
Catherine mempertajam indera pendengarannya ketika melihat Ayahnya yang membuka mulut, mengucapkan beberapa kata yang tidak ingin didengarnya. Seseorang yang amat dibencinya, menatapnya dengan penuh kemenangan. Ia berdecak, tidak terima dengan keputusan yang dianjurkan oleh orang itu pada Ayahnya. Dan parahnya, Ayahnya menerima keputusannya untuk menerima perjodohan itu. Oh! Betapa sialnya hidup Catherine ini.
"Cat, kau akan segera bertemu dengannya, apakah kau senang?" Ayah bertanya pada Catherine dengan nada yang penuh godaan dan itu membuatnya semakin membenci Ayahnya, sangat.
Catherine berhenti menguyah makanannya seraya meletakkan kembali garpu dan sendok yang semula masih dipegangnya, di atas piring. Ia mengelap sudut bibirnya dengan sebuah sapu tangan yang tadinya diletakkan di samping piring yang mengisi makanannya secara perlahan.
Wanita itu menyeringai sembari menatap Catherine dengan penuh.... Something that she can't describe
with words, but you'll understand if you were her.
Catherine bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Ayahnya dan wanita itu sebelum ia mendapatkan teguran dari Ayahnya. Ayah menyuruhnya untuk kembali duduk tenang karena masih ada yang ingin dibicarakannya pada Catherine namun ia sama sekali tidak menghiraukannya dan hanya memasang ekspresi datar, acuh. Siapa peduli? Persentan dengan semua itu, pikirnya.
"Aku sudah kenyang." Setelah mengucapkan kalimat itu, Catherine langsung meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.
***
Catherine merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia berguling ke samping dan mendapati sebuah boneka yang warnanya sudah pudar sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih boneka itu. Tanpa disadarinya, kedua tangannya sudah mulai mengelus bulu-bulu boneka itu dan air matanya keluar perlahan melalui
kedua sudut mata membasahi wajahnya.
Ia mendekap boneka itu dan semakin terisak. Tidak tahu kenapa ia selalu tidak bisa melupakan kejadian itu. Ia masih mengingat jelas ekspresi tegas Ibunya ketika hendak meninggalkannya bersama Ayah dan juga tatapan sendu dari Brian.
***
"Ibu, jangan tinggalkan aku, please! Jangan tinggalkan aku!" Catherine berteriak begitu Ibunya menarik tangan Brian, menyuruhnya untuk mengikuti langkah lebarnya. "Brian, please, jangan tinggalkan aku!" serunya lagi.
"Cat! Catherine! Ibu, biarkan Cat ikut dengan kita, kumohon, Bu." Catherine masih bisa mendengar seruan permohonan Brian pada Ibunya, namun Ibu tidak menghiraukannya, dia terus menarik tangan Brian untuk menjauh dari Catherine.
__ADS_1
Ayah keluar dari kamar dengan tergesa-gesa menghampiri Catherine yang menangis tersedu-sedu. Ia merengkuh tubuh mungil Catherine ke dalam pelukannya, namun Catherine meronta-ronta ingin dilepaskan, ia ingin menyusul Brian yang sudah sampai di depan pintu rumah mereka.
Cat menarik kembali tubuhnya dari pelukan Ayah dan berlari menghampiri Brian, namun Ayahnya menahan kembali tubuhnya dari belakang membuat tangisannya semakin kuat.
"Cat, tolong dengarkan Ayah, Ibu tidak ingin hidup bersama kita lagi. Dia memilih untuk meninggalkan kita, jadi kau harus melupakannya," ujar Ayah dengan pelan sembari mengelus rambut Cat dengan penuh kasih sayang seolah ingin menenangkannya.
Catherine berhenti meronta, namun air matanya masih tidak berhenti mengalir, ia terus menatap punggung Brian dan Ibunya yang semakin mengecil hingga lenyap dari pandangannya. "Kenapa, Ayah?" lirih Catherine sebelum ia tertidur dalam pelukan Ayahnya.
***
Catherine tersenyum pahit begitu kenangan yang sudah seharusnya dilupakannya selesai berputar dalam pikirannya. Yeah, aku harus melupakan mereka. Mereka yang meninggalkanku, kenapa aku harus menunggu mereka lagi? Mereka pasti sudah melupakanku dan Ayah. Ia kemudian menghapus sisa-sisa air mata dengan jemarinya dengan kasar sebelum bangkit dari ranjangnya menuju balkon kamarnya.
