
“YANG MULIA, sebenarnya hutan ini berada tepat di belakang istana,” ungkap Li Cao setelah dia batuk dua kali karena sedikit canggung. Dia malu karena sangat terlambat menemukan sang Kaisar padahal dia berada sangat dekat dengannya. Dia sudah memandang Gu Shan Bing dengan kaki yang sedikit gemetar, begitu pula bawahan yang lain. Mereka takut dengan hukuman yang akan datang.
Pada hari biasa, mungkin Gu Shan Bing akan menghukum bawahannya dengan sangat berat karena lalai. Tapi saat ini dia membebaskan mereka dan hanya menegur dengan kata-kata ringan. Dia telah berada dalam suasana hati yang baik akhir-akhir ini.
Yang malah membuat bawahannya menjadi lebih takut akan perubahan itu. Bahkan menduga jika yang ada di depan mereka sekarang adalah Kaisar palsu, tetapi dia (GSB) memegang belati kepala naga di tangan sebagai bukti kuat. Jadi para bawahan tidak berani berkomentar. Itu memang Kaisar mereka.
Gu Shan Bing tidak tahu apa yang mereka pikirkan, dia menanyai Li Cao apa yang telah terjadi selama pekan ini.
Li Cao menjelaskan bahwa mereka telah mencari Gu Shan Bing di berbagai tempat selama satu pekan ini. Janda Permaisuri yang telah kembali dari meditasi tertutupnya memerintahkan untuk mencari dirinya di hutan. Entah kebetulan atau apa, akhirnya mereka benar-benar menemukan sang Kaisar yang tengah berburu bersama seorang yang aneh. Saat mereka melihat siapa orang itu, mereka tak berani untuk mengganggu.
“Yang Mulia, sungguh kebetulan kalau Anda bertemu dengan Yang Mulia Permaisuri disini.” Li Cao mengakhiri. Dia sangat antusias saat berbicara.
“Benar, tapi kenapa Permaisuri menjadi sangat aneh. Ku pikir dia adalah seorang nona muda yang pemalu.” Rekannya juga ikut menimpali.
“Hm hm, Permaisuri terlihat sangat hebat dan berani. Dia juga sangat cerdik. Jauh berbeda dari yang dirumorkan.”
“Yah, kita memang tidak bisa mengandalkan rumor. Tapi aneh, mengapa sang Permaisuri tinggal di hutan? Bukankah seharusnya dia berada di istana?”
Gu Shan Bing terdiam mendengar penuturan para bawahannya. Dia terkejut tapi juga entah kenapa merasa senang.
“Yang Mulia, Anda harus ikut kami kembali ke istana.” Li Cao memohon diikuti yang lainnya.
“Tidak, aku akan kembali satu minggu lagi dan membawa Permaisuri. Kalian juga harus menyelidiki kenapa Permaisuri sampai bisa hidup di dalam hutan ini. Sampaikan hal ini juga kepada Zumu.”
Semuanya terdiam sejenak kemudian mengangguk serempak. “Baik, Yang Mulia!”
Yah, dan begitulah akhirnya Gu Shan Bing mengetahui semuanya. Menurut apa yang dilaporkan oleh Li Cao dan rekan-rekannya.
Permaisuri-nya, Lan Lingxi. Dia diasingkan dari istana karena tuduhan selir utamanya sendiri. Lan Lingxi saat itu tak bisa melawan balik sebab tak memiliki dukungan apapun. Bahkan dikeluarganya sendiri dia dicampakkan dan terasing. Dia menjadi seorang Permaisuri karena Janda Permaisuri tua sendiri yang menunjuk dirinya.
Tuduhan itu berisi tentang bagaimana Lan Lingxi berusaha meracuni seorang selir Gu Shan Bing di istana dalam. Hanya saja setelah dirinya diasingkan, tuduhan itu sebenanya tak memiliki bukti yang kuat. Dia dinyatakan tidak bersalah sama sekali atas kesaksian pelayan dan juga sang selir itu sendiri. Mereka mencari Lan Lingxi ke berbagai tempat untuk dibawa pulang, tapi dia tak pernah ditemukan hingga hampir satu tahun lamanya.
Mendengar itu, Gu Shan Bing menjadi geram. Dia juga merasa bersalah karena telah menelantarkan istrinya sendiri. Maka kali ini dia bertekad untuk menebus kesalahan itu.
