Eksekusi Dari Dewa Perang

Eksekusi Dari Dewa Perang
bab 10


__ADS_3

Kerumunan orang-orang ribut dan berbisik.


" Dasar gelandang, beraninya kamu pulang، " marah seorang Junior keluarga Gunawan sampai menunjuk Yosua.


Semua keluarga Gunawan sangat membenci Yosua.


" Plak "


Usai berbicara, sebuah tamparan melayang di wajah Junior itu sehingga dia terbang beberapa meter keluar. Mulutnya langsung menyemburkan darah segar dan dirinya terjatuh ke lantai sampai akhirnya tidak bergerak lagi.


" Apakah begini cara keluarga nomor satu di kota jaya menyambut tamu? " ucap Yosua sambil menyeka darah di tangannya.


Sudut mata Pak Bayu berkedut, menahan emosi dalam hatinya. Banyak kamu yang hadir hari ini, jika memukulinya sekarang, akan menjadi bahan omongan orang di luar sana.


" Semua yang datang adalah tamu. Silahkan masuk! " ujar Pak Bayu sampai mengesampingkan tubuhnya untuk menyambut. Namun, Iya mencibir di dalam hatinya, " Asalkan dirimu berani memasuki keluarga Gunawan, maka jangan harap untuk keluar hidup-hidup. "


Yosua melangkah dengan percaya diri, setiap langkahnya sangat stabil dan kuat. Sudah tujuh tahun lamanya, hari ini Dewa pura akhirnya kembali, hanya untuk membalaskan dendam!


Pembalasan dendam untuk kedua orang tuanya.


" Yosua dari keluarga Wijaya datang memberi selamat! " Pak Bayu sengaja berteriak dengan keras, begitu Yosua berjalan sampai di depan pintu ruang tamu.


Satu, untuk memberitahukan keluarganya. Dua, untuk memperlihatkan kepada para tamu bahwa keluarga Gunawan sebagai keluarga nomor satu di kota jaya sangat toleran terhadap sebuah orang.


Yosua akan mati malam ini, setidaknya dia harus melakukan strategi yang cukup.


Ruang kamu yang awalnya ramai langsung menjadi sunyi senyap.


Yang menunggu di ruang tamu adalah keturunan sah keluarga Gunawan dan tamu-tamu penting, sedangkan tamu biasa harus menunggu di ruang perjamuan.


Yosua yang tingginya sekitar 170 cm lebih langkah maju ke ruang tamu.


Siapapun tidak berani percaya bahwa Yosua, gelandangan yang diburu tahun itu, hari ini berani-beraninya datang sendiri. Bukankah ini mencari mati?

__ADS_1


" Yosua! Beraninya kau datang! " Seorang keturunan keluarga Gunawan membuka mulut.


Yosua meletakkan tangannya di belakang, mengabaikan perkataan tersebut, berdiri dengan aku dan matanya tertuju pada yang sedang duduk.


Sudah tujuh tahun, Yosua tidak akan pernah melupakan malam itu, ketika orang tuanya menjerat Cakra Gunawan.


Yosua menoleh dan melihat Cakra Gunawan menampar orang tuanya dengan kedua telapak tangannya.


Darah mengalir dari sudut mulut kedua orang tuanya. Walaupun mereka tidak sanggup berteriak lagi, tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk membuat isyarat kepada Yosua untuk pergi, sambil memegang erat kaki Cakra Gunawan.


" Ulang tahun kepala keluarga Gunawan, tidak ada alasan lagi keluarga Wijaya untuk tidak hadir, "ucap Yosua sambil tersenyum, membuang jauh hal yang di dalam benaknya. Sikapnya terlihat sopan.


Hanya keluarga Gunawan yang tahu berapa banyak kebencian yang tersembunyi di balik senyuman ini.


" Hanya saja, Aku tidak tahu apakah kalian menyukai hadiah ini? "


Semua orang yang berada di ruangan tamu masih mengetahui hadiah yang diberikan Yosua. Usai Dia berkata, kepala pelayan datang dan membisikkan di telinga Pak Cakra.


" Jika kamu memberikan mobil, lalu mengapa kamu menggali lubang untuk memasukkannya? " tanya seorang Junior setelah mendengar perkataan kepala pelayan. Dia tidak tahu apa yang mau dilakukan Yosua sebenarnya.


