Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode Satu


__ADS_3

Ava Celia, lebih sering di sapa Lia. Ia mendedikasikan hidupnya sebagai relawan kesehatan, terutama bagi pengidap kanker dan autoimun. Ia membantu siapapun yang membutuhkan bantuan mengenai penyakit yang mereka keluhkan. Baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri.


Jika kalian berfikir Lia adalah seseorang yang berpendidikan tinggi dan hidup berkecukupan, maka jawabannya adalah 'BUKAN'. Ia hanya lulusan SMP dan hidup dalam lingkar kemiskinan.


Perjalanan hidup seorang Ava Celia tidaklah mudah. Sepuluh tahun yang lalu ia hampir mengakhiri hidupnya sendiri karena penyakit Autoimun yang ia derita. Tapi ia mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukannya.


Dia sering berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk memberi dukungan dan bantuan terhadap pengidap kanker dan autoimun yang putus asa dalam menjalani pengobatan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pria berkebangsaan Swiss bernama Demian.


Demian adalah pengusaha muda yang memiliki beberapa yayasan amal di negaranya. Takdir telah mempertemukannya dengan Lia, dan akhirnya ia memantapkan hatinya untuk mempersunting Ava Celia, Gadis tangguh yang berasal dari kampung kecil di Jawa Tengah, Indonesia


Kisah dimulai..


Tepat di usia 14 tahun adalah titik terberat dalam kehidupan Lia.


Betapa tidak,selain harus menanggung beban ekonomi yang begitu berat selepas kepergian almarhum ayah tercinta, ia juga harus kehilangan impian dan cita-cita nya untuk melanjutkan pendidikan.


"Lia, selesaikan sarapanmu. Setelah itu antar adikmu. Ibu harus segera ke sawah bu Handoko untuk menanam padi." Kata Amira, ibu dari Lia. Ia bekerja sebagai buruh penanam padi. Orang-orang di desa kami menyebut profesi seperti ini sebagai buruh tandur. Tapi saat musim tanam sudah lewat, Amira bekerja sebagai pemungut tumpahan beras di pasar. Saat kontainer pengirim beras melakukan bongkar muat, tak jarang ada beberapa butir tumpahan beras yang jatuh ke tanah. Dari situlah kami makan.


"Ya bu." Jawab Lia sambil mempercepat sarapan paginya dan beralih membantu adiknya yang bernama Kiara untuk memakai sepatu. Setelah itu Lia mengantarkan adiknya ke sekolah.


Setelah mengantar adiknya, Lia mengayuh kembali sepeda tuanya yang sudah berkarat menuju SMP Harapan Bangsa. Kali ini Lia berangkat lebih pagi karena mulai hari ini ada les tambahan sebelum mata pelajaran di mulai. Ujian Nasional semakin dekat, dan semua siswa kelas sembilan harus belajar lebih keras agar lulus dengan nilai yang muaskan.


"Lia, kau sakit? Wajahmu pucat sekali." Kata Arumi, teman sebangku Lia.


"Entahlah. Aku merasa akhir-akhir ini mudah sekali lelah. Aku juga merasakan nyeri di beberapa persendianku." Jawab Lia sambil menyandarkan diri di kursinya.


"Mungkin kau kelelahan. Kau bekerja terlalu keras." Arumi begitu prihatin dengan kehidupan Lia. Ayahnya baru saja meninggal, dan ibunya harus bekerja untuk menghidupi Lia dan adiknya. Karena itulah Lia mengambil alih tanggungjawab sang ibu untuk mengurus pekerjaan rumah dan juga mengasuh adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

__ADS_1


"Semoga saja hanya kelelahan. Kasihan ibu jika aku sampai sakit."


Hari berlalu dengan cepat. Lia telah menyelesaikan ujian nasional dengan baik dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Ia berencana menunda pendidikan SMA nya selama satu tahun. Waktu satu tahun itu akan ia pergunakan untuk mengumpulkan uang sebagai biaya sekolahnya tahun depan.


Lia diterima di perusahaan garment sebagai cleaning service. Ia memulai harinya dengan semangat. Tapi semangatnya sungguh bertolak belakang dengan raganya. Semakin hari semakin banyak keluhan yang ia rasakan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Ava Celia." Seseorang memanggilnya. Ia adalah kepala cleaning service di tempatnya brkerja.


"Ya, saya bu."


