
Catherine mengangkat kepalanya untuk melihat Kevin yang sudah duduk di hadapannya. Dia tersenyum lebar. Kevin mengacak poninya yang membuat dia semakin terlihat lucu.
"Sahabat baikku akan tiba di Korea nanti, kau mau menemaniku untuk menjemputnya nanti? Sean adalah General Manager baru perusahaan Channel yang berbidang di logistik. Mungkin kalian bisa bekerja sama suatu saat nanti."
Kevin menatap Catherine penuh arti. "Jadi sekarang kau sudah mulai memikirkan perusahaanku? Sudah mulai menerima posisimu sebagai calon istriku, hmm?"
Catherine menunduk, pipinya merona merah. "Menyebalkan!" gerutunya pelan.
Kevin hanya terkekeh pelan. "Baiklah, aku akan menemanimu nanti, setidaknya dia sudah membantuku menjagamu selama di sana."
"Oh, ya, aku akan bertemu dengan sahabatku nanti malam, kau mau ikut?"
"Tidak, kau tahu sendiri, Sean baru tiba di sini, jadi malam ini aku akan mengajaknya makan bersama. Kau main sendiri ya sama sahabatmu itu. Kalau ada kesempatan, kau bisa mempertemukan kita. Aku sedikit penasaran dengan sahabatmu itu."
"Kau pasti akan menyukainya. Dia adalah orang yang sangat hangat, seseorang yang kuanggap sebagai sahabat dan kakak."
Catherine mengangkat alisnya. Dia merasa aneh dengan Kevin, setahunya, Kevin memiliki sedikit teman, dan itu pun tidak dekat. Hanya orang ini yang dibahasnya secara panjang lebar sehingga dia merasa sangat penasaran.
Pesawatku sudah tiba di airport, kau sudah sampai?
Sebuah pesan dari Sean masuk. Catherine mengernyit. Cepat kali sampainya, pikirnya dalam hati sebelum beranjak dari duduknya. "Sean sudah sampai, ayo."
***
Setelah Sean memandang ke sekeliling bandara Incheon sembar menarik kopernya yang barusan diambilnya. Dia sedikit mendengus kesal begitu tidak melihat sosok Catherine. Dengan tidak sabar, dia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon gadis itu.
__ADS_1
"Kau dimana? Kenapa aku tidak melihatmu."
Catherine tidak menghiraukan kekesalannya tentu saja. "Arah jam 9 dari tempatmu berdiri."
Sean menoleh ke arah jam 9 seperti perintah Catherine dan mendapati gadis itu sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahnya. Sean tidak memedulikannya, dia hanya memfokuskan pandangannya ke arah Kevin yang sedang berdiri di sampingnya.
Kevin mengganggukan-anggukkan kepalanya kepada Sean untuk menyapanya sembari tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Kevin."
Sean menatapnya dengan seksama sembari mengulurkan tangannya juga. "Sean, sahabat baik Catherine."
Sean memerhatikan gerak-gerik pasangan ini seraya ingin mencari tahu apa yang terjadi di antara mereka, kenapa dia merasa Catherine sedikit berubah, ya? Atau perasaannya saja? Catherine tidak pernah sesantai ini selama bersama Elias, tetapi ketika berada di samping Kevin, Sean bisa merasakan jika Catherine terlihat santai sekali seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Catherine, aku haus," tiba-tiba Sean bersuara. Dia sengaja menjauhkan Catherine, dia ingin mencari tahu mengenai pria yang ada di hadapannya ini.
"Baiklah, kau jangan macam-macam, ya," seru Catherine sembari menatap Sean dengan ganas sebelum melangkahkan kedua kakinya menjauhi dua pria ini.
"Aku tahu kau tunangan Catherine. Dan aku sadar juga Catherine mulai memercayaimu. Aku harap kau tidak menyakitinya, Kevin. Dia sahabatku, dia juga adik kecilku, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitinya termasuk kau!"
"Aku sangat menyanyanginya, Sean. Aku tidak akan menyakitinya, aku sudah janji pada diriku sendiri."
"Mungkin aku bisa bercerita sedikit. Cat, dia selalu merasa terbebani, kau tahu? Dia selalu berpikir bahwa Ibunya dan kakak lelakinya tidak menyukainya hingga mereka meninggalkannya dan tidak pernah menghubunginya sama sekali. Ayahnya menikahi istri baru yang ternyata adalah pelakor yang merusak hubungan keluarga mereka. Kau tahu, Catherine sampai sekarang berpikir bahwa kalian bisa bertunangan juga karena ulah Ibu tirinya yang tidak menginginkan dia bahagia."
"Ketika aku melihat gerak-gerik kalian berdua, akhirnya aku sadar jika hal yang paling baik yang pernah Ibu tirinya lakukan adalah mempertemukan kalian berdua. Kau menyanyanginya dan Catherine menerima keberadaanmu."
Kevin mendengarkannya dengan serius. Dia tidak pernah tahu bahwa gadis kecilnya ini sangat menderita. Dia tidak pernah menceritakannya kepadanya. Dan Kevin tidak ingin memaksanya. Dia akan selalu ada untuk gadisnya, dan membantunya.
__ADS_1
"Elias, mantan kekasinya, Catherine tidak pernah sesantai ini ketika bersamanya. Kau berbeda, Kevin. Aku tidak ingin dia menyesal dengan keputusannya. Kau bisa mencintainya setulus hatimu, Kevin? Aku benar-benar tidak ingin dia menderita lagi."
Kevin menatap Sean dengan serius. Sean adalah sahabat yang baik sekaligus kakak yang baik untul Catherine. Dia akhirnya menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Tentu saja. Aku akan memberikan yang terbaik untuknya."
"Satu lagi, kau sedang mencari kakak dan Ibunya? Seharusnya mereka masih berada di sini. Aku sempat mendengar Ayah Cat menceritakan kekhawatirannya ketika Cat dengan keras kepalanya ingin pindah ke sini. Sepertinya tidak ingin Cat bertemu dengan Ibunya. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku harap ketika kau menemukan mereka, jangan langsung mempertemukan mereka dengan Cat."
Kevin menatap Sean dengan bingung. "Kenapa? Cat sangat ingin bertemu dengan mereka."
"Aku rasa ada sesuatu yang disembunyikan mereka. Apapun yang kau lihat belum tentu sesuai yang kau lihat, paham?"
"Baiklah." Kevin akhirnya mengiyakan kata-kata Sean, mungkin benar katanya, ada sesuatu yang disembunyikannya. Mungkin dia akan bertanya dengan Ayahnya nanti.
"Sudah selesai? Apa yang kalian katakan, huh? Kenapa harus mengusirku?" Catherine bertanya dengan suara yang cemberut sembari menyodorkan segelas latte ke arah Sean dan segelas americano untuk Kevin.
Sean mengedikkan bahunya. "Kau tidak perlu tahu, rahasia laki-laki."
Kevin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. "Yang jelas bukan sesuatu yang buruk tentangmu."
"Terserah, deh." Catherine akhirnya menyerah, tidak ingin bertanya lagi. Dia tahu bahwa dua pria ini tidak akan membahayakannya. "Kau sudah punya rumah di sini?"
Sean menganggukkan kepalanya. "Aku sudah menyuruh asistenku mengurusnya, kalian hanya perlu mengantarku ke Channel."
"Baiklah," ujar Catherine kemudian.
***
__ADS_1