
"Aku baik-baik saja. Bukankah kau sedang ada tamu? Kenapa kau meninggalkannya sendirian?"
"Biarkan saja. Aku malas menanggapinya."
Demian menggandeng tangan Lia dan membawanya memasuki lift. "Kita mau kemana?" Tanya Lia.
"Sebentar lagi jam makan siang. Kita makan siang dulu."
Pintu lift terbuka, Demian kembali menggandeng tangan Lia dan tidak ada penolakan dari Lia. Mereka bergandengan cukup lama hingga sampai lobi depan. Ini adalah sebuah rekor. Demian tersenyum senang, mungkinkah Lia sudah mulai membuka hatinya untukku? Begitulah yang ada di dalam pikiran Demian.
"Kau ingin makan apa? Tanya Demian sambil fokus menyetir mobilnya.
"Adakah makanan Indonesia di sini? Sudah beberapa hari aku tidak makan nasi. Aku sungguh merindukan nasi putih dengan taburan bawang goreng di atas nya." Jawab Lia dan ditanggapi tawa oleh Demian.
"Kenapa kau tertawa?" Lia memukul lengan Demian.
"Baiklah, Ada restoran yang menyajikan makanan Asia disini. Kau bisa menemukan nasi di sana."
" Benarkah? Aku akan membungkus satu untuk Nur nanti. Dia pasti juga tengah merindukan makan nasi saat ini." Ucap Lia dengan antusias.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di restoran yang di tuju. Lia melihat-lihat daftar menu yang diberikan seorang pelayan. Senyumnya melebar ketika menjumpai begitu banyak menu makanan khas Indonesia di sana. Salah satunya adalah tempe, menu favoritnya di kampung.
"Wah, ada tempe juga disini." Senyum Lia mengembang.
"Pesan apapun yang kau mau." Ucap Demian sambil meletakkan siku di atas meja lalu menyangga dagunya.
"Baiklah, aku pesan tempe goreng, rendang, sambal bawang dan nasi putih. Jangan lupa beri taburan bawang goreng di atasnya. Minumnya air mineral saja." Pelayan mencat semua yang di pesan Lia.
Setelah menu yang di pesan datang, Lia makan dengan begitu lahap. Ia makan menggunakan tangan kosong. Ia tak peduli jika Demian akan memperhatikan cara makannya yang jauh dari kata anggun. Sukur-sukur dia ilfil kepadanya. Dengan begitu, ia tidak perlu susah payah lagi untuk menghindar darinya.
"Kenapa malah menatapku. Cepat makan." Perintah Lia karena sejak tadi Demian hanya memandanginya saja.
"Aku suka cara makan mu. Makanlah yang banyak." Kata Demian dan mulai menyantap makan di depannya.
Lia tak habis pikir. Kenapa malah pujian yang keluar dari mulut Demian.
***
__ADS_1
"Bagaimana hari pertamamu di yayasan nur?" Tanya Lia kepada nur yang kini sedang mengemas pakaiannya.
"Sungguh menyenangkan. Aku bertemu dengan banyak teman di sana." Nur memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar. "Mulai besok aku akan tinggal di apartemen. Selain tempat tinggal, aku juga mendapat fasilitas kendaraan pribadi." Lanjutnya lagi.
"Aku turut bahagia untukmu Nur. Tugasku sudah selesai sekarang. Besok aku akan kembali ke Indonesia. Jaga dirimu baik-baik Nur." Lia sedih harus berpisah dengan Nur. Meskipun baru mengenalnya beberapa hari, tapi ia sudah sangat akrab dengannya. Nur adalah pribadi yang mudah bergaul dan menyenangkan. Ia juga begitu mudah beradaptasi dengan lingkungan baru meskipun ini kali pertama ia bersosialisasi dengan dunia luar.
"Kenapa secepat itu, aku masih ingin bersamamu Lia." Nur memeluk Lia. "Tinggallah beberapa hari lagi. Please." Rengeknya.
"Tidak bisa Nur. Tidak ada alasan untukku tetap berada di sini. Aku janji akan mengunjungimu nanti."
Nur melepas pelukannya. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu di sana.
"Ini untukmu Lia. Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan dari ku."
