Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode 9


__ADS_3

Saat ini Demian dan lia sudah berhasil membawa Nur ke Swiss. Mereka tiba di Mansion Demian menjelang malam.


"Surprise." Kata Demian kepada sang mommy saat memasuki mansion.


Clara langsung menghampiri putranya dan memeluknya. "Siapa mereka Demy?" Ucap Clara sambil memperhatikan dua perempuan di sebelah Demian.


"Kenalkan. Yang memakai kemeja ivory itu calon menantu mommy." Demian menunjuk Lia. Spontan saja Lia membelalakkan matanya dan seketika itu juga ia menginjak kaki Demian dengan lumayan keras.


"Jadi kau yang bernama Ava Celia?" Tanya Clara.


"Anda tau nama lengkap saya nyonya?" Tanya Lia heran.


"Demian banyak menceritakan tentang dirimu." Clara menghampiri Lia dan menepuk-nepuk pundaknya.


Lia tersenyum kaku karena bingung harus menanggapi apa ucapan Clara barusan.


"Perkenalkan, Saya Nur nyonya. Temannya Lia." Nur memperkenalkan diri kepada Clara.


Clara memandang Demian dan Demian tau jika tatapan sang mommy mengandung sebuah pertanyaan. Siapakah perempuan di sebelah Lia itu? Begitulah kiranya yang di tangkap Demian dari sorot mata mommy nya.


"Dia Nur, dari Malaysia. Dia akan bergabung dalam manajemen yayasan kita mom."


"Selamat datang sayang, dan selamat bergabung." Clara menjabat tangan Nur sebagai salam perkenalan.


"Baiklah, aku akan mengantar mereka ke kamar untuk istirahat." Ucap Demian.


"Biar mommy yang mengantar mereka Demy."


Clara membawa Lia dan Nur ke kamar tamu. "Ini kamar kalian. Jangan sungkan jika kalian membutuhkan sesuatu." Ucap Clara.


"Terimakasih nyonya." Ucap Lia disertai anggukan.


"Jangan panggil nyonya. Panggil aunty saja." Pinta Clara dengan senyum hangatnya.


"Baiklah aunty, terimakasih." Balas Lia.


"You're welcome."


Lia dan Nur masuk ke dalam kamar dan mengedarkan pandangannya.


"Nur." Panggil Lia dengan masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Ya?" Jawab Nur.


"Apakah kita sedang berada di istana?

__ADS_1


Nur Terkekeh mendengar ucapan Lia. "Maybe."


"Aku tau Demian berasal dari keluarga kaya. tapi aku tidak menyangka dia sekaya ini." Lia semakin merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan istimewa dari Demian selama ini.


"Sepertinya Demian menyukaimu Lia."


Lia menoleh kearah Nur. "Dia beberapa kali mengatakan bahwa ia menyukaiku." Lia


duduk di ranjang berukuran king size dan menekan-nekan nya dengan telapak tangan. "Tapi aku merasa sangat tidak pantas untuk Demian.


"Kenapa kau berbicara seperti itu Lia? Siapapun berhak jatuh cinta dan di cintai. Dan perlu kau pahami bahwa cinta bukanlah tentang harta ataupun status sosial." Ucap Nur.


"Sudahlah, Lagi pula aku belum siap menjalin suatu hubungan untuk saat ini."


"Apa yang kau takutkan Lia? Kau memotivasi banyak orang tapi kau begitu insecure dengan dirimu sendiri."


"Aku takut tidak bisa membuatnya bahagia Nur. Demian Terlalu sempurna. Aku tidak dapat memantaskan diriku untuknya.


Lihatlah, Mansion ini tak sepadan dengan gubuk ku di kampung. Begitu banyak kekuranganku. Jika ku catat mungkin akan menghabiskan satu halaman penuh." Ucap Lia panjang lebar.


"Lalu jika suatu hari ada pria normal menyukaiku, Apakah menurutmu aku juga tidak pantas? Apakah seperti itu sudut pandangmu Lia?" Tanya Nur.


"Bukan seperti itu maksudku Nur. Aku.., Sudahlah jangan membahasnya lagi.


***


Semua orang menunduk hormat ketika Demian berjalan memasuki ruangan. Ia mengumpulkan semua staf dan memperkenalkan Nur secara terbuka.


