Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 11


__ADS_3

Catherine tersenyum ketika melihat sosok Kevin yang turun dari mobil.


"Sudah sehat?"


Catherine hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari terkekeh pelan. "Kau terlihat seperti nenek-nenek, Kevin."


Kevin bersungut sebelum kemudian memutari mobilnya dan membukakan pintu mobil mempersilahkan Catherine masuk ke dalam mobil.


"Cat,..." Kevin bergumam dengan pelan.


"Uhm?“ Catherine mengernyitkan kedua alisnya menatap Kevin dengan tatapan yang bingung. "Kenapa?"


Kevin terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu dengan serius yang membuat Catherine semakin bingung. Dia menghela napas sebelum kembali menoleh ke arah Catherine.


"Kau adalah gadis yang baik, Cat. Aku tidak ingin kau melakukan sesuatu yang bodoh lagi seperti kemarin. Aku ingin semakin mengenalmu, Cat. Bisakah kau berikan aku kesempatan ini?"


Catherine terkejut dengan kata-kata yang dilontarkan Kevin. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa Kevin bisa seperti ini. Dia memang belum lama mengenal Kevin, tetapi Cat bisa merasakan perhatian dari Kevin yang semakin lama semakin terlihat seperti seorang pria yang merasakan sesuatu yang berbeda terhadap lawan jenisnya. Catherine mulai bingung dengan apa yang dia pikirkan sekarang. Dia pernah merasakan perasaan seperti ini ketika baru pertama kali mengenal Elias, tetapi ketika bersama Kevin, perasaan ini semakin kuat dan sedikit berbeda dengan perasaanya ketika bersama Elias. Dia menginginkan Elias selalu bersamanya, selalu menemaninya di kala dia sedang bersedih. Namun ketika bersama Kevin, Catherine mulai merasakan kebahagiaan yang tidak ada dasarnya, selalu ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Kevin melihat Catherine yang seolah sedang berpikir keras, terkekeh pelan sembari mengacaukan rambut Catherine perlahan. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Cat. Aku hanya ingin kau bisa terbiasa dengan keberadaanku, tidak menolak keberadaanku. Aku bisa menunggumu."


Kevin berpikir mungkin dianya sudah gila. Tidak pernah terlintas di pikirannya sebelumnya bahwa dia akan menyukai gadis yang ada di hadapannya ini. Gadis yang mula-mula menjadi calon tunangannya, orang yang bahkan Kevin menolak untuk bertemu dengannya. Tapi, semenjak kejadian semalam, melihat Catherine yang berdiri di bawah shower dengan seluruh tubuhnya yang dibasahi air, kedua matanya yang dingin dan memerah karena tangisannya dalam diam. Kevin merasakan sakit hati untuk kali pertama. Dia tidak ingin gadis yang ada dihadapannya menangis lagi. Kevin ingin menjadi mataharinya yang selalu memancarkan cahaya terang di dalam hidup Catherine. Dia berharap suatu saat nanti, Catherine bisa benar-benar menerima keberadaannya sebagai tunangannya dan melupakan mantan kekasihnya. Kevin ingin menjadi tempat dimana Catherine bisa berteduh, menjadi telinga yang Catherine bisa menceritakan kisah hidupnya, dan menjadi rumah untuk Catherine bisa pulang.

__ADS_1


Catherine mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. "Terima kasih, Kevin, untuk keberadaanmu. Mungkin kau bisa sedikit berharap." Catherine tersenyum penuh misterius yang membuat Kevin tertawa lebar.


“Aku akan berusaha, Cat." Kevin berjanji dalam hati, dia akan berusaha menemukan kedua orang yang Catherine sayangi. Meski Catherine tidak sepenuhnya menerima hatinya, tetapi setidaknya dia tidak menolak keberadaannya. Sebuah awal yang bagus, bukan?


***


Catherine memasuki ruangan kelas dengan santai dan memilih salah satu tempat duduk yang lumayan dekat jendela dan tidak jauh dari papan tulis untuk didudukinya. Dia menoleh ke samping ketika ada seorang gadis dengan rambut yang terurai panjang di punggung dengan dua buah lesung pipi yang menghiasi pipinya ketika dia tersenyum ke arah Catherine.


Gadis yang sangat manis, gumam Catherine dalam hati sebelum kemudian membalas senyuman kepada gadis itu. "Viona," gadis itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Catherine yang langsung ditanggapi Catherine.


"Catherine, senang berkenalan denganmu."


"Aku bisa duduk di sini, Cat?" ujarnya dengan santai yang membuatk Catherine senang berinteraksi dengannya.


Kemudian mereka duduk bersisian sembari menunggu dosen mata pelajaran masuk ke dalam kelas.


***


Catherine terlihat tidak terlalu fokus mengikuti pelajaran ini. Dia masih memikirkan kata-kata Kevin tadi pagi. Mungkin dia memang harus memulai hari-hari barunya tanpa sosok Elias ada di dalamnya. Dia menghela napas perlahan sembari melihat layar ponselnya yang baru saja bergetar tanda ada chat yang masuk. Cat, menyentuh layarnya dan membuka pesan dari Sean.


"Hei, sweetie, ada kabar gembira."

__ADS_1


Catherine mengerutkan kedua alisnya. "Kabar gembira?"


Sean membalasnya dengan sangat cepat. "Coba tebak."


Dengan dinginnya Catherine menolak. "Tidak mau."


"Ah, kau masih sama, terlihat cuek dan dingin."


"Apa yang ingin kau katakan, brengsek?" Catherine akhirnya mengumpat yang membuat Sean mengirim sticker terkekeh ke Catherine.


"Kau akan segera bertemu denganku."


"Kapan?" Catherine kembali mengangkat kedua alisnya meski tidak lupa membalas pesan Sean.


"Coba tebak lagi..."


"Jangan menemuiku."


"Ah, chatting dengan orang dingin sepertimu membuatku menggigil, Cat. Kau sama sekali tidak enak diajak ngobrol. Bulan depan, aku akan ke sana bulan depan. Ayahku akhirnya menyetujuiku ke sana untuk mengurus kantor cabang yang ada di Korea."


"Well, see you then." Catherine menutup layar ponselnya dan berusaha fokus mendengar penjelasan dosen mengenai teori business management.

__ADS_1


Viona yang duduk di sampingnya sedikit menoleh ke arahnya. Viona melihat paras wajah Catherine dengan teliti seolah merasa Catherine ini sangat familiar. Sepertinya dia dulu pernah ketemu dengannya, tetapi Viona tidak ingat sama sekali. Viona terus-terusan berpikir hingga getaran ponselnya membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum begitu melihat sebuah nama yang terpampang jelas dari layarnya. Viona membalas pesan dari orang itu dengan cepat. "Aku akan menunggumu di depan kampus."


***


__ADS_2