Gadis Penakluk Luka

Gadis Penakluk Luka
Episode 13


__ADS_3

Seorang Dokter wanita memasuki ruang perawatan Lia. "Bisa saya berbicara dengan pihak keluarga nona Ava?" Tanya dokter kepada Demian.


"Saya keluarganya."Jawab Demian.


"Ada yang perlu sampaikan tuan. Mari ikut ke ruangan saya." Dokter berjalan menuju ruangannya dan Demian mengikutinya setelah berpamitan dengan Lia. "Aku akan bicara dengan dokter sebentar." Pamit Demian dan Lia mengangguk sebagai jawaban.


Sesampainya di ruangan yang di tuju, perasaan Demian sungguh tak enak. Ekspresi yang di perlihatkan dokter muda di depannya saat ini seolah menjelaskan ada hal buruk yang ingin dia sampaikan.


"Ada apa dokter? Apa terjadi sesuatu pada Lia?"


"Maafkan saya tuan, tapi saya akan menyampaikan kabar buruk. Kami mendapati penyakit lain di dalam tubuh nona Ava. Selain penyakit lupus, beliau juga mengidap leukimia. Dalam ilmu kedokteran, kasus seperti ini sangat minim untuk mendapatkan harapan hidup. Tapi usia seseorang tetaplah di tangan Tuhan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan nona Ava. Saya harap pihak keluarga memberikan dukungan dan selalu menjaga mood pasien. Mood yang bagus sangat mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang." Jelas dokter panjang lebar.


Demian terpaku di tempat duduknya.


"Lakukan yang terbaik untuknya. Aku akan membayar berapapun untuk kesembuhan nya." Dunia Demian seakan runtuh. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika melihat orang yang kita cintai terluka. Dan kali ini lebih dari hanya sekedar luka. Kekasihnya sedang di ambang nyawa.


Demian kembali ke ruang perawatan Lia. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu dulu tentang kondisi kesehatan Lia yang sebenarnya.


"Apa yang dokter katakan? Apakah penyakitku semakin parah? Tanya lia.


"Semua akan baik-baik saja sayang. Percayalah." Demian memeluk Lia dan berusaha menahan agar tangisnya tidak pecah. "Kau belum mengabari keluargamu jika kau batal pulang kan? Sekarang hubungilah mereka." Demian mengambil ponsel Lia lalu memberikannya kepada Lia.


"Apa yang harus ku katakan Demy? Aku tidak ingin mereka tau jika aku sedang di rawat. Mereka akan khawatir."


"Katakan jika kau sedang membantuku mengurus yayasan. Mereka pasti akan memakluminya karena kau seorang relawan kesehatan." Saran Demian.


"Kau benar." Senyum Lia mengembang. "Terimakasih sarannya Demy."


Lia menghubungi Kiara dan mengatakan jika ia menunda kepulangannya untuk beberapa hari karena misi kemanusiaan. Ia juga berbicara dengan ibunya melalui sambungan telepon. Tangisannya pecah ketika Kiara dan ibunya mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Hatinya bergetar hebat. 'Aku kangen ibuk.' Itulah kata yang mengawali Isak tangisnya. Kerinduan seorang anak kepada ibunya telah menjelma menjadi luka dan sayaatan yang menggores hati dan menyisakan rasa perih yang teramat dalam. Begitupun sebaliknya, di seberang telepon juga sayup terdengar isakan Amira karena memendam kerinduan yang begitu besar kepada putrinya.


***


Amira termenung dan memandangi sederet makanan favorit Lia yang sudah tertata rapi di meja. Sambil menyeka air matanya, ia mengenang kembali masa kecil Lia. Entah mengapa kali ini perasaannya tidak enak. Bukan karena kecewa sebab Lia tidak jadi pulang. Tapi ia seperti memiliki firasat bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja.


Kiara menghubungi Arumi bahwa Lia batal pulang hari ini dan menjelaskan alasannya. Tapi ia merasa ada yang janggal karena ini begitu mendadak.

__ADS_1


"Lia tidak jadi pulang Van." Ucap Arumi kepada Arvan yang kini sudah berpenampilan rapi karena akan menyambut kepulangan Lia.


"What?" Arvan terkejut mendengar apa yang di katakan Arumi. Kenapa? Bukankah saat terakhir kau menghubunginya dia sudah berada di bandara?"


