Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode 6


__ADS_3

Demian mengedarkan pandangannya sambil sesekali melihat Lia yang tengah sibuk memeriksa pesanan dari customer.


"Kau mengerjakan semuanya sendiri?" Tanya Demian.


"Tidak. Aku dibantu tiga orang karyawan. Mereka baru saja pulang." Jawab Lia tanpa menoleh dan masih fokus pada pekerjaannya.


"Aku sudah selesai. Aku akan pulang ke rumah." Lanjut Lia.


"Bolehkah aku ikut? Aku belum mendapat tempat tinggal selama di sini."


"Maksudmu kau mau menginap di rumahku?" Lia membelalakkan mata.


"Hmm." Jawab Demian dengan santainya.


"Tidak bisa. Ini di kampung, dan hal seperti itu tidak bisa di maklumi."


"Apa masalahnya?" Tanya Demian.


"Jika sampai itu terjadi, bisa bisa mereka mengira kita adalah pasangan yang tidak sah. jangan mempersulit hidupku Demy." Ucap Lia


"Akan sulit menemukan hotel atau apartemen di sini Lia. Di sepanjang jalan aku hanya melihat Padang rumput yang tiada habisnya."


"Mana ada Padang rumput. Yang kau lihat itu persawahan." Jawab Lia terbahak.


Baru kali ini Demian melihat Lia tertawa selepas itu. Selama ini yang ia lihat hanyalah wajah serius dan datar. Wajah yang selalu berusaha menyembunyikan begitu banyak luka dan beban.


"Aku akan menghubungi temanku. Namanya Arvan. Kau bisa tinggal sementara di tempat kost nya." Lia menghubungi Arvan dan berbicara panjang lebar melalui sambungan telepon.


Tak berselang lama Arvan muncul dengan membawa mobil klasik namun terlihat sangat terawat.


"Hai, aku Arvan." Arvan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Demian.


"Saya Demian. Nice to meet you."


"Nice to meet you too." Jawab Arvan dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Titip dia Van. Aku harap dia tidak merepotkanmu." Ucap Lia.


"Tentu saja. Jika sampai dia merepotkan, akan ku kirim dia ke negara asalnya. Jawab Arvan sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, dan di ikuti Demian.


Lia masih mematung di tempatnya berdiri. Pikirannya menerawang jauh. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia menyimpan kerinduan kepada Demian selama ini. Dan saat Demian datang, ia justru membentengi hatinya setinggi mungkin agar tidak semakin tenggelam dalam perasaan suka. Dan mungkin akan berubah menjadi perasaan cinta.


Ia merasa tak pantas untuk Demian dari segi apapun dan dari sudut pandang manapun.


Lia segera membuang jauh jauh sosok Demian yang kini menguasai hati dan pikirannya. Ia mengunci pintu ruko dan berjalan pulang sambil sesekali menyapa orang-orang yang ia jumpai di sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di depan pintu kediamannya, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur.


"Astaga mbakkkk..!" teriak Kiara yang melihat Lia jatuh pingsan.


Amira mendengar teriakan Kiara dan berlari keluar. Betapa terkejutnya ia melihat putri sulungnya tengah tak sadarkan diri.


"Astaghfirullahhaladzim. Kita bawa mbakmu ke kamar nduk." Ucap Amira sambil berusaha memapah Lia ke kamarnya.


Kiara menghubungi Arumi melalui telepon. Ia meminta bantuan Arumi untuk membawa Lia ke rumah sakit.


Amira mengusap lembut ujung kepala Lia sambil sesekali menyeka air matanya. Selama ini Lia menyembunyikan penyakitnya dari ibu dan adiknya. Tiap kali sakit ia selalu mengatakan bahwa ia hanya kelelahan. Kini Amira mulai merasa ada yang janggal dengan kondisi kesehatan putrinya itu.


Tak sampai setengah jam Arumi datang dengan mobilnya. Ia turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke dalam rumah.