"Ini kartu ATM mu. Gaji pertamamu sudah berada di dalamnya."


"Terimakasih bu." Jawab Lia dengan senyum yang mengembang. Ia akan membelikan baju baru untuk Kiara, adik semata wayangnya. Ia juga ingin membelikan ibunya stok sembako agar beban ibunya sedikit berkurang. Sisanya akan ia tabung untuk biaya sekolahnya kelak.


Keesokan harinya, Lia merasa tubuhnya semakin lemah. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Baru setengah hari bekerja, ia sudah tumbang dan di bawa ke klinik perusahaan.


"Kamu mengalami gejala Anemia. Saya akan memberi obat tambah darah dan beberapa vitamin. Jika obatnya habis tapi keadaanmu belum membaik, kamu harus memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam. Lia mengangguk sebagai jawaban.


Satu bulan berlalu. Lia merasa kondisinya semakin buruk. Dan hal itu sangat berpengaruh terjadap kualitas kerjanya.


Lia memutuskan untuk ke rumah sakit besar dan memeriksakan diri ke dokter spesialis dalam. Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya ia di minta untuk cek laboratorium terlebih dahulu. Setelah sampel darahnya di ambil, Lia menunggu beberapa saat sampai akhirnya hasil laboratorium keluar.


"Dari hasil pemeriksaan, ada dugaan anda menderita autoimun jenis SLE (Sistemic Lupus Erythematosus). Lupus adalah penyakit seribu wajah. Saya dan team dokter lainnya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar tidak salah diagnosis.


Pemeriksaan lanjut dilakukan. Hingga dokter benar-benar menyatakan bahwa Lia mengidap penyakit Lupus. Dan dokter mengatakan bahwa penyakitnya tidak bisa di sembuhkan. Pengobatan yang di jalani hanya mampu mencegah kekambuhan dan meminimalisir kerusakan yang terjadi pada organ tubuhnya.


Mendengar hal itu, harapan dan cita-cita yang ia gantungkan setinggi langit runtuh seketika. Ia merubah semua rencana yang awalnya ia bekerja untuk biaya pendidikannya kelak, kini ia bekerja untuk membiayai pengobatannya.

__ADS_1


Di hari-hari berikutnya, Lia berusaha menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ia menyembunyikan penyakitnya dari siapapun termasuk ibunya. Di tempat kerja pun ia selalu mendapat teguran dari atasannya.


"Lia, saya perhatikan kinerja kamu semakin buruk. Absensi kamu juga buruk sekali. Jika kau sudah tidak berniat untuk kerja, lebih baik segera angkat kakimu dari sini sekarang juga." Ucap atasan Lia yang sudah tidak bisa mentolerir kinerja Lia.


Lia akhirnya resign dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia berniat mencari pekerjaan yang cocok untuk kondisi fisiknya yang semakin lemah.


***


"Bu, apa boleh aku menjual kalung pemberian ayah?" Tanya Lia dengan ragu-ragu kepada Amira.


"Buat apa nak? Itu satu-satunya kenangan dari ayahmu."


"Aku ingin membelikannya smartphone bu. Aku sangat membutuhkannya."


"Tapi jika ibu mengizinkan." Lanjut Lia lagi.


"Lakukanlah nak, ibu sangat tau jika kau tidak akan membeli sesuatu jika itu tidak penting." Ucap Amira dengan lemah lembut.


Lia sangat senang sekaligus sedih karena ia harus menjual kalung pemberian ayahnya. Tapi dia harus melakukannya. Dia sangat membutuhkan informasi mengenai penyakitnya lebih dalam lagi. Ia juga akan mencari informasi mengenai pekerjaan yang cocok untuk kondisinya yang seperti sekarang ini. Ia akan membeli smartphone yang harganya paling murah, sesuai dengan budget yang ia miliki.


Lia mendatangi rumah sahabatnya yang bernama Arumi. Dia menghabiskan waktu seharian di rumah Arumi untuk bertanya dan mempelajari tentang cara menggunakan smartphone.


"Terimakasih Rum. Maaf aku selalu merepotkanmu." Lia sangat bersyukur karena memiliki sahabat seperti Arumi.


Ketika malam hari, Lia masih berkutat dengan smartphon barunya. Hingga akhirnya ia menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi fisiknya yang lemah.


"Penulis novel onlie. Ayo Lia, kamu pasti bisa." Lia menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2