
“YAAH, KAMU hanya perlu mengistirahatkan diri sekarang. Sisa racun masih bisa dikeluarkan lewat air seni maupun keringat.” Yang Xiu kembali menepuk pundak Gu Shan Bing kemudian berlalu lagi mengelilingi sekitar.
Gu Shan Bing sendiri menatap Yang Xiu heran. Kekesalannya yang tadi sudah menghilang mendengar informasi tentang kondisinya dari gadis aneh itu. “Guniang, siapa namamu? Anu, maksudku aku hanya ingin tahu siapa nama penyelamatku,” ucapnya terbata sedikit salah tingkah.
Ayo beri judul, ‘Ada Apa Dengan Kaisar?’ Tiba-tiba saja terlintas dalam benak Yang Xiu sebelum akhirnya dia menertawakan pemikiran anehnya. Yah, dia memang terlalu eksentrik.
“Ah iya. Aku mengerti. Nama ya ...? Margaku Lan,” jawab Yang Xiu tanpa menoleh Gu Shan Bing.
Dia sedari tadi sibuk mencari beberapa tanaman yang berguna di sekitar mereka.
Gu Shan Bing tidak tersinggung karena sikap Yang Xiu yang terkesan kurang menghormatinya. Dia justru menampilkan sedikit senyum. “Lan Guniang, jika kamu menginginkan sesuatu. Katakan saja padaku.” Dia bahkan tidak memiliki pikiran tentang marga Lan yang mana marga tersebut sangatlah terkenal di Kekaisarannya sendiri, mungkin akibat terlalu lama di medan perang hingga beberapa hal terlupakan atau mungkin dia yang tak terpikirkan sampai ke sana.
“Oh, tentu,” jawab Yang Xiu singkat. “Baik, ayo kembali. Kamu butuh istirahat.” Dia tidak menemukan hal bagus setelah mencari, jadi memutuskan untuk membawa Gu Shan Bing bersamanya.
Suatu rencana telah tersusun di otaknya yang memiliki kapasitas berjuta-juta Giga Bite. Tanpa sadar Yang Xiu menampilkan seringai. Beruntung Gu Shan Bing tak melihatnya. Namun laki-laki itu sudah dari tadi merasakan punggungnya menjadi dingin.
“Terima Kasih, Lan Guniang.”
“Ah ya, lalu mau kamu apakan mereka?” tunjuk Yang Xiu pada kelima orang berjubah hitam yang tergeletak tak sadarkan diri.
Gu Shan Bing melirik sebentar. “Biarkan saja,” jawabnya tak memperdulikan orang-orang itu. Yaah biarkan saja nanti dimakan oleh hewan buas. Siapa suruh mau membunuh seorang Kaisar?
Lagi pula, sepertinya Gu Shan Bing sudah menebak siapa dalang dibalik semua ini. Kali ini dirinya tidak akan membiarkan orang itu lolos barang sehelai rambut pun.
“Ingin bermain trik dengan Zhen, tunggu seratus tahun lagi!” batinnya.
Tuk!
Lamunan Gu Shan Bing buyar dikala dahinya yang mengkerut disentuh oleh jari telunjuk Yang Xiu. “Awas, nanti keriput.” Dengan santainya Yang Xiu berkata.
Gu Shan Bing membatu, dirinya tak tahu ingin memberi respon apa. Dia hanya memegang dahinya yang tadi disentuh oleh gadis di depannya itu. Ah baiklah, karena Gu Shan Bing hanya mengetahui seorang Yang Xiu sebagai gadis Lan, maka sebut saja dia gadis. Ahahaha.
__ADS_1
Ah, ngomong-ngomong, sedari tadi dia terus berbicara dengan bahasa santai dengan gadis aneh itu meskipun dia mengetahui dirinya adalah seorang Kaisar. Dia juga bersikap ramah padanya, biasanya Gu Shan Bing tidak akan semudah ini jika bersama orang asing. Apa mungkin karena dia telah menolong dirinya? Ya, pasti seperti itu! Tapi mengapa dia tidak yakin?
Yah, lupakan itu. Dengan acara melamun lama-lama dari seorang Gu Shan Bing , mereka akhirnya kembali ke kediaman lusuh Lan Lingxi dengan Gu Shan Bing yang dipapah oleh Yang Xiu.
