakang nya ,dan menghibur bayi di belakang nya.
"berhenti"
terdengar suara suara kecil bernada dingin dan penuh amarah.
sekelompok orang menghentikan langkah nya dan seseorang lelaki berkacamata hitam berbalik, melepaskan kacamata hitam dan berkata " apakah kamu sedang berbicara dengan ku?"
"kamu tutup guci itu dengan baik, lalu pungut naik " Yosua Wijaya berbicara dengan nada yang tegas sambil menunjuk laki laki itu.
begitu orang di sekeliling mendengar nya, semua ny melihat dia dengan tatapan yang khawatir dan cemas, lalu menundukkan kepala dan berjalan tergesa gesa .
Yosua Wijaya tidak pernah pulang selama tujuh tahun, jadi wajar saja dia tidak mengenal laki laki berkacamata hitam itu, tapi orang di sekeliling nya mengenal nya .
Joko Hermansyah adalah anak dari direktur perusahaan Hermansyah, yang juga merupakan penerus keluarga Hermansyah.
jangankan orang biasa keluarga ternama juga tidak berani menyinggung keluarga Hermansyah di kota jaya ini, terutama tuan muda yang arogan dan mendominasi , tak di sangka orang ini tidak tahu diri , malah menyinggung duluan.
"apa yang kamu bilang, bajingan?"
seorang pengawal bergegas menerjang keluar dan meninju Yosua Wijaya, jelas terlihat pengawal itu memiliki ilmu seni bela diri.
Di kota jaya ini, belum ada yang berani berbicara begitu terhadap tuan muda .
melihat pengawal yang bertindak, tetapi Yosua Wijaya tetap diam, hanya saja tangan kanan nya di angkat pelan, dan di hempasan dengan kuat.
"BOOM!"
pengawal itu tidak melihat dengan jelas bagai mana kawan nya bertindak, dirinya telah terlempar ke udara, terbang jauh lebih dari sepuluh meter, dan jatuh dengan keras di lorong Tampa bergerak,
__ADS_1
darah segar muncrat keluar.
orang orang yang berlalu-lalang itu tercengang, satu per satu mulutnya terbuka lebar, tidak berani mempercayai hal yang terjadi di hadapan mereka.
pandangan Joko Hermansyah terlihat ketakutan. dia jelas tahu bahwa para pengawal keluarga Hermansyah di pilih dengan ketat ,dan tidak masalah bagi satu orang melawan tujuh atau delapan orang.
"kamu? siapa kamu?" tanya Joko Hermansyah dengan ketakutan. lawan terlihat sangat menakutkan, pengawal bahkan tidak dapat menahan serangan nya.
Yosua Wijaya sama sekali tidak menggubris nya, raut wajah nya sangat tegas, lalu membungkukkan badannya menutup bendera dan merapihkan guci abu kremasi itu dengan baik, kemudian menyerahkannya kedalam tangan wanita.
Dia jelas tahu makna menutupi guci abu kremasi dengan bendera, apa lagi dia sangat familiar dengan gambar yang di atas bendera.
Dia sudah tidak ingat berapa kali menyerahkan benda ini kepada keluarga yang lainnya, dan tangisan menyayat hati terlintas di benaknya terlihat dengan jelas.
orang orang tersebut adalah sandaran hati para orang tua, kekasih para istri , dan pahlawan di dalam hati anak-anak!.
tak terhitung jumlahnya pahlawan heroik yang telah mengorbankan diri demi negara, mereka menukar darah dan nyawa untuk perdamaian saat ini. Mereka adalah pahlawan harus di kenang setiap orang di dunia.
Akan tetapi, malah dapat penghinaan orang tak berguna seperti mu.
" apakah kamu tau orang yang berada di dalam ini? " ujar Yosua Wijaya sambil melangkah maju , auranya sangat tidak biasa , tatapan matanya tajam bagai pisau Kampak yang terasah.
" siapa? bukannya hanya seorang yang mati saja " jawab joko Hermansyah deng ekspresi yang meremehkan.
dengan ekspresi lawan, tatapan Yosua Wijaya menjadi semakin dingin," dia adalah seorang prajurit di perbatasan yang telah membela negara Huma dengan nyawanya, dan merupakan pahlawan yang melindungi ratusan rakyat, bagaimana bisa dihina seperti itu? kuberi kamu kesempatan, berlutut dan bersujud tiga kali untuk meminta maaf! "
wanita itu tercengang dan melambaikan tangannya dengan cepat " tidak, tidak perlu." lalu dia berbisik, " terima kasih, orang muda kamu tidak boleh menyinggung orang ini, cepatlah pergi, "
wanita itu telah tinggal di kota jaya bertahun-tahun, jadi dia tahu menyinggung tuan muda besar keluarga Hermansyah hanya akan membuat tidak senang.
" aku? aku bersujud kepada-nya? apa dia pantas? "ucap Joko Hermansyah dengan ekspresi jijik.
lantas kenapa dengan prajurit perbatasan? apa lagi pahlawan? dia hanya orang mati.
kekuasaan keluarga Hermansyah telah membuat nya tidak bermoral.
keluarga Hermansyah memang lumayan berkuasa di kota jaya beberapa tahun ini, tetapi di mata Yosua Wijaya, itu hanya hal yang kecil.
