Eksekusi Dari Dewa Perang

Eksekusi Dari Dewa Perang
Bab 2


__ADS_3

Drrr...drrr..."


pada saat ini, suara gemuruh yang besar mendekat dari kejauhan, lapangan bandara penuh dengan angin yang kencang, terlihat helikopter Black Hawk akan turun mendarat dan di ikuti oleh ratusan mobil Marauder.


" wus... wus... "


kelima helikopter Black Hawk tersebut belum mendarat sepenuhnya, pintu helikopter telah terbuka.


terlihat lima orang melompat ke bawah.


" boom "


terdengar suara dentuman.


lima pasang sepatu bot militer menginjak tanah pada saat bersamaan, dan permukaan di bawah kaki sedikit retak


semuanya berseragam dengan sosok yang tinggi dan kekar. dan semua mobil Marauder juga berhenti dengan teratur dan rapih, ada ribuan pria berpakaian hitam.


yang turun dari mobil tersebut memegang pisau belati di pinggang mereka.


ribuan orang berbaris dengan rapih dan berjalan menuju kedalam bandara,momentumnya sangat mengesankan dan bumi pun terguncang karenanya.


Di lorong,semua keluarga Hermansyah tercengang melihatnya, dan hanya melangkah mundur secara naluriah,


ribuan orang tersebut berhenti lima langkah di depan Yosua Wijaya


kemudian, Lima orang terdepan tim tiba-tiba berlutut.


" Gunawan, koordinator pertahanan dari perbatasan timur, "


" Nanda, koordinator perdagangan dari perbatasan selatan, "


'' Mahendra, koordinator pengawasan dari perbatasan barat, ''


'' Lukas, koordinator perlindungan dari perbatasan Utara, ''


'' Leo Yahya, koordinator pengamanan pusat nasional, ''


'' hormat, ketua ''

__ADS_1


'' hormat, ketua ''


ribuan orang mengikuti di belakang suara mereka yang kuat bergemuruh sampai ke langit.


mata semua orang penuh dengan tekad dan antusiasme.


Yosua Wijaya, dia adalah pemimpin yang mereka puja layaknya dewa.


di bawah kepemimpinan nya, perbatasan tidak dapat di tembus, dan tidak ada seorang pun di negara negara sekitar nya yang berani melewati batas.


wajah Budi Hermansyah menjadi pucat, pupil matanya tiba-tiba menyusut, dan mulut terbuka Tampa sadar. dia tidak bisa membayangkan pemandangan yang ada di depannya ini.


Dia telah menjabat sebagai kepala keluarga beberapa tahun, semua peristiwa telah dia alami, tetapi situasi yang ada di depannya ini bener bener sangat mengejutkan.


Budi Hermansyah tidak mengenal ke lima orang ini, apa lagi Yosua Wijaya. akan tetapi, dengan status rendah tidak akan mungkin memiliki kekuasaan seperti ini.


usianya yang tujuh puluh tahun dapat memastikan bahwa hari ini dia telah memprovokasi orang hebat.


mereka adalah Lima dewa perang di negara Huma, masing-masing memimpin jutaan pasukan, dan menjaga perbatasan timur, selatan, barat, dan Utara. beberapa tahun ini prestasi perang mereka sangat luar biasa, hanya menyebutkan nama setiap orang dapat membuat negara negara sekitar merinding.


Balai Eksekusi


sebutan ini dapat departemen militer semua negara gemetaran.


hari ini adalah hari dimana ketua akan di mahkotai sebagai raja, tetapi semua tidak menyangka ketua tiba-tiba mengumumkan bahwa dia menolak nya dan bersikeras untuk kembali. hal ini membuat banyak bawahan bingung dan tidak rela.


'' hari kalian berlima meninggalkan jabatan Tampa ijin ... ''


meskipun Yosua Wijaya mengenakan pakaian biasa, tetapi aura sang raja sulit di sembunyikan ,lalu alis pedangnya sedikit mengernyit.


'' kami bersalah meninggalkan jabatan Tampa ijin, menurut peraturan balai, kamu bersedia menerima hukuman seribu tongkat, '' ujar mereka berlima serempak.


Yosua Wijaya melambaikan tangannya, '' aku sudah lepas dari jabatan dan tidak berhak untuk campur tangan masalah hukuman. ''


'' ketua ! '' mata kelima orang sedikit memerah.


