
Catherine POV
Aku melangkahkan kedua kakiku dengan gontai memasuki Universitas KyungHee. Aku menghentikan langkahku sejenak untuk menatap bangunan ini yang sangat besar. Well, ini memang tidak sebesar Universitas Toronto tapi cukup membuatku menyukainya. KyungHee, tidak salah aku memilih tempat ini untuk melanjutkan studiku.
Aku menghela napas sebelum kulanjutkan langkahku menuju ruangan adminitrasi untuk menyerahkan surat kepindahanku. Merepotkan. Hanya kata itu yang terbesit di pikiranku untuk mendeksripsikan situasi seperti ini.
Aku membungkuk 90 derajat, menyapa seseorang yang terlihat seumuran dengan Ayah sedang duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah dimana aku berada sekarang. Aku tersenyum tipis padanya begitu aku berdiri tegak. Beliau mempersilahkanku untuk duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangannya sebelum beliau ikut mengambil
posisi di hadapanku.
"Anda yang namanya Catherine? Perkenalkan, aku adalah Kim Tae Woo, orang yang akan
mengurus surat kepindahanmu itu."
"Annyeong haseyo, Paman Tae Woo, bolehkan aku memanggilmu dengan sebutan itu? Aku sudah mendengar sedikit tentang Paman dari Kevin, maksudku, Kevin oppa," menjijikkan, aku bahkan tidak pernah memanggil Elias dengan sebutan itu, tapi sekarang aku harus membiasakan diri untuk memanggilnya dengan sebutan seperti ini di hadapan orang-orang yang lebih tua apalagi kalau bukan untuk menunjukkan sopan satunku? Amerika dan Korea memang berbeda. Adat istiadat mereka sangat berbeda sehingga membuatku sedikit tersiksa untuk beradaptasi karena aku sudah terbiasa tinggal di Amerika meski aku menghabiskan masa kecilku di sini, aku tetap tidak terbiasa.
"Kevin oppa mengatakan bahwa Paman yang akan mengurus kepindahanku di sini."
Paman Tae Woo terkekeh pelan begitu selesai mendengarku berujar. "Ternyata benar apa yang dikatakan Kevin, kau masih belum begitu menguasai bahasa Korea padahal kau dulu pernah tinggal di sini, aksen Amerikamu masih sangat kental, apa kau tidak berniat untuk mengambil kursus bahasa Korea selama beberapa bulan?"
Aku mengerutkan keningku begitu mendengarnya mengatakan aku yang tidak begitu menguasai bahasa Korea. Beliau terlihat sangat dekat dengan Kevin, apa hubungan mereka? Aku jadi penasaran.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?" tanyanya seolah dia bisa membaca pikiranku.
Bibirku melengkung, membentuk sebuah senyuman yang amat manis padanya. "Hmm, Paman terlihat sangat dekat dengan Kevin oppa, apa kalian,... hmm, maksudku—"
Paman terbahak, mungkin karena ekspresiku atau karena kata-kata yang kulontarkan dengan nada yang cukup gugup. "Kau anak yang cukup menyenangkan. Ya, aku adalah Paman Kevin, apa dia tidak pernah memberitahumu sebelumnya? Ah, anak ini benar-benar, dia harus kumarahi nanti."
Aku tertawa. Untuk pertama kalinya aku tertawa setelah kepindahanku ke sini. Paman terdiam begitu mendengar suara tawaku. Aku berhenti tertawa, beralih untuk menatap Paman dengan bingung. "Kau manis sekali, Catherine," ujarnya dengan nada yang sangat tulus sembari tersenyum ke arahku.
Aku membalas senyumannya sembari mengucapkan terima kasih padanya. Paman adalah orang yang baik. "Baiklah, kau bisa pulang dulu, besok kau sudah bisa masuk ke kelasmu, sudah tahu jadwal pelajaranmu, bukan?" Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Paman.
"Hmm, apa Kevin akan menjemputmu nanti?" lanjutnya lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku sementara Paman langsung meraih ponselnya yang diletakkannya di atas meja dan menelpon seseorang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak menjemput tunanganmu? Apa kau ingin membiarkan pulang sendiri sementara dia masih asing dengan tempat ini?" serunya yang langsung membuatku menoleh kepalaku, menatap Paman yang kini sudah berdiri di depan mejanya. Kevin, Paman pasti sedang menelpon Kevin dan memarahinya. Aku tersenyum sembari membayangkan ekspresi Kevin ketika dimarahi Paman, pasti lucu sekali.
"Aku akan tunggu di luar saja, Paman." Aku berdiri dan membungkuk untuk memberi salam padanya. Ketika aku ingin beranjak pergi, Paman Tae Woo kembali bersuara.
"Cat, nama koreamu apa?"
Aku tersenyum tipis. Aku sempat bingung apa aku harus memberitahunya karena memang aku sudah tidak pernah menggunakan nama itu semenjak aku Canada. Hanya Catherine yang kugunakan. Kurasa nama koreaku hanya akan membawa luka untukku. Hanya mereka, Ibu dan Brian yang memanggilku dengan nama itu. "Yoo Hye Sun, Paman."
Paman tersenyum. "Nama yang manis seperti pemiliknya, Hye Sun."
__ADS_1
Dapat kurasakan setetes cairan bening mengalir keluar dari sudut mataku. Aku buru-buru pamit dengan Paman, tidak ingin dia menyadarinya. Aku tidak ingin Paman merasa bersalah padaku karena dia sudah membuka lukaku yang lama.
***
"Apa yang kau katakan pada Paman? Kenapa dia memarahiku?" sembur Kevin begitu aku sudah duduk di samping kursi kemudi. Aku menoleh dan tersenyum tipis sembari mengangkat bahuku. "Aku tidak mengatakan apa-apa padanya, sungguh."
Kevin mulai melajukan mobilnya sementara kedua matanya masih mengawasiku dari sudut, aku terkekeh pelan sementara dia mengernyitkan keningnya seolah melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. "Kenapa?" tanyaku yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak pernah melihatmu tertawa seperti tadi, kau terlihat cantik. Kau harus lebih banyak tertawa," timpalnya begitu mobilnya keluar dari kawasan KyungHee. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apalagi. Entah kenapa jantungku sedikit berdebar-debar ketika dia mengucapkan kalimat itu. Aku terlihat cantik? Harus kuakui, sosok yang kini duduk di sampingku ini sedikit mengalihkan perhatianku pada Elias, apa itu tandanya aku mulai menyukainya?
"Kevin, bisakah kita berteman baik? Kurasa itu tidak merugikan." Aku bersuara setelah beberapa detik aku berdiam diri.
Kevin menoleh dan tersenyum samar. "Tentu saja, kita tidak bisa menjadi orang asing selamanya, kan? Ohya, besok aku akan menjemputmu, kita berangkat bersama."
"Aku bisa berangkat sendiri tapi terserahmu saja jika kau tidak menganggapku merepotkanmu. Mungkin aku akan meminta sebuah mobil pada Ayah, sedikit merepotkan jika tidak memiliki kendaraan sendiri."
"Kau bisa menggunakan mobilku jika kau mau. Aku memiliki banyak koleksi mobil. Mungkin kau ingin ke rumahku sebentar untuk memilih mobilnya sendiri?"
Aku menautkan kedua alisku. "Kurasa tidak perlu. Kau yang tentukan saja, itu
mobil-mobilmu."
__ADS_1
Kevin mengangkat bahunya menandakan tidak peduli. "Baiklah."