
DULU, jika hanya bertemu dengannya saja membuat Lan Lingxi bergetar hebat. Tapi sekarang? Gadis penakut itu malah dengan tenang menjawab setiap ucapan dari sang Huang Taihou. Hal itu membuat Liang Feng Mian tak bisa untuk tidak bertanya dalam hatinya.
Sebenarnya tak hanya Liang Feng Mian yang menanyakan hal tersebut. Mereka semua yang ada di sana kecuali Gu Shan Bing juga terkejut dengan perubahan sikap Lan Lingxi.
Apakah kepergiannya selama satu tahun belakangan ini membuat gadis itu berubah? Tapi apa itu mungkin mengingat segala cara untuk mengajari Lan Hua selalu berakhir dengan kegagalan.
Mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya tentang kejadian menakjubkan seperti apa yang membuat seorang yang tidak dapat diandalkan itu menjadi seperti sekarang? Perubahan saat ini sungguh luar biasa. Mungkinkah dia mendapat pencerahan dari seorang abadi seperti dalam cerita-cerita yang di bacakan pendongeng dalam rumah teh?
Liang Feng Mian membuyarkan pikirannya. Untuk saat ini ada hal yang harus diperioritaskan. Masalah ini sebaiknya dia tanyakan langsung pada Lan Lingxinanti. Tidak baik bagi mereka untuk membicarakan hal ini di depan orang banyak.
Jadi, sang Huang Taihou hanya tersenyum tipis. “Baguslah, kamu telah mengalami banyak hal. Kalian pasti lelah, maka mari kita masuk ke dalam. Nanti malam akan ada perjamuan untuk menyambut kepulangan kalian berdua.”
“Baik, Zumu!” Gu Shan Bing lah yang menjawab. Sedangakan Yang Xiuhanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Semua orang membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan masing-masing. Mereka akan sibuk dengan perjamuan yang diadakan nanti malam.
Gu Shan Bing dan Yang Xiu mengikuti Liang Feng Mian karena ada yang harus mereka bicarakan. Mereka menuju ke sebuah Paviliun tempat tinggal sang Huang Taihou.
Para pelayan telah mempersiapkan segalanya. Mereka duduk di dalam ruangan yang lumayan mewah dengan segala pernak-pernik yang menghiasi.
Ruangan yang elegan, sama seperti pemiliknya yang juga elegan dan penuh ketegasan, wibawa dan keanggunan sebagaimana mestinya seorang anggota keluarga Kekaisaran di istana.
Cangkir teh segera diisi untuk ketiga orang berbeda umur dengan jabatan tertinggi di negeri Hong tersebut. Yang Xiu sendiri sudah duduk dengan tenang dan santai di samping Gu Shan Bing, berhadapan dengan Liang Feng Mian. Hal itu membuat sang Huang Taihou semakin tertarik untuk mengetahui kejadian apa yang merubah sikap sang Permaisuri, dia juga curiga jika gadis muda yang ada di depannya ini bukanlah Lan Lingxi.
Apa yang terjadi pada anak ini? Atau siapa dia? Kira-kira begitu pertanyaan dalam pikirannya tak percaya melihat perubahan sikap Lan Lingxi yang kentara. Dan perubahan yang bahkan tindakan kecil hingga auranya itu entah mengapa terasa familiar dilihatnya.
Suasana di ruangan itu hening disaat ketiganya menikmati teh dalam cangkir kecil khusus untuk menyeduh teh. Gerakan mereka hampir sama, elegan, anggun dan berwibawa.
Para pelayan yang berada dalam ruangan tak berani menatap ketiganya. Melihat itu, sang Huang Taihou melambaikan tangannya menyuruh mereka keluar dari dalam ruangan.
Mereka tentu langsung menuruti perintah, jika tidak maka jangan berharap kepala akan tetap berada di tubuh mereka.
__ADS_1
“Ah-Bing, bagaimana kabarmu?” Dia berbasa-basi terlebih dahulu. Hal yang wajar, sebab sudah satu tahun lamanya mereka tak bertemu.
Gu Shan Bing juga menjawab dengan tenang. “Sangat baik seperti sebelumnya.” Dia meletakkan cangkir teh di atas meja.
“Ku dengar kamu terluka.” Kembali Liang Feng Mian membuka suara dengan nada khawatirnya.
“Mn, tapi berkat pertolongan Permaisuri, sekarang aku sudah pulih sepenuhnya. Zumu Tak perlu khawatir.” Jawaban Gu Shan Bing masih tetap bernada tenang, dia menggenggam tangan Liang Feng Mian yang hanya bersebrangan meja kecil tak jauh darinya, berharap semoga wanita itu tidak menaruhnya menjadi beban pikiran. Dia tahu betapa besar perjuangan Zumunya itu dalam membesarkannya. Karena itulah Gu Shan Bing sangat menyayangi Liang Feng Mian. Wanita itu telah menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu baginya.
