
Sudah hampir tiga bulan lamanya Lia menjadi penulis novel online. Tapi ia belum bisa mendapat penghasilan karena belum banyak yang membaca karyanya. Sedangkan dia butuh uang untuk menebus obat dan melakukan treatment untuk penyakitnya.
Lia merasa putus asa dan menyerah. Penyakit yang ia derita mulai mengikis mental dan rasa percaya dirinya.
Ia semakin frustasi karena wajah mulusnya kini mulai membengkak dan di penuhi ruam. Hingga akhirnya terbesit keinginan untuk mengakhiri hidupnya.
"Lia. Apa yang kau lakukan?" Arumi merebut pisau dapur yang hendak Lia gunakan untuk menyat urat nadinya. Dan membuangnya jauh ke sembarang arah.
Lia hanya terdiam tanpa menunjukkan reaksi apapun. Arumi merengkuh tubuh sahabatnya dengan perasaan berkecamuk. Andai saja dia terlambat datang sedetik saja, mungkin ia akan kehilangan sahabatnya untuk selama-lamanya.
"Jangan lakukan itu lagi. Mengerti?" Arumi menangkup pipi Lia dengan kedua tangannya.
"Aku sudah berakhir Ar. Lia yang dulu sudah lama mati. Di depanmu ini hanya sekedar raga. Tak ada lagi mimpi dan harapan di dalammya." Ucap Lia tampa ekspresi.
"Ada apa denganmu Lia? Kau gadis yang kuat. Tuhan memberikanmu sakit seperti ini karena kau gadis yang istimewa. Kau pasti bisa melewati semua ini. Yang perlu kau lakukan hanyalah mencintai dirimu sendiri. Percayalah, aku akan selalu berada di sampingmu." Arumi menangis sesenggukan melihat kondisi mental Lia saat ini.
"Untuk apa aku mencintai diriku? Apa yang bisa aku lakukan? Menunggu penyakit ini membunuhku secara perlahan? Lebih baik aku mempercepat kematianku agar aku tidak semakin tersiksa."
"Stop Lia. Jangan katakan itu lagi. Ibumu pasti sangat sedih jika kau mengakhiri hidupmu. Pikirkan perasaan keluargamu Lia. Pikirkan juga perasaanku. Kami sangat menyayangimu." Ucap Arumi dengan nada membentak.
"Kalau begitu katakan apa yang bisa ku lakukan Ar. Untuk bekerja saja ragaku tidak mampu. Bagaimana aku membiayai pengobatanku jika aku tidak bisa menghasilkan uang? Ibuku sudah terlalu banyak menderita. Aku tidak ingin menambah bebannya Lagi." Ucap Lia yang mulai bisa mengeluarkan bebannya kepada Arumi.
"Aku akan membantumu mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kondisimu saat ini. Tapi sebelum itu, ikutlah denganku." Arumi membawa Lia ke kota Mengunakan motornya. Ia berhenti di sebuah bangunan sederhana yang lumayan panjang. Terpampang tulisan 'Yayasan Peduli Kanker' di depan bangunan tersebut. Sebuah yayasan yang menampung anak-anak penderita kanker yang kesulitan dengan biaya pengobatan.
"Kau lihat mereka?" Arumi membawa Lia masuk ke lorong demi lorong bangunan itu. Banyak sekali anak yang terlihat tidak baik-baik saja. Beberapa dari mereka bahkan terlihat tidak memiliki rambut.
"Mereka masih anak-anak, tapi mereka harus memikul beban seberat ini. Tapi lihatlah semangat mereka. Kau tidak sendiri Lia." Arumi menepuk-nepuk bahu Lia dan terus menjejali nya dengan hal-hal positif, agar ia membuang jauh-jauh keinginannya untuk mengakhiri hidup.
Setelah itu Arumi kembali mengajak Lia ke suatu tempat. Tempat itu terlihat seperti gudang penyimpanan barang, dengan beberapa orang yang tengah sibuk merapikan tumpukan pakaian yang siap dikirim ke customer.
"Ini adalah tempat usaha milik sepupuku. Kau bisa menjadi reseller di sini. Yang kau lakukan hanyalah memposting barang-barang ini di media sosial dan market place. Jika ada pembeli, kau bisa mengambil barangnya dulu dan membayar setelah pembeli melakukan pembayarannya."
Lia terlihat berkaca-kaca. Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang begitu peduli dengannya.
__ADS_1
Setelah beberapa bulan menjadi reseller, Lia berhasil membuka toko online sendiri walaupun masih dalam skala kecil. Ia juga masih terus menulis novel dan sudah mendapat penghasilan dari sana. Setidaknya itu cukup untuk biaya pengobatannya.
