
DINASTI HONG merupakan salah satu Dinasti yang berdiri di masa lalu, tepatnya pada Zaman Sejarah atau sebut saja abad pertengahan era Feodalisme dengan sebuah negara yang dipimpin oleh seorang Kaisar.
Zaman ini di kenal sebagai Masa Keemasan Dunia, yang mana segala sesuatu yang berhubungan dengan sihir masih di legalkan, kekuatan supranatural sangat diagungkan, berbagai hal magis bercampur dengan orang-orang biasa.
Semuanya tak tunduk pada hukum fisika, tak logis jika ada di zaman modern, seperti mitos dengan berbagai legendanya.
Namun setiap zaman itu sama saja, hanya kekuatan yang menjadi keadilan, kekuatan di jadikan kebenaran, kekuatan lah yang menjadi penguasa.
Akan tetapi tetap ada perbedaan, meski disebut Zaman Keemasan, jangan pernah berpikir akan mendapai sebuah kedamaian di sana. Mungkin bahkan lebih kacau dari masa sekarang. Semua tetap di atur oleh kekuatan.
Jika lemah, maka menghilanglah, pecundang tak pantas berada di dunia. Jika lemah, maka jangan berharap lahir dengan bongkahan emas dan buntalan sutra, kotoran kuda bahkan lebih berharga dari si lemah. Jika lemah, maka enyahlah, tak kan ada yang menolong, tak ada keadilan bagi si lemah.
Dunia itu memang kejam, tapi memang itulah adanya. Tak akan ada yang menerima sampah, tak kan ada yang menerima orang lemah.
Sudah dikatakan, kekuatan adalah keadilan, kekuatan adalah kebenaran, kekuatan adalah aturan. Jika kuat, maka kekuasaan yang menanti, kesejahteraan yang menunggu.
***
Dinasti Hong—Istana Kekaisaran.
Bangunan megah yang terbuat dari bahan-bahan berkualitas berdiri kokoh seperti menantang bumi untuk menggetarkannya.
Arsitektur serta ornamen-ornamen mewah terbuat dari giok tingkat tinggi atau batu-batu berlapis emas murni berjejer dengan indahnya di sepanjang bangunan istana seperti mengundang orang-orang serakah untuk mengambilnya.
Namun, sedikit jauh di belakang bangunan utama yang begitu megahnya, dalam hutan di balik lembah terdapat sebuah bangunan kumuh dan berdebu tak pernah diurus. Sebenarnya tidak juga layak disebut bangunan, mungkin tepatnya adalah gubuk yang termakan usia.
Pemandangan yang sangat suram, atap dan jendela-jendela yang berlubang, belum lagi dindingnya yang sudah lapuk seolah mengingatkan ia akan ambruk kapan saja.
Meski begitu, masih ada orang yang menjadi penghuninya.
Dua orang gadis yang terlihat menyedihkan dengan badan yang kurus serta pakaian yang kotor dan kusam sangat kontras sekali dengan pemandangan istana utama yang berdiri kokoh di depan sana.
Kedua gadis itu berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan, yang mana seorang dari mereka tengah berbaring di peraduan sederhana dan yang lainnya tengah menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan gadis yang berbaring.
Jika dilihat sekilas, gadis itu nampak hanya seperti sedang tertidur, namun tidak ... napasnya telah berhenti berhembus, jantungnya pun tidak lagi berdetak yang mengartikan bahwa dirinya tidak lagi ada di dunia ini.
“Permaisuri, mengapa Anda tak kunjung bangun? Jangan menakuti hamba, Permaisuri ....” Tangis gadis itu tak kunjung berhenti.
“Anda masih terlalu muda untuk bertemu sang Yama. Apa Anda mendengarkan hamba yang rendah ini? Hamba mohon, bangunlah .... ”
__ADS_1
Gadis itu terus menggumamkan sesuatu berharap gadis yang dipanggilnya sebagai ‘Permaisuri’ itu dapat membuka matanya kembali. Namun harapan hanya tinggal harapan, sang Permaisuri tak kunjung membuka mata seperti keinginannya, dan akhirnya ia pun menyerah seraya mengusap air matanya yang membanjir, menghela napas kemudian kembali bergumam lirih.
