
Chrislen terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal sengal. Kenapa mimpi itu seperti nyata? Keringat dingin membasahi pipi nya. Dia tertidur di dalam kelas
Untung saja belum ada guru yang masuk. Mira sedari tadi sudah berusaha membangunkan gadis itu. Sekarang, dia semakin takut. Jika alex akan menembak alma. Semoga mimpi tadi tidak menjadi kenyataan
"Len, lo gak papa?" Tanya mira. Yang melihat Chrislen begitu ketakutan
"Gue gak bakal kehilangan alex kan?" Mira menggeleng
"Ada apa?"
"Gue takut, gue takut alex pergi dari gue"
"Alex gak bakalan pergi dari, lo. Oh iya tadi ada guru kesini dan lo malah tidur."
"Hah! Dia bilang apa?"
"Katanya minggu depan kita bakal ujian kelulusan, terus nanti kamis sama jum'at kita bakal camping"
"Secepat itu, gak terasa beban di sekolah ini udah mau lepas"
"Haha iya dong" ucap mira dengan kekehan kecil.
Chrislen melirik ke arah alex. Lelaki itu terlihat cemberut. Ada apa? Sesuatu kini pasti tengah terjadi padanya. Apa gara gara alma? Apa gadis itu sudah menjauhi nya? Itu akan menjadi kabar bahagia bagi Chrislen
"Gue kesana dulu ya" Chrislen pergi menuju tempat dimana alex duduk. Satu tangan nya mencoret coret buku halaman paling belakang. Lelaki itu, mungkin sedang galau entah karena apa? Chrislen tidak tau
"Al?" Panggil Chrislen. Gadis itu menarik satu kursi yang kosong untuk di jadikan tempat duduk nya.
Alex menoleh. Dia menutup bukunya namun secepat mungkin Chrislen meraih buku itu. Dia melihat banyak tulisan memakai bahasa inggris. Seperti, stupid, broken, hurts, ****, dan lain lain
"Apa ini? Are you okay?" Tanya Chrislen. Benar benar dia khawatir. Melihat alex yang tak biasanya terdiam seperti ini.
Alex menghela nafas berat sebelum memulai pembicaraan. "Alma tiba tiba ngejauh dari gue, udah 1 minggu gue berusaha untuk pendekatan sama dia. Eh, di tengah jalan dia malah sama cowok lain yang dia bilang temen nya"
Kaget? Tentu saja Chrislen kaget melihat alex galau hanya karena alma. Sesakit inikah mencintai orang yang sudah sangat dekat dengan kita? Sudah dibilang mencintai sahabat sendiri itu sangat, sangat menyakitkan!
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Murid murid keluar dari kelasnya. Berbondong bondong keluar melewati gerbang sekolah yang kini sudah terbuka lebar.
Chrislen, gadis itu diam di depan gerbang. Melihat banyak nya murid yang berjalan ditambah murid murid sekolah sebelah. Entah sedang apa gadis itu di sana. Seperti sudah begitu lama dia tak merasa bahagia. Tatapan nya begitu menyedihkan.
Saat menyapu sekeliling, manik mata Chrislen menangkap 2 orang yang tengah berjalan dan berbincang sesekali tertawa. Alma dan..... seorang lelaki. Lelaki yang belum Chrislen ketahui. Mungkin benar saja saat ini Alma sudah menjauh dari Alex.
Eh, iya. Alex dimana? Sejak pulang sekolah ini Chrislen belum melihat batang hidung alex yang keluar dari gerbang. Tapi, untuk apa Chrislen menunggu nya untuk apa dia terus mempertanyakan alex, toh, alex sendiri sekarang bahkan tidak peduli dengan dirinya, lelaki itu kini malah memikirkan Alma.
__ADS_1
Chrislen berjalan. Meninggalkan sekolah ini. Tanpa memikirkan Alex lagi.
***
"Alma?"
Alex berjalan menghampiri. Ketika seorang gadis sudah menampakkan dirinya di ambang pintu dan mulai menutup pintu itu. Alma, dialah gadis nya. Sedari tadi alex menunggu Alma keluar.
"Ada apa lagi kamu kesini?" Tanya Alma.
"Aku mau..... ajak kamu ke suatu tempat, mau?"
Alma terdiam sejenak. Kemudian menggeleng perlahan membuat Alex kembali merasakan bingung. Sebenarnya ada apa dengan alma? Tak biasanya alma seperti ini? Apa dia membenci alex? 1 minggu alex sudah merasa bahagia di dekat alma?
"Kamu kenapa? Marah? Apa alasannya? Aku gak ngerti kenapa kamu tiba tiba kaya gini. Se enggak nya kamu jelas in"
"Emang nya kenapa? Kita 'kan gak punya hubungan apa apa? Terus buat apa aku jalan sama kamu kelihatan kayak orang pacaran padahal kan cuma temen. Dan kita cuma temenan gak lebih jadi jaga harga diri kamu, gak usah ngemis ngemis ke aku lagi."
"Mau aku ngejauh dari kamu pun, itu hak aku. Kamu gak boleh seenak nya larang aku"
"Ya tapi apa alasannya? Kenapa kayak gini? Benci? Marah sama aku? Tolong jelas in"
"Kamu lebih baik pulang."