“Baiklah.” Liang Feng Mian mengangguk lemah. Dia juga mengelus tangan Gu Shan Bing yang menggenggam tangannya. “Kamu tahu siapa orangnya?” Dia bertanya.
Gu Shan Bing mendadak merubah raut wajahnya menjadi lebih serius. “Tenanglah Zumu, aku sudah mengetahuinya. Kali ini orang itu tak akan bisa lepas lagi.”
Liang Feng Mian mengerti, hanya orang itulah yang selalu berani mengusik keluarga kerajaan. Tidak pernah bosan dan takut, selalu mencari gara-gara. Orang itu adalah musuh yang merepotkan, sangat licik seperti ular dan licin seperti belut. Kali ini dia harus mempercayakannya pada Gu Shan Bing. Orang itu telah berani memberi ancaman, maka dia harus menerima bayaran hutang serta bunganya jika sudah berani berhadapan dengan cucunya.
Yang Xiu sendiri masih mendengarkan dengan tenang saat kedua pasangan nenek dan cucu itu mengobrol, mereka seolah sama sekali tidak takut jika seandainya Yang Xiu membeberkan apa yang ia dengar dari keduanya. Yah, lagipula Yang Xiu memang tidak begitu perduli tentang hal itu. Jadi , dia dengan tenang mengambil beberapa roti yang lembut untuk dimakan, lalu duduk dengan santai di tengah orang-orang dengan jabatan tinggi itu.
Liang Feng Mian mengangguk. Hanya itu lalu tatapannya beralih pada sosok Yang Xiu dengan tubuh Lan Lingxi.
“Permaisuri Lan Lingxi?” panggilnya.
Yang Xiu menoleh. “Ya!” jawabnya cepat, tidak gugup atau tertekan sama sekali meski wanita itu mengeluarkan sedikit aura penekanan untuk mengintimidasi dan mengujinya. Dia malah mengangkat kedua sudut bibirnya.
“Ah-Bing, sebaiknya kamu kembali ke kediamanmu dan beristirahat terlebih dahulu. Zumu ingin membicarakan sesuatu dengan Permaisuri.”
Gu Shan Bing terkejut dengan permintaan Liang Feng Mian. Zumunya ingin melakukan apa dengan Lan Lingxi? Apa gadis aneh itu telah melalukan kesalahan sebelumnya? “Zumu ....” Dia ingin menolak tapi perkataannya dihentikan terlebih dahulu oleh Liang Feng Mian.
“Ini adalah urusan sesama wanita,” tegasnya supaya Gu Shan Bing menurut.
Yah, akhirnya Gu Shan Bing berbalik meningalkan ruangan itu dengan perasaan gelisah. Semoga saja Zumunya tidak melakukan hal buruk pada Lan Lingxi. Selama ini dia telah melihat betapa kerasanya Liang Feng Mian dalam mengajarinya juga kepemimpinannya. Dia tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun.
Apalagi tadi dia juga sempat merasakan aura intimidasi dari sang Zumu yang berusaha menekan Lan Lingximeski samar-samar. Dia menjadi khawatir. Hanya saja dia tidak bisa melawan Zumu yang telah membesarkannya itu.
Orang bilang Gu Shan Bing adalah Kaisar Tirani yang tidak takut mati sekali pun. Namun tidak ada yang tahu bahwa yang paling ditakuti seorang Kaisar Tirani itu adalah neneknya sendiri, Liang Feng Mian. Dia takut, hormat sekaligus mengagumi wanita itu.
Dia yang tidak begitu menyukai wanita karena alasan lemah, tapi sangat mengagumi sang Zumu yang begitu kuat dilihatnya. Dan sekarang bertambah satu sosok wanita di matanya, yaitu tidak lain adalah Permaisurinya sendiri yang teah hidup bersamanya selama setengah bulan di hutan belantara. Hmm yah, akanlebih tepatnya dia mengagumi Yang Xiu yang sekarang berwujud seorang perempuan.
__ADS_1
Selepas kepergian Gu Shan Bing, ruangan itu mendadak hening kembali. Liang Feng Mian juga mengusir para pelayan di dalam ruangan. Kini hanya tinggal dirinya dengan Yang Xiu.
Yang Xiu meletakkan cangkirnya kembali di atas meja dengan begitu elegan. “Jadi? Apa yang akan kita bicarakan, Zumu~?” Dia tersenyum penuh arti.
