Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 8


__ADS_3

Catherine POV


Aku berdiri di balkon apartemen baruku. Seperti yang sering kulakukan ketika berada di Canada. Menikmati suasana di malam hari. Pemandangan Seoul yang sudah lama sekali tidak kupandang. Aku tersenyum tipis begitu mengingat kembali apa yang sudah terjadi hari ini, dimulai dengan seorang laki-laki yang bernama Kevin Wu muncul di bandara untuk menjemputku hingga percakapan tentang pertunangan itu.


"Bagaimana kalau kita mulai memikirkan cara-cara untuk membatalkan pertunangan


ini?" Pertanyaannya masih terngiang-ngiang di telingaku. Membatalkan pertunangan? Yah, memang itulah yang


kuinginkan dari dulu. Elias akan kembali ke sisiku jika sudah tidak ada ikatan antara aku dan Kevin. Aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya begitu ingin membatalkan pertunangan ini. Kurasa, aku akan sedikit menanyakannya suatu saat nanti ketika memberitahunya tentang persetujuanku akan hal ini.


Aku meraih ponselku yang tadinya kuletakkan di atas meja yang berada di sudut kanan balkon dan menyentuh nomor seseorang sebelum tersambung, hanya perlu beberapa detik aku menunggu hingga orang di seberang sana mengangkat teleponku. Aku tersenyum tipis. "Hallo," sapa orang itu sementara aku menarik kursi dan duduk


di atasnya.


"Hei, I'm Catherine, how are you?"


"Oh my! Cat! Kenapa kau menelponku sekarang? Mengganggu tidurku saja, dan apa ini? Sejak kapan kau mengganti nomor ponselmu? Katakan apa yang menjadi tujuanmu menelponku di pagi buta seperti ini!" sembur Sean yang langsung membuatku terbahak yang kemudian segera meminta maaf padanya.


"Maaf, aku lupa kalau sekarang masih subuh di sana. Well, sebenarnya tidak ada hal penting, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah sampai di Korea, yeah, maks—"


"What?!! Korea? Kenapa kau tidak memberitahuku, huh? Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi?"


"Aku sudah memberitahumu saat itu, hanya saja aku lupa memberitahu tanggal keberangkatanku."


"Oh, please, Cat, kau tidak seharusnya baru memberitahuku ketika kau sudah berada di Korea. Kau


bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk mengantarmu ke bandara. Geez, aku bahkan tidak tahu apa yang ada di otakmu."


Aku mendesah. Aku memang sengaja tidak memberitahunya tentang keberangkatanku ini karena Sean pasti akan mencari segala cara untuk membatalkan keberangkatanku. Well, kurasa dia sangat mengerti diriku yang bahkan tidak tahu apa yang kini kupikirkan sekarang. Dia tahu pasti bahwa sebenarnya aku tidak ingin pindah ke sini karena aku tidak ingin meninggalkan Elias. Tidak mudah bagiku untuk meninggalkannya dan menemui pria lain selain Elias. Tapi ada alasan lain yang membuatku begitu yakin akan kepindahanku kali ini.


"Cat, jujur padaku, alasan apa yang membuatmu begitu ingin pindah ke sana? Yeah, I know it, bukan hanya masalah Elias. Pasti ada sesuatu yang memicumu." Sean kembali bersuara setelah beberapa saat aku berdiam diri dan kali ini dia berbicara dengan nada yang serius yang sedikit membuatku terharu tentu saja. Aku tersenyum. At the end, dia tetap menyadarinya. Sean memang sahabat yang paling mengertiku selain Elias, tentunya.

__ADS_1


Aku tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaannya. "Sean, kau memang selalu bisa mengertiku. Yeah, seperti yang kau katakan, ada sesuatu yang membuatku kembali ke sini, dan itu bukan hanya karena Elias, melainkan Ibuku dan juga Brian. Ayah tidak pernah mengungkit masalah kedua orang itu semenjak kepergian mereka, aku yakin, pasti ada sesuatu yang tidak kuketahui yang terus disembunyikan mereka, kau tahu, bahkan Ibu tiriku memandangku dengan tatapan yang benar-benar tidak bisa kuartikan ketika aku menyampaikan keinginanku pindah ke sini. Well, seperti,... tatapan tersentak ketika kau mengetahui sesuatu yang sangat mengejutkan. Hello, Sean,..."


"Aku mendengarkanmu, lanjutkan penjelasanmu," potongnya seolah mengerti maksudku memanggil namanya.


"Kau mengerti? Jadi, aku ingin memecah semua teka-teki ini. Aku tidak ingin menjadi pihak yang tidak mengetahui apa-apa meski aku tidak diijinkan untuk mengetahui lebih banyak masalah kedua orang tuaku. Sean, kau akan membantuku untuk menemukan mereka, kan? Hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku sekarang, ingat, aku sudah kehilangan Elias."


"Dengarkan aku, Cat, bukan aku tidak ingin membantumu, tapi, yeah, seperti yang kau lihat sekarang, aku berada di Canada sementara kau ada di Seoul, aku tidak bisa banyak membantumu. Kenapa kau tidak meminta bantuan pada tunanganmu itu saja?"


Aku mendengus begitu mendengar kata 'tunangan' yang dilontarkan Sean. "Aku tidak begitu mengenalnya, kau tahu itu."


