Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 7


__ADS_3

KEVIN POV


Aku berdiri malas dengan salah satu tanganku yang kumasukkan ke dalam saku celana. Kedua mataku menyapu ke seluruh ruangan besar ini sebelum kemudian mendapati seorang gadis yang sama dalam foto yang sedang kugenggam. Aku menatap kembali foto itu dan mengamati gadis yang kini sedang berjalan mendekatiku. Aku menarik sudut bibirku untuk membentuk sebuah senyuman simpul sembari mengulurkan tanganku. "Kevin Wu," ujarku dengan malas seperti biasanya.


Gadis itu – Catherine, gadis yang entah kapan sudah menjadi tunanganku, ternyata tampangnya tidak buruk. Dia memiliki sepasang mata besar yang berwarna biru-kecokelatan dan hidung yang mancung. Kuakui dia memang cantik. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya sekarang. Aku terlalu gengsi dan di samping itu karena dirinyalah aku dipaksa oleh Ayahku yang selama ini tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak kusukai. Ayah selalu menghargai pilihanku tapi kali ini Ayah ngotot dan sangat memaksa yang pada akhirnya mau tidak mau aku harus menerima gadis itu menjadi tunanganku.


Dia membalas uluran tanganku sembari tersenyum samar. "Catherine, call me Cat. Sorry, aku tidak begitu lancar menggunakan bahasa Korea, bisakah kita menggunakan bahasa Inggris saja seperti kemarin?"


Aku mengangkat alisku. Bukannya dia itu pernah tinggal di sini? Kenapa pula dia tidak lancar menggunakan bahasa Korea? Gadis itu benar-benar merepotkan. "It's ok," jawabku dengan singkat. Tidak masalah bagiku untuk berkomunikasi dengan bahasa Inggris, aku memang menguasai banyak bahasa, dan bahasa Inggris adalah salah


satu di antaranya.


"Maaf sudah merepotkanmu."

__ADS_1


Aku mengangkat kedua bahuku tidak peduli. Memang aku yang ngotot untuk menjemputnya. Aku memang tidak menyukainya tapi tidak bisa dipungkiri, aku penasaran dengannya jadi aku memaksakan diri untuk mejemputnya meski sebenarnya tidak masalah untukku membiarkannya datang sendiri ke apartemen dengan taxi dan ujung-ujungnya aku akan dimarahi Ayah karena sudah berani meninggalkannya sendirian.


Aku kemudian berjalan melaluinya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Aku meliriknya sekilas dan mendapatinya yang sedang mengikuti langkahku di belakang. Tanpa kusadari, aku tersenyum tipis.


***


"Naik." Aku menyuruhnya naik ke dalam mobil. Cat menatap bingung ke arahku. "Aku akan mengantarmu ke apartemen," ujarku seolah mengerti apa yang dipikirkannya. Dia mengangkat kedua bahunya sebelum kemudian duduk di kursi penumpang. Sepertinya dia tidak suka berbicara, sama sepertiku. Terlihat jelas dari tingkah lakunya yang begitu dingin dan kaku.


berpikir bagaimana caranya untuk memulai percakapan dengannya. Aku ingin membahas masalah pertunangan itu dengannya. Kuyakin dia pasti juga tidakmenyukai pertunangan ini. Dengar-dengar dia baru saja putus dengan kekasihnya karena hal ini. Aku sedikit merasa bersalah meski bukan aku ingin bertunangan dengannya. Ini adalah paksaan dari orangtua kami. Jadi jangan pernah salahkan aku yang menjadi tunangannya dan membuatnya harus berpisah dengan kekasihnya.


"Kenapa kau menatapku terus dari tadi?" tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih tanpa mengalihkan pandangannya. Aku sedikit tersentak karena pertanyaannya yang begitu tiba-tiba. Aku kembali menoleh dan menggelengkan kepalaku. "Jika ada yang ingin kau katakan padaku, katakan saja," lanjutnya kemudian.


Aku menghela napas sebelum mengutarakan apa yang sedang kupikirkan sejak tadi. "Bagaimana kalau kita mulai memikirkan cara-cara untuk membatalkan pertunangan ini?" Dia sepertinya sedikit terkejut atas apa yang baru saja kukatakan tadi.

__ADS_1


"Maksudmu?"


Aku segera menepikan mobilku dan memulai percakapan ini dengan serius. "Kau memiliki seorang kekasih, kan? Kurasa jika pertunangan ini dibatalkan, kau pasti akan sangat senang. Kau bisa kembali ke kekasihmu dan aku akan bebas. "Win win solution. Bagaimana?"


Dia mendesah. "Inikah yang kau pikirkan sejak tadi?"


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Akan kupikirkan lagi."


Aku mengernyit. Kenapa dia harus mimikirkannya lagi? Seharusnya dia merasa senang karena tawaranku. Tapi kenapa dia terlihat tidak terlalu semangat? Apa ada yang salah dengan penawaranku? Kurasa tidak. Tidak ada yang rugi di antara kita. Mutualisme. Kita sama-sama untung. Apa dia tidak ingin kembali ke pelukan kekasihnya? Tidak mungkin, dia pasti akan sangat senang jika pertunangan itu dibatalkan. Ah, sudahlah, kurasa dia hanya kelelahan. Aku akan mengajaknya bertemu lagi setelah nanti.


***

__ADS_1


__ADS_2