Perjalanan mereka memakan waktu hampir dua jam lamanya. Itu disebabkan karena kondisi Gu Shan Bing yang belum stabil. Mereka jadi tak bisa cepat sampai. Tapi perjalanan itu menjadi tidak terlalu membosankan karena Yang Xiu asyik berceloteh tentang berbagai hal yang dilihatnya di tempat itu. Perjalanan yang berisik, tepatnya.
Seperti sekarang ini misalnya, “Kamu lihat disana!” Dia menunjuk ke arah sebuah pohon yang tumbang tidak jauh dari keduanya. “Kemarin aku bertarung dengan seekor babi hutan. Ukurannya ... huwah, mungkin tiga kali lipat darimu. Sangat besar. Dia berlari menyeruduk. Untung saja aku tak kena, tapi malah pohon itu yang jadi korban. Kasihan sekali, keluarganya pasti sedih,” ucapnya sedikit membual dengan banyak bumbu omong kosong.
Gu Shan Bing? Dia setia mendengarkan sambil beberapa kali terkekeh. Dan sekarang saja dirinya hampir tertawa mendengar penuturan Yang Xiu yang menurutnya lucu. Oh ayolah, dari mana dia tahu jika pohon itu memiliki keluarga yang menangisinya? Ini adalah lelucon yang paling buruk yang pernah dia dengar. Dan sayangnya, lelucon buruk inilah yang membuatnya tertawa setelah sekian lama, meski pun tawa itu masih dia tahan dengan susah payah.
Karena tidak tahan, akhirnya Gu Shan Bing bertanya, “Dari mana kamu tahu ada pohon yang menangis?”
“Huh? Tentu saja aku tahu. Aku tahu segalanya,” ucap Yang Xiu menyombong. Dia kemudian menunjuk kembali pohon yang tumbang. “Pohon juga makhluk hidup. Coba perhatikan di sekitar pohon itu. Apa kamu melihat sesuatu?” Dia bertanya.
Gu Shan Bing dengan patuhnya mengikuti arahan Yang Xiu. Entah kenapa dia selalu ingin menuruti perkataan gadis yang menurutnya aneh itu. Dengan wajah serius Gu Shan Bing meneliti dan menelaah apa yang dilihatnya. Namun nihil, dirinya tak menemukan apapun. Hanya pohon dan pohon.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Yang Xiu. Dia sedari tadi berusaha untuk tidak tertawa karena lagi-lagi berhasil membodohi sang Kaisar Tirani.
“Tentu saja.” Yang Xiu mengangguk, lalu tak ada penjelasan lain.
Gu Shan Bing terdiam sebentar mencerna segala hal. Sampai akhirnya dia sadar lagi-lagi telah memasuki jebakan Yang Xiu. “Kamu ....” Dia ingin berkata namun tidak tahu apa yang harus dikatakan. Jadi hanya bisa mengumpat dalam hati. Dia kalah telak dari si gadis aneh.
“Fftt! Bwahahaha.” Dan tawa Yang Xiu pun meledak dengan sendirinya. Hampir dia melepaskan Gu Shan Bing jika pemuda itu tak memeganginya dengan erat. “Su- sudah berapa kali ... haha ... hahaha. Kamu tertipu olehku. Dimana itu Kaisar Tirani?” ucap Yang Xiu mengejek dengan disela oleh tawanya.
Yaah, Yang Xiu tetaplah Yang Xiu. Suka menjahili orang. Fei saja setiap hari semakin bodoh olehnya. Dan sekarang dia kembali mengerjai seorang Kaisar, itu terasa menyenangkan baginya. Anggap saja hiburan di tengah-tengah misi.
Gu Shan Bing sendiri hanya terdiam memperhatikan wajah tertawa Yang Xiu. Baru kali ini dirinya merasa begitu santai dan lepas di dekat seseorang. Tidak lagi selalu bertindak waspada pada musuh berkedok teman dan keluarga yang kapan saja menyerang di mana saja dia berada. Dia merasa bebas dan hangat di hatinya menjalar menutupi seluruh tubuh.
Yah, lupakan! Tidak perlu menekankan berkali-kali, gadis itu memang aneh. Senyum merekah tak lama terbit seketika di bibir Gu Shan Bing.
Namun etika bangsawan kembali mengingatkannya agar tidak menjadi semberono. Saat Gu Shan Bing ingin menegur Yang Xiu tapi dihentikan dengan suara gadis lain yang berteriak memanggil. “Permaisuri! Anda darimana saja, kenapa baru pulang sekarang saat hari sudah mau gelap? Tahukah Anda jika hamba khawatir?”