" kalau begitu " Yosua Wijaya sambil berkata, dirinya mengeluarkan aura membunuh yang kuat dan amarah yang menakutkan.
orang di sekeliling sampai susah bernafas dan gemetar, seolah-olah berada di ujung maut.
" kamu! kamu berani menyentuhku? " Joko Hermansyah jelas merasakan amarah yang bergejolak yang berasal dari lawan, dirinya merasa sedikit ketakutan tetapi berusaha melanjutkan " di kota jaya, tidak ada yang berani menyentuhku, keluarga Hermansyah, beraninya kamu..."
" Boom "
Joko Hermansyah belum selesai berbicara, seketika dia merasa kesulitan bernafas, karena lehernya di cekik dengan kuat sampai tubuhnya terangkat dari permukaan.
beberapa pengawal terkejut, mereka bahkan tidak melihat dengan jelas bagai mana Yosua Wijaya bergerak.
tadi berjarak lebih dari sepuluh meter, sekarang...
kecepatan ini terlalu abnormal.
semua orang saling berpandangan dan tidak berani maju.
kecepatan lawan telah membuat mereka tidak berani maju.
__ADS_1
melaksanakan diri untuk melawan yang kuat adalah tindakan yang bodoh bahkan mencari kematian sendiri.
gaji tiap bulan yang sedikit tidak sepadan untuk mengorbankan nyawa demi keluarga Hermansyah.
" uhg ... uhg..."
wajah Joko Hermansyah merah, urat biru terlihat jelas, kaki nya berjuang mati Matian, dan dia hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak jelas.
" pergi bersujud ! " Yosua Wijaya mencengkram leher dan melemparnya.
Joko Hermansyah terlempar belasan meter jauh, terbaring di tanah dan terbatuk keras, ini pertama kalinya dalam hidupnya dia begitu dekat dengan kematian, dan dia benar benar ketakutan.
" maaf, maafkan aku " ucap Joko Hermansyah sambil berlutut dan bersujud ke guci di tangan itu sampai bunyi ketakutan di kepalanya.
wanita itu terkejut sampai mundur dua langkah, dan tidak tau harus bagai mana.
semua orang ternganga melihat nya, tidak di sangka tuan muda besar keluarga Hermansyah di kota jaya di ancam orang untuk berlutut dan bersujud kepada orang.
ini sungguh berita yang menghebohkan. semua orang mengeluarkan telepon genggam nya dan merekamnya. pada era media teknologi ini, jumlah penonton adalah uang.
" siapa yang begitu lancang!"
terdengar suara yang begitu marah, tetapi suara tersebut begitu berwibawa.
setelah itu, puluhan orang yang mengenakan seragam, memblok lorong dalam sekejap, dan seorang laki laki tua berdiri di paling depan, raut wajah nya terlihat sangat murka!
lelaki tua itu Budi Hermansyah, kepala keluarga Hermansyah. tadinya, dia sedang menunggu di luar bandara untuk menjemput cucunya, tak tahunya pengawal menelepon meminta pertolongan, makanya dia segera datang.
di kota jaya ini, tidak di sangka ada orang yang berani menyinggung keluarga Hermansyah, tidak di ragukan lagi dia sedang mencari kematian nya sendiri.
melihat lorong di blok keluarga Hermansyah, orang orang mundur satu per satu karena takut membahayakan diri mereka sendiri.
meski begitu, satu per satu ponsel di rebut dengan bengis oleh pengawal keluarga Hermansyah.
brak !
brak !
terdengar suara semua ponsel yang langsung di jatuhkan ke tanah dengan keras.
cucunya di pukul, tidak diragukan lagi ini adalah hal yang sungguh melakukan, apa lagi jika tersebar, dimana letak harga dirinya jika berhadapan dengan keluarga ternama lainnya.
semua orang melihat ponsel yang hancur parah di lantai, tetapi tidak ada yang berani melawan, mereka hanya bisa menahan dan menundukkan kepala.
mereka semua tahu jika mereka menolak, itu tidak akan sederhana kehilangan ponsel.
" kakek ! hiks ... hiks ..."
ketika Joko Hermansyah melihat kakeknya datang, dia seorang pemuda berumur dua puluh tahun itu bener bener menangis, dengan wajah yang di penuhi dengan ingus dan air mata, merangkak ke arah Budi Hermansyah selangkah demi selangkah.
" apakah aku sudah membiarkan kamu pergi ? " tanya Yosua Wijaya dengan pelan tetapi, tetapi dengan pandangan yang tajam melihat Joko Hermansyah yang merangkak di lantai.
Joko Hermansyah melihat Hamzah Wijaya lalu melihat ke arah kakeknya dan berkata, " kakek, tolong aku ! bunuh dia, cepat bunuh dia ! "
" anak muda, kamu sungguh bernyali besar, sayang sekali kamu telah memilih orang yang salah, " ujar Budi Hermansyah dengan tatapan dingin sambil menggerakkan dua jarinya, sepuluh pengawal yang di belakangnya bergerak maju.
melihat gerakan pengawal, Yosua Wijaya tetap bergerak hanya bertanya dengan tenang, " apakah kamu tidak menanyakan alasan ? "
__ADS_1
" alasan ? hehe ! apakah perlu alasan untuk orang yang tidak penting ? " ujar Budi Hermansyah sambil tersenyum dingin.
" kamu hanya perlu tahu bahwa mencari masalah dengan keluarga Hermansyah maka kamu akan mati hari ini. tangkap dia ! "