
Flashback 1
"Kenapa kamu mutusin aku?" Chrislen bertanya. Saat ini gadis itu berada di belakang sekolah SMP nya.
"Karena kamu itu gila! Aku gak mau pacaran sama orang gila!" Kata kevin, wajah nya terlihat kesal dan cemberut.
"Aku gak gila!" Teriak Chrislen membela dirinya. Saat ini dia seorang diri bersama lelaki yang menurutnya itu adalah pacarnya. Pacar semasa SMP. Tak Alex yang menemaninya, biasanya jika ada orang yang memanggilnya dengan sebutan gila, Alex akan selalu membelanya
"Iya, kamu gila. Teriak teriak gak jelas, nangis tiba tiba entah karena apa, itu yang di sebut gak gila? Lo. Itu. Gila!" Setelah mengatakan hal itu kevin langsung pergi meninggalkan Chrislen seorang diri
Gadis berusia 14 tahun itu menangis seorang diri mematung seperti sudah tak punya arah. Dia kira kevin akan selalu melindunginya, dia kira kevin akan selalu ada untuknya, membelanya dari orang orang yang membencinya saat itu.
Tapi, ternyata semuanya. Bohong. Sekarang kevin, orang yang sangat begitu Chrislen sayang dimasa itu kini pergi. Sama seperti yang lainnya, menganggap dirinya 'gila'.
Chrislen gak gila, dia hanya mempunyai penyakit mental dan bukan berarti gila.
"Yang tidak merasakan tidak akan mengerti, dan yang tidak mengalami tidak akan paham."
"Kalian tidak merasakan hal itu dan tidak tau rasanya seperti apa, kalian juga tidak mengalaminya dan kalian tidak akan paham begitu menyakitkan nya hal itu, hal yang perlahan merebut kebahagiaan, keharmonisan dalam keluarga, lalu hancur."
"Perlahan juga semuanya.. pergi" detik itu juga satu bulir air mata Chrislen jatuh membasahi pipi kiri nya. Tangan nya mengepal kuat menahan sakit nya di bagian dada
Flashback 1 off
Flashback 2
Chrislen kecil bersembunyi di balik lemari, kedua tangan nya gemetar hebat. Saking begitu sakitnya melihat kejadian dimana kedua orang tuanya kini bertengkar kembali, air mata nya pun sudah tak bisa di keluarkan lagi. Jika pun keluar itu akan berwarna
Chrislen hanya bisa duduk denga memeluk dirinya sendiri. Takut, sangat takut. Chrislen takut dia sendirian tak ada siapa pun.
"SAYA MENYESAL KARENA HARUS MENIKAH DENGAN ANDA!!" teriak an yang begitu menggelegar di rumah tersebut membuat Chrislen menutupi telinganya sekuat mungkin.
"MENURUT ANDA SAYA TIDAK!, HARUS MENERIMA PERJODOHAN DENGAN ORANG YANG SAYA TIDAK CINTAI! DAN HARUS MEMILIKI ANAK DARI MU, DENGAN HASIL NAFSU ANDA!"
"SAYA MUAK DENGAN INI!"
sayatan, pukulan, tamparan. Sudah di terima dewi- ibunda Chrislen. Wanita itu terduduk di lantai. Tangan nya tergores serpihan kaca gucci yang tadi di jatuhkan dengan sengaja oleh Adi- ayah kandung Chrislen
"Saya akan pergi!" Adi turun dari lantai dua dengan membawa satu koper di tangan nya.
"Silahkan anda pergi, saya tidak membutuhkan kehadiran anda disini" tanpa membalas ucapan dewi, Adi pun pergi meninggalkan semuanya termasuk Chrislen
__ADS_1
"Tapi, Chrislen butuh papah, mah." Chrislen bergumam kecil, nyaris tak begitu terdengar karena begitu kecil nya. Melihat kepergian seorang ayah dari hadapan nya.
Sosok yang terkadang selalu membuat Chrislen senang. Walaupun kesenangan itu tanpa kehadiran ibu nya.
Flashback 2 of
Flashback 3
"Chrislen menderita penyakit mental, mungkin karena trauma nya semasa dia kecil" dokter zia yang merupakan seorang psikiater.
Dewi mengangguk, sekilas melihat anaknya tengah berbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Jujur, dia sedih. Penyakit yang di alami Chrislen juga itu karenanya.
Dimana saat itu Chrislen melihat kejadian yang tak seharusnya dia lihatĀ
Flashback 3 of
Flashback 4
'Gila,'
'Gila'
'Gila'
"Gak usah di denger" dengan sigap Alex selalu menguatkan Chrislen, cowok itu menutup kedua telinga Chrislen.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, berusaha kuat. Namun, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Itu begitu menyakitkan, siapa yang tidak sakit hati bila dirinya di katakan 'gila' oleh teman sekelasnya bahkan dengan orang yang tidak ia kenal
'Campur aduk'
"Gila!"
"Ada ya orang gila di sekolah ini"
"Aku gak mau pacaran sama orang gila!"
"Aaaakhhhhh,"
"Teriak teriak gak jelas"
"Itu yang kamu maksud gak gila"
__ADS_1
"SAYA MENYESAL MENIKAH DENGAN ANDA!"
Plakkk'
'Aku mau mati'
Of
"Gak, aku- aku ga gila. Enggakkkkkk!" Chrislen terbangun dari tidurnya, entah mengapa hari ini kenangan pahit itu kembali muncul menghantuinya.
Tangan nya bergemetar hebat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Rasa takut itu kembali muncul,
Tolong... Chrislen sekarang
Dia membutuhkan seseorang
Melihat jam pun masih pukul 2 pagi. Ayam bahkan belum berkokok. Dengan rasa takut nya Chrislen menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan nya, juga menutup matanya rapat rapat. Berusaha untuk tak berteriak
"Gue gak gila" ucap nya dengan gemetar.
*
Pagi ini, Chrislen menuruni tangga rumahnya untuk pergi menuju dapur tepat nya menuju meja makan. Sudah ada dewi di sana, wanita paruh baya itu tersenyum ketika melihat putrinya datang. Namun, senyumnya pudar saat melihat wajah Chrislen yang sedikit pucat dan jutek.
Seolah sudah terjadi sesuatu yang membuatnya marah. Tapi apa? Apa mungkin hal tadi mimpi buruknya
"Heii, anak mama kenapa?" Tanya Dewi khawatir. "Kamu sakit? Muka nya pucat gitu" Chrislen menggeleng pelan.
"Enggak kok, ma. Chrislen baik baik aja"
"Ya udah sekarang sarapan dulu yuk"
****
Di halaman rumahnya sebelum berangkat Chrislen terlebih dahulu memandangi rumah yang berhadapan dengan rumahnya. Chrislen tau dia kuat, dia tak akan lagi mengingat semua itu. Dia akan melupakan nya
Perlahan senyuman nya mengembang. Kemudian, dia berjalan pergi. Tak berniat sedikit pun menunggu Alex atau menemuinya. Karena Chrislen tau dia tak akan mau untuk Terus bersama nya. Karena Alma.
~
Chrislen memasuki kelasnya, melihat sekitar dan benar belum ada Alex disana. Bisa saja lelaki itu pergi ke rumah Alma terlebih dahulu. Dia mendudukan bokong nya di kursi duduk milik nya
__ADS_1
Masih sambil memikirkan tentang mimpi buruknya. Jika ini bukan tempat yang begitu ramai rasanya Chrislen ingin menangis sejadi jadi nya. Mengingat terus akan masa lalu yang begitu menyakitkan itu tak mudah