Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode 5


__ADS_3

"Liaaaaa!" Teriak Arumi dari teras. Dia memang sangat bar bar.


Arvan yang sedang meneguk minuman sampai tersedak dibuatnya.


"Astaga, kau ini bikin malu saja. Lihat, temanku sampai tersedak gara gara suaramu yang cempreng itu." Ucap Lia yang sedang menepuk punggung Arvan yang masih terbatuk-batuk.


"Maaf maaf. aku nggak tau kalau ada tamu." Jawab Arumi dengan wajah merah karena malu kepada Arvan.


"Kenalin Van, dia Arumi. Sahabatku yang pernah ku ceritakan padamu waktu itu."


"Hai. Aku Arvan." Sambil menyodorkan tangannya.


"Aku Arumi. Sahabatnya Lia dari jaman orok." Arumi menjabat tangan Arvan.


"Kamu nggak takut sama aku?" Tanya Arvan kepada Arumi.


"Takut kenapa?" Jawab Arumi dengan wajah bingung.


"Ya sama aku ini. Biasanya orang yang pertamakali melihatku, mereka menatapku dengan aneh. Mungkin mereka jijik denganku. Aku memang tidak normal." Jawab Arvan dengan senyuman kecut.


"Hei, semua manusia itu tidak ada yang sempurna. Ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jangan bicara seperti itu lah." Jawab Arumi.


"Itu hanya perasaanmu saja Van. Saat orang menatap aneh padamu, itu karena baru pertama kali melihatmu. Kau hanya perlu menjelaskan kepada mereka tentang keadaanmu. Setelah mereka terbiasa, mereka tidak akan mempermasalahkan semua itu. Percayalah." Lia kembali menyemangati Arvan.


"Iya Van, mari kita berteman dengan tulus." Ucap Arumi dengan senyuman yang memperlihatkan sederet gigi putihnya.


Sedangkan di belahan dunia yang berbeda, Demian sedang duduk termenung di taman belakang mansionnya. Selama ia di Swiss, ia selalu menunggu panggilan masuk dari Lia. Bahkan ia sangat sering memandangi layar ponselnya yang ia beri wallpaper foto Lia, yang ia ambil diam diam tanpa sepengetahuannya. Seperti yang ia lakukan saat ini, ia terpergok sang mommy ketika sedang senyum senyum tidak jelas sambil mengusap-usap layar ponselnya.


"Temui dia Demy. Ajak dia kemari. Mommy ingin tau gadis seperti apa yang membuat putra mommy jatuh hati." Ucap Clara sang mommy. Ia sangat senang putranya bisa membuka hatinya kembali setelah sekian lama. Semenjak skandal perselingkuhan tunangannya terbongkar seminggu sebelum hari pernikahannya. Ia merasa terhianati dan tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.


"Tidak semudah itu mom, dia gadis yang unik. Tidak seperti gadis pada umumnya." Ucap Demian sambil tersenyum karena teringat kembali kebersamaannya yang begitu singkat tapi berkesan dengan Lia.

__ADS_1


"Benarkah? Seperti apa dia?" Tanya Clara begitu antusias.


"Dia seperti mommy. Sangat keras kepala, tapi memiliki hati yang lembut. Dan jiwa sosialnya sangat tinggi."


"Kalau begitu, berusahalah lebih keras lagi. Mommy sudah sehat sekarang. Jadi, pergilah dan kejar dia sebelum seseorang mendapatkan hatinya lebih dulu." Ucap sang mommy yang begitu memprovokasi.


"Nanti mom, ada sedikit masalah di perusahaan yang harus ku bereskan. Setelah itu, akan ku temui dia. Jika perlu, akan langsung ku nikahi dia." Jawab Demian sambil tergelak.


"Awas saja jika kau menikah tanpa sepengetahuan mommy. Dasar anak nakal." Ucap Clara sambil menarik hidung putra semata wayangnya.


"Ampun mom. I'm just kidding." Ucap Demian sambil melepaskan diri dari sang mommy.


Tiga bulan berlalu. Demian sudah selesai membereskan masalah perusahaannya.


Ia terbang ke Indonesia dan memulai misinya. Menaklukan hati seorang gadis yang membuatnya jatuh hati.