" Aku masih belum sempat memesan peti mati. Mobil ini, anggap saja sebagai peti mati mu. "


Ruang tamu seketika menjadi ribut.


" Yosua, sungguh besar nyalimu! Pengawal, tangkap dia! "perintah seorang Junior.


Pengawal di sekitarnya bergegas bergerak, tetapi saat mereka berada lima langkah dari Yosua, mereka tidak bisa mendekat, seolah-olah mereka terhalang oleh sebuah lapisan energi.


Setelah itu, beberapa pengawal merasakan sebuah pantulan energi meledak seketika.


" Brukk . . . "


Satu persatu orang muntah darah dan terbang jatuh.

__ADS_1


Semua ekspresi orang keluarga Gunawan kaget dan pucat. Mereka tidak menyangka Yosua, gelandangan yang melarikan diri itu akan berubah menjadi kuat seperti ini.


Pak Cakra menatap Yoshua dengan tatapan yang sinis. Dia mendengar dari cucu tertuanya bahwa Yosua adalah ahli bela diri, awalnya dia tidak percaya, tetapi sekarang dia mulai percaya.


Akan tetapi, biarpun Yosua adalah ahli bela diri, dia juga tidak mempedulikannya.


Setiap keluarga terpanjang di kota jaya pasti akan ada ahli bela diri. Dia sendiri juga merupakan ahli bela diri, bahkan sudah mencapai tingkat sembilan. Ahli beladiri biasa tidak akan mampu menandinginya


" Karena kamu yang mencari mati sendiri, maka jangan salahkan aku! "


Energi sejati Pak Cakra berkumpul di telapak tangannya dan dilepaskan dengan murka.


Satu jurus ini, dia menggunakan kekuatan sepenuhnya, jelas ingin langsung membunuh Yosua. Karena perjamuan akan segera dimulai, tidak ada banyak waktu untuk.


Energi telapak tangannya seperti panah yang lepas dari busur, melesat dengan kecepatan tinggi.


Orang-orang yang di sekitar mulai tersenyum dingin, karena mereka tahu kekuatan kepala keluarga. Di mata mereka, Yosua tidak akan bisa menahan jurus ini, dan akan mati.


Namun, saat energi telapak tangannya hendak mengenai Yosua, malah dihadang oleh seseorang dengan mudahnya.


" Pak Cakra mengundangku hanya untuk melihat ini? "marah Wilson yang wajahnya dipenuhi janggut halus.


Wilson sebagai kepala Divisi patroli kota jaya, memiliki wewenang untuk menangani kasus-kasus besar dan mencurigai di seluruh kota jaya, serta mengelola semua ahli bela diri di kota jaya.


Ketika seorang ahli bela diri mengeluarkan jurus, orang biasa akan terbunuh ataupun terluka. Divisi Patroli memiliki perintah larangan yang jelas menyatakan apabila seorang ahli bela diri mengeluarkan jurus dan melukai orang biasa, maka anggota Divisi Patroli berhak langsung menghukumnya di tempat.


" Wil, Kepala Divisi Patroli. " pak Cakra sangat kaget akan kedatangannya, lalu buru-buru membungkuk badan dan memberi hormat.


Di dalam Divisi Patroli, semuanya adalah ahli bela diri dan kekuasaannya sangat besar, sehingga bukanlah sesuatu yang dapat dibandingkan.


" Pak Cakra tidak mungkin tidak mengetahui perintah larangan Divisi Patroli. " Wilson jelas kelihatan sudah murka.


Dia baru saja dipindahkan ke kota jaya kurang dari setengah tahun, tetapi Pak Cakra malah melanggar perintah larangan dan melukai orang. Dia jelas meremehkan Divisi Patroli.

__ADS_1


" Saya mengetahuinya, hanya saja orang ini mempermalukan Junior keluarga saya di masa lalu, dan sekarang tindak tuturnya sangat kasar, sehingga saya tidak tahan lagi, selalu bermaksud memberi pengajaran kepada dia, "ujar Pak Cakra sambil berkeringat dingin. jangankan keluarga nomor satu di kota jaya, bahkan jika 10 keluarga terpandang juga tidak dapat menanggung akibat dari menyinggung Divisi Patroli.


" Lagi pula dia bukan manusia biasa, melainkan juga seorang ahli bela diri, "lanjut Pak Cakra.


__ADS_2