
"Aku akan kembali ke Korea," ujarku begitu Ayah dan wanita itu duduk di hadapanku. Mereka menatap bingung ke arahku. Aku hanya tersenyum tipis. "Aku ingin kembali ke sana. Bukannya tunanganku berada di sana? Seharusnya kalian senang sekali kalau aku kembali ke sana, bukan?"
Ayah menatap wanita itu sebentar sebelum kembali menatapku. "Tapi Kevin akan pindah ke sini, kau tidak perlu ke Korea," ucap Ayah dengan nada yang menurutku sedikit gugup. Sepertinya dia tidak ingin aku kembali ke Korea. Mungkin dia tidak ingin aku mengingat kembali apa yang sudah pernah terjadi di sana.
Aku mengangkat bahuku. "Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan," timpalku kemudian. Aku melirik sekilas ke arah wanita itu. Dia juga terlihat seperti Ayah. Gugup. Entah itu hanya perasaanku atau apa, aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu dariku.
"Apa Ayah bisa melarangmu?"
Aku menegakkan tubuhku dan tersenyum tipis. "Tidak. Kurasa tidak ada ruginya, bukan? Ayah bisa memberitahu pada Kris kalau aku yang akan pindah ke sana."
"Bagaimana kalau kau merasa tidak cocok?"
"Apa Ayah sudah lupa kalau aku pernah tinggal di sana? Itu tidak masalah."
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan, Ayah akan segera memberitahu Kris supaya bisa mencari apartemen yang bagus untukmu. Apakah kau sudah menemukan universitas yang kau inginkan? Kapan kau pindahnya?"
"Ayah tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu, aku sudah menemukan universitasnya dan untuk tanggal pindahnya, aku ingin secepatnya, Yah."
"Lakukan saja apa yang kau inginkan, sayang," ucap Ayah dengan suara yang lirih. Aku kemudian bangkit dari dudukku dan mohon diri. Aku lelah, mungkin karena kegiatan-kegiatan yang kulakukan hari ini, tubuhku serasa ingin remuk saja. Aku masuk ke dalam kamarku dan menuju balkonku sebelum masuk kembali dan merebahkan tubuhku ke ranjangku. Catherine, kau harus bisa menemukan Ibumu dan Brian, tidak ada yang lebih penting daripada mereka. Kevin? Dia hanya seseorang yang tidak kau kenal.
__ADS_1
***
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Cat?"
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Sean yang sudah berdiri tak jauh dariku. Aku melambaikan tanganku sekilas ke arahnya sembari tersenyum lebar. Sean menghampiriku dan mengambil posisi di sampingku. Dia mengambil alih tab yang tadinya kuletakkan di sampingku.
"Korea? Are you serious? Kau benar-benar ingin pindah ke sana? Apa otakmu sedang tidak beres?"
"Come on, Sean. Aku bukan anak kecil lagi, aku tahu apa yang kulakukan sekarang."
"Kau ingin menghindari Elias, bukan? Cat, aku sudah mengenalmu lama, kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan saja kalau kau ingin melupakannya."
Aku menundukkan kepalaku. Apa yang dikatakan Sean memang benar adanya. Aku memang ingin menghindari Elias meski bukan hanya itu yang menjadi alasan kenapa aku ingin pindah ke Korea, Ibu dan Brian, mereka yang menjadi alasan utama kepindahanku itu, tapi Sean tidak perlu mengetahuinya. "Apa dia mengetahui soal ini? Kau tidak memberitahu padanya?"
"Kau egois, Cat." Sean berujar tanpa menatapku. Dia menatap hamparan di hadapannya seraya mengembuskan napasnya perlahan. Aku tidak mengerti. "Kau pasti tahu kalau Elias masih mencintaimu, bahkan melebihi apapun sekarang.Dia melepaskanmu karena tidak ingin melihatmu menderita, Cat. Kau harus memberitahunya sendiri."
Aku mendesah. Tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku mencintai Elias, aku ingin mempertahankan hubungan ini. Tapi dia yang melepaskanku. Dia yang sudah menyerah sama cinta ini.
"Kau masih bisa mendapatkannya kembali jika sudah membatalkan pertunanganmu itu," ujar Sean lagi seolah mengerti apa yang kupikirkan sekarang. Aku menatapnya dengan serius seolah ingin dia melanjutkan ceramahnya. "Katakanlah pada Ayahmu jika kau tidak mencintai laki-laki itu."
__ADS_1
"Itu tidak semudah yang kau katakan, Sean." Aku kembali mendesah. "Tapi aku akan berusaha."
***
"Brian, apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang gadis kecil pada kakak lelakinya. Sang gadis itu kemudian berlari menghampiri kakaknya dan duduk di sampingnya. Keduua tangan mungilnya mengambil alih sebuah majalah yang tengan dibaca oleh kakaknya. "Apa ini?" tanyanya lagi dengan suara antusias.
Brian tersenyum melihat adiknya yang begitu polos. "Apa kau ingin mengunjungi tempat ini bersamaku ketika kita sudah besar nanti, Cat?" Brian menunjuk halaman majalah yang menampilkan beberapa foto tempat wisata yang cantik.
Catherine menatap bingung Brian. "Dimana tempat itu berada?"
"Maldive. Sangat cantik, kan, pantainya? Airnya sangat jernih. Kita bisa melakukan snorkeling, memancing, berenang, dan lain-lain."
Catherine tersenyum lebar. "Kau akan membawaku ke sana, bukan? Kau harus berjanji padaku, Brian. Kau tidak boleh ingkar janji," ujar Cat sembari melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari Brian. Brian mengacak rambut adiknya dengan gemas.
***
Aku terbangun dari mimpi itu. Aku menyeka keringatku yang sudah membasahi setengah wajahku sebelum kemudian bangkit dari tidurku dan menuju balkon kamar seperti biasanya. Aku berbaring di sebuah kursi santai yang sengaja kuletakkan di sana. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat langit hitam yang tidak dihiasi bintang-bintang kecil yang bersinar, hanya bulan yang senantiasa menemani langit yang kesepian itu, seperti biasa.
Aku tersenyum nanar begitu mengingat kembali mimpi itu. Janji? Bisakah dia menepati janjinya setelah sekian lama tidak bertemu denganku? Apakah dia masih mengingatku? Atau dia sudah melupakanku? Aku bahkan tidak berani berpikir kenyataan bahwa dia sudah melupakanku. Dia akan mencari tahu keberadaanku jika dia masih mengingatku, kan? Tapi nyatanya? Dia bahkan tidak berusaha untuk mencari tahu tentang keberadaanku? Atau dia sudah pasrah karena tidak menemukanku?
__ADS_1
Korea? Yah, aku akan segera kembali ke tempat dimana terdapat banyak kenangan antara aku, Brian, Ayah dan juga Ibu. Semuanya akan berubah jika aku menemukan mereka. Semua ini bahkan tidak akan terjadi jika Ibu tidak membawa Brian meninggalkanku dan Ayah.
***