"Dia adalah Nur, anggota baru di yayasan ini, dan akan bergabung di bagian divisi sosial." Ucap Demian singkat, padat dan jelas.


"Halo semua. Perkenalkan, saya Nur, dari Malaysia. Mohon bimbingan dan kerjasamanya." Nur memperkenalkan dirinya.


Tapi justru Lia lah yang saat ini menjadi pusat perhatian karena Demian merangkul pundak Lia.


Lia melirik tajam Demian dan di tanggapi senyuman santai oleh Demian.


"Apa perlu aku mengulangi pernyataan cintaku di sini?" Bisik Demian tepat di telinga Lia.


Lia membelalakkan mata. "Awas saja jika kau macam-macam." Balas Lia dengan berbisik.


Demian terkekeh. Ia berjalan maju dan mengambil alih pembicaraan setelah Nur selesai memperkenalkan diri.


Hal itu membuat Lia panik. Bagaimana jika Demian benar-benar nekat mengulangi pernyataan cintanya disini? Itulah yang ada di pikiran Lia.


"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Silahkan kembali dan menjalankan pekerjaan masing-masing." Ucap Demian.

__ADS_1


Lia menghela nafas panjang. "Syukurlah dia masih waras." Gumam Lia pelan


" Kami akan pergi Nur, Kepala divisi akan memberitahu tugas-tugasmu disini. Aku harap kau bisa segera menyesuaikan diri dengan yang lain." Ucap Demian.


"Baiklah, semoga harimu menyenangkan." Jawab Nur lalu mengalihkan pandangan kearah Lia dan melambaikan tangan.


Lia membalasnya dengan lambaian tangan dan pergi dengan langkah cepat.


"Kenapa kau berjalan seperti sedang melihat hantu?" Tanya Demian kepada Lia.


"Iya, Dan hantunya kamu." Jawab Lia ketus.


Demian tertawa dan melanjutkan langkahnya mengikuti Lia.


Setelah dari yayasan, Demian membawa Lia ke perusahaannya. Lia hanya bisa pasrah dan berharap hari ini akan segera berakhir.


"Selamat pagi Pak." sapa Mona, sekertaris Demian.


"Pagi. Apa ada masalah saat aku pergi?" Tanya Demian.


"Tidak Pak. Semua masih bisa kami handle." Jawab Mona.


"Bagus. Buatkan kami cokelat panas. Cuaca di luar sangat dingin." Perintah Demian lalu membawa Lia masuk ke ruangannya.


"Untuk apa kau mengajakku kemari?" Tanya Lia.


"Sudah lama aku tidak ke perusahaan. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Dan tidak mungkin aku meninggalkanmu di pinggir jalan. Makanya kau ku bawa kemari." Jawab Demian yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Hhhh.. terserah kau saja."Ucap Lia pasrah.


Tak berselang lama Seseorang wanita membuka pintu ruangan Demian tanpa mengetuk pintu.


"Hai, Demy. Senang akhirnya kau kembali." Ucap wanita itu dan mengecup kedua pipi Demian, tanpa mempedulikan Lia yang kini berada di sampingnya. Dia adalah Vinny. Anak dari rekan bisnis Demian.


"Lain kali ketuk pintunya sebelum masuk." Ucap Demian dengan ekspresi datar.


"Why? Biasanya juga seperti ini kan?" Protes Vinny. "Siapa dia Demy?"


Belum sempat Demy menjawab, Lia beranjak dari tempat duduknya. "Maaf, aku permisi ke toilet dulu."


Sesampainya di toilet Lia membasuh wajahnya dan mengusapnya kasar ."Apakah aku sedang cemburu? Ternyata sesakit ini rasanya. Ayolah Lia, jangan memakai perasaanmu." Lia berbicara dengan dirinya sendiri.


Hampir setengah jam Lia berada di toilet hanya untuk mengkondisikan hatinya yang kacau. Dan ketika keluar, ia kaget karena mendapati Demian mematung di samping pintu.


"Apa yang kau lakukan di depan toilet wanita?" Tanya Lia penuh selidik.

__ADS_1


"Kau terlalu lama di dalam. Aku mengkhawatirkanmu." Demian tampak begitu cemas.


Bersambung


__ADS_2