
Dewi yang melihat itu langsung segera menelfon dokter. Untuk memeriksa keadaan chrislen. Takut, penyakitnya kembali kambuh dan bahkan bertambah parah.
-
"Bagaimana, dokter. Bagaimana keadaan ilen sekarang?" Tanya dewi dengan cemas nya.
"Keadaan, Chrislen saat ini bisa dibilang kurang baik. Apalagi dia melukai dirinya sendiri. Apa Chrislen masih meminum obat nya?" Ucap dokter zia yang merupakan dokter Chrislen sejak gadis itu mengalami trauma berat di masa kecil. Dulu dia hampir terkena penyakit PTSD untung nya tidak. Bisa dibilang Chrislen sudah cukup kuat selama ini karena bisa melewati semua itu
"Ilen bilang. Dia selalu meminum obat itu" jawab dewi.
"Lalu ini" Dokter Zia mengasongkan beberapa tablet obat yang dia dapatkan di laci zia tadi.
Spontan dewi pun terkejut. Bahkan selama ini Chrislen selalu bilang padanya jika dia sentiasa meminum obat obatan itu. Entah sejak kapan Chrislen berhenti meminum obat
"Saya menemukan banyak sekali obat di laci milik chrislen, tadi. Ya sudah kalau begitu saya izin pamit. Ingatkan Chrislen untuk selalu meminum obatnya"
"Baik, dokter. Terimakasih" dokter zia mengangguk. "Mari saya antar"
~
Setelah mengantar dokter zia sampai di halaman rumah. Dewi kembali masuk ke kamar anaknya. Chrislen begitu tertidur pulas rasanya mungkin gadis itu sudah merasa tenang.
Satu kecupan dewi berikan di dahi Chrislen. Terkadang dewi merasa bersalah, Chrislen seperti ini karena dirinya. Chrislen kecil harus melihat ibunya di siksa oleh ayah nya. Bahkan hampir setiap hari gadis itu melihatnya.
Saat itu Chrislen hanya melihat nya dari kejauhan. Teriakan dari ayah nya terdengar begitu nyaring di telinga. Menggema seisi rumah membuatnya ketakutan.
"Maafkan mama, na. Kamu menderita seperti ini karena mama. Tidur yang nyenyak sayang"
*
Chrislen menuruni tangga rumahnya dengan wajah semringah. Dia menghampiri dewi yang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk nnya
"Pagi, mah!"
"Pagi, sayang. Yuk, makan" ajak dewi.
Chrislen mengangguk. Dia kemudian duduk di kursi meja makan mmiliknya. Raut wajah nya berubah ketika Chrislen melihat 4 tablet obat di sebuah piring kecil.
"Ma, apa ini?" Tanya Chrislen
Jujur dia tak mau meminum obat itu. Dia sudah bosan meminum obat obat an seperti itu. Dia benci. Toh, menurut nya sendiri untuk apa minum obat? Itu tidak akan membuatnya melupakan masa lalu sekali pun membuat nya sembuh
"Mama tau kamu udah gak minum obat itu lagi. Dan sekarang mama mohon, kamu minum yah. Demi mama, mama mau kamu sembuh. Dan gak ngelukain diri kamu sendiri" jelas dewi.
Melihat ibunya sedih seperti ini. Chrislen justru tak bisa membantah. Mungkin satu kali ini dia akan menurut kembali. Dan meminum obat itu kembali.
"Ya udah, jangan sedih. Ilen akan minum obatnya"
*
Pagi tadi Chrislen tidak berangkat bersama dengan alex. Entah kenapa laki laki itu lebih sering berangkat dengan alma dari pada dirinya. Dari pada menjadi nyamuk seperti kemarin. Chrislen memilih berangkat sendiri
"KITA JAMKOS YUUUU HUUUUU" teriak xavier yang merupakan ketua kelas disini.
"HOREEEE" Pekik anak anak yang lain. Seperti ini lah ketika jamkos ada yang diam dan ada yang berisik.
