
Seorang suster datang membawa sarapan pagi untuk Lia. Demian segera meraihnya dan bermaksud menyuapi Lia.
"Makanlah. Aku suapi. Pasti sulit jika kau makan Dangan tangan kiri."Ucap Demian sambil menyodorkan sendok ke bibir Lia."
"Aku mau ke toilet dulu." Lia turun dari bed dan berusaha mengambil cairan infus yang menggantung di tiang infus.
Melihat Lia kesulitan, Demian berinisiatif membantunya.
”Lain kali mintalah bantuanku jika kau merasa kesulitan seperti ini." Ucap Demian.
Setelah mengambil kantong infus, Demian menggendong tubuh Lia hingga ia terkejut. Pandangan mata mereka saling bertemu dan seolah terkunci. Jantung Lia seakan berhenti berdetak. Bahkan tanpa Lia sadari Demian sudah menurunkannya tepat di depan pintu kamar mandi.
"Hei. Apa kau ingin aku menemani masuk ke dalam?"
Dengan gelagapan Lia menjawab "Ttt..tidak. Jangan macam-macam ya." Ancam Lia dengan melotot.
Demian tergelak. "Kau tenang saja. Aku tau batasanku. Lagi pula kenapa kau malah melamun di depan pintu? Makanya aku bertanya seperti itu."
"Ini juga mau masuk." Dengan langkah kaki terpincang pincang Lia melangkah memasuki kamar mandi. Kakinya masih sangat sakit jika menapak terlalu kuat di lantai.
Lima menit kemudian Lia membuka pintu, tapi ia hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Bisa panggilkan aku suster? Aku kesulitan membuka pakaianku. Please."
"Hmm, tunggulah. Akan ku panggilkan." Baru beberapa langkah berjalan, Demian kembali lagi dan berkata, " Tapi ini tidak gratis."
Lia mengerutkan keningnya. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kita bertukar nomor telepon." Demian tersenyum smirk. Sejak kemarin Lia selalu menolak ketika Demian meminta nomor ponselnya. Kini ia yakin dengan cara ini ia pasti berhasil.
Lia memutar bola matanya. "Ya ya ya. Kau menang."
Beberapa saat kemudian, seorang suster datang dan membantu Lia membersihkan diri. Setelah ia selesai dan kembali ke bed, ia tidak menemukan Demian di sana.
Ketika hendak membenarkan posisi duduknya, ia tidak sengaja melihat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
__ADS_1
Maaf aku pergi tanpa berpamitan. Aku baru saja mendapat kabar bahwa mommyku sedang sakit. Aku harus kembali ke Swiss dengan segera. ini nomor ponselku +41××××××××××. Segera hubungi aku. And one more, jangan lewatkan sarapanmu. ~Demian~
Begitulah isi pesan di dalam kertas itu. Entah mengapa ada rasa sedih yang menyelimuti hati Lia. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menggeleng-gelengkan kepalanya demi mengusir pikirannya tentang Demian.
Beberapa bulan berlalu. Roda kehidupan seorang Ava Celia kembali seperti semula. Ia sudah berada di kampung halamannya dan sibuk bekerja, bekerja dan bekerja.
Usaha kecil yang ia kelola perlahan mulai mengalami kemajuan. Bahkan kini ia memiliki dua orang karyawan untuk membantunya.
"Istirahatlah nak. Sejak pagi kau terlalu banyak bekerja. Biarkan anak-anak yang mengurus toko." Ucap Amira sang ibu.
Ia datang membawakan makan siang untuk Lia. Sudah seminggu ini Lia menyewa ruko yang lebih besar untuk menampung stok barang-barang jualannya. Rumahnya sudah tidak sanggup lagi menampung stok barang yang semakin banyak.
"Aku tidak apa-apa bu. Justru badanku terasa sakit jika hanya diam saja." Seulas senyum Lia tampilkan untuk meyakinkan ibunya bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kiara gimana Bu? Jadinya daftar SMA atau SMK?"
"Adikmu memilih SMK, mau ambil jurusan tata busana. Katanya biar bisa langsung kerja pas lulus nanti." Jawab Bu Amira sambil menata makan siang dari rantang yang ia bawa.
