
Keesokan harinya
Seperti biasa mereka berangkat sekolah bersama. Tapi, di pertengahan jalan tepatnya samping rumah alma. Alex merengek dan memohon mohon pada Chrislen agar mereka berangkat bersama
"Gue mohon, len." Ucap alex memohon.
"Gak! Lo tu budeg atau tuli gue bilang enggak!" Tegas Chrislen gadis itu melipatkan kedua tangan nya di atas perut. Alex hanya berdecak kesal. Lagian mereka juga sudah sampai di depan rumah alma
"Sayang 'kan kalo PDKT an nya setengah setengah apalagi gue udah tau nama dia, gak boleh di sia sia 'kan" gumam alex. Tak peduli seberapa kesal dan marah nya Chrislen
Alex melirik ke arah rumah alma. Tak sengaja dia melihat seorang gadis cantik tengah keluar. Alma dia lah gadisnya.
"Alma?" Gumam alex. Menyelidiki gadis itu dengan seksama
"Gue bilang enggak!" Tegas Chrislen kembali. Tak tau sebenarnya sudah ada alma disitu. Chrislen menoleh ke arah alex yang asik mengobrol dengan alma.
"Alex! Udah siang cepet!" Ucap Chrislen.
Kedua orang itu melirik ke arah Chrislen. "Alma, bareng aja kan searah sama juga sekolah nya" ucap alex dengan lembut. Ucapan nya membuat mulut Chrislen sedikit terbuka. Benar benar dia akan mengajak alma berangkat bersama...
Alma mengangguk di bareng i senyuman nya. "Ok"
Pasrah. Yang hanya bisa di lakukan Chrislen saat ini. Mereka sampai di sekolah mereka masing masing. Di sepanjang jalan tadi Chrislen seperti orang asing. Tak dipedulikan. Alex dan alma asik mengobrol tentang diri mereka masing masing di belakang Chrislen.
Kedua tangan Chrislen mengepal kuat saat diri nya sudah sampai di dalam kelas. Sementara alex katanya mau nganter dulu alma sampe kelas.
Gadis itu mendudukan bokong nya di bangku nya sendiri. Mira yang menjadi salah satu sahabat nya duduk di belakang Chrislen kini mulai berjalan ke arah gadis itu.
"Ada apa nih, cemberut ae, lo?" Tanya Mira.
"Gak papa" jawab Chrislen malas. Ekor matanya melirik ke arah seorang lelaki yang baru saja menginjakkan kaki nya di ruang kelas. Alex lah lelaki nya
Cowok itu senyam senyum sendiri sampai duduk di bangkunya. Entah apa yang terjadi pada alex hingga membuat teman teman nya penasaran. Untuk mengobati rasa penasaran gavin dan alden pergi menghampiri alex
"Woi! Kenape lo Hah!" Pekik gavin.
"Gue tadi dapet nomor ponsel nya alma. Gebetan gue" jawab alex antusias.
"Wah selamat, bos"
"Selamat, lex. Nanti bisa dong kalo udah jadian jangan lupa traktir ya gak, vin" kata alden seraya menaik turun kan alisnya
"Yoi"
"Tenang itu mah gampang. Do'a in aja" ucap alex.
Sementara di sisi lain. Chrislen menatap sinis alex. Pikiran nya seakan tengah berdebat hebat. Dulu alex menurut jika dirinya melarang untuk jatuh cinta pada orang lain. Sekarang alex berubah secepat itu.
"this friendship is really hard" gumam Chrislen di tengah tatapan yang sulit di artikan. Tapi wajah nya jelas menunjukkan dia kecewa dan takut. Takut kehilangan alex dalam waktu yang cepat.
*
"Lo suka sama cewek, itu?" Tanya chrislen. Dia melirik ke arah alex yang duduk di sampingnya. Sedari tadi alex terus memperhatikan alma dari jauh.
Mereka saat ini berada di kantin tengah. Alex lah yang memintanya. Dengan alasan ingin makan disana karena makanan disana lebih enak dari kantin yang berada di dalam sekolah mereka.
__ADS_1
Alex menoleh. "Cewek itu cantik, gue suka." Ujar alex sebelum melanjutkan ucapan nya dia kembali melirik ke arah alma. "Lo kenapa? udah berapa kali lo nanya ini. Stop nanya nanya lagi karena gue emang suka sama dia. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya"
Tatapan kebencian terarah pada alma yang asik mengobrol dengan teman teman nya. Kedua tangan Chrislen mengepal kuat. Amarah nya menggejolak mendengar ucapan alex barusan. Semudah itu alex mengucapkan hal yang begitu menyakitkan bagi Chrislen.
Chrislen melirik ke arah tangan nya. Dia merasakan pegangan lembut disana. Mira. Gadis itu tersenyum menatap Chrislen. "Mau main main lagi?" Seolah mengerti dengan ucapan mira Chrislen mengangguk dengan senyuman licik nya.
**
Setelah sepulang sekolah. Chrislen dan mira pergi ke sekolah islam. Sebelum itu Chrislen sudah izin pada alex untuk tidak pulang bareng terlebih dahulu karena ada suatu urusan.
"Lo, pulang duluan aja. Gue ada urusan sama mira" ucap Chrislen.
Alex mengangguk. "Ok, biar gue pulang sama Alden sama gavin". Chrislen mengerti dia tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah bebeb, mira. Abang gavin mau pulang dulu" ucap gavin.
"Ya udah sana pulang lo!" Bukan ucapan halus yang ingin di dengar gavin dari gebetan nya melainkan bentakan seperti biasa.
