
Aku tersenyum miris begitu mengingat kembali kejadian tadi. Hatiku seolah dicabik-cabik oleh ribuan belati yang membuatnya sangat sakit. Tanpa kusadari, air mata yang sedari tadi kutahan kini kembali mengalir keluar. Aku membekap mulutku sendiri seolah ingin menghentikan isakkanku yang semakin lama semakin kuat meskipun kutahu pada akhirnya aku tidak akan bisa berhenti terisak. Semakin ia mencoba untuk menghentikan air matanya, semakin sakit hatinya ini.
Aku masuk kembali ke kamarku dan naik ke atas ranjangku, aku berbaring dan menatap langit-langit kamarku yang bernuansa violet sebelum tanganku terulur untuk meraih boneka itu. Aku mendekap boneka itu dengan erat dengan jari-jariku yang mengelus bulu-bulunya dan kembali terisak.
Aku merutuki takdirku. Kenapa aku selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi? Apa segitu buruknya aku hingga mereka tidak ada yang ingin berada di sisiku? Apa kesalahan yang telah kulakukan selama ini hingga mereka semua meninggalkanku? Kenapa hanya aku yang ditakdirkan menjalani kehidupan seperti ini? Untuk apa aku hidup lagi sementara aku sudah kehilangan semua yang kusayangi?
Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus mempertahankan hubunganku dan Elias, aku tidak ingin menyesal lagi. Aku harus kuat.Dengan tergesa-gesa, aku bangkit dari ranjangku dan menyambar kunci mobilku yang kuletakkan di atas meja riasku serta kardiganku yang kugantungkan di dalam lemari. Aku segera keluar dari kamarku dan turun ke bawah dengan tanganku yang mengelap sisa-sisa air mata yang ada di wajahku.Aku tidak memedulikan teguran dari Ayahketika aku hendak membuka pintu, yang ada di pikiranku sekarang adalah mencari cara untuk mempertahankan hubunganku dan Elias, aku tidak ingin sendirian lagi.
__ADS_1
***
Aku menekan bel apartemen Elias beberapa kali sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku yang kedinginan, pilihan hanya mengenakan kardigan itu ternyata salah, karena suhu di malam hari semakin menurun dan sedikit membuatku menggigil.
Sudah beberapa saat aku menunggu Elias membuka pintunya, namun dia tak kunjung keluar. Aku sudah kehabisan kesabaran. Aku menggedor-gedor pintu apartemen Elias dengan air mata yang sudah menggenang di kedua pelupuk mataku. "Elias! Tolong bukakan pintunya. Aku ingin bicara denganmu, aku mohon, Elias," seruku dengan suara yang serak.
"Kumohon, Elias, berikan aku waktu, aku akan segera memutuskan pertunangan itu, aku tidak mencintainya, Elias. So, please, jangan menyuruhku untuk mencintainya." Aku terisak dan tubuhku semakin lemas. Aku menarik kedua lengan Elias, memohon padanya.
__ADS_1
Elias menghempaskan tanganku dan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. Antara sedih, marah, dan kasihan. "Cat, tidak seharusnya kau berada di sini. Aku tidak akan memberimu waktu, Cat. Takdirmu adalah dia, kau tidak akan bisa melawannya. Temuilah dia dan berikan sebuah kesempatan untuknya," ujar Elias dengan suara yang lirih.
Aku menatapnya dengan sendu."Elias, kumohon, jangan pernah menyuruhku untuk meninggalkanmu, kau tahu sendiri, bukan, aku sudah kehilangan Ibuku dan juga Brian, aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
"I'm so sorry."
"Elias, please...." Dia berbalik dan menutup pintu apartemennya tanpa memedulikanku yang semakin terisak. Dia sungguh kejam. Begitu tegakah dirinya menyerahkan cinta ini sebegitu mudahnya?
__ADS_1
Aku menyeka sisa air mataku dengan punggung tanganku dengan lemah. Tubuhku serasa sudah tidak berfungsi lagi. Angin malam yang berhembus terasa begitu menusuk tubuhku hingga membuatnya menggigil. Aku memenjamkan kedua mataku sebentar sebelum membukanya kembali. Aku harus memulai lembar kehidupanku yang baru tanpa adanya Elias di dalamnya.