Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 2


__ADS_3

Kami kini sedang duduk di pantai setelah perjalanan yang hampir memakan waktu 2 jam dengan kepalaku yang bersandar di pundaknya, menikmati pemandangan yang ada di hadapan kami. Angin bertiup dengan gemulai, membuat rambut depanku sedikit acak karenanya. Elias merangkul pundakku dengan erat, memberiku kehangatan yang hanya diberikannya untukku seorang. Aku tersenyum dalam hati, berharap dia tidak akan meninggalkanku seperti mereka.


Aku menengadah, menatapnya yang sedang memenjamkan kedua matanya. Elias memiliki paras wajah yang hampir mendekati sempurna. Dengan bola matanya yang besar dan berwarna cokelat sudah sering membuatku iri apalagi dia memiliki hidung yang mancung dan lesung pipi yang membuatnya semakin tampan ketika tertawa. Aku sangat menyukai wajahnya, dia selalu mengejekku ketika mendapatiku yang diam-diam memerhatikannya, tidak


jarang dia mengatakan bahwa dia akan memberiku segala-galanya yang kuinginkan darinya meski itu mustahil terjadi.


"Aku tahu aku tampan, sayang, tapi kau tidak perlu memerhatikanku selama ini, kan?"


Aku mengerucutkan bibirku dengan kesal. "Kenapa kau tahu? Bukannya kedua matamu sedang terpenjam?"


"Apa kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, hmm?"


Aku menggelengkan kepalaku dengan polos.


"Karena hatiku mengatakan demikian. Kedua mataku dan pikiranku hanya tertuju padamu. Hatiku hanya mencintaimu. Jantungku yang berdetak karenamu. Kedua tanganku hanya untuk menggenggammu, menghapus air matamu dan memelukmu. Segala sesuatu yang ada pada diriku hanya milikmu seorang, Catherine."


Cintanya begitu egois dipandang semua orang, tetapi aku sangat menyukainnya hingga aku selalu bertanya pada diri sendiri, 'bisakah aku tidak memdulikan segala-galanya dan hanya berada di samping Elias saja?'


Jawabannya adalah tidak. Keinginan untuk bertemu dengan kakak lelakinya jauh lebih besar dari keinginan untuk bersamanya. Dia egois dan aku juga egois. Aku menguatkan diri untuk menatap kedua matanya. Aku tidak bisa lagi berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi. Aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini padanya lagi. Tidak

__ADS_1


tahu kenapa aku begitu takut untuk berkata jujur. Hatiku terasa sesak dengan air mataku yang mengalir keluar membuat Elias menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku membalas pelukannya dengan erat seolah tidak ingin


melepaskannya untuk selamanya. Aku berharap waktu bisa berhenti di saat seperti ini meski ini mustahil.


"Aku... aku ingin mengatakan sesuatu, Elias," ujarku dengan terbata-bata.


***


"Aku akan bertunangan,... dengan orang-lain." Dapat kulihat tubuh Elias yang


menegang, menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku mencoba meraih tangannya


namun dihentakkannya dengan kuat membuatku tersentak.


"Elias,..."


"Tidak, tidak, kau tidak perlu mengulanginya. Anggap saja kita tidak pernah membahas masalah seperti ini." Elias menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat membuat air mataku kembali mengalir keluar.


"Elias, tolong, kau harus mendengarku, kau harus mengertiku, hanya kau seorang yang bisa memahamiku. Please, Elias, tenangkan dirimu dulu," isakku sembari memeluk tubuhnya yang yang masih menegang namun tidak kupeduli. Aku menangis dalam pelukannya, ia membalas pelukanku, membiarkanku membuat bajunya basah. Aku.. aku dapat merasakan baju yang kukenakan perlahan basah karena air matanya. Ini pertama kali aku melihatnya menangis. Dadaku semakin sesak.Aku... perasaan sesak ini kembali kurasakan. Aku takut. Aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi.

__ADS_1


"Kurasa, hubungan kita cukup sampai di sini saja, Cat," ujar Elias setelah melepaskan pelukanku.


