
Ye Binchen adalah ayah yang begitu perhatian terhadap putrinya. Begitu dia mendapatkan informasi mengenai siapa Lu Tingxiao.
Dan, dia juga tidak ingin terjadi hal buruk pada putri sematawayangnya. Sehingga ayah Ye segera menyusul Ye Yuanshi dan ikut membujuk ketua Lu.
Pria setengah umur itu melihat sang putri sedang berdebat secara alot dengan Lu Tingxiao. Buru-buru Ye Binchen mendekati keduanya.
"Shi-shi anakku, ucapkan maaf pada ketua serikat dagang!" bujuk Ye Binchen.
Ye Yuanshi menoleh ke arah ayahnya ketika pria tua itu menyebut namanya. Selain itu, Ye Yuanshi juga mendengar nama Ketua Serikat Dagang disebut oleh sang ayah.
"Ketua serikat dagang? Benarkah?" Mata sipit Ye Yuanshi semakin tidak terlihat ketika padangan penuh kecurigaannya jatuh ke arah Lu Tingxiao.
"Karena kau sudah tahu, apa kau akan terus mengusir aku?" Lu Tingxiao dengan tegas memarahi Ye Yuanshi kali ini. Namun, semua itu hanya sandiwara belaka agar Yuanshi tunduk darinya.
Ye Yuanshi mengendurkan amarahnya, "Dui bu qi, sungguh aku minta maaf Tuan."
Hal yang sulit dia lakukan adalah meminta maaf untuk kesalahan atau hal yang tidak dia lakukan. Tapi, demi kelancaran bisnis ayahnya, Yuanshi harus tunduk pada pria yang dia anggap ca bul itu.
"Lao Ye, bisnismu berjalan cukup lancar. Kau memang pandai mengelola bisnis. Tetapi ... " Lu Tingxiao hendak melanjutkan ucapannya, tetapi dia hentikan secra tiba-tiba.
Hal tersebut, membuat Ye Binchen dihinggapi rasa keingintahuan yang sangat besar. Yakni kelanjutan ucapan Lu Tingxiao.
"Tetapi apa, Ketua Lu?" Karena bagaimanapun juga, Ketua Lu adalah ketua serikat dagang. Sudah sepantasnya ayah Ye menghormatinya. Bisnis judinya masih berada dalam jangkauan nilai perdagangan di bawah catatan ketua Lu.
"Hmm... Sulit untuk kukatakan. Kau pintar mengatur bisnis. Tetapi, tidak pintar mengasuh putri. Lihatlah! Dia kasar dan arogan terhadap pengunjung seperti aku."
Ye Yuanshi tidak terima, dia mengepal erat tangannya. Namun, dia harus menuruti perintah ayahnya.
"Ayah ... Aku hanya ... " Sangat ketara jika Ye Yuanshi menahan amarahnya.
Kesalahpahaman ini, akhirnya bisa diselesaikan dengan damai setelah ayah dan anak itu membungkuk dan meminta maaf kepada Lu Tingxiao.
Meskipun tidak membawa pulang hasil yang maksimal, Lu Tingxiao tidak kecewa. Karena dia merasa jika bisa mengendalikan Yang Zi dengan mudah. Atas identitas ini, Lu Tingxiao bisa mengancam bisnis ayah Ye Yuanshi.
Ketua Lu akhirnya bisa tersenyum dengan puas karena bisa melihat bagaimana Yang Zi hidup dengan aman di kehidupannya kali ini.
Jika Dewa Bai Ming mengatakan Yang Zi akan menderita dalam setiap kehidupannya, maka pada kehidupan kali ini Long Ye Tian bersumpah tidak akan pernah memberikan atau mengizinkan Yang Zi menderita apapun itu.
Dia akan selalu melindungi dan mendukung wanita itu dengan sekuat tenaga.
*
Dalam hari-hari berikutnya, Ketua Lu disibukkan dengan persiapan pertemuan para pedagang atau pebisnis tiap-tiap kota yang rencananya akan diselenggarakan di kota Jianghu.
Untuk menemui Yang Zi yang kini hidup sebagai Ye Yuanshi saja, Long Ye Tian tidak sempat. Pria itu harus mengecek laporan dari masing-masing ketua penyelenggara serta persiapan acara.
Begitupula dengan Ye Yuanshi. Setelah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, gadis itu tak tampak keluar rumah.
Ye Yuanshi belum terlihat keluar rumah sejak kejadian pada malam itu. Untuk gadis dengan watak seperti Ye Yuanshi, pengekangan seperti itu sangat menyakitkan.
"Xiaojie, Anda tidak boleh keluar rumah."