__ADS_1
Semua ber- oh ria karena tidak ada guru disini. Chrislen yang sedari tadi merasa bosan lebih baik ia pergi keluar dari pada di dalam kelas. Apa lagi alex yang sedari tadi asik dengan hp android nya. Senyum senyum sendiri, entah apa yang tengah dia lakukan
Alden, mira dan gavin sibuk dengan teman teman nya yang lain. Chrislen melangkah pergi keluar. Tepatnya dia akan pergi ke kantin belakang. Ada beberapa anak laki laki yang membolos disini.
"Woii!, len!. Sini" merasa terpanggil Chrislen mencari asal suara itu. Gilang. Lelaki itulah yang memanggil Chrislen barusan. Dengan senang hati Chrislen pun menghampiri galang yang tengah duduk bersama tiga orang teman nya
"Bolos?" Chrislen menggeleng
"Jamkos, bosen gue di kelas, berisik. Mending kesini, adem." Gilang mengangguk paham sambil menyeruput kopi milik nya.
Terkadang Chrislen memang sering membolos jika dirinya merasa sedang tidak enak dengan situasi. Beban, hal itu lah yang membuat Chrislen menyukai kesendirian. Untuk mengurangi rasa itu jika di sekolah Chrislen memilih untuk bolos.
Walaupun seringkali di ketahui guru BK. Namun, se-bandel bandel chrislen, dia masih anak kesayangan guru guru disini. Kepintaran nya adalah sebuah kunci agar dirinya tak terlalu di hukum berat bahkan di keluarkan dari sekolah.
**;
Alma, kelasnya juga jamkos di pelajaran ini. Dia asik mengobrol di room chat nya dengan alex. Semenjak mereka saling tukar nomor.
Alex
Online
| sebentar lagi istirahat, nanti aku tunggu kamu di kantin tengah.
^^^Boleh^^^
^^^Aku ajak temen aku, gak papa kan?^^^
|iya
^^^Read^^^
"Yuk, kita ke kantin tengah" ajak alma. Kedua sahabatnya justru terheran heran. Benarkah ini alma?
"Lo-- gak papa kan?" Tanya melodi dibalas gelengan alma.
"Udah, ayok. Temen aku nunggu nih" ucap alma tak memperdulikan teman teman nya yang keheranan dia malah langsung melangkah pergi.
~
Sesampainya di kantin. Alma menghampiri alex yang tengah duduk bersama 4 teman nya. Di tempat duduk mereka yang istimewa itu. Bahkan tidak ada yang berani duduk disitu karena terdapat tulisan 'milik Chrislen!! Berani duduk udah bosen hidup!'
Dengan ragu alma dan dua teman nya berjalan mengarah ke arah alex yang terlihat menunggunya. Alex tersenyum ketika alma datang.
"Udah aku siap in, duduk" titah alex. Mereka memang berbeda meja tapi, karanganyar dekat.
Chrislen menatap sinis perlakuan alex pada alma. Keduanya berinteraksi begitu mesra dan alex pun memakai aku-kamu bukan lo-gue yang biasanya dia pakai ketika bersama Chrislen
"Kayak nya pelajaran kita kurang cukup buat dia" bisik mira.
"Ya,"
"Mau main apa lagi?" Chrislen melirik ke arah mira. Tatapan dan senyuman nya merencanakan sesuatu. Chrislen mengeluarkan satu buah benda tajam. Pecahan kaca. Entah darimana gadis itu mendapatkan nya.
"Ini ngerti kan?" Mira mengangguk.
__ADS_1
Chrislen memulai aksinya. Dia kembali melukai dirinya. Melihat kantin pun sekarang lebih sepi dari sebelumnya. Darah mulai menetes
Rencana di mulai.
"CHRISLEN, LO APA APA AN SI!! LO LUKAIN DIRI LO LAGI!" pekik Mira. Membuat yang lain nya melirik ke arah Chrislen begitu pun dengan alex.