Aku terkesiap. Kedua tanganku yang mulanya masih mencengkeram erat lengan Elias, terlepas begitu saja. Kedua mataku kembali memanas. Dadaku semakin kekurangan pasokan oksigen, membuatku semakin dan semakin sesak.  Apa begitu mudah mengatakan kalimat itu? Begitu mudahkah dia melepaskanku hanya karena pertunangan itu? Pertunangan yang bahkan tidak didasari oleh cinta. Begitu mudahkan dia meninggalkanku? Melupakan segala kenangan yang pernah kulalui bersamanya? Aku... begitu mudahnya dia melepaskanku yang bahkan... hanya memilikinya seorang yang bisa bersandar?


"Elias kenapa kau tega mengakhiri hubungan ini? Kenapa? Kenapa? Apa karena pertunganan ini? Aku bisa membatalkannya, Elias. Tolong percaya padaku, tolong." Aku terisak dengan kuat. Sungguh, aku sudah tidak tahu apa yang semestinya kulakukan lagi sekarang selain menumpahkan segala perasaanku dalam bentuk tangisan.


"Ya, aku memang tidak bisa menerima pertunanganmu dengan laki-laki lain. Aku tidak bisa lagi berada di sampingmu lagi setelah aku tahu kau sudah terikat. Aku tidak boleh egois, Cat. Berbahagialah di sisinya."


"Bagaimana aku bisa bahagia kalau kami tidak saling mencintai, Elias? Tunangan itu tidak didasari cinta, kau tahu itu. Hanya kau seorang yang aku cinta, tidak ada orang lain selain dirimu, Elias." Aku berteriak dengan air mata yang semakin mengalir deras. Suaraku bahkan terdengar lemah. Sangat. Kedua tanganku menarik pergelangan Elias, memohon padanya. Aku berlutut di hadapannya. Memohon padanya untuk tidak meninggalkanku. Aku terus memohon padanya hingga dia menyentakkan kedua tanganku.


"Elias, kumohon, jangan tinggalkan aku, aku sudah tidak sanggup untuk ditinggalkan lagi, Elias. Kumohon." Aku tahu tidak seharusnya aku memohon padanya. Tapi apa yang bisa kulakukan selain memohon padanya untuk tidak meninggalkanku? Aku tidak ingin ditinggalkan lagi. Cukup sekali aku ditinggalkan oleh kakak lekakiku dan ibuku sendiri.


Elias melepaskan genggamanku dan berbalik membelakangiku. Ia menghembuskan napasnya perlahan. "Berbahagialah." Dan, dia berjalan meninggalkanku sendiri di sini, di pantai yang memiliki banyak kenangan antara kami.


"KENAPA KAU TEGA SEKALI, ELIAS? Kau yang berjanji akan selalu berada di sisiku tidak peduli apapun yang terjadi. Kau yang mengatakan bahwa kau hanya milikku sekarang, Elias, apa kau sudah melupakannya? Katakan padaku kau tidak akan meninggalkanku, Elias. Kumohon jangan tinggalkan aku," seruku dengan kuat sembari memegang dadaku yang sesak dengan isakkanku yang semakin kuat.


Elias berhenti sejenak, berbalik dan menatapku. "Aku selalu menjadi milikmu tapi... kau bukan milikku lagi, Cat, kau sudah menjadi milik orang lain," lirihnya.


"Pertunangan itu tidak didasari cinta, Elias, kau tahu itu. Aku bisa membatalkan tunangan ini, aku memerlukan dukunganmu."

__ADS_1


Elias tersenyum sebelum kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin mengecil hingga di balik mobilnya. Kini hanya ada aku yang menangis tersedu-sedu dengan tubuhku yang sudah merosot ke bawah, hanya ada tangisanku, tidak ada lagi suara tawa Elias yang membahana di ruang gendang telingaku, sudah tidak ada bisikan lembut dari Elias yang selalu bisa membuatku cekikikan, semuanya terasa begitu hampa tanpa kehadirannya.Tubuhku bergetar hebat dan air mataku masih setia mengalir keluar melalui kedua sudut mataku membentuk beberapa sungai di wajahku. Bibirku masih meracau tak jelas. Aku berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi. Namun tidak, aku menyadari bahwa semua ini bukanlah ilusi, semua ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi dari sekarang.


Harus kuakui. Aku, Catherine Yoo, kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi. Bahkan ketika aku hanya menganggap Elias sebagai satu-satunya yang bisa ku berbagi juga meninggalkanku. Untuk apa lagi aku bertahan hidup?


__ADS_2