__ADS_1
Maka sekarang disini lah dia, menunggu seseorang untuk menjemput dirinya dan sang Permaisuri untuk kembali ke istana.
Gu Shan Bing dengan tenang melihat ekspresi serius Lan Guniang yang langka. Yah, hanya saat ketika mengobati dirinya atau ketika dia memasak, maka Yang Xiu akan mengungkapkan ekspresi yang begitu serius.
Dari luar, suara Fei yang berteriak terdengar nyaring hingga mengagetkan keduanya.
“Permaisuri! Yang Mulia!” panggilnya dari ambang pintu yang dibuka tergesa-gesa.
Xiu Yang mengernyit sedangkan Gu Shan Bing tersenyum penuh arti. Hari ini dia akan membawa Permaisuri-nya kembali ke istana.
“Guniang, apa kamu di kejar hantu?” tanya Yang Xiu asal, keseriusannya yang barusan hilang seketika.
“Permaisuri, Yang Mulia. Di luar ... di luar ....” ucap Fei terputus-putus.
Yang Xiu semakin merajut alisnya tak mengerti. “Minum dulu, baru bicara.”
Fei menurut, dia segera menyambar air dari yang ada di atas meja dan segera meminumnya. Selama hidup bersama Yang Xiu, Fei telah terbiasa bersikap apa adanya di depan dua orang yang memiliki posisi tinggi itu. Gu Shan Bing dan Yang Xiu juga tak terlalu mempermasalahkan bagaimana sikap Fei selama tidak melewati batas.
Yang Xiu melihat sekitar seratus atau lebih orang dengan pakaian prajurit istana berbaris rapi mendekati gubuknya. Mereka berkuda dan ada yang membawa dua kereta kuda.
Kemudian Yang Xiu beralih melihat Gu Shan Bing yang tenang. Matanya menyipit mencari sesuatu dan dia menemukannya. Gu Shan Bing sudah menyadari siapa dia yang sebagai gadis bermarga Lan.
Yang Xiu mendekat dan berdiri di depan Gu Shan Bing yang duduk tenang di tempat tidur. Sebenarnya sudah beberapa hari dia merasakan sesuatu yang tak biasa, ada beberapa orang yang sering mengawasi mereka. Karena Yang Xiu tak merasakan adanya niat jahat, dia diam saja sampai mereka mau menampakkan diri. Dan belakangan dia tahu jika orang-orang itu adalah penjaga gelapnya sang Kaisar—Gu Shan Bing.
“Jadi, haruskah ChenQie* memanggilmu ‘suamiku’ mulai sekarang? Atau kamu ingin dipanggil Bing’er Gege sekalian?” tanyanya secara mengejutkan. Dia menampilkan senyum yang sulit diartikan.
Note:ChenQie (Aku/ Istri ini), cara seorang Permaisuri/Selir memanggil dirinya sendiri di hadapan sang Kaisar.
Sementara Gu Shan Bing menegang mendengar ucapan Yang Xiu. Tubuhnya terasa kaku tak bisa digerakkan. Dia mematung di tempat, rasanya menyenangkan mendengar panggilan seperti itu.
“Bagaimana, Bing’er Gege?” goda Yang Xiu lagi dengan suara pelan.
Dan terlihat jelas jika telinga Gu Shan Bing telah memerah. Menahan diri dari rasa malu. Baiklah, tak ada orang yang seberani itu padanya. Apalagi sampai menggodanya seperti ini. Tapi ... dia merasa senang jika yang melakukan itu adalah gadis anehnya, Lan Lingxi.
__ADS_1
~*~* *~* ~
Kereta kuda telah memasuki gerbang kokoh itu. Maka yang Yang Xiu lihat pertama kali adalah halaman luas dengan berbagai tanaman bunga juga buah di sana. Tak jauh dia juga dapat melihat bangunan besar istana yang berdiri megah nan kokoh.
Sepanjang perjalanan juga berbagai patung batu berbentuk hewan buas dengan lapis emas berjejer rapi disana. Bagi dunia kultivator, emas memang tak begitu berarti sebab mereka melakukan pertukaran jual beli menggunakan Spirit Stone.
