
Lia sudah duduk di pesawat yang bersiap untuk lepas landas. Beberapa detik kemudian seseorang pria dengan topi dan masker duduk di sebelahnya.
Perawakan yang sepertinya tidak asing baginya.
"Hai." Sapa pria itu yang ternyata adalah Demian
"Kau. Apa yang kau lakukan?" Lia membelalakkan mata. Ia begitu terkejut.
"I'm stalking you." Jawab Demian dengan santainya.
"Arumi yang memberitahumu?" Tanya Lia penuh selidik.
"Ya, sepertinya sahabatmu itu lebih berpihak kepadaku."
Lia menghela nafas panjang. Ia seakan akan kehabisan kata untuk menimpali Demian. Entah dengan cara apa lagi ia harus menghindar darinya.
Kini Lia dan Demian tiba di sebuah apartemen . Tempat dimana Nur diasingkan.
Sejak bayi ia di rawat oleh pengasuh. Tapi pengasuhnya meninggal sebulan yang lalu. Sejak saat itu dia merasa hidupnya begitu hampa dan kesepian.
Lia memencet bel dan seseorang membukakan pintu
"Apakah kau Lia?"
"Ya. aku Lia, Ava Celia. Dan ini temanku, Demian." Jawab Lia dengan senyum hangatnya.
"Aku nur. Silahkan masuk."
Lia memasuki apartemen yang terlihat begitu nyaman dengan fasilitas lengkap.
"Kau tinggal sendirian?" Tanya Demian.
"Ya. Sebelumnya aku tinggal dengan pengasuhku. Tapi dia sudah meninggal. Jawab Nur.
"Apa yang bisa kami bantu Nur?" Tanya Lia.
"Aku hanya ingin memiliki teman. Ayahku menyembunyikanku dari dunia. Kenapa dia tidak sekalian saja melenyapkan ku." Nur tersenyum kecut.
"Apa ayahmu pernah mengunjungimu?" Tanya Lia
"Ya. Seminggu sekali dia kemari untuk mengantar segala keperluanku."
" Itu artinya ayahmu masih peduli padamu. Aku yakin ayahmu sangat menyayangimu Nur. Hanya saja ia terlalu takut mengenalkanmu pada dunia luar." Ucap Lia.
"Aku ingin pergi jauh darinya Lia. Tolong bawa aku pergi. Aku sudah muak dengan semua ini." Nur ingin hidup bebas. Meskipun keadaan fisiknya berbeda dari orang pada umumnya, tapi ia sangat percaya diri. Ia ingin bersosialisasi dan merasakan hidup normal.
"Kau bisa ikut kami ke Swiss. Di sana aku memiliki beberapa yayasan amal. Kau bisa tinggal di sana dan bergabung dengan management kami. Kau juga akan bertemu banyak teman yang baik dan tulus di sana." Demian memberikan tawaran kepada Nur.
Tapi justru Lia yang terkejut.
"Swiss?" Tanya Lia.
__ADS_1
" Ya. Aku rasa itu keputusan terbaik." Jawab Demian.
"Baiklah. Tapi keputusan tetap di tangan Nur." Jawab lia pada akhirnya.
"Aku mau. Bahkan aku sudah tidak sabar untuk segera ke sana." Nur begitu antusias.
"Bagaimana dengan ayahmu Nur? Apakah dia akan mengijinkanmu pergi bersama kami?" Tanya Lia.
"Dia tidak akan pernah membiarkanku pergi. Kita akan pergi tanpa sepengetahuannya."
"Baiklah. Lusa kita berangkat. Tapi setidaknya tinggalkan pesan untuk ayahmu sebelum kau pergi. Mungkin saja dia akan mengkhawatirkan mu." Ucap Demian dan di jawab anggukan oleh Nur.
"Secepat itukah? Kita belum mengurus paspor dan dokumen yang di perlukan." Tanya Lia.
"Kau tenang saja. Orang ku yang akan mengurusnya." Jawab Demian dengan entengnya.
Setelah membuat kesepakatan, Lia dan Demian meninggalkan apartemen Nur dan lusa akan kembali untuk menjemputnya.
***
"Kapan Lia kembali Ar? Tanya Arvan kepada Arumi.
Saat ini mereka sedang berada di area parkir kampus. Mereka kuliah di tempat yang sama.
"Entahlah. Kemarin dia mengirim pesan kepada ku. Dia akan ke Swiss setelah dari Kuala lumpur."