Lia teringat dengan yayasan peduli kanker yang pernah ia kunjungi bersama Arumi beberapa bulan lalu. Tiba -tiba terbesit keinginan di benaknya untuk membuat sebuah yayasan peduli Autoimune. Tapi ia tak memiliki cukup biaya untuk merealisasikan keinginannya itu. Hingga akhirnya ia membuat group komunitas di jejaring sosial yang ia beri nama SURVIVOR.
Baru beberapa anggota yang bergabung di sana. Lia juga membuka donasi yang nantinya akan ia gunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
"Arumi, di dalam group kita ada yang memberikan informasi. Ada seseorang yang membutuhkan bantuan." Ada dorongan kuat dari hati Lia untuk membantu orang itu, meskipun dirinya juga tengah berjuang melawan penyakitnya.
"Dia seorang remaja. Dia terlahir sebagai seorang Albino. Dia putus asa dan kehilangan semangat hidupnya." Lanjutnya lagi.
"Sungguh malang. Dimana lokasinya?" Tanya Arumi.
"Di luar pulau. Lebih tepatnya di Bali."
"What? Bali? Kau sudah tidak waras Lia. Kau sedang sakit, dan kau akan pergi ke sana? Aku tidak setuju." Jawab Arumi dengan nada kesal.
"Aku baik-baik saja Ar, aku tidak bisa diam dan mengabaikan masalah ini. Aku seorang penyintas. Dan aku sangat mengerti penderitaannya."
"Titip ibu dan Kiara ya. Titip toko juga. Aku tidak akan lama."
"Hmm.." Jaga dirimu baik-baik.
Keesokan harinya Lia berangkat ke bandara di antar oleh Arumi. Mereka berpelukan cukup lama sebelum berpisah.
"Ingat, jangan sampai kau melupakan obatmu dan kembalilah secepatnya. Dan satu lagi. Kabari aku jika sudah sampai." Pesan dari Arumi.
"Iya iya. Do'akan aku ya."
Pesawat yang Lia tumpangi lepas landas dari bandara Adi Sumarmo ,dan mendarat di bandara Ngurah Rai. Setibanya di Denpasar, ia mengabari Arumi agar sahabatnya itu tidak terlalu khawatir.
Lia melanjutkan perjalanannya menuju alamat rumah seseorang yang memberi informasi di group SURVIVOR yang ia buat. Kali ini ia menggunakan taxi online.
"Maaf, Apa benar ini rumah Wayan Nila?" Tanya Lia kepada penghuni rumah tersebut.
__ADS_1
"Benar. Dengan saya sendiri."
"Anda yang memberikan informasi kepada saya melalui SURVIVOR?"
"Benar sekali. Kau lihat rumah itu?" Wayan Nila menunjuk sebuah rumah yang terletak persis di depan rumahnya.
"Itu rumah Arvan. Dia kehilangan semangat hidupnya. Tidak ada seorangpun yang bisa membujuknya.
Lia menuju rumah Arvan dan disambut hangat oleh kedua orang tuanya.
Arvan yang awalnya enggan di temui akhirnya mau keluar dari kamarnya setelah susah payah Lia membujuknya dari luar.
"Kau harus survive Arvan. Jangan sia-siakan masa mudamu. Berapa usiamu sekarang?"
"20." Jawab Arvan singkat.
"Kau berhasil melewatinya selama itu, dan kau akan menyerah?"
"Kau tidak tau apapun tentang diriku. Kau berbicara semudah itu karena kau tidak mengalaminya. Pergilah dan jangan ganggu aku." Jawab Arvan ketus.
"Aku merasakan apa yang kau rasakan Arvan. Aku sanggat tau posisimu saat ini. Karena aku juga berada di posisi sepertimu. Tapi ku rasa kau lebih beruntung dariku. Orang tuamu bisa membiayai perawatanmu tanpa kesulitan."
"Aku tau bagaimana rasanya saat kita memiliki banyak mimpi, tapi raga kita tak sejalan. Apa kau merasa takdir sedang mempermainkanmu?" Tanya Lia lagi.
"Takdir bukan hanya mempermainkanku, tapi juga membunuhku secara perlahan" Jawab Arvan tanpa menoleh kepada Lia.
"Itulah yang ku rasakan dulu, bahkan aku sudah meletakkan pisau dapur di nadiku. Aku sudah bersiap untuk menyayatnya waktu itu. Beruntung ada sahabatku yang menggagalkannya." Lia tersenyum kecut menginggat kebodohannya yang dulu.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Arvan yang akhirnya mau membuka diri.
"Aku sakit dan dokter mengatakan tidak ada obat yang bisa membebaskanku dari penyakit ini. Obat yang ku dapat selama ini hanya membuatnya membaik sesaat. Tapi aku sudah mulai menerima diri. Bahkan aku bisa menciptakan pekerjaan untuk diriku sendiri. Kau juga harus menemukan kembali semangat hidupmu. Itu akan membuatmu bahagia apapun keadaannya.
Bersambung...
__ADS_1