Ia merentangkan kedua lengannya sembari menarik napas panjang yang kemudian dihembuskan perlahan. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit hitam di malam hari, tidak ada bintang yang menghiasi di atas, hanya ada bulan yang setia menemani langit yang terlihat begitu kesepian. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku hotpants dan menyentuh layar ponselnya dan menyentuh beberapa digit nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.
"Hello, dear!" seru seseorang di seberang sana, ia, Elias Choi, seorang pemuda tampan, blasteran Korea-America, sama seperti Catherine. Elias adalah kekasihnya selama dua tahun belakangan ini. Selama ini, hubungan mereka bisa dikatakan sangat baik karena Elias yang selalu bisa memahami Catherine, selalu mengetahui apa yang dipikirkannya, yang diinginkannya. Mereka tidak pernah bertengkar karena hal-hal yang kecil, tentu saja. Perhatian-perhatian sekecil apapun dari Elias selalu bisa membuat hati Catherine tersentuh. Yeah, Catherine sangat menyukainya.
Elias sepertinya sedang berpikir di seberang sana sesaat sebelum menjawab, "ok, tempat biasa, bukan?"
"Ya." Catherine menganggukkan kepalanya meski ia tahu Elias tidak mungkin bisa melihat reaksinya.
"Sebenarnya aku masih ingin bercerita denganmu, namun sepertinya kau harus tidur sekarang, Dear. Good night and sweet dream."
"You too,"
balas Catherine kemudian sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya terlebih
dahulu.
__ADS_1
Catherine kembali menghela napas pelan dan berdoa dalamm hati. Semoga dia bisa memahami kondisiku seperti yang sering dilakukannya, dan semoga dia bisa menerimaku apa adanya, setelah apa yang kukatakan nanti.
***
Aku menatap dua buah kaleng coffee instant yang sempat kubeli dalam perjalanan ke sini. Aku tersenyun tanpa sadar begitu mengingat kembali hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi di taman ini. Taman ini memiliki arti tersendiri untukku dan juga Elias. Di sini dia mengenalku. Di sini juga dia menyatakan perasaannya padaku. Kami sering menghabiskan waktu di sini baik hanya sekedar menikmati pemandangan maupun piknik bersama. Aku melambaikan tanganku begitu melihat dia berlari kecil menghampiriku sembari tersenyum manis. Dia memelukku dengan erat begitu duduk di sampingku sebelum melepaskan pelukannya dan mengambil alih salah satu kaleng coffee yang berada di dalam genggamanku.
"Aku sangat merindukanmu, kau tahu?" ujarnya tanpa rasa malu, tidak seperti diriku yang masih sering merasa malu di hadapannya. Ia bahkan selalu menertawakanku ketika wajahku merona seperti tomat. Hanya berada di sampingnya yang bisa membuatku tersenyum, tertawa lepas, membuatku melupakan semua hal untuk sementara waktu. Aku begitu bersyukur memilikinya di sampingku.
Aku kemudian menggenggam tangannya sembari menatap kedua matanya dengan penuh cinta. "Mari kita kencan," ujarku dengan tersenyum.
Dia membalas senyumanku sebelum menarikku bangun. "Dengan senang hati, sweetie. Bagaimana kalau kita pergi ke pantai? Sudah lama kita tidak ke sana." Aku kembali tersenyum, "kau yang tentukan saja."
"Benarkah? Bagaimana kalau aku membawamu ke sebuah tempat terpencil dan menikahimu?"
"Aku akan sangat senang."
"Sepertinya kau ada masalah? Kau bisa menceritakan padaku." Elias mengerutkan keningnya dan menatap cemas ke arahku.
"Tidak ada, serius. Apa kau sudah tidak memercayaiku?"
Elias merangkul bahuku dengan erat dan kemudian mencium keningku dengan lembut membuat hatiku sesak. Aku tidak tahu apakah dia akan tetap berada di sampingku setelah apa yang kukatakan. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup bertahan hidup ketika dia tidak berada dalam duniaku lagi. Elias seperti belahan jiwaku. Aku... Aku... tanpa kusadari kedua mataku memanas membuat tetesan-tetesan cairan bening keluar.
"Aku mencintaimu, Cat, sungguh."
Aku melepas rangkulannya dan menatapnya dengan kedua mataku yang terus mengalirkan air mata. Aku tersenyum sebelum menjinjit dan meraih bibirnya yang tebal. "Aku juga mencintaimu,
Elias," lirihku di sela ciumanku.
__ADS_1
***