Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode Tiga


__ADS_3

Hai readers... mohon maaf ya karena novel ini tidak update beberapa minggu lamanya. Dikarenakan ada beberapa hal di dunia nyata author yang harus author selesaikan. So.. dengan terpaksa dunia halu author berhenti sejenak. 🙏🙏


Mari kita lanjutkan💪💪


****


Pada akhirnya, Arvan mendapatkan semangat hidupnya kembali. Dan itu karena Lia. Orang tua Arvan sangat bahagia melihat putra semata wayangnya kini bisa tersenyum kembali. Mereka berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada Lia. Bahkan sebagai wujud rasa syukurnya, orang tua Arvan mengatakan bahwa mereka siap menjadi donatur dan mendukung penuh segala kegiatan sosial yang Lia lakukan.


Kini Lia bersahabat dengan Arvan. Mereka lebih cepat akrab karena perbedaan usia mereka hanya terpaut satu tahun saja. Arvan juga berjanji akan berkunjung ke tempat tinggal Lia dalam waktu dekat.


Seminggu setelahnya, Lia bergegas pulang karena merasa tugasnya sudah selesai. Ia memesan taxi online dan bersiap ke bandara.


Saat taxi yang di tumpanginya tiba di bandara, ia membuka pintu taxi dan bersiap untuk turun. Tapi tiba-tiba seseorang pesepeda yang memacu kecepatan tinggi menabraknya dari belakang.


"Sory sory. Are you ok?" Tanya seseorang yang menabrak Lia.


Laki-laki yang sangat tampan, berpostur tinggi, terlihat sangat gagah dan berkarisma. Ia memiliki warna mata biru dan berkulit pucat. Persis aktor di film Holywood yang pernah ia tonton. Perfect.


"Sepertinya kakiku terkilir. Dan juga, Auhhh.. tanganku." Keluh Lia sambil meringis menahan sakit ketika menggerakkan tangan kanannya.


"Sorry. Aku akan bertanggung jawab atas luka lukamu. Aku akan membawamu ke rumahsakit."


"Anda bisa bahasa indonesia?" Tanya Lia heran.


"Ya. Nenekku orang indonesia."


Saat perjalanan menuju rumahsakit, Lia merasa canggung dan lebih banyak diam. Tapi tidak untuk laki-laki asing di sebelahnya.


"Namaku Demian. Siapa namamu nona?"


"Lia." Jawab Lia singkat.


"Nama yang cantik. Secantik orangnya."


Lia menoleh ke arah Demian dan menatapnya. Hal itu membuat pandangan mereka saling bertemu karena ternyata sejak tadi Demian memandanginya.

__ADS_1


Jantung Lia berdegub kencang. Ia merasa terjebak dalam situasi yang aneh. "Apakah aku sudah gila. Aku tidak mengenalnya, tapi kenapa saat menatap mata birunya jantungku seperti mau loncat saja." Batin Lia sambil membuang muka ke arah jendela.


"Tidak usah grogi nona, aku memang tampan." Ucap Demian. Seolah ia tau apa yang ada di pikiran Lia.


Lia hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merah dengan rambutnya yang terurai.


Setibanya di rumahsakit, Lia menjalani serangkai pemeriksaan. Dokter mengatakan bahwa kaki kanan Lia terkilir dan pergelangan tangan kanannya mengalami pergeseran. "Pantas saja sakit sekali" Keluh Lia dengan ekspresi wajah menahan sakit.


"Aku akan bertanggung jawab nona. Dokter mengatakan bahwa kau harus dirawat beberapa hari karena ada luka yang lumayan serius di tanganmu. Aku akan menanggung semua biayanya.” Ucap Demian.


"Dan satu lagi, apa kau tau kau sedang sakit? Maksudku ada sakit yang kau derita sebelum insiden tadi pagi?" Imbuh Demian.


”Ya, aku tau. Aku sudah memberitahu dokter jika aku sedang mengkonsumsi obat steroid karena suatu penyakit.” Jawab Lia dengan pandangan menerawang. Ia ingat betul saat pertamakali dokter mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa sembuh dari penyakitnya.


”Hmm, dokter sudah mengatakan semuanya kepadaku. Dia mengira aku pasanganmu.” Seulas senyum tersimpul manis ketika Demian mengucapkan kalimat 'Dia mengira aku pasanganmu’.


