Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 10


__ADS_3

Aku terbangun karena mimpi itu lagi. Keringat sudah membasahi wajahku dan setengah tubuhku, aku bangkit dari ranjangku dan menuju lemari pakaianku sebelum kemudian masuk ke dalam  kamar mandi yang berada di dalam kamarku dan membanting pintunya dengan keras.


Aku membiarkan air shower terus membasahi tubuhku yang sudah lengket karena keringat dinginku. Aku menyeringai. Begitulah aku ketika aku ingin membuang stress. Bersembunyi di dalam kamar mandi dan berdiri di


bawah shower, membiarkan air terus turun membasahi tubuhku. Aku tidak akan pernah peduli dengan tubuhku yang akan menggigil kedinginan setelah ini. Itu tidak pernah sebanding dengan penderitaan yang kurasakan selama ini. Penderitaan yang tidak akan ada habisnya. Luka yang tidak akan pernah disembuhi,  sakit yang akan semakin membuatku melemah.


Aku menangis dan berteriak seiring dengan air shower itu, seiring dengan luka yang semakin melebar, semakin pedih. Dengan kedua tanganku yang terus memukul kedua dadaku, tubuhku merosot ke bawah, aku terus menahan sakit ini, sampai kapan aku harus merasakan ini semua seorang diri? Sampai kapan  penderitaanku akan berakhir?


Aku meringis. Apakah ada seseorang yang benar-benar peduli denganku? Elias, seseorang yang selalu menjadi tempat bergantungku kini meninggalkanku pula, hanya karena pertunangan itu. Sepenting itukah status tunangan di pandangannya? Apakah aku tidak cukup berharga untuknya?


Tanpa kusadari, seseorang sudah membuka pintu kamar mandi ini dengan cukup keras membuatku mengangkat kepalaku, melihat siapa yang sudah berani mengangguku. Orang itu menatapku dengan tatapan yang khawatir membuatku sedikit tersenyum sebelum semuanya menjadi gelap.


***


Aku membuka kedua mataku dengan perlahan dan langsung mendapati sosok orang yang sama dengan orang yang membuka pintu kamar mandiku dengan keras tadi. Aku mendengus. Kevin – begitulah nama panggilannya.


Setelah mendapati aku yang sudah sadarkan diri, dia langsung menjatuhkan pantatnya di ranjangku, duduk di sampingku. Aku melebarkan kedua mataku begitu melihatnya yang menyodorkan sebutir obat dan segelas air mineral. “Apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.


Dia tersenyum lebar. Dalam hati, aku sudah merutuki dirinya yang sudah berani menyodorkan barang terlarang itu di hadapanku. Benar, aku tidak menyukai yang namanya obat bahkan aku selalu menghindarinya. “Seperti yang kau lihat. Hmm, kau harus membiasakan diri untuk menggunakan bahasa Korea supaya tidak terdengar kaku lagi, jadi mulai sekarang, aku akan selalu menggunakan bahasa Korea, no more English,” ujarnya yang


semakin membuatku mendengus. Apa katanya? No more English? Hello! Selama ini aku sudah terbiasa dengan yang namanya bahasa Inggris, bagaimana bisa aku berinteraksi dengannya dengan bahasa Korea yang benar-benar belum kukuasai sepenuhnya?


“Ini, kau harus meminumnya supaya demammu cepat sembuh,” ujarnya lagi yang langsung membuatku memegang dahiku, panas, sepertinya aku benar-benar demam.


“Apa yang kau lakukan semalam? Kenapa kau membiarkan air terus membasahi tubuhmu? Kau bisa cerita padaku jika ingin berbagi dengan seseorang, aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu.”


Aku menyerngit. Ini kali pertama aku mendengarnya berujar panjang lebar seperti ini. Apa otaknya sedang tidak beres? Kenapa dia bisa begitu peduli denganku? Aku menggelengkan kepalaku untuk menghentikan pikiran liar ini.


“Ini,” dia kembali menyodorkan obat itu padaku membuatku memalingkan wajahku.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan meminumnya, obatnya pasti pahit.”


Dia tertawa begitu mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan. Aku menoleh dan semakin bingung melihat sikapnya yang berubah 180 derajat hari ini. Ini juga kali pertama aku melihatnya tertawa begitu lepas di hadapanku. Apa benar otaknya sedang tidak beres? Atau dia sudah gila?


Aku meringis begitu dia memencet hidungku, tidak kuat, tapi juga tidak pelan. “Bodoh. Yang namanya obat itu pasti pahit, dan jika kau ingin sembuh, kau harus meminumnya!” perintahnya kembali menyodorkan obat itu padaku.


“Apa tidak ada sesuatu yang bisa membuatku sembuh selain obat sialan ini?” tanyaku masih berusaha untuk mengelak.


“Tidak,” tegasnya yang langsung membuatku mau tidak mau harus meminum obatnya.