"Katanya ada misi kemanusiaan yang harus ia selesaikan di yayasan milik Demian. Tapi aku merasa ada yang janggal. Ini begitu mendadak." Arumi mengutarakan kekhawatirannya kepada Arvan.


"Perlukah kita menyusulnya?" Tanya Arvan yang juga ikut mengkawatirkan Lia.


"Ya, kita harus menyusulnya. Perasaanku benar-benar tidak enak Van.


_Di kediaman Demian_


Demy menemui Clara dan menceritakan tentang apa yang di alami Lia. Ia butuh saran dan dukungan dari sang mommy.


Sebelumnya Demian menghubungi Nur dan memintanya datang ke rumah sakit untuk menjaga Lia selama ia pergi.


"Apa yang harus ku lakukan mom?" Demian menangis di pangkuan ibunya.


"Kuatlah sayang, yang perlu kau lakukan adalah mendampinginya dan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhannya." Clara membelai rambut putranya dengan lembut.


"Kau harus memberitahu keluarganya Demy. mereka berhak tau tentang kondisi Lia yang sebenarnya."


"Mommy yang akan mengatakannya langsung kepada mereka." Ucap Clara.


"Maksud mommy?"


"Mommy akan menemui mereka dan menjemput mereka kemari. Itu adalah keputusan yang terbaik Demy."


Demian kembali ke rumah sakit dengan membawa mini black forest untuk Lia. Ia baru mengetahui bahwa hari ini adalah hari jadi Lia setelah tadi mendengar obrolan Lia dengan keluarganya lewat telepon.


"Happy birthday my love." Ucap Demian ketika memasuki ruangan.


Lia tersenyum dan menerima kue pemberian Demy. "Terimakasih pangeran tampanku."


"Wait, apakah aku ketinggalan berita?" Ucap Nur ketika mendengar Lia menyebut Demian sebagai pangeran tampannya.

__ADS_1


"Kami baru saja jadian." Jawab Lia.


"Conratulations baby." Nur memeluk Lia dan memberinya selamat. "Ku rasa dia menjadi kado ulang tahun terindah dalam sejarahmu." Nur melirik ke arah Demian.


"Tentu saja." Demian menimpali. Dan Nur tertawa dengan jawaban Demian.


Demian menyalakan lilin di atas kue mini yang Lia pegang.


Lia bersiap meniup lilin, tapi Demian mencegahnya. "Make a wish dulu sebelum kau meniup lilinnya Lia."


Lia memejamkan mata beberapa saat lalu kembali membuka mata dan meniup lilinnya.


"Apa yang kau minta?" Tanya Demy penasaran.


"Aku tidak meminta apapun. Aku tau Tuhan sudah menggariskan yang terbaik untukku. Aku hanya berterima kasih kepada Nya atas segala nikmat dan kebahagiaan yang telah Ia berikan."


Demian terenyuh mendengar jawaban Lia yang di luar dugaannya. Lia masih bisa bersyukur dalam keadaan seperti ini. Dan itu membuat Demian semakin mengagumi sosok Ava Celia. Gadis penakluk luka.


"Kau bijak sekali Lia." Nur juga sangat mengagumi sosok Lia. Ia menilai Lia begitu bijak menyikapi segala sesuatu.


Lia memberikan potongan kue pertama kepada Demian.


Demian dengan antusias menerimanya. "Harusnya kau menyuapkan kuenya kepadaku honey. Kau sungguh tidak romantis." Protes Demian.


Nur tertawa mendengar ucapan Demian.


"Lia sangat pemalu Demy. Baiklah aku akan keluar. Aku tidak ingin menjadi pengganggu kalian." Nur mengerlingkan matanya kepada Lia.


"Itu keputusan yang sangat brilian Nur. Pergilah." Ucap Demian dengan senyum smirk nya.


"Apa yang kau katakan Nur? Tetaplah disini." Ucap Lia dengan wajah memerah karena malu.


"Aku harus kembali ke yayasan sayang. banyak yang harus ku kerjakan di sana." Nur mencium kedua pipi Lia dan berpamitan.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan Nur." Ucap Lia.

__ADS_1


"Terimakasih Nur, sudah menjaga Lia ku saat aku pergi." Demian mengantar Nur keluar.


Bersambung


__ADS_2