Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode 11


__ADS_3

"Buk... Lusa mbak Lia pulang." Teriak Kiara sambil berlari dari ruang tamu menuju dapur. Ibuk yang sedang menumis bumbu uleg tak begitu jelas menangkap inti pembicaraan Kiara.


"Ngomong apa to nduk. Kalo ngomong mbok ya kesini." Ibuk masih mengaduk-aduk bumbu tumisannya .Kiara yang sudah berada di samping ibunya kembali memundurkan langkah, karena aroma khas tumisan menyeruak Indra penciuman Kiara dan membuatnya bersin beberapa kali.


"Lusa mbak Lia pulang buk. Sekarang sudah di bandara, mungkin sampai sini Sabtu siang."


"Yang bener nduk? Alhamdulillah, ibuk sudah kangen banget sama mbak mu itu." Ibuk memasukkan kangkung yang sudah di potong-potong dan di cuci bersih ke dalam wajan, sambil sesekali mengaduknya agar bumbu meresap dengan sempurna.


"Sama buk, Kiara juga kangeeenn banget sama mbak Lia. Meski hampir tiap hari telponan sama mbak, tapi rasanya beda."


"Lusa antar ibuk ke pasar. Ibuk mau masak makanan kesukaan mbak mu."


"Siap kanjeng mami." Jawab Kiara dengan banyolan. Alhasil ia mendapat hadiah berupa jeweran dari ibunya.


"Ampun buk ampun. Just kidding." Kiara terbahak.


"Jaskiding jaskiding. Jas hujan noh diluar, lagi ibuk jemur. Sudah tau ibuknya ndak ngerti bahasa Inggris." Jawab Amira jengkel.


***


Pagi-pagi buta, Amira sudah berada di pasar. Nanti ia akan memasak orek tempe dan perkedel ayam kesukaan Lia. Di belakangnya ada Kiara yang berjalan mengekor, sambil sesekali menguap dan mengucek matanya karena masih terkantuk-kantuk.


"Ayo pulang buk, sudah sebanyak ini mau beli apa lagi." Protes Kiara yang kini kedua tangannya sudah penuh dengan begitu banyak belanjaan.


"Kamu kalo di ajak ibuk ke pasar pasti rewel." Protes Amira yang kini masih fokus memilih kentang. "Jadinya berapa bu?" Tanya Amira setelah menyerahkan sekantong plastik kentang pilihannya.


Si penjual lalu mengambil dan menimbangnya. "Ini sudah pas dua kilo ya Bu. Jadinya tiga puluh ribu." Sambil menunjuk ke arah jarum timbangan yang berhenti di angka dua.


Amira segera membayarnya dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Akhirnya." Ucap Kiara dengan perasaan lega karena sesi belanja yang begitu rempong dan menguras energi berakhir juga.


Kiara mengambil motornya di parkiran, dan menghampiri ibunya yang tengah menunggu di depan pintu utama pasar.


"Let's go buk." Seru Kiara sebelum melajukan motor matic nya.


Sesampainya di rumah, Bu Amira dan Kiara oleh Arvan dan Arumi yang sejak setengah jam lalu menunggu di teras. Mereka berdiri dan mencium tangan takzim kepada orang yang sudah mereka anggap seperti ibu kandungnya sendiri itu.


"Eh, ada tamu rupanya. Masuk nak." Bu Amira membuka dompet dan mengambil kunci pintu. "Duduk nak. Budhe mau naruh belanjaan dulu ke dapur."

__ADS_1


"Iya budhe, terimakasih." Jawab Arvan dan Arumi bersamaan.


"Aku buatin minum dulu ya mbak, mas." Ucap Kiara.


"Ndak usah repot-repot Kiara, sekalian camilannya." Kata Arvan dengan terbahak.


Plakkkk..


Arumi memukul lengan Arvan. "Malu-maluin aja kamu." Gerutunya.


"Bercanda doang juga." Arvan meringis sambil mengusap-usap lengannya yang memerah berbentuk telapak tangan karena pukulan Arumi barusan.


"Ya ampun, sorry sorry Van. Perasaan cuma pelan mukulnya. Tapi kok sampai merah begini." Arumi mendekat dan mengusap-usap lengan Arvan. "Bentar aku ambilin kompres."


Arumi pergi ke dapur untuk mengambil baskom dan mengisinya dengan air es. "Pinjem baskomnya budhe."


"Ya nak, itu di sebelah rak piring." Jawab Bu Amira yang kini tengah memotong tempe menjadi ukuran kecil-kecil agar garing sempurna saat di goreng dan di olah menjadi orek tempe.