"Apa? Swiss? Untuk apa Lia ke sana? Bukankah itu negara asal Demian, si bule tua itu?" Arvan terlihat sangat kesal.
"Kau ini temanku atau bukan. Kenapa malah membelanya?" Protes Arvan.
"Itu fakta Van." Jawab Arumi sambil berlari menjauh karena Arvan mengejarnya.
"Hahaha. Ampun. Ampun."Ucap Arumi saat Arvan berhasil menangkapnya.
Mereka tertawa lepas seakan tak peduli dengan orang-orang yang melintas. Sungguh persahabatan yang membuat iri semua orang yang menyaksikannya.
"Kau sangat menyukai Lia Van?" Tanya Arumi.
"Ya. Bahkan aku mencintainya." Jawab Arvan dengan senyum yang mengembang.
Entah mengapa Arumi merasa begitu sesak setelah mendengar jawaban dari Arvan.
"Hei. Are you ok?" Tanya Arvan sambil memetik jari beberapa kali karena melihat Arumi yang tiba-tiba termenung.
"Ya. Aku baik-baik saja. Sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kita pulang." Jawab Arumi sambil beranjak pergi mendahului Arvan.
"Hei. Bukankah kita akan pergi nonton? Kenapa tiba-tiba pulang?" Tanya Arvan dengan sedikit berteriak karena Arumi sudah lumayan jauh.
"Lain kali saja." Jawab Arumi sambil melambaikan tangan, tanpa membalikan badan.
"Dasar wanita. Tadi dia yang antusias. Sekarang malah pergi begitu saja." Gerutu Arvan.
__ADS_1
Arumi masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas di persimpangan di depannya. Arumi menginjak rem dalam-dalam hingga tubuhnya terguncang cukup keras karena mobil berhenti mendadak. Hampir saja ia membuat seseorang celaka.
Arumi mengusap kasar wajahnya. Ia menangis sesenggukan. "Ada apa dengan diriku? Kenapa rasanya sesakit ini? Sedalam inikah perasaanku kepada Arvan?
Arvan melihat Arumi berhenti di tengah persimpangan jalan. Ia menghentikan mobilnya dan turun menghampiri mobil Arumi.
"Ada apa? Apa mobilmu mogok?" Tanya Arvan kepada Arumi. Tapi Arumi sama sekali tak bergeming.
"Yaampun, kau sedang menangis?" Kaca mobil Arumi dalam kondisi setengah terbuka dan Arvan melihat Arumi sesenggukan. "Ada apa? Apa ada yang menyakitimu?"
"Aku hampir menabrak seseorang." Jawab Arumi terisak.
"Turunlah. Tenangkan dulu dirimu."
Arumi turun dari mobil dan Arvan membawanya duduk di pinggir trotoar.
"Tunggu sebentar. Aku akan meminggirkan mobilmu dulu."
Setelah membawa mobil Arumi ke tepi jalan, Arvan menghampiri Arumi yang sudah tampak lebih tenang. Tapi setelah Arvan duduk di sebelahnya, ia kembali terisak dan memeluk erat Arvan.
Arvan mengusap-usap punggung Arumi agar ia lebih tenang.
Cukup lama mereka berpelukan tanpa sepatah katapun yang keluar.
Arvan memberinya ruang untuk menenangkan diri.
Arumi melepaskan pelukannya. "Thanks Van."
"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Arvan.
Arumi mengangguk. Ia merasa damai di dalam pelukan Arvan.
"Aku akan mengantarmu pulang." Arvan beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu. Aku sudah tidak apa-apa." Jawab Arumi.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya, Kurangi kecepatanmu." Ucap Arvan sambil menghapus sisa air mata di netra indah milik Arumi.
"Kau mengkhawatirkanku?" Tanya Arumi.
"Tentu saja. Kau sahabatku. Dan sudah seperti adik bagiku." Arvan mengacak-acak rambut Arumi.
"Adik? Aku lebih tua satu tahun darimu." Protes Arumi.
"Hahaha. Baiklah kakak Arumi."
"Tapi jangan panggil kakak juga kali." Arumi memukul bahu Arvan dengan pukulan ringan.
*Haruskah persahabatan yang begitu indah ini memudar karena perasaan ini? Maafkan aku Arvan, tapi ini di luar kendaliku. Perasaan ini datang begitu saja. Dan semakin hari semakin mencengkeram erat hati dan jiwaku.
__ADS_1
Bersambung*...