Belum sempat dia melangkahkan kaki keluar saja, pelayan di rumah Ye sudah melarangnya.
"Jangan keluar, Xiaojie."
"Nona ... tolong mengertilah."
__ADS_1
"Kalian semua keterlaluan." maki Ye Yuanshi. Dia berjalan kembali ke kamarnya.
*
Pada malam selanjutnya, Lu Tingxiao berencana pergi ke rumah judi keluarga Ye kembali. Namun, beberapa utusan dari kota lain datang dan dia harus menyapa dan menemani dengan ramah.
Sehingga, pria itu harus mengurungkan niatnya untuk menemui Yang Zi. Dia juga sudah mendengar jika ayah Ye melarang anak gadisnya keluar rumah.
Berita itu melegakan bagi Long Ye Tian. Dia lega karena tidak perlu repot-repot melarang Ye Yuanshi keluar rumah dan bertemu dengan masalah. Karena Lu Tingxiao tahu, dengan perangai seperti Ye Yuanshi, bisa menyebabkan banyak masalah.
Untuk hal seperti ini, sifat Ye Yuanshi di dunia ini tidak jauh berbeda dengan Yang Zi yang dia kenal.
Permaisuri alam roh itu memiliki perangai keras kepala. Bahkan tak segan melawan aturan yang dia buat di alam roh.
Lu Tingxiao teringat bagaimana Yang Zi dulu pernah membakar sebuah paviliun karena dia membenci Paviliun itu.
Paviliun milik Qin Ruxu itu menjadi saksi betapa ganasnya gadis yang kini menjadi Ye Yuanshi.
"Dulu kau pernah membakar paviliun Qin Ruxu, sekarang apa lagi yang akan kau bakar Zi-zi?" Tanpa terasa Long Ye Tian mengulas senyum jika teringat kejadian manis itu.
Namun, senyum itu tak lama. Hatinya kembali teriris jika mengingat bagaimana Yang Zi meninggalkan dirinya. Long Ye Tian terlambat menyadari ketulusan dari rasa yang dimiliki istrinya itu.
"Maafkan aku, seharusnya kau tidak di sini Zi-zi. Seharusnya kau hidup bahagia denganku di alam roh."
Besarnya cinta Yang Zi sama besar dengan penyesalan yang dimiliki oleh Long Ye Tian. Jika boleh, pria itu ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.
Tetapi, terlambat. Yang Zi sudah memilih jalan penuh liku ini daripada hidup bersamanya.
Kilas balik ....
Keributan itu terdengar hingga di telinga Long Ye Tian. Usai memberi selamat serta wejangan untuk Siqi, Raja Long bergegas menuju tempat keributan.
Begitu Raja Long tiba, banyak pengawalnya jatuh oleh serangan Sang Permaisuri. Dan Long Ye Tian tidak menyangka jika Yang Zi akan melumpuhkan mereka seperti itu.
"Ada apa? Kenapa kau berbuat hingga seperti itu, Permaisuri?"
"Mereka memaksaku pulang," jawab Yang Zi dengan suara nyaris tak terdengar.
Sorot matanya tajam, bahkan bola mata yang dulunya berwarna hitam itu kini berubah kemerahan. Long Ye Tian tidak pernah melihat keadaan sang istri yang seperti ini.
"Kenapa? Kau tidak ingin kembali? Atau kau rindu Istana Yang? Kita bisa bicarakan baik-baik, Zi er. Kau tidak perlu seperti ini."
Wanita muda itu masih bergeming. Penjelasan dan rayuan dari sang suami nyatanya tidak mempan baginya.
"Sudah kukatakan bukan, lakukan sesuka hatimu! Lakukan apapun yang membuatmu senang."
Dalam sikapnya yang terus bungkam, Yang Zi kini mulai bertanya, "Inti roh, itukah yang kau ingkinkan dariku?"
Pernyataan mengejutkan dari Yang Zi sontak menggetarkan hati pria itu. "Apa yang kau katakan?"
"Katakan padaku! Karena inti roh Pheonix api milikku?"
Pria itu tidak menjawab pernyataan dari Yang Zi. Dia dengan berani memajukan langkah dengan niatakan hendak menjelaskan pada istrinya.
"Jangan mendekat, jawab pertanyaanku! Kau melakukan semua itu demi kehidupan abadi, bukan?"
"Apa yang kau katakan, Permaisuri?"
__ADS_1
"Jawab aku! Jawab!" Yang Zi kini berteriak. Namun, Long Ye Tian justru tidak sama sekali menjawabnya.