Demian tiba di Bali saat malam hari. Ia memilih singgah di hotel daripada di vila milik keluarganya. Alasannya hanya satu, hotel ini berdekatan dengan rumah sakit yang merawat Lia dulu. Ia akan mencari informasi tentang tempat tinggal Lia di rumah sakit itu.


Keesokan harinya, Demian sudah berhasil mendapatkan alamat rumah Lia. Hal yang sangat mudah bagi seorang Demian. Dengan segera, ia menuju Jawa tengah dengan jadwal penerbangan siang. Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat yang ia tumpangi mendarat.


Demian mengetuk pintu yang tidak tertutup rapat. Tak berselang lama, Kiara muncul dan membuka pintu.


"Maaf, apa benar ini rumah Ava Celia?" Tanya Demian dengan senyuman khas nya.


"B..benar."Jawab Kiara terbata. Ia masih tenggelam dengan pikirannya sendiri.


"Bisa aku bertemu dengannya?"


"Bisa kak. Tapi mbak Lia sedang di ruko. Sebentar saya panggilkan." Lia bergegas menuju Ruko, tapi Demian mencegahnya.


"Tidak usah, antarkan saja aku ke sana."

__ADS_1


Mereka berjalan menuju Ruko tempat Lia bekerja. Di perjalanan, Demian menjadi pusat perhatian karena ketampanannya yang mencolok.


"Mbak Liaaa...." Teriak Kiara sambil berlari kecil. "Mbak, sumpah demi apapun, ada pangeran tampan cari mbak Lia. Ya ampun mbak!! Kok bisa kenal cowok sekeren itu sih." Ucap Kiara sambil lompat lompat tidak jelas.


"Siapa dek, tapi mbak lihat kamu seperti habis lihat hantu, sampai lompat-lompat tidak jelas seperti itu." Lia geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya itu.


"Itu orangnya nungguin di luar. Buruan ihh mbak. Kasihan cowok sekeren itu di suruh nunggu lama."


Lia keluar menuju depan ruko. Saat pintu kaca di buka, betapa terkejutnya saat ia mendapati wajah yang selama ini ia rindukan. Betapa ingin ia memeluknya erat. Tapi akal sehatnya masih mendominasi. Ia sadar betapa jauh perbedaan status sosial di antara mereka. Bagai langit dan bumi. Ya, begitu tinggi benteng yang Lia bangun untuk membentengi hatinya. Dia merasa sangat tidak pantas mendapatkan seorang Demian.


"Hai, nona keras kepala." Sapa Demian dengan meletakkan dua jari di pelipisnya, lalu membuangnya ke udara.


"Kau, apa yang kau lakukan disini?" Akhirnya kata itu lah yang keluar dari mulut Lia. Sangat berbanding terbalik dengan kata hatinya yang ingin meluapkan segala kerinduan yang selama ini ia pendam. Ini di luar kendalinya.


"Tentu saja untuk menemuimu. Bukankah sudah ku bilang aku tertarik padamu?" Ucap Demian tanpa basa basi. Itulah ciri khas Demian. Tidak suka basa basi dan terkadang bicaranya tanpa filter.


"Tapi tidak denganku. Jawab Lia berbohong.


"Itu tidak masalah. Aku pasti akan menaklukan hatimu. Dan itu adalah seni dalam cinta." Jawab Demian dengan senyuman smirk nya.


"Ku rasa kaulah yang pantas mendapat julukan si keras kepala." Ucap Lia.


"Ya. Kau benar. Itu artinya kita memang berjodoh. Sama sama keras kepala."


"Terserah kau saja. Aku mau lanjutkan pekerjaanku. Jika kau ingin masuk silahkan. Ucap Lia sambil berjalan masuk ke ruko.


"Tempat ini milikmu?" Tanya Demian.


"Bukan. Aku menyewanya."


Demian mengangguk pelan sambil mengekor di belakang Lia.

__ADS_1


"Kau bisa duduk di sana Demian." Lia menunjuk kursi kayu panjang di sudut ruko. Ia merasa grogi dan tidak bisa konsentrasi jika Demian terus mengekor dirinya seperti ini.


Bersambung...


__ADS_2