
Sesosok manusia berbaju serba hitam berjalan mengendap masuk ke sebuah kediaman yang dijaga ketat.
Sosok itu menggenggam pegangan pedang miliknya sebagai bentuk perlindungan diri.
Usai mengamati sekeliling yang banyak prajurit berjaga, dia menarik nafas dalam-dalam kemudian berseru, "aku harus berhati-hati."
Dia berdiri di atap dengan sikap bertahan. Setelah sebelumnya, sosok itu mendapatkan perintah untuk menghabisi pemilik rumah ini karena sudah mengusik tuannya.
"Kali ini aku benar-benar harus hati-hati," Dia melompat dengan perlahan untuk turun dari atap.
Usai kedua kakinya menyentuh tanah, sosok itu langsung berjaga dengan semua sikap ketelitian.
Begitu kehadirannya diketahui oleh satu orang penjaga, sosok itu langsung menyerang penjaga malam itu dengan mudahnya.
Wajah yang tertutup itu kemudian segera bergegas ke tempat yang sudah dia kantongi letak denahnya.
"Menurut denah yang sudah kudapat, seharusnya dia ada di dalam sana."
Namun, ruangan si pemilik itu dijaga oleh dua orang anak buah dengan tombak pada masing-masing tangan mereka.
Sepertinya cukup sulit bagi sosok itu untuk masuk ke dalam tanpa keributan dan tanpa harus menghabisi nyawa orang lain.
Sosok berbaju hitam itu memutar otak. Dia menemukan ini untuk masuk melalui celah seukuran tubuhnya. Meskipun lebih kecil dari jendela, lubang angin itu pas dengan tubuh rampingnya.
Lega rasanya, dia bisa masuk dengan mudah tanpa harus berurusan dengan para penjaga.
Dia masuk dan berjalan ke arah tempat tidur dan melihat seorang pria tengah berbaring dengan mata terbuka.
Dia bergumam, "Kenapa aku harus terus berurusan dengannya?"
Sosok berpakaian serba hitam itu kemudian menarik pedangnya dan menghunuskan benda tajam itu ke leher pria yang kini berada di depan matanya.
Jika bukan karena tugas yang dia dapatkan, sosok itu enggan untuk melakukan hal seperti ini. Terlebih lagi dengan pria yang sudah mengacau di rumahnya kemarin-kemarin.
Begitu naluri ingin membunuhnya sudah mencapai ubun-ubun, sosok berbaju hitam itu dengan bengis menggerakkan pedang hendak menggores leher si pria yang tengah berbaring.
Tetapi ... gerakan pedang itu mampu ditepis hanya dengan satu gerakan dua jari yakni jari telunjuk dan ibu jari pria itu.
Usai menggagalkan usaha percobaan pembunuhan itu, pria tadi memukul sosok yang hendak merenggut nyawanya dengan satu hentakan pelan telapak tangannya.
__ADS_1
Sontak, sosok yang hanya terlihat matanya saja itu mundur oleh serangan itu.
Pedangnya hampir terlepas, "Siapa pria ini? Dia bukan ketua Serikat Dagang." batinnya.
Dari informasi yang dia dapatkan, sosok ketua Serikat Dagang bukanlah pria yang bisa bela diri.
Kedatangannya malam ini tidak boleh sia-sia, penyusup itu menyerang kembali dengan tenaga yang lebih kuat. Dia sudah tidak peduli lagi jika keributan yang dia timbulkan akan diketahui penjaga di luar.
"Kau datang dengan agresif, Nona. Apa seperti ini caramu menyapa suamimu?" Rupanya Lu Tingxiao palsu sudah bisa menebak siapa dan apa motif kedatangan wanitanya.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Ye Yuanshi akan berambisi ingin membunuhnya. Jika hanya karena keributan di rumah judi, untuk apa Ye Yuanshi bertindak sejauh ini.
"Jaga ucapanmu, aku di sini datang untuk menghabisi nyawamu." Rupanya Ye Yuanshi tidak main-main.
Wanita itu melompat hendak menerjang pria yang hanya mengenakan baju putih sebagai baju dalaman dari hanfu itu.
"Kau kenapa seperti ini, Yang Zi?"
Lu Tingxiao palsu hanya bertahan dari setiap serangan Ye Yuanshi. Dia sama sekali tidak berminat untuk melukai istrinya di masa lalu itu.
Benar saja, keributan itu di dengar oleh penjaga di luar. Sehingga, kedua penjaga itu masuk dengan paksa ke kamar pribadi ketua mereka.