Dia tersenyum lebar begitu melihatku yang sudah menelan obat itu. Aku mendengus kesal. “Kau harus banyak istirahat, aku akan menjengukmu lagi nanti siang,” ujarnya dengan suara yang pelan sembari bangkit dari duduknya sebelum kemudian mulai melangkah keluar dari kamarku, namun sebelumnya entah apa yang membuatku untuk menahan kepergiannya dengan menarik pergelangan tangannya. Dia berbalik dan menatapku dengan lembut, membuatku seolah merasa nyaman berada di dekatnya.


“Ada apa?”


Aku menggelengkan kepalaku seraya melepaskan tangannya. “Tidak ada apa-apa.”


“Kalau begitu aku akan pergi sekarang, tidurlah, kau harus istirahat sekarang.”


***


Aku membuka kedua mataku yang berat dengan susah payah. Aku meraih ponselku dan mendapati sekarang uda jam 12 siang. Pantesan aku merasa kelaparan. Dengan susah payah aku turun dari ranjangku dan menuju ke dapur untuk mencari makanan. Aku mendengar suara pintu apartemenku dibuka dari luar, aku menoleh dan mendapati Kevin yang sedang berdiri di depan pintu. Aku tersenyum lebar.


“Apakah kau sudah lebih baik? Masih merasa tidak enak?” tanyanya sembari menghampiriku. Aku hanya menganggukkan kepalaku sekilas.


"Kenapa tidak baring di atas ranjang saja? Apa yang kau ingingkan?"


Aku terkekeh pelan melihat dia yang sedikit panik melihat aku jalan-jalan di daerah dapur. "Aku lapar, Kevin." Aku sedikit terkejut mendengar suaraku sendiri. Suaraku sangat serak.


Kevin menyodorkan segelas air putih ke arahku. "Minum dulu, tenggorakanmu kering."

__ADS_1


Aku mengangkat kedua bahuku sembari meraih gelas itu dan meminumnya sembari melihat Kevin yang sedang sibuk mengeluarkan makanan yang dia beli. Aku menghampirinya.


"Duduk dulu sana, aku akan menyiapkan makanan untukmu."


Hatiku terasa hangat. Aku tersenyum tipis dengan perhatiannya. Kevin terlihat seperti Elias yang merawatku ketika aku sakit dulu.  Aku tersentak, dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Kenapa aku bisa samain Kevin dan Elias? Mereka adalah dua orang yang berbeda.


Elias? Apa yang sedang dia lakukan sekarang di sana?


Aku kembali menundukkan kepalaku. Setiap memikirkan Elias, hatiku selalu terasa sakit. Aku tahu, aku harus mulai melupakannya. Aku tidak boleh egois, bukan? Selama pertunanganku dan Kevin masih ada, aku harus menjaga perasaannya, bukan?


"Apa yang sedang kau pikirkan, Cat?" Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan.


"Aku hanya sedang berpikir kenapa kau bisa begitu perhatian denganku padahal aku masih ingat jelas dua minggu yang lalu kau masih sangat menyebalkan."


Kevin terkekeh pelan. "Jadi kau lebih menyukai Kevin yang menyebalkan atau perhatian?"


Pipiku merona merah, aku tahu itu. Untung saja aku sedang demam, jadi Kevin tidak akan menyadarinya. Aku tahu dia sedang berusaha membuat suasana tidak canggung. Kevin tidak mengungkit apa yang sudah terjadi semalam dan aku bersyukur karena itu.


"Terserahmu," aku akhirnya bersuara. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya tahu aku tidak benci dengannya.


"Makan ini, bubur ini dimasak oleh Ibuku. Kau tahu, Ibuku sangat khawatir denganmu. Dia memaksa ikut menjengukmu tadi, dan akhirnya tidak jadi karena Ayahku menegurnya. Untung saja, kalau tidak, aku tidak tahu harus berkata apalagi supaya bisa menghentikannya. Aku tidak mau kau merasa canggung."


"Tidak apa-apa. Mungkin setelah aku sehat nanti, aku bisa bertemu dengan kedua orangtuamu? Keluargamu sangat harmonis, aku bisa lihat dari matamu."


"Hah, kau bisa menjadikan mereka sebagai orangtuamu juga jika kau mau."


Aku kembali tersenyum dan mulai makan makanan yang dibawa Kevin.


"Besok kau tidak perlu ke kampus, aku akan membantumu untuk ijin dengan dosen. Kau istirahat di rumah saja."

__ADS_1


"Tidak mau, Kevin. Aku sudah sangat bosan di rumah saja. Aku sudah sehat, kok."


Kevin memandangku dengan erat seolah mencari celah jika aku belum sehat. "Baiklah, aku akan menjemputmu besok. " Akhirnya dia mengalah. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku.


__ADS_2