“Bahkan keluarga Anda sekalipun tak pernah perduli.Tapi tenang saja Permaisuri, selama Fei masih ada disini, Permaisuri akan mendapatkan pemakaman yang layak.”
Gadis yang memanggil dirinya dengan nama Fei itu pun melepas genggamannya pada gadis yang terbaring.
Tak lama ia pun keluar dari ruangan itu meninggalkan jasad sang Permasuri yang masih berbaring dan terbujur kaku di atas tempat tidur.
Tanpa ada yang menyadarinya, tangan gadis yang terbaring itu sedikit bergerak. Napasnya kembali berhembus dan jantungnya kembali berdetak walaupun masih sedikit lemah.
Namun tak berselang lama, gadis itu segera membuka matanya dengan mengejutkan.
Beberapa saat berlalu, bola mata itu terus bergerak mengelilingi ruangan, hingga akhirnya gadis itu segera bergerak bangun dari posisi berbaringnya menjadi duduk.
“Haiih, benar-benar menyebalkan,” umpatnya setelah menghela napas beberapa kali sambil mengusap wajahnya kasar atau mengacak rambutnya hingga berantakan.
Namun matanya terbelalak saat menyadari jika suaranya berubah. Ia segera meraba sesuatu yang berada di bawah antara kakinya dan setelah menyadari sesuatu yang menjadi miliknya sudah tidak berada di tempatnya, wajahnya menjadi kian memburuk, berubah warna berberapa kali antara merah, hijau dan terakhir hitam.
“DASAR KUCING TUA SIALAN!!!” Ia mengumpat, namun kali ini diiringi dengan teriakan frustasi juga kekesalan.
~Kejadian Sebelumnya….
Ia menggerutu dengan kesal sekaligus melontarkan sumpah serapah pada orang yang telah membuat lubang hitam tersebut. Huh? Bagaimana dirinya bisa tahu kalau lubang hitam itu adalah buatan seseorang? Ya tentu saja karena fluktuasi energi di dalam lorong lubang hitam tersebut.
Benar, selama beberapa lama ia hanya terseret di dalam sebuah lorong yang sangat panjang, bisa jadi itu adalah lorong ruang dan waktu.
Disaat Yang Xiu masih sibuk dengan berbagai ocehannya, di depannya sudah ada cahaya temaram yang siap kapan saja menghantam tubuhnya.
Dan benar saja, semakin dekat cahaya itu semakin terang saja hingga akhirnya Yang Xiu yang kini sudah berdiri di depan cahaya itu hanya mampu menutup matanya rapat-rapat karena silau.
Beberapa lama hingga dirinya membuka mata dan apa yang nampak di penglihatannya saat ini adalah sesuatu yang mungkin dikenalinya.
Sebuah taman persik di atas puncak salah satu bukit yang mengelilingi lembah berawan. Sangat indah.
Tentu ia mengenali tempat ini sebagai kediaman seseorang yang sangat menjengkelkan baginya.
“Ck, ck, ck … sudah ku duga semua ini adalah ulahmu, kan? Dasar Kucing tua bangka!” cercanya penuh kekesalan.
“Hmph, dasar bocah! Tak bisakah kamu mengormati yang lebih tua?” Tiba-tiba terdengar suara sepuh dari balik pohon persik yang paling besar di tempat itu. “Dan juga, sudah berulang kali ku katakan padamu untuk tidak memanggilku Kucing Tua! Aku memiliki nama, panggil diriku dewa Arte. Atau paling tidak kamu bisa memanggilku dengan sebutan Tetua. Bagaimana pun, aku ini masih seniormu dan sekarang telah memiliki wewenang dengan tempat ini.”
__ADS_1
Note: dewa disini bukan merujuk pada Yang Ber-Kuasa. Melainkan hanya seseorang yang memiliki kemampuan menjadi seorang yang abadi dan berhak mendapat tugas dalam tatanan tiga alam dan kehidupan—Surga, Dunia Manusia (Fana), dan Neraka. Jadi tidak memakai huruf Kapital dalam penyebutan kata ‘dewa’. Semoga pembaca tidak salah paham dalam mengartikannya. Karena ini hanyalah cerita fiksi, maka jangan menghubungkan dengan suatu golongan atau kepercayaan.