__ADS_1
“Ah, sudah sampai,” ucap Yang Xiu pelan. Dia sudah berhenti tertawa karena mengenali suara yang memanggilnya.
Gadis itu, Fei mendekati keduanya. “Permaisuri ....” Perkataannya segara terhenti saat melihat seorang laki-laki yang tengah dipapah oleh junjungannya. “Ya- Yang Mulia Kaisar?!” Secara refleks dirinya langsung jatuh berlutut memberi hormat yang sebesar-besarnya.
Yah, zaman kuno yang penuh pantangan dan aturan. Seorang Kaisar pun dianggap sebagai utusan dewa. Karena itulah jangan heran dengan reaksi seseorang yang begitu takut, seperti Fei misalnya.
Gu Shan Bing cukup terkejut dengan panggilan Fei kepada si gadis Lan. “Permaisuri?” Dia mengulang kata itu dengan nada tanya. Memandang Yang Xiu heran. Gadis aneh itu sudah menikah? Haan, kenapa dirinya malah merasa kecewa?
Sebentar! Kaisar Tirani kita ini memang terlalu polos atau bodoh? Kenapa pikirannya selalu meleset?
Fei sendiri segera terdiam. Ah dia ingat, Kaisar tidak mengetahui jika junjungannya adalah istrinya sendiri. Dia melihat ke arah Yang Xiu yang juga melihatnya, dia ingin meminta pendapat apa boleh untuk menjelaskan.
Tapi saat dirinya akan membuka suara, Yang Xiu malah mendahuluinya. “Margaku Lan.” Yang Xiu sedikit menekan perkataannya seperti memberi petunjuk. Hanya itu, tak ada penjelasan lain membuat mereka kembali berpikir. “Sudahlah. Guniang, bantu aku membawa orang ini. Aku akan mencari beberapa herbal untuk dibuat menjadi ramuan,” ucapnya kemudian, sedikit mengagetkan Fei karena cara bicaranya yang terkesan santai dan kurang mengormati sang Kaisar.
Fei masih diam berdiri di tempatnya, dia ragu-ragu memandang Gu Shan Bing. Melihat laki-laki agung itu tak menunjukkan reaksi atau penolakan, dia baru kembali memandang Yang Xiu yang juga santai.
Melihat tindakan ragu dan lamban Fei, Yang Xiu menghela napasnya pelan. “Aiya, pundakku rasanya nyeri sekali,” ucapnya berakting kesakitan yang bodohnya langsung dipercayai oleh kedua orang itu.
Akhirnya Gu Shan Bing pun diserahkan juga pada Fei. Dia dibawa ke sebuah bangunan kecil yang tidak bisa dibilang rumah, mungkin tepatnya lebih cocok dibilang gubuk. Meski sekarang bangunan kecil itu terlihat lebih baik dari pertama kali Yang Xiu datang karena dirinya telah melakukan renovasi di beberapa tempat.
Sudah tidak ada lubang di dinding maupun atap. Kayu-kayu yang lapuk diganti dengan yang baru. Semuanya terlihat lebih baik meski terlihat begitu kecil dan sederhana, tapi itu sudah cukup dijadikan sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas.
Yang Xiu sendiri mengikuti dari belakang sampai mereka mengistirahatkan tubuh sang Kaisar. Saat kedua orang itu berbalik memperhatikan dirinya, dia kembali berakting kesakitan sambil memijat pundaknya. Sebenarnya dia tak sepenuhnya berbohong, membawa beban yang hampir dua kali beratnya sungguh melelahkan, pundaknya benar-benar pegal, hanya saja memang tidak begitu berpengaruh sampai menimbulkan rasa sakit yang berlebihan.
“Permaisuri?” tanya Fei meminta pendapat untuk mengistirahatkan Gu Shan Bing di ruang yang mana.
“Di ruanganku, cukup nyaman disana.” Yang Xiu menjawab. Sebagai ‘pemilik rumah yang baik’, dia tak mungkin menempatkan Gu Shan Bing yang bernotaben tamunya di sembarang tempat, bukan?
Fei mengangguk. Dia segera memapah kembali Gu Shan Bing ke dalam ruangan yang dimaksud Yang Xiu. Ruangan itu adalah yang terluas dari yang lainnya. Hanya ada tiga ruangan di dalam bangunan.
~ \ ( O o O ) / ~
__ADS_1