"Ada sapu tangan nggak Kiara?" Tanya Arumi kepada Kiara, yang kini tengah menuang gula ke dalam gelas berisi seduhan teh dan mengaduknya.


"Ada mbak, bentar aku ambilkan. Kiara membuka lemari gantung dan mengambil kain serbet yang masih terbungkus plastik polybag." Ini adanya kain serbet mbak, tapi masih baru kok. Belum dipakek buat lap." Jawab Kiara sambil mengangsurkan kain berbentuk persegi ke arah Arumi.


"Yaudah nggak apa-apa kok Ra.Yang penting bersih." Arumi berlalu membawa baskom ke ruang tamu.


"Udah nggak apa-apa. Kulitku emang sensitif. Kena benturan dikit aja langsung merah. Tapi ini nggak sakit kok. Serius." Arvan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf 'V'.


"Itu kenapa mas Arvan kok di kompres?" Tanya Kiara yang tengah menenteng nampan berisi dua gelas teh manis hangat dan menaruhnya ke atas meja.


"Nggak apa kok. Cuma merah karena kebentur tadi." Jawab Arvan .


"Oh. Diminum dulu kak, keburu dingin teh nya."


"Iya dek makasih. Oh iya, kami kesini karena mau bikin surprise buat Lia dek. Besok kan dia ulang tahun. Jadi sekalian aja kita mau ngucapin nanti pas dia datang." Kata Arumi menjelaskan maksud kedatangannya sepagi ini.


"Oh iya, besok kan tanggal 11 ya mbak. Aku kok ndak ingat sama sekali." Kiara menepuk jidatnya sendiri.


"Jadi rencana kita tuh mau ngedekor rumah sama bikin kue gitu. Tadinya sih mau pesan kue, tapi kata Arumi mau bikin sendiri aja. Biar lebih spesial katanya." Ucap Arvan.


"Wah kalau urusan bikin kue mah mbak Arumi jagonya." Puji Kiara di depan Arvan. Dan hal itu membuat Arumi salah tingkah.

__ADS_1


"Biasa aja dek, semua juga bisa. Cuma bikin kue doang juga." Kata Arumi dengan wajah tersipu.


"Ya sudah ayo." Ajak Arvan.


"Kemana?" Tanya Kiara dan Arumi bersamaan.


"Ke pantai". Canda Arvan. " Ya bikin kueh lah". Lanjutnya lagi.


"Mana bahan kue yang kita beli tadi Van?" Arumi celingukan mencari tepung terigu dan kawan-kawan yang ia beli tadi pagi."


"Masih di bagasi. Bentar aku ambil dulu." Arvan beranjak keluar dan mengambilnya.


"Tadi mbak Arumi ke pasar?" Tanya Kiara.


"Iya dek, tadi sekalian antar mamah belanja sayuran buat masakin pekerja di sawah nanti."


"Jam berapa? Kok tadi ngga ketemu aku sama ibuk ya?" Tanya Kiara.


"Habis subuh, sekitar pukul limaan kayaknya. Tadi belanjanya cuma di lapak sayur pak Marno. Jadi nggak sampai ke dalam." Ucap Arumi menjelaskan.


"Oh pantesan". Kiara manggut-manggut tanda mengerti.


"Ini bahan-bahan kue nya rum." Arvan menyodorkan dua kresek besar kepada Arumi.


"Sekalian bawain ke dapur ya Van." Pinta Arumi.


"Siap Ndan." Arvan berjalan menuju dapur dan di ikuti Arumi serta Kiara.


"Masak apa buk? Kayaknya enak tuh" Tanya Arvan kepada Bu Arumi.


"Orek tempe sama perkedel ayam cah Bagus. Mau icip-icip?" Tawar Bu Amira.


"Boleh." Jawab Arvan sekedar basa-basi.


"Jangan budhe. Ntar di habisin semua lho sama Arvan. Dia tuh makannya banyak. Jangan ketipu sama badannya yang cungkring." Ledek Arumi.


"Jangan percaya budhe. Dia tuh yang makannya banyak. Masak iya kemarin makan mie ayam di kasih nasi." Arvan membela diri dengan membeberkan fakta yang telah terjadi.


"Hahaha. Mbak Arumi sama mbak Lia emang suka gitu. Katanya belum makan namanya kalau ndak makan nasi." Kiara tergelak mengingat kebiasaan dua sahabat yang begitu absurd itu.

__ADS_1


"Ye. Biarin." Ucap Arumi lalu menjulurkan lidah.


Bersambung


__ADS_2