Liang Feng Mian mendengus mendengar ucapan Yang Xiu yang seolah mengejeknya. “Jangan berpura-pura bodoh lagi, Tuan. Aku tahu ini kamu,” ucapnya dengan kesal.
Yang Xiu tetap tersenyum mengambil roti lembut dan memasukkannya dalam mulut hingga penuh. Hilang sudah segala keanggunan yang tadi di perlihatkannya. Dia kembali menjadi seorang Yang Xiu yang bar-bar.
“Hmm, ini sangat enak. Sepertinya nanti aku harus meminta resepnya dari koki.” Dia memuji di tengah-tengah mengunyah seolah tidak mendengar apa yang baru di katakan oleh Liang Feng Mian.
Liang Feng Mian semakin kesal dibuatnya. “Tuan!!” Dengan tak sabar dia berteriak mengabaikan para pelayan yang terkejut di luar ruangan.
Yang Xiu mengerutkan dahinya dengan aneh. “Sheng Xie, kenapa kamu menjadi begitu ceroboh? Tidakkah kamu tahu bahwa tembok juga memiliki telinga bahkan di tempatku saja mereka sudah mempunyai mata.” Dia berucap mengingat bahwa di dunia modern sudah banyak CCTV yang menjadi mata lain umat manusia.
Meski kesal, tapi Liang Feng Mian setuju. Kali ini dia sedikit ceroboh, hampir saja membuat kehebohan tak berarti. Hanya mungkin karena bertemu dengan seorang yang tidak ia lihat sejak lama membuatnya mengingat masa lalu, dan tanpa sadar menjadi dirinya yang impulsive lagi ketika dia masih muda.
Liang Feng Mian melambaikan tangannya segera. “Telinga telah dibuat tuli dan mata menjadi buta,” ucapnya. Dia sudah membuat array di dalam ruangan sehingga pembicaraan mereka tidak terganggu, tidak khawatir lagi jika rahasia menjadi bocor.
Saat Liang Feng Mian ingin membuka suaranya kembali mempertanyakan kenapa Yang Xiu berpenampilan seperti saat ini. Dia ingin kejelasan akan tetapi ucapannya kembali tertelan dalam tenggorokan, dia tak boleh menyela ucapan orang yang duduk santai di depannya itu.
“Tahun berapa sekarang?” Yang Xiu ingin tahu sudah berapa lama waktu terlewati saat setelah kunjungan pertamanya ke tempat ini.
Liang Feng Mian menghembuskan napas, dia harus tetap tenang. Jangan sampai meluapkan emosinya dan menjadi tidak terkendali. Sudah lama sekali sejak dia merasa seperti ini. “Sudah seratus tahun lebih setelah kepergian Tuan,” ucapnya menjelaskan.
“Sudah selama itu,ya? Perbedaan waktu yang sangat kejam.” Yang Xiu menggelengkan kepalanya. Waktu di dunia modern dengan dunia kuno ini sungguh terlampau jauh, tentu saja.
Di dunia modern, Yang Xiu hanya menghabiskan waktu sekitar sepuluh tahun lamanya, sedangkan di sini sudah seratus tahun berlalu. Satu berbanding sepuluh, betapa jauh perbedaannya. Dia tak bisa membantu, karena sudah ketentuan alam. Memang semestinya begitu agar keadaaan tetap seimbang.
Yang Xiu menutup matanya perlahan. Saat itu tiba-tiba seluruh tubuhnya dilapisi cahaya biru transparan, sedikit menyilaukan mata jika diperhatikan terlalu lama.
Selama tiga tarikan napas cahaya yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang. Setelah itu sosok berbeda muncul di sana. Seorang laki-laki dengan rambut putih yang panjang menyentuh lantai duduk dengan begitu elegan dan terhormat. Aura agung menyelimutinya menambah kesan mulia di sana.
Dia adalah sosok sejati seorang Yang Xiu, sang Pangeran Ke-dua dari Penguasa Langit yang agung, memiliki nama resmi ‘Aixin’ (爱心 )yang berarti Penyayang.
Yang Xiu membuka matanya dan terlihatlah iris berwarna biru yang seolah bisa menelan samudra luas namun juga menenangkan bagi yang melihatnya.
__ADS_1
Pakaian Yang Xiu juga telah berganti dengan jubah hitam lebar yang sangat kontras dengan rambut putihnya yang terlihat seperti kumpulan benang sutra yang terjun dari kepala, sangat halus. Penampilannya begitu memukau dan jika dipandang berlama-lama dapat menimbulkan perasaan tenang dan nyaman.
~ \ ( O o O ) / ~