Di dalam hati mereka berlima, Yosua Wijaya bukan hanya ketua dari balai Eksekusi,tetapi juga sebagai instruktur mereka, bahkan sebagai keyakinan dari semua anggota balai Eksekusi.


" Leo '' deru Yosua Wijaya dengan dingin.

__ADS_1


Leo Yahya, koordinator pengamanan pusat nasional, maju selangkah ke depan, lalu mengepalkan sepasang tangannya dan berkata " saya hadir .''


'' orang ini telah menghina martir Balai Eksekusi, hukum sesuai dengan hukum balai, '' ujar Hamzah Wijaya sambil menunjuk Joko Hermansyah yang sedang tergeletak di tanah .


awalnya, Yosua Wijaya ingin menangani Joko Hermansyah sendiri, maka dia tidak perlu melakukan hal sepele ini lagi.


'' siap laksanakan perintah. '' ucap Leo Yahya menerima perintah dan menoleh dengan pandangan yang buas ke arah Joko Hermansyah.


Joko Hermansyah ketakutan melihat pandangan mata tersebut lalu berkata-kata '' peraturan ... peraturan balai ? ''


Joko Hermansyah biasanya melakukan kejahatan, bahkan tidak pernah masuk ke kantor polisi, apa lagi tahu menahu tentang Balai Eksekusi dan peraturan balai.


'' benar, menghina martir di organisasi ku harus di eksekusi mati sesuai peraturan balai ! '' ucap Leo Yahya melangkah maju ke depan dan mengangkat Joko Hermansyah.


'' Bunuh ''


ribuan orang mencabut pisau mereka pada saat yang sama dan mata pisau di arahkan ke Joko Hermansyah.


'' ka.....kakek tolong aku!"


tidak peduli berapa arogan dan mendominasi dia tuan muda generasi kedua yang kaya ini dalam memukuli orang, menghancurkan toko, serta membius dan membawa pergi siswa perempuan. biasanya, dia perlu menelepon kakeknya untuk menyelesaikan masalah dan ini juga membuatnya tak kenal takut di kota jaya. namun, pada saat ini Joko Hermansyah sangat ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetaran dan kencing celana, sambil menatap Budi Hermansyah.


wajah Budi Hermansyah pucat dan penuh dengan keringat bercucuran, dia hanya seorang kepala keluarga biasa saja, bagaimana menolongnya?


'' siapa kalian sebenarnya? jika kalian menyentuh cucuku, berapapun harus mempertaruhkan harta keluarga, aku juga tidak akan melepaskan kalian !" Budi Hermansyah penuh dengan amarah melihat satu-satunya cucu di bawa pergi.


kelima dewa perang saling berpandangan dan tertawa setelah mendengar ini.


orang yang berbicara gila-gilaan seperti ini dengan ketua,terakhir kali tiga tahun yang lalu.


pria itu adalah dewa perang bintang tujuh dari negara Firdos, dia sangat arogan dan menganggap dirinya tak terkalahkan. dia sendiri membunuh ratusan tentara yg menjaga perbatasan dan mencoba mendobrak perbatasan kita. kemudian, dia berbicara gila-gilaan menghadap Yosua Wijaya yang datang.


alhasil, begitu kaki kanannya melangkah dan belum menyentuh tanah, kepalanya mendarat duluan.


Yosua Wijaya juga tidak berhenti, dia membawa pedang kematian, seorang diri melintas garis langsung ke negara Firdos, memenggal kepala pemimpin dan dewa perang dan ratusan ribu tentara.


penguasa firdos begitu ketakutan sehingga ia langsung menyerahkan surat kekalahan dan tidak akan menyerang negara Huma, dan setiap tahun menyerahkan upeti sebagai pejabat yang takluk dan di taklukan.


pertempuran ini mengejutkan seluruh dunia.

__ADS_1


'' keluarga Hermansyah tidak di perlukan lagi " selesai Yosua Wijaya berkata, langsung membalikan badan dan berjalan pergi.


Leo Yahya melambaikan tangannya, lalu pasukan berpakaian hitam di belakangnya langsung menangkap seluruh pengikut keluarga Hermansyah.


__ADS_2