"Benar, pernahkah hatimu tergerak padaku, Long Ye Tian?" Bahkan untuk kali pertama ini Yang Zi berani menyebut nama suaminya tanpa embel-embel raja.
Kembali Long Ye Tian terdiam, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya menjawab ataupun menjelaskan semua hal yang dia rasakan pada Yang Zi.
"Tidak." Entah jawaban dari Ye Tian seperti itu bisa atau tidak memuaskan rasa keingintahuan Yang Zi.
Tangis Yang Zi pecah, pria yang selama ini dia anggap menjadi perisainya ternyata memiliki niat lain dengannya.
"Aku tidak menyangka akhir dari hubungan kita akan seperti ini,"
Seorang wanita dengan pedang di tangan kanannya yang telah bersiap mengarahkan pedang ke pusat nyawanya.
"Hentikan, Zi zi!" tak jauh dari tempat wanita itu berdiri, Sosok pria berhanfu dengan mahkota yang menghiasi kepalanya berteriak histeris.
Dada sosok berhanfu hitam itu semakin sesak saat wanita yang dia panggil Zi zi tadi mengarahkan pedangnya ke leher jenjang wanita tersebut.
Tak ingin hal buruk terjadi pada Zi zinya, Long Ye Tian memajukan satu langkahnya ke depan. Namun, lagi-lagi wanita berhanfu biru itu menahan langkahnya.
"Baiklah, aku akan memberikan inti rohku agar kau bisa abadi, Yang Mulia."
"Tidak, Zi 'er ... Jangan lakukan itu!"
"Bagimu, kekekalan adalah segalanya, Bukan? Jadi, aku akan memberikan segalanya agar Anda puas, Yang Mulia."
Yang Zi segera melakukan gerakan untuk membangkitkan ritual pengeluaran inti roh Phoenix merah miliknya. Hal inilah yang diinginkan oleh Long Ye Tian dari wanita itu.
"Yang Zi, hentikan! kumohon," Sosok pria bermartabat itu pun tak bisa menyembunyikan rasa frustasinya. Dia tak sanggup lagi melihat kepiluan yang akan dilakukan oleh wanita yang telah dia nikahi selama ini.
Tangan Yang Zi hampir menyelesaikan gerakan pemanggilan inti rohnya. Bahkan mantra pun telah hampir selesai dia rapal.
Ye Tian tidak ingin hal yang paling dia takuti terjadi. Dia tidak bisa kehilangan Yang Zi seperti ini.
 Sehingga, dengan gerakan cepatnya, Long Ye Tian menarik anak panah yang tersimpan di punggungnya kemudian dengan gerakan cepat pria itu mengarahkannya ke tubuh Yang Zi.
Ye Tian melakukan hal tersebut karena dia tidak ingin Yang Zi mengeluarkan inti roh Phoenix-nya karena itu bisa membinasakan diri Yang Zi.
Panah itu melesat hingga menggores bahu Yang Zi. Sontak, wanita muda itu tersadar hingga menggagalkan usaha pengeluaran inti rohnya.
Geram ... tentu saja Yang Zi sangat geram. Putri dari kerajaan Burung itu mundur selangkah. Hingga nyaris tak tersisa lagi tanah tempat untuknya berpijak.
Benar, wanita muda itu hampir terdesak. Di bawah kaki jenjangnya terdapat jurang dari tebing tinggi yang sangat mungkin menghancurkan tubuhnya jika wanita itu terjatuh dari sana.
Kesal karena Ye Tian tak terus dan terus berpura-pura baik padanya. Tentu saja semakin menyisakan penyesalan di mata Yang Zi.
Dalam isaknya, Yang Zi melepaskan tiara indah dari kepalanya. Kemudian dia mengayunkan pedang yang sejak tadi dia bawa hingga membelah tiara itu menjadi dua bagian.
Tak sampai di situ saja. Yang Zi juga menarik sebagian rambutnya dengan dan memotong sedikit rambut itu. Hal tersebut menandakan, "Kita akhiri sampai di sini, Yang Mulia."
Usai mengatakan hal tersebut, Yang Zi mendorong tubuhnya ke belakang hingga terhuyung dan jatuh dengan mudahnya dari atas lembah.
"Semoga Langit tidak mempertemukan kita kembali." Suara terakhir putri ketiga yang terdengar parau dan diiringi isak tangis sebelum dia menjatuhkan dirinya sendiri ke lembah berbatu.
Akhir hidup yang begitu tragis itu menyimak duka yang akan terus terbawa oleh embusan angin. Dan tak mungkin padam dengan siraman hujan berkat dari langit.
"Tidaaaakkk ... Zi er .... tidak! kau tidak bisa melakukan hal ini padaku."
__ADS_1