"Kehidupan seperti apa yang kau alami saat ini, Zi-zi?" pikir Lu Tingxiao.
Dari awal, sebenarnya Lu Tingxiao sudah menyadari jika kehidupan ke sembilan Yang Zi ini tidak lah mudah. Ketika kedua bertemu untuk kali pertama di rumah bordil Baoqing, Lu Tingxiao sempat melihat jari Ye Yuanshi yang terluka.
Luka itu dia dapatkan karena sering menggunakan anak panah. Sehingga Lu Tingxiao sudah sempat menaruh kecurigaan terhadap Yuanshi.
Dan kini, tanpa perlu Ye Yuanshi membuka penutup wajahnya saja, Long Ye Tian sudah bisa menebak istrinya itu. Dari lekuk tubuh serta aroma dan juga auranya saja, Lu Tingxiao bisa mengetahui siapa sosok di balik si penyusup.
"Jangan banyak bicara!" Ye Yuanshi menambah kekuatan lagi. Dia ingin segera menyelesaikan misinya ini.
Satu tebasan demi tebasan dia arahkan ke Lu Tingxiao. Tidak hanya itu saja, kakinya juga bergerak lincah mengejar ke manapun pria tanpa senjata itu pergi.
Misi untuk membunuh seperti ini, bukan pertama kali bagi Ye Yuanshi. Dia sering mendapatkan tugas berbahaya dari tuannya.
Dan tugasnya malam ini adalah menyaksikan nyawa Lu Tingxiao terlepas dari badannya.
Merasa Ye Yuanshi semakin berambisi ingin membunuhnya, Lu Tingxiao semakin tertarik. Dia sengaja mempermainkan emosi Ye Yuanshi dengan sama sekali tidak mengeluarkan senjatanya.
__ADS_1
"Kau ingin nyawaku? Kenapa harus merebut seperti ini, Nona? Katakan saja, aku akan memberikan apapun untukmu." ejek Lu Tingxiao.
"Diam kau!"
Berbagai benda di dalam kamar itu hancur akibat benturan badan dan juga sabetan pedang Ye Yuanshi.
"Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia kuat sekali? Dia bukan Lu Tingxiao." batin Ye Yuanshi.
Baru kali ini, Ye Yuanshi kesulitan dan kelelahan mengahadapi musuhnya. Bahkan musuhnya itu sama sekali tidak menggunakan senjata. Dia hanya berkelahi dengan tangan hampa dan mengandalkan tenaga dalam saja.
Lu Tingxiao tersenyum tipis karena melihat kesungguhan Ye Yuanshi ingin membunuhnya.
Begitu melihat sang wanita sudah kehabisan nafas dan terengah-engah, Lu Tingxiao segera menarik ujung pedang Ye Yuanshi dan melemparkannya ke lantai kamar.
Dan ketika pedang itu terlempar dan jatuh, segera Lu Tingxiao menekan pergerakan Ye Yuanshi ke arah dinding agar wanita itu menyerah.
Begitu Ye Yuanshi terpojok, Lu Tingxiao segera menarik penutup wajah wanita itu.
Untung saja, kedua anak buahnya tidak berada di tempat karena sudah dia usir untuk tidak ikut campur.
"Kau menyerah, Nona Ye?"
Ye Yuanshi membuang muka, tak Sudi baginya untuk menyerah pada musuhnya.
"Bunuh saja aku!" bentak Ye Yuanshi. Dia memilih mati daripada harus gagal menjalankan misi ini.
"Tidak, tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah, Nona."
"Lebih baik aku mati daripada harus gagal menjalankan misi."
Mendengar kata-kata Ye Yuanshi, hati Lu Tingxiao bergetar. Dia benar-benar tidak menyangka jika istrinya menjalani kehidupan yang begitu sulit.
Bahkan jika tidak ada Ye Yuanshi di depannya, Lu Tingxiao bisa berteriak dan memaki semua yang ada di depannya.
"Kembalilah denganku! Ikutlah aku, aku berjanji akan melindungimu hingga kapanpun."
Permintaan dan janji Lu Tingxiao seperti sebuah omong kosong belaka di telinga Ye Yuanshi.
Wanita itu menggerakkan salah satu tangannya yang terbebas dari Lu Tingxiao untuk merogoh pisau di balik baju hitamnya.
__ADS_1
Dia ingin menggunakan kesempatan terakhir ini untuk membunuh Lu Tingxiao. Begitu pisau di balik baju sudah dia dapatkan, Ye Yuanshi dengan cepat mengarahkan ke perut Lu Tingxiao.