Gadis itu berbalik membuka pintu dan pergi meninggalkan Alex seorang diri. Alex, lelaki itu apakah dia akan menyerah? No! Alex tidak akan semudah itu untuk mendapatkan apa yang dia ingin kan.
Alma masuk ke kamarnya. Bersender di pintu kamar yang baru saja ia tutup. Sesak, sangat! Dada Alma begitu sesak. Tak seharusnya dia seperti itu pada Alex. Membiarkan lelaki itu pada saat hati Alma sendiri tidak menginginkan Alex pergi jauh.
1 minggu, kata kata manis yang di lontarkan alex untuk alma begitu membuat hati alma berdetak tak karuan. Rasa itu mulai tumbuh ketika Alex terus berada di sampingnya, mengobrol dengan nya.
Tapi, ia harus relakan semua itu. Dia tak mau egois, dia harus merelakan alex untuk Chrislen. Seberat apa pun Alma berusaha jika hati Alex belum benar benar sepenuhnya mencintai dirinya, lalu untuk apa dia perjuangkan.
Biarkan alex pergi di kehidupan nya. 1 minggu mengenal nya itu sudah cukup bagi Alma. Setidaknya dia bisa merasakan apa yang artinya cinta? Walau pun, mereka belum memiliki hubungan apa pun.
Tapi, di sisi lain. Alma kasihan melihat Alex seperti ini. Dia mencintai alex. Namun, dia tak mau egois.
"Aku.... apakah aku harus egois satu kali ini. Tapi, aku takut rasa sakit itu datang lagi. Saat dimana Aldo nyakitin aku."
Alma berjalan menuju jendela kamar nya seraya mengusap air mata yang baru saja meluncur membasahi pipi nya. Dia melihat keluar. Dimana, Alex berdiri di pinggiran jalan halaman rumah nya. Ternyata Alex belum pergi.
Kasihan, rasa itu melanda hati nya. Alma mencintai Alex. Bisa kah dia egois kali ini. Hati nya berkata 'iya' namun pikiran nya berkata 'tidak'. Sekarang apa yang harus dia lakukan.
Alma memutarkan tubuhnya. Berjalan menuju pintu. Berniat untuk menolong Alex di bawah. Sebelum hujan turun, terlihat cuaca agak buruk malam ini.
Setelah sampai di halaman rumah nya, Alma melihat Alex masih berdiri membelakangi nya di ssana
__ADS_1
"Alex" panggil Alma. Gadis itu berjalan menuju dimana Alex berdiri.
Lelaki itu menoleh ke belakang. Melihat Alma yang kini tengah berjalan dan bahkan sudah berada di hadapan nya.
"Kenapa gak pulang, bentar lagi hujan. Pulang, gih" titah Alma
"Kenapa? Khawatir?..... aku gak bakalan pulang sebelum kamu jelas in kenapa kamu tiba tiba ngejauh dari aku"
"Gak bisa"
"Why? Hm. Tadinya aku kesini mau nembak kamu. Jauh dari ekspektasi aku, ketika aku udah ada disini kamu malah usir aku tanpa sebab dengan jelas"
Alma melihat Alex yang kini berjongkok di hadapan nya seraya mengasongkan satu bunga mawar.
Tak lama hujan datang. Membasahi keduanya. Melihat bunga mawar itu kehujanan dengan siap siaga Alma menutup nya dengan tangan kanan nya.
"Kamu mending pulang aja!" Kata alma. Sedikit berteriak
Alex menggeleng, "enggak! Sebelum kamu nerima cinta aku!"
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Alma kini berdetak sangat kencang. Melihat prilaku Alex yang tidak pernah ia bayangkan sebelumya.
Tiada pilihan, tanpa memikirkan bagaimana nantinya dengan Chrislen. Alma mengambil bunga mawar itu. Membuat senyuman terukir di wajah alex
"Iya, aku terima, sekarang lebih baik kamu pulang. Nanti kamu sakit" ucap alma berusaha untuk menetralkan rasa gugup nya. Hatinya sangat senang dengan hal ini. Tapi, tidak ingin melihat Alex kegeeran atau malah yang lain lain. Alma mencoba untuk menyembunyikan rasa senang nya
"Kamu duluan yang masuk, aku pergi nya saat kamu udah masuk ke rumah. Cepet!"
"Ya udah kalo gitu aku duluan"
Alma membalikan badan nya. Berjalan perlahan.
"Dah, sayang!"
Deg
Tak kuat lagi Alma menahan rasa senang nya. Dia tertawa. Sebelumnya berhenti melangkah saat mendengar ucapan Alex. Dengan senyuman yang masih mengembang Alma berlari.
Begitu pun alex lelaki itu pergi.
__ADS_1
Sebelum ada yang melihat, alma secepat kilat masuk ke kamarnya. Senyuman nya masih belum pudar. Dia mengambil satu vas bunga berbentuk kaca. Dia meletakkan bunga mawar itu di sana. Memberikan sedikit air juga di dalam nya.
Seusai mandi, dan duduk di ujung kasur. Alma masih menatap bunga mawar itu. Bunga itu ia simpan di atas laci milik nya