
KEVIN POV
Aku melambaikan tanganku begitu melihat Seungho masuk dengan tergesa-gesa. Bibirku sedikit terangkat membentuk sebuah seringaian melihat tampangnya yang begitu berantakan dan tatapan tajam yang ditujukannya kepadaku. Tentu saja, siapa tidak marah jika ada orang yang menelponmu malam-malam hanya untuk bertemu denganmu tanpa alasan yang jelas dengan sedikit memaksa pula.
"Hi," sapaku yang membuat Seungho semakin berkacak pinggang sebelum kemudian menarik kursi dan duduk dihadapanku. Seungho memesan segelas frappucino sementara aku memainkan ponselku.
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya? Kenapa tidak datang ke rumahku saja? Aku tahu kau bahkan memiliki kunci duplikat dari Ibuku yang entah sejak kapan sangat dekat dengamu," ujarnya dengan sedikit menyindir.
Aku tertawa. Seungho memang tidak begitu dekat dengan Ibunya semenjak kecil. Aku tidak tahu alasannya karena dia sendiri selalu menolak untuk menceritakan masalahnya kepadaku padahal aku selalu menceritakan masalahku kepadanya termasuk tunanganku yang berada di Canada.
__ADS_1
"Aku tidak dekat dengan Ibumu jika kau ingin tahu, dia hanya menyuruhku untuk mengawasimu karena kau yang selalu menolak perhatian yang diberikannya. Kau yang paling mengerti di sini kurasa dan untuk alasanku mengajakmu ke sini sebenarnya tidak ada, aku hanya tidak ingin berada di kamarmu sementara kau sibuk dengan kerjaanmu. Ah, sedikt info, tunanganku akan sampai di sini besok siang dan hidupku benar-benar akan terikat oleh pertunangan sialan itu."
"Sialan! Jadi kau menyuruhku ke sini hanya untuk memberitahuku tentang ini atau untuk merayakan hari bebasmu yang akan segera berakhir dalam beberapa jam ini, huh? Kau kekanakan, Kevin Wu!" seru Seungho yang sedikit membuatku terkekeh pelan.
"Maaf, kau tahu aku hanya memercayaimu seorang, jadi aku sungguh tidak tahu harus mencari siapa lagi untuk menceritakan semua ini."
"Jadi apa yang ingin kau ceritakan padaku?"
***
__ADS_1
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celanaku sebelum kemudian beranjak pergi dari bandara sialan ini. Aku mengutuk sekaligus khawatir tentang gadis itu. Aku kembali mendesah. Terserah, aku tidak akan peduli lagi. Aku sudah sangat berbaik hati meninggalkan pekerjaan-pekerjaanku hanya untuk menjemputnya dan sekarang? Oh, bahkan aku tidak bisa berpikir dengan waras sekarang.
Aku harus segera kembali ke kantor dan berkutat kembali pada pekerjaan-pekerjaan yang makin hari makin menumpuk seperti gunung. Aku sedikit merutuki Ayah yang tidak berkeprimanusiaan memberikan pekerjaan yang sangat banyak kepadaku meski Ayah tahu bahwa aku masih harus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang
mahasiswa.Habis sudah moodku untuk bersenang-senang hari ini hanya karena gadis itu.
***
Catherine meletakkan kopernya di kamarnya. Untuk sementara ia akan berlibur di Pulau Jeju sebelum ia pindah ke Seoul, melanjutkan kuliahnya di sana dan tentu saja menjalin hubungan baik dengan tunangannya - Kevin Wu yang ia kenal melalui sebuah foto yang diberikan oleh Ayahnya saat di Canada beberapa hari yang lalu sebelum ia memutuskan untuk pindah ke Seoul dengan alasan untuk mengenal baik tunangannya. Ayahnya menyetujui keputusannya setengah hati karena beliau mengetahui bukan ini yang menjadi alasan utama atas kepindahan putrinya.
__ADS_1
Cat berdiri dengan menatap takjub pemandangan Pulau Jeju yang terpampang jelas melalui jendela kamarnya. Ia menghela napas panjang. Perjalanan yang cukup panjang membuat tubuhnya lelah. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum menikmati liburannya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang sebelum kemudian mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas tangannya. Ia butuh ketenangan. Ia butuh sendiri sebelum menghadapi lembaran baru hidupnya tanpa seorang Elias Choi yang selalu menjadi sandarannya selama ini.
Tidak perlu mencariku. Aku akan berlibur untuk sementara waktu.