Lia membuka kotak kecil berwarna biru pemberian Nur. Dan ketika dibuka, menampilkan sebuah gelang rajut berwarna nevi dengan kombinasi manik-manik. "Wah, bagus sekali." Ucap Lia.
"Aku juga memakainya." Nur menunjukkan gelang yang sama persis di pergelangan tangan kanannya. "Ini adalah gelang persahabatan."
Lia melebarkan senyumnya. "Aku akan selalu memakainya." Ucap Lia sambil mengenakan gelang pemberian Nur di pergelangan tangannya.
Tok.. tok..tok..
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Clara. "Hai sayang, sudah waktunya makan malam. Segeralah turun."
"Baik aunty, Sebentar lagi kita turun." Jawab Lia.
Tak berselang lama Nur dan Lia turun menuju meja makan. Demian juga sudah menunggu di sana.
Lia memilih tempat duduk yang paling jauh dari Demian.
"Kenapa kau duduk terlalu jauh sayang? kemarilah." Clara menepuk kursi kosong di sebelahnya. Dan itu artinya ia juga akan duduk bersebelahan dengan Demian. Lia terpaksa mengiyakan permintaan Clara.
"Lia akan grogi jika duduk terlalu dekat dengan Demian aunty." Goda Nur.
"Jangan dengarkan dia aunty." Ucap Lia yang wajahnya kini memerah.
"Makanlah yang banyak." Demian mengambil makanan dan menaruhnya di piring Lia. Clara tersenyum melihat adegan manis di depannya.
__ADS_1
"Besok aku akan kembali ke Indonesia aunty." Ucap Lia di sela-sela makan.
Clara meletakkan garpu yang ia pegang. "Kenapa buru-buru sayang. Aunty akan senang jika kau tinggal beberapa hari lagi."
"It's ok mom, aku akan membawanya kemari jika mommy merindukannya. Ucap Demian berusaha menghibur sang mommy yang tampak sedih.
"Aunty berharap suatu saat kau akan menjadi menantu di sini."
Ucapan Clara barusan membuat Lia tersedak. Potongan kentang berukuran cukup besar masuk ke saluran hidungnya dan menyisakan rasa pengar.
Demian dengan sigap memberi air putih kepada Lia.
"Kau baik-baik saja Lia?" Tanya Nur memastikan.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Lia dengan wajah gugup.
Lia melanjutkan makan malamnya dengan perasaan tak karuan. Ia bingung harus sedih atau bahagia ketika Demian dan Clara begitu menyayangi dan memberi perhatian kepada dirinya. Dia sungguh merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga ini.
Setelah makan malam selesai, Lia mengemas sebagian barang-barangnya. Sisanya akan ia lanjutkan esok. Dia membeli tiket pesawat dengan jadwal penerbangan siang. Dengan begitu, ia masih memiliki waktu untuk berkemas besok pagi.
***
Arvan tampak berlari menghampiri Arumi yang tengah berada di kantin.
"Besok Lia akan kembali Rum. Semalam aku menelponnya. Dan dia bilang akan pulang besok."
"Sudah tau. Semalam Lia mengabariku lewat pesan. Dia memintaku untuk menjemputnya di bandara." Jawab Arumi.
Pemilik kantin datang dengan membawa nampan berisi semangkuk bakso dan es teh manis. "Ini pesanannya neng." Ucapnya sambil meletakkan pesanan Arumi ke meja.
"Terimakasih kang." Arumi menyantap baksonya dengan lahap.
"Laper apa doyan tuh?" Tanya Arvan sambil menyerobot es teh manis milik Arumi dan meminumnya, hingga menyisakan setengahnya saja.
"Arvan!" Teriak Arumi kesal karena Arvan meminum minumannya.
"Hehe, sory sory. Nih masih sisa dikit." Arvan menyodorkan gelas bekas minumnya kepada Arumi. Dan hal itu membuatnya mendapat bogem mentah. Kepalan tangan Arumi mendarat sempurna di lengan kirinya.
__ADS_1
"Auh.. ampun ampun." Teriak Arvan sambil terbahak. Adegan ala-ala tom and Jerry terulang lagi dan lagi. Seolah sudah menjadi ciri khas kebersamaan mereka. Dan hal itu pun sudah menjadi hal yang lumrah bagi teman-teman kampus mereka.
Bersambung