"Jangan mengasihaniku. Dan tolong jangan panggil aku nona. Panggil saja Lia."


”Baiklah, Lia. Aku memiliki yayasan amal di negara asalku. Jika kau mau, kau bisa bergabung dan menjadi bagian dari yayasan ku. Kau akan mendapat kemudahan dalam biaya pengobatan". Tawar Demian dengan sopan.


"Tidak, terimakasih. Aku masih bisa mengatasinya.Tapi jika kau berkenan, kau bisa membantu yang lebih membutuhkan. Aku membuka donasi untuk membantu pengobatan orang-orang yang bernasib sama sepertiku". Jawab Lia.


"Aku belum memiliki yayasan tuan. Aku hanyalah penjual pakaian di ruko kecil. Aku baru bisa membuat group amal di media sosial". Jawab Lia dengan senyum kecut.


Demian memicingkan mata. Saat Lia menolak tawarannya untuk menjadi bagian dari yayasan amal yang ia naungi, ia berfikir jika pasti Lia anak orang kaya. Atau mungkin dia pengusaha yang cukup berpengaruh. Tapi pernyataan yang Lia ucapkan barusan, membuat seorang Demian terkejut sekaligus kagum.


"Hidupmu sangat pas-pasan. Kenapa kau menggunakan uang yang susah payah kau dapatkan untuk kepentingan orang lain?" Ucap Demian.


”Hidup anda sangat sempurna. Kenapa anda mempersulit diri dengan mencampuri urusan orang lain tuan?" Balas Lia.


"Kau memutar balik pertanyaanku nona. Aku rasa aku tertarik padamu." Demian merasa ada kerertarikan dengan Lia. Dia merasa Lia berbeda dari gadis pada umumnya.


"Istirahatlah. Aku ada di sana jika kau membutuhkan sesuatu." Ucap Demian sembari menunjuk sofa yang berada di sisi kanan ruangan.


Demian mulai merebahkan dirinya di sofa. Meski tidak senyaman ranjang empuknya. Tapi setidaknya ia bisa meluruskan punggungnya yang mulai lelah karena seharian mondar-mandir mengurus pendaftaran dan administrasi perawatan Lia.

__ADS_1


Lia memandangi Demian cukup lama. Hingga akhirnya ia menggeleng cepat demi mengusir pikirannya yang mulai ngelantur.


"Astaga... apa yang sedang ku pikirkan. Hai wajah pria asing, tolong pergilah dari pikiranku. Dan wahai hati, tolong kondisikan perasaanmu." Ucap Lia lirih sambil memukul-mukul ringan keningnya sendiri.


Pagi harinya, ponsel Lia bergetar. Terpampang nama Arumi di layar 6 inci tersebut.


"Ya ampun. Aku lupa mengabari orang rumah jika aku tidak jadi pulang hari ini." Lia kembali memukul pelan kepalanya.


"Halo Ar, maaf aku lupa mengabari jika aku menunda kepulanganku beberapa hari lagi."


"Hmm.. Masih ada sedikit urusan."


"Iya iya. Aku tidak pernah melewatkan obatku."


"Hmm. iya."


"Iya bawel.. Haha. Katakan pada ibu dan adik bahwa aku baik-baik saja."


"Oke. dadahhhhh mmmmuuaaaach."


Lia tidak menyadari jika sejak tadi Demian menyimak pembicaraannya.


"Astaga. Bikin kaget saja. Sejak kapan kau di situ." Pekik Lia sembari mengelus dada.


"Kau bicara dengan siapa sampai semesra itu?"


"Mesra? Hahahaha. Aku masih normal pak. Aku berbicara dengan sahabat perempuanku. Telinga bapak harus di periksa tuh." Lia masih berusaha mengondisikan tawanya yang sulit ia hentikan.


"Tertawalah. Itu sangat baik untuk kesehatanmu. Aku siap membuatmu tersenyum dan tertawa sertiap hari." Ucap Demian dengan senyum seribu Watt nya.


"Dan satu lagi Lia, jangan panggil aku bapak. aku tidak setua itu. Demian. Panggil aku Demian."


"Iya iya. Demian Demian Demian. Puas?"


"Wah wah. Semenarik itukah sampai sampai kau menyebut namaku hingga tiga kali."

__ADS_1


Lia memalingkan wajahnya karena malu. Dan Demian menyadari itu.


Bersambung...


__ADS_2