"Iya nak Arumi. terimakasih sudah mau direpotkan." Jawab Amira yang tak enak hati karena terlalu sering merepotkan Arumi dan keluarganya.


Bu Handoko yang tak lain adalah ibunya Arumi, ialah yang dulu sering memberi pekerjaan kepada Amira. Ia menjadi buruh penanam padi di sawah Bu Handoko setiap musim tanam tiba.


Keesokan harinya, Demian datang ke rumah Lia, namun tak ada seorangpun di sana. Lalu ia bergegas menuju ruko. Ia membawa mobil yang baru semalam ia beli. Ia meminta Arvan mengantarnya ke showroom mobil yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kost Arvan. Akan sangat repot jika ia tidak memiliki alat transportasi selama ia di sini.


Sesampainya di ruko, ia tidak mendapati keberadaan Lia di sana. Dan betapa terkejutnya ia saat salah satu karyawan Lia mengatakan bahwa Lia kini tengah di rawat di rumah sakit.


Setelah mendapat alamat rumahsakit tempat Lia di rawat, ia melajukan mobil yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi. Ia baru dua hari di sini dan masih belum tau seluk beluk jalan serta tempat di sini. Untuk sampai di rumahsakit pun ia harus menggunakan aplikasi dan mengikuti arahan maps dari smartphone miliknya.


Sesampainya di rumahsakit dan memarkirkan mobil, ia berlari menuju bagian informasi dan menanyakan ruangan tempat Lia di rawat.


"Aku ingin menjenguk temanku yang bernama Ava Celia. Di mana ia di rawat?" Tanya Demian kepada petugas rumahsakit.

__ADS_1


"Sebentar saya cek dulu tuan."


"Bisa lebih cepat sedikit?" Demian tampak sangat khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Lia.


"Di kamar nomor tujuh lantai tiga tuan." Jawab petugas rumahsakit dengan tenang meski Demian menunjukkan raut wajah tak bersahabat.


Demian memasuki lift dan berjalan cepat setelah pintu lift terbuka. Sesampainya di depan pintu kamar nomor tujuh, ia mendengar seseorang membaca lantunan ayat-ayat suci dengan suara meneduhkan.


Ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih menunggu di kursi tunggu yang terletak di sisi kanan pintu.


Hampir satu jam Demian duduk di sana hingga akhirnya wanita paruh baya keluar dan Demian berdiri menyapanya.


"Kamu siapa?" Tanya Amira yang belum pernah bertemu dengan Demian.


"Saya Demian, teman Lia. Saya dengar Lia sedang sakit dan saya datang kemari untuk menjenguknya." Jawab Demian dengan santun.


"Silahkan nak. Didalam juga ada Kiara, adiknya Lia."


Demian menunduk hormat lalu masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Lia sedang bercanda dengan adiknya. Meski tampak lemah dan wajahnya terlihat sangat pucat, tapi ia masih bisa tersenyum seolah-olah ia baik-baik saja.


"Hai." Sapa Demian kepada Lia.


"Kau?" Lia tampak terkejut dengan kedatangan Demian.


"Aku mencarimu di rumah dan di ruko. Tapi karyawanmu bilang kau sedang di rawat di sini. Kau tau, sepanjang jalan aku mencemaskanmu. Aku sangat takut jika sesuatu terjadi pada wanita yang sangat aku cintai." Ucap Demian blak-blakan tanpa mempedulikan keberadaan Kiara.


"Terimakasih sudah menjengukku. Aku baik-baik saja."


Kiara yang merasa menjadi obat nyamuk diantara mereka memilih keluar daripada tetap di dalam dan merasa canggung.


"Mbak, aku keluar dulu ya cari makan." Pamit Kiara.


"Bukannya tadi kamu sudah sarapan dek?" Tanya Lia heran.


"Hehehe, udah laper lagi." Jawab Kiara cengingiran.

__ADS_1


Kini hanya ada Demian dan Lia di ruangan ini. Demian duduk dan membelai lembut kepala Lia. Keduanya hanya diam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing.


Bersambung


__ADS_2