Dapat kudengar suara Sean yang terkikik, aku kembali mendengus.Dia selalu mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mengejekku. "Makanya kau harus mengenalnya mulai dari sekarang meski kau tidak menyukainya sebagai tunanganmu. Kurasa tidak ada ruginya jika kalian berdua berteman baik, mungkin hanya dia yang bisa membantumu menemukan Ibumu dan juga Kakak lelakimu itu, ingat, dia yang berada


di sampingmu sekarang, bukan aku juga bukan Elias. Dan kurasa tunanganmu itu memiliki sedikit kekuasaan yang tentu saja tidak dimiliki oleh sembarang orang. Kau bisa memanfaatkannya jika kau mau."


Yeah, apa yang dikatakan Sean memang benar adanya. Yang bisa membantuku sekarang hanya dia, Kevin Wu yang sekarang menjadi tunanganku, Sean tidak bisa membantuku banyak karena benua yang memisahkan kami, mungkin aku memang harus mulai bisa berteman baik dengan Kevin agar dia mau membantuku. "Akan kupikirkan lagi. Lanjutkan tidurmu, ya? Aku akan menghubungimu lagi lain kali," ujarku dengan nada yang penuh godaan.


Dapat kudengar


kali aku tidak akan mengangkat teleponmu jika kau menelponnya di saat aku


sedang tidur," dengusnya.


"Baiklah, baiklah, tidak ada lain kali lagi, ok?"


"Tentu saja, baiklah, bye,.."


Aku menggenggam ponselku dan mendongakkan kepalaku menatap langit Seoul sebelum menunduk kembali dan berbalik menuju kamarku.


***


Kedua mataku menyapu ke seluruh sudut kafe ini sebelum kutemukan sosok Kevin yang sedang duduk membelakangiku. Aku menghampirinya dan langsung duduk di hadapannya sementara dia hanya menatapku seperti... yeah, aku juga tidak begitu mengerti maksud tatapannya, mungkin maksudnya aku tidak sopan?

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menyapaku terlebih dahulu?" dengusnya begitu pelayan itu meninggalkan kami setelah mencatat pesananku.


Aku tersenyum tipis. "Apa itu penting? Kurasa tidak. Well, cepat katakan apa  tujuanmu menyuruhku ke sini, kau tahu, aku masih harus mengurus surat-surat kepindahanku di KyungHee."


"Perlu kubantu?"


Aku menggelengkan kepalaku menandakan bahwa aku tidak memerlukan bantuannya.


"Aku ingin membahas masalah pertunangan itu," dengusnya.


"Jadi, kau benar-benar ingin membantah perintah Ayahmu dengan membatalkan pertunangan ini?" seringaiku. Aku langsung terdiam begitu melihatnya yang menatapku dengan tajam. Oh, mungkin aku harus lebih hati-hati menghadapinya. Sepertinya dia memiliki sesuatu yang bisa membuatku takluk padanya, atau dia menggunakan


ilmu hitam atau sejenisnya untuk membuatku mau tidak mau harus menyetujui semua kata-katanya?


"Aku tahu alasan kepindahanmu ke sini. Tentu bukan hanya karena pertunangan ini, bukan? Aku tidak bodoh."


Kali ini dia yang menyeringai. Ok, kuakui kekalahanku kali ini. Dia memang pintar sekali untuk membuatku jatuh dalam perangkapnya.


"Ibumu dan juga kakak lelakimu, kau memerlukan bantuanku, kan? Aku akan membantumu menemukan mereka jika kau juga membantuku untuk menggagalkan pertunangan ini, bagaimana? Deal or not?"


Aku tertawa dalam hati. Ternyata bukan aku yang bodoh, melainkan dirinya. Aku tidak perlu melakukan apa-apa untuk meminta bantuannya untuk mencari kedua orang itu, dia yang entah bagaimana bisa menemukan hal-hal sedetail itu untuk membuatku terperangkap, yang ternyata sangat membantuku, see, dia sendiri yang menawarkan bantuan padaku, sementara aku? Aku hanya perlu melakukan sesuatu untuk bisa membatalkan pertunangan ini yang memang sudah lama kuinginkan. "Deal!" ujarku tanpa berpikir lagi.


"Bisa bertanya?" tanyaku setelah beberapa saat berdiam diri sementara Kevin menyesap minumannya perlahan.


Kevin mengernyit. "Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bagaimana kau mengetahui tujuanku?"


Dia menyeringai yang membuatku mendengus pelan. Kevin bukan seseorang yang bisa kau mainkan dengan mudah. "Aku hanya tidak sengaja mendengar dari percakapan antara Ayahku dan Ayahmu tempo hari. Sepertinya Ayahmu tidak begitu menyukai kepindahanmu kali ini makanya sebelumnya Ayah menyuruhku yang pindah ke sana


sekaligus untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di Canada."

__ADS_1


Aku mengangguk-angguk. Sepertinya memang ada yang disembunyikan Ayah. Tapi apa itu? Apa berkaitan dengan Ibu dan Brian? Kurasa aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui yang sebenarnya. Aku mendesah. Aku harus mencari tahu apa yang sudah terjadi selama ini. Aku bertekad.


__ADS_2