Alex terkejut. Tingkah bodoh Chrislen kembali lagi. Lelaki itu kemudian menghampiri Chrislen.
"Ilen! Maksud lo apa!" Sentak alex. Chrislen mendongak ke arah alex. Gadis itu malah lebih senang, dia ingin tertawa tapi dia tahan untuk sekarang. Wajah nya datar tanpa ekspresi
"Berhenti! Ilen!" Alex berusaha untuk melepaskan pecahan kaca itu dari tangan Chrislen namun itu sangat sulit.
"Koko" panggil Chrislen membuat alex menoleh. Panggilan koko adalah panggilan untuk alex. Dengan panggilan itu alex bisa mengetahui jika Chrislen tengah tidak baik baik saja
Alex terdiam sejenak. Masalah apa yang menimpa Chrislen kali ini? "Ada apa?"..
"Jangan banyak omong dulu, lex. Bawa Chrislen ke UKS dulu, liat darahnya banyak banget!" Ucap mira.
"Iya, lex. Kasihan tu si Chrislen" beo Alden yang ikut ikut memperhatikan betapa bentak nya darah yang keluar.
Mungkin semua orang akan meringis kesakitan bahkan dengan luka sekecil apapun itu ttapi tidak dengan Chrislen gadis itu justru hanya diam tak bersuara.
"Bawa dulu, Chrislen. Kalo dia kehabisan darahnya gimana!?"
Alex menggendong Chrislen di dekapan nya. Gadis itu mulai lemah. Melihat darah nya yang begitu banyak. Bisa saja Chrislen kehabisan darah. Apalagi semalam gadis itu melukai tangan kiri nya dan begitu banyak darah yang keluar
Di sisi lain. Alma, gadis itu terlihat cemburu melihat alex menggendong Chrislen. Padahal dia belum menjadi siapa siapa bagi alex dan hanya temannya.
"Yah, gagal kencan nya" gumam linda. Yang berada di samping alma. Ucapan itu jelas terdengar di telinga alma.
"Siapa yang kencan, kasihan tau gadis itu" ucap alma.
Mendengar hal itu, melodi dan linda saling menatap berusaha untuk menahan tawa akan kelucuan teman mereka yang saru ini. "Serah lo, deh"
"Tapi, kalo emang lo suka sama cowok itu. Embat aja kali" cetus melodi
"Eh gak bisa, beda agama" ucap linda.
Sungguh nakasih melihat teman nya jatuh cinta pada orang yang berbeda agama. Eh, melodi sama linda malah menertawakan hal itu.
****
Setelah sampai di UKS dengan cepat alex menurut kan Chrislen yang sekarang sudah pingsan di atas brankar.
Bima. Yang merupakan penjaga UKS langsung menghampiri. "Dia kenapa?" Tanya bima.
"Cepet obati dia dulu!" Kata alex. Jelas lelaki itu panik. Sangat sangat panik, terlebih yang dia takutkan jika melihat Chrislen sudah melukai dirinya sendiri. Alex takut dia akan pergi dan di ambang kematian seperti dulu karena ulah nya sendiri
Sementara Chrislen di obati. Alex melangkah mendekati samping kiri gadis itu. Dia melihat luka yang masih basah berada di lengan Chrislen.
'Maafin gue, len. Gue gagal lagi jagain lo. Kenapa si? Lo harus lukain diri lo sendiri lagi kayak gini. Apa masalah nya?' Batin alex berucap sambil memegangi tangan Chrislen
"Gue udah henti in darahnya. Lukanya cukup dalam, takut nya ada apa apa nanti lo bawa dia aja ke RS" ucap bima.
"Hm, ok"
__ADS_1
"Ya udah gue keluar dulu" alex mengangguk. Lelaki itu mengambil kursi untuk dirinya duduk dekat di samping Chrislen
"Cantik nya alex ada masalah lagi, ya?. Nanti cerita jangan di pendem"