Everything Is Late

Everything Is Late
Chapter 6


__ADS_3

Cat mendesah pelan begitu angin pantai di malam hari menusuk tubuhnya yang hanya terbalut sebuah t-shirt dan sepasang celana jeans serta sebuah kardigan dan sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya, tidak lupa sepasang sneakers putih yang melekat di kaki jenjangnya.


Ia merindukan tempat ini. Sebuah pantai yang pernah memberikannya sebuah kenangan manis yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Sebuah kenangan dimana keluarganya masih utuh, masih terdiri dari 4 orang, Ayah, Ibu, Kakak lelaki, dan dirinya sendiri. Ia tersenyum getir begitu kenangan tersebut kembali berputar di


pikirannya. Tanpa ia sadari, air matanya kembali mengalir keluar setelah beberapa hari tidak pernah mendesak untuk keluar. Ia terduduk sendirian di sini dengan kedua tangannya yang memegang dadanya yang sesak sementara angin di malam hari semakin membuatnya menggigil. Tidak, ia tidak akan kembali ke kamarnya sebelum ia merasa tenang.


"Brian, apa kau bahagia memiliki adik perempuan manis sepertiku? Kalau aku sangat bangga memilikimu sebagai seorang kakak yang sangat tampan," ujar gadis kecil itu dengan menggandeng tangan kakak lelaki yang sangat disayanginya.


Brian tersenyum manis dengan salah satu tangannya yang mengacak rambut adik kesayangannya itu. "Kenapa tidak, sweetie? Aku sangat menyanyangimu, kau tahu itu. Jadi jangan pernah mengatakan kalau kau menolak menjadi adikku yang manis, ok?"


Gadis kecil itu - Catherine tersenyum senang. "Mom, you see, Brian sangat menyanyangiku. Aku juga, Mom! Aku sangat beruntung memilikinya sebagai kakakku," ujar Cat yang kemudian berhambur ke dalam pelukan Ayahnya.


"Ayah, apa kita bisa selalu berlibur ke sini? Pantainya sangat indah."


Brian mengangguk-angguk menyetujui kata-kata Cat. "Iya, Ayah. Aku berharap kita selalu bisa menghabiskan liburan bersama seperti saat ini."


Ayah dan Ibu tersenyum getir. Mereka akan menjadi orangtua yang mungkin akan dibenci oleh anak-anaknya karena sudah memisahkan kedua kakak beradik ini. Mereka tidak berkomentar apapun karena mereka tahu bahwa liburan ini akan menjadi liburan terakhir untuk keluarga mereka.


***

__ADS_1


Di hari kedua liburannya, Cat mulai merasa bosan. Tidak, ia sama sekali tidak menikmati liburannya. Ia merutuki kebodohannya sepanjang hari. Bagaimana bisa ia memilih Pulau Jeju sebagai tempat liburannya sementara tempat ini memberikan banyak sekali kenangan manis yang sama sekali yang tidak ingin dikenangnya? Kenangan manis? Apa pantas ia menyebutnya sebagai kenangan manis sementara kenangan-kenangan tersebut memiliki luka tersendiri di hatinya? Cat tersenyum getir sebelum kemudian ia mengaktifkan kembali ponselnya yang sempat ia nonaktifkan kemarin dan mulai menekan beberapa angka untuk menghubungi seseorang yang mungkin akan sangat direpotkannya di Seoul nanti atau bahkan dari sekarang?


"Hello, Yi Fan is speaking."


***


Di sisi lain, Kevin mendesah dan kembali mendesah. Ia sedikit mengkhawatirkan atau bahkan sangat mengkhawatirkan Catherine yang kini entah sedang berada dimana. Gadis itu hanya mengirim sebuah pesan singkat kepadanya yang mengatakan bahwa ia sedang berlibur. Kevin merutuki kebodohan Cat. Bagaimana bisa Cat pergi berlibur dengan seenak jidatnya sementara Kris harus berada di sini mengkhawatirkannya.


Kevin mulanya sangat senang karena tidak perlu pindah ke Canada karena Cat yang akan pindah kemari. Kevin tidak tahu alasan apa yang membuat Cat mengambil keputusan itu. Seharusnya ia merasa senang karena bukan dirinya yang disuruh pindah melainkan Kevin yang setengah hati dipaksa Ayahnya yang akhirnya mau tidak mau mengikuti kemauan Ayahnya dan pada akhirnya tidak jadi.


Kevin memang senang tapi kalau ia tahu bahwa Cat akan begitu merepotkannya, Kevin tidak pernah akan menyetujui kepindahan Cat. See, Cat belum menginjakkan kedua kakinya di Seoul saja sudah begitu merepotkannya apalagi kalau Cat sudah berada di sini? Kevin bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.Kris memang belum sempat memberitahu Ayahnya bahwa Cat memilih untuk berlibur terlebih dahulu karena diatahu bahwa kalau sudah memberitahu Ayahnya, sekarang juga Kevin akan diomelin habis-habisan.


"*H*ello, Yi Fan is speaking."


"Yi Fan? Can I call you Kevin?"


Kevin mengangkat kedua bahunya. "Terserahmu, panggil apa saja yang kau inginkan. By the way, kau sedang berada dimana?"


"Pulau Jeju. Maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya karena aku hanya saja ingin sedikit menikmati waktuku untuk berlibur di sini."

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?"


"Aku akan pulang hari ini, uhm, maksudku aku akan kembali ke Seoul dengan penerbangan siang hari."


"Bukannya kau yang bilang ingin berlibur? Kenapa hanya sehari? Seharusnya kau bisa berlibur lebih lama."


***


Cat mendesah. Kevin memiliki terlalu banyak pertanyaan. Toh semua yang ditanyakannya sama sekali tidak penting untuk dijawab. Kevin tidak memiliki wewenang, bukan? Oops, bahkan Cat hampir melupakan sebuah fakta bahwa Kevin adalah tunangannya. Jadi wajar saja Kevin bertanya kepadanya meski Cat tahu bahwa Kevin sama sekali tidak tertarik padanya. Mungkin Kevin bertanya padanya hanya karena penasaran atau karena tuntunan Ayahnya?


"Aku sudah tidak memiliki niat untuk berlibur lagi jadi aku memutuskan untuk segera kembali ke Seoul. Maaf, aku tahu ini merepotkanmu tapi bisakah kau menjemputku nanti? Kau tahu aku sudah lama tidak kembali ke Seoul. Tapi jika memang tidak bisa, it's okay, kau bisa mengirim alamat apartemenku kepadaku, aku akan naik taxi."


"Tidak, aku akan menjemputmu nanti. Kau tidak memiliki kunci apartemennya, kan? Lagipula aku tidak ingin dihajar sama Ayahku karena membiarkanmu sendirian."


"Terima kasih banyak, Kevin Wu."


Cat kembali mendesah setelah meletakkan kembali ponselnya di ranjang sementara kedua matanya menuju keluar jendela menatap pemadangan Jeju yang terpampang di hadapannya untuk yang terakhirnya sebelum kembali ke Seoul, tujuan kepindahannya kali ini. Ia kembali merasa hampa.


***

__ADS_1


__ADS_2