Nada suaranya terdengar tak senang karena ejekan dari Yang Xiu, namun tak ada jejak kebencian di sana.
Hingga beberapa saat kemudian muncul mahkluk err … lumayan aneh. Seekor Kucing dengan bulu dan jenggot putih yang panjang lalu … sepasang sayap di punggungnya.
“Cih, apa bagusnya memberi hormat pada makhluk menyebalkan sepertimu?” Masih dengan kekesalannya, Yang Xiu bahkan tak memandang sedikit pun ke arah makhluk itu. “Dan yaa, itu kan terserah padaku mau memanggil siapa dengan apa. Mulut pun aku yang punya,” sambungnya seraya mendengus kasar.
“Aiya ya, sudahlah. Percuma berdebat dengan anak muda,” keluh dewa Arte sembari mendudukkan tubuh kerdilnya yang hanya setinggu kurang dari dua kaki pada kursi batu yang sudah tersedia di sana.
Yang Xiu meniup poninya yang tercukur rapi di depan dahi kemudian ia mengikuti dewa Arte untuk duduk di kursi batu berhadapan dengan makhluk berbentuk kucing yang terlihat bijaksana itu.
“Hmph, sebenarnya apa alasanmu menyeretku dengan paksa kemari hingga mengganggu proses kenaikanku? Padahal tinggal satu sambaran lagi. Kamu benar-benar dewa paling menyebalkan yang pernah ku temui.”
Langsung pada intinya, itulah sifat seorang Yang Xiu, dewa Bela Diri dari Dunia Modern juga identitas lainnya yang seorang pembisnis unggul. Basa-basi? Lupakan saja.
“Aiya, mana ku tahu kamu sedang menerima bencana kenaikan. Jangan salahkan diriku, karena ini memang sudah waktu yang dicatatkan untukmu. Jika tidak terima, maka pergilah mengadu pada Ayahmu, Kaisar Surgawi!” ucap dewa Arte dengan entengnya.
Note: Kaisar Surgawi disini adalah seseorang yang menjadi pemimpin para abadi (Immortal).
Yang Xiu yang mendengar itu pun hanya mendengus dengan tidak sabar. “Tidak mungkin, pria tua itu pasti tak akan mau mengatakan apapun padaku. Ku rasa dia sama menyebalkannya seperti dirimu.”
Dewa Arte tak membalas perkataan Yang Xiu, ia hanya menggeleng pelan menanggapi perkataan layaknya anak durhaka itu. Tetapi kemudian dirinya langsung memberitahu maksudnya memanggil Yang Xiu dengan paksa.
“Kamu memiliki misi lain di masa ini ….” Dewa Arte sejenak menghentikan ucapannya.
Wajahnya tampak serius dengan penuh kewibawaan. Namun mau bagaimana pun seriusnya dirinya, itu akan tetap terlihat lucu dengan wajah seekor Kucing, mungkin malah akan menjadi menggemaskan.
Yang Xiu? Ia hampir tertawa dan tak fokus pada isi kalimat yang dewa Arte sampaikan. Pikirannya teralihkan dengan raut wajah dewa Arte yang dipenuhi janggut putih sepanjang tubuhnya.
Sebenarnya bagaimana makhluk ini diciptakan hingga sekarang malah menjadi seorang dewa? Kira-kira itulah yang dia pikirkan di dalam benaknya.
Dewa Arte berdekhem menyadari sepertinya ada sesuatu yang salah, namun dia tak mempermasalahkannya lebih lanjut. Sebaiknya beberapa hal tak semestinya ditunda.
“Apa kamu mendengarkanku, anak muda?”
“Aiya, baik, baik. Aku dengar. Ku pikir ada banyak sekali misi yang selalu menungguku selama ini hingga di dunia modern pun pekerjaan pemerintahan, diriku yang melakukannya,” ungkapnya dengan nada tak suka bercampur keluhan.
~ \ ( O o O ) / ~
__ADS_1