Tapi jika itu adalah manusia biasa. Maka pemandangan yang Yang Xiu lihat itu adalah suatu bentuk pemborosan. Dia berdecak beberapa kali melihat sekitaran.
Sebagai seorang yang hidup di dunia modern dan menjadi Pengusaha sukses, dia tentu tak jarang melihat kemewahan. Hanya saja dia adalah orang minimalis yang menyukai kesederhanaan. Saat melihat pemborosan seperti itu, Yang Xiu hanya bisa menggeleng tak berdaya.
Saat ini, dirinya berada di dalam kereta kuda bersama Fei. Pakaiannya telah ia ganti menggunakan hanfu ringan namun masih terlihat sopan bagi penduduk zaman kuno itu. Dia tak ingin menimbulkan sesuatu yang tidak perlu, jadi harus bisa beradaptasi meski sedikit kesusahan.
Rambutnya yang panjang juga ditata selayaknya bagaimana penataan rambut pada perempuan, hanya saja lebih sederhana mengingat kalau dirinya telah tinggal lama di dalam hutan dan tidak memiliki perhiasan sedikit pun. Dia harus berpenampilan rendah hati untuk memperlancar rencana di masa depan.
Mata Yang Xiu masih asik memperhatikan tempat itu. Sebelah wajahnya bertumpu pada tangan kanan yang terkepal, disangga oleh dinding gerbong kereta kuda. Pandangannya masih tetap lurus menatap luar jendela. Tempat pemberhentian kereta masih lumayan jauh dari gerbang Istana, mereka harus turun di halaman depan, tempat dimana orang-orang menyambut kepulangan sang Kaisar.
Sebenarnya Yang Xiu agak sedikit heran mengapa seorang kultivator kuat seperti Gu Shan Bing hanya menggunakan kereta kuda biasa untuk perjalanan pulang? Setidaknya sebagai seorang yang memiliki posisi tinggi di dunia seperti dirinya akan memiliki beberapa ekor Demonic Beast. Tapi Yang Xiu memang tidak terlalu memikirkan itu setelah melihat istana yang megah setelah beberapa hari perjalanan.
Meski pun hutan berada tepat di belakang istana, tetapi masih di batasi sungai, lembah dan beberapa bukit besar. Akan memakan waktu kurang lebih tiga hari untuk memutar sampai di gerbang ibu kota dengan kereta kuda.
Di depan sana, dia melihat Gu Shan Bing dengan tegap dan gagah menaiki kuda. Yang Xiu tersenyum aneh, dalam otaknya sudah tersusun beberapa rencana untuk para penghuni istana yang telah mengganggu Lan Lingxi. Selama berada di tempat ini, sebaiknya ia akan bermain dengan puas.
Lan Lingxi hanya menginginkan keadilan untuknya. Entah itu keadilan seperti apa? Jadi Yang Xiu akan memakai caranya sendiri. Ia tidak bisa heran lagi sebenarnya, sebab semua misi yang pernah ia lakukan selalu saja aneh-aneh bagi dirinya yang seorang ‘dewa’, yah walaupun belum resmi menyandang gelarnya. Minimal, dia adalah seorang Immortal di dunia ini.
Jadi, dengan misi keadilan untuk gadis lugu nan lemah seperti Lan Lingxi, Yang Xiu menanggapinya dengan hal biasa. Lagipula dia juga akan puas bermain. Hidup itu tak mesti harus serius, kadang ada kalanya untuk bertindak santai.
“Hohoho, sepertinya ini akan menyenangkan. Haih, aku merasa akan mendengar suara tawa dari Nirwana.” Yang Xiu membatin. Dia berhenti memandangi tempat itu, meraih buah untuk dia makan di dalam kereta.
Fei memperhatikan Yang Xiu dengan seksama. Dia berpikir jika junjungannya itu tengah merasa senang karena dapat kembali ke istana. Dia juga ikut tersenyum. Namun dirinya mendadak khawatir akan keselamatan Yang Xiu. “Semoga mereka tidak bersikap jahat padamu lagi, Yang Mulia.” Dalam batinnya, Fei berdo’a. “Yang Mulia, anda kembali,” ucapnya pelan.
Yang Xiu menoleh dan memberi senyum pada Fei. “Iya,” balasnya bernada ringan.
~ \ ( O o O ) / ~
__ADS_1