"Anak itu, padahal sudah tak bilangin lho bu. Sekolah yang pinter, jangan mikir kerja dulu. Aku maunya Kiara kuliah biar ndak susah kayak mbaknya."
Lia cengigiran mendengar ucapan ibunya yang memang fakta itu.
Setelah makan siang selesai, Lia menatap layar ponselnya. Ada keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Demian. Tapi ia urungkan.
Lia kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, demi mengusir pikirannya yang mungkin saja merupakan bentuk kerinduannya terhadap sosok Demian.
Sore harinya, Lia pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Jarak rumahnya ke ruko tidak terlalu jauh.
Sesampainya di halaman rumah, Kiara berlari menghampiri dirinya.
"Mbak, di dalam ada temannya mbak Lia. Kulitnya pucat kayak bule gitu?"
Lia sejenak berpikir, siapakah orang yang Kiara maksud. "Demian kah? Dari mana ia tau alamat rumah ini?" Senyum Lia mengembang. Ia setengah berlari demi mempercepat diri untuk sampai di ruang tamu.
"Surprise!!" Seru orang itu, yang ternyata adalah Arvan.
__ADS_1
Ada sedikit rasa kecewa ketika ternyata bukan Demian yang datang. Tapi ia juga senang karena Arvan datang mengunjunginya.
"Hei, Arvan. Bagaimana bisa kau kemari?" Ucap Lia sambil memeluk sahabat jauhnya.
"Bisa dong. Arvan." Jawab Arvan sambil membusungkan dada dan menepuknya beberapa kali.
"Kau tampak lebih baik sekarang. Pertahanakan senyummu itu. Jangan sampai kau bersedih lagi. Hidup terlalu indah untuk di sia siakan Van." Lia senang Arvan sudah mulai bisa menerima dirinya sendiri.
"Itu berkat dirimu. Terimakasih Lia. terimakasih untuk semuanya. Aku berhutang padamu."
"Kebahagiaan itu datang karena dirimu yang berbesar hati dan ikhlas, menerima kekurangan maupun kelebihan yang ada dalam dirimu Van. Dan itu berasal dari hati dan pikiranmu. Jadi, berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Itu baru benar." Ucap Lia panjang kali lebar hingga Arvan geleng-geleng kepala.
"Hahahaha. Kau cocok jika satu frame di acara talk show Merry Riana. Bicaramu sudah mirip motivator terkenal." Jawab Arvan sambil tertawa.
"Diminum dulu nak." Bu Amira datang membawa dua cangkir teh hangat dan beberapa camilan.
"Terimakasih Bu. Maaf jadi ngerepotin gini." Ucap Arvan.
" Ndak ngerepotin kok le. Mangga di minum." Ucap Bu Amira sambil menyodorkan jempol tangannya sebagai tanda untuk mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang di sediakan.
"Mangga? ini kan teh, bukan jus mangga." Jawab Arvan dengan waja bingung sekaligus celingukan demi mencari sosok jus mangga yang masih menjadi misteri.
"Hahahaha. Mangga itu artinya silahkan Van. Kalau tadi ibu manggil kamu le Itu artinya anak laki laki. berasal dari kata thole. Itu bahasa Jawa.
"Buk. Arvan ini orang Bali. Jadi ndak ngerti Jawa." Ucap Lia masih dengan tawanya.
" Oalah nak. Maaf ibu ndak tau."
Arvan malu bukan main. Bisa bisanya ia celingukan mencari jus mangga tadi.
"O iya. Aku ingin melanjutkan pendidikan di sini Lia. Bantuin cari kampus plus tempat kost ya." Ucap Arvan sambil menaik turunkan alisnya.
"Syukurlah. Pendidikan itu penting Van. selagi ada biaya jangan sampai meninggalkan bangku pendidikan. Kelak kau sendiri yang rugi." Ucap Lia sambil meraih secangkir teh di depannya. Lalu meneguknya pelan. Teh tanpa gula kesukaan Lia. Terasa begitu nikmat ketika melewati lidah dan tenggorokannya.
"Nanti aku temani cari kost nya." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
Bersambung...