"Yu!" Ujar Alden.
Setelah melihat punggung ketiga lelaki yang baru saja pergi dan perlahan mulai menghilang dari pandangan nya. Chrislen melirik ke arah mira yang berada di samping nya.
Kedua gadis itu pergi..
****
"Lepas!" Alma berusaha memberontak saat dirinya di tarik pergi ke toilet di luar sekolah. Chrislen dan mira lah pelakunya.
Mira mengunci pintu toilet dengan rapat. Kedua gadis itu menatap alma dengan tatapan kebencian. Sementara alma, gadis itu bahkan tak mengerti maksud Chrislen dan teman nya membawa dia kesini.
"Gue Chrislen yang waktu itu tabrakan sama lo. Lo belum gue maafin tapi, lo udah bikin masalah baru... sekarang Mau kita? nyiksa lo!"....
Mereka pun mulai mendekat dan..............
*****
"Assalamualaikum alma pulang!" Kata alma dia melangkah dan melangkah memasuki rumahnya seraya memegangi pipi merah nya.
Mau tau kenapa? Tunggu
"Waalaikumsalam," jawab albi yang masih menuruni tangga. Sementara alma duduk di kursi meja makan.
Sesampainya albi di dekat alma. Lelaki itu bingung dan bertanya tanya setelah melihat pipi adik nya berwarna dan bajunya terlihat basah.
"Lho, dek! Pipi lo kenapa? Itu juga baju lo kenapa basah!? Perasaan di luar gak hujan deh" Tanya albi. Setelah sampai di hadapan adiknya. Alma menoleh
"Gak papa" jawab alma malas.
"Jujur!"
"Gak!" Tegas alma tak mau kalah.
"Jujur, alma!" Ok, kakak nya sekarang sudah memanggil nya dengan nama. Hal itu membuatnya pasrah untuk memberi tahu tentang apa yang terjadi. Sebegitu sayang nya albi pada alma.
"Tadi.....
__ADS_1
"Mau kalian apa!?" Tanya alma bingung.
Plakk
Plakk
2 tamparan melesat di pipi kanan alma. Chrislen lah pelakunya. Sementara mira mengambil air dan mengguyur alma.
"Maksud kalian apa si!?" Alma kembali bertanya. Dia masih tak mengerti mengapa mereka melakukan nya seperti ini
"Lo udah rebut alex dari gue!"
Setelah mendengarkan cerita dari alma. Albi sungguh kasihan melihat adiknya di bully. Tak habis pikir dengan orang orang yang menbully adik nya. Bahkan kesalahan apa yang begitu fatal hingga alma mendapat balasan yang tak begitu setimpal.
"Kenapa gak di lawan?" Tanya albi dengan lembut.
"Gk boleh" alm menggeleng. "Nanti allah marah. Biarkan orang lain memperlakukan kita seenak nya, jangan balas dendam. Itu hanya akan membuat kita sama seperti mereka"
Albi kagum dengan adiknya. Sekarang baru dia rasakan adik kecil nya sekarang sudah dewasa. "Baik banget si adek nya albi. Tapi, lain kali kalo kamu di gituin lagi harus di lawan"
Alma mengangguk. "Oh, iya, bunda sama ayah kemana?" Tanya alma yang baru saja sadar dirinya pulang tak di sambut kehadiran orang tuanya.
"Ayah ada acara sama rekan kerjanya. Jadi bunda ikut" alma lagi lagi mengangguk paham.
"Kalo laper masak sendiri aja jangan manja!"
"Kok gitu?" Kening gadis itu berkerut. Tak biasanya dia harus memasak sendiri. Bahkan sekali pun masak rasanya kadang asin kadang hambar. Lebih enak masakan bunda nya.
"Adek nya albi kan udah dewasa!" Geram albi seraya mencubit gemas kedua pipi alma. Lalu melenggang pergi sebelum amukan dari ratu nya ini datang
"Kak albi! Keterlaluan hikss..."
******
Cinta itu tumbuh dengan sendirinya
Kata itu lah yang terus tersimpan di pikiran Chrislen. Gadis itu kini berada di kamarnya. Menutup tirai dan mematikan lampu. Gelap, itulah kata yang bisa di gambarkan di kamar elin sekarang. Apa lagi ini sudah larut malam
Chrislen bangun dari duduk nya. Dia menghampiri laci membukanya dan mengambil sebuah benda tajam. Pisau. Dia mencekal pisau itu kuat. Perlahan menyayat tangan nya. Tidak ada ringisan kesakitan dari mulut Chrislen.
"Gue benci sama lo, alma! Lo udah rebut milik gue!" Gumam Chrislen dengan nada tegas. Satu bulir air mata menetes membasahi pipi milik nya.
Sudah ada beberapa goresan luka di tangan Chrislen. Tangan nya gemetar hebat. Darah tak berhenti mengalir. Pisau yang di pegang Chrislen jatuh ke lantai begitu pun dengan chrislen. Gadis itu terduduk.
Emosi nya sudah tak terkendali. "Aaaakkkhhhhh"...
Chrislen terjatuh. Pandangan nya mulai kabur. Pingsan.
Dewi... ibunda Chrislen yang tadinya sibuk mencuci piring. Kini menghentikan aktivitasnya setelah mendengar teriakan dari kamar Chrislen. Dengan tergesa gesa dewi pergi ke atas menuju kamar Chrislen
Ceklek
Pintu terbuka. Begitu terkejut nya dewi ketika melihat putri nya tergeletak di lantai dengan darah yang berada di sekitarnya.
"ILEN!!"
__ADS_1