
"Arvan!!" Arumi berteriak ketika Arvan membalurkan tepung terigu ke wajahnya. "Awas kamu ya." Ancam Arumi sambil berusaha membalas perbuatan Arvan dengan hal yang sama. Tapi ia gagal karena Arvan berhasil menghindar.
"Eitts, nggak kena." Ledek Arvan.
"Cie cie mesra amat." Goda Kiara yang menyaksikan interaksi kedua sahabat yang sedang adu kejahilan masing-masing.
"Hahaha, lihat tuh Arumi, mukanya udah mirip ondel-ondel." Arvan terpingkal-pingkal melihat wajah Arumi yang penuh terigu karena ulahnya.
"Ya ampun, itu kenapa mukanya Arumi?" Tanya Bu Amira yang kaget dengan tampilan Arumi saat ini.
"Arvan tuh budhe. Jail banget. Make up aku jadi berantakan gini kan." Gerutu Arumi sambil berusaha menghapus tepung di wajahnya dengan lengan.
"Iya-iya maaf, sini aku bersihin." Arvan mengambil sapu tangan dari saku celananya dan membersihkan wajah Arumi.
Deg!
Dunia Arumi seakan berhenti berputar ketika tatapan mata mereka saling bertemu.
Jantung Arumi serasa mau loncat dan raganya seketika membeku.
Hatinya seakan mendesak untuk berkata 'Aku jatuh hati padamu Arvan.' Atau sekedar berkata 'Aku menyukaimu.' Tapi justru lidahnya terasa kelu. Batinnya tercabik dan terkoyak ketika hasrat cinta yang semestinya tersalurkan, tapi harus ia pendam dan ia kubur dalam-dalam. Karena sudah jelas dan gamblang bahwa wanita yang di cintai Arvan adalah Lia, sahabatnya sedari kecil. Sungguh sakit sekaligus menyakitkan.
"Woy! Malah bengong." Ucapan Arvan seketika membuatnya tergelagap.
"Biar aku yang membersihkan sendiri. Arumi menyambar sapu tangan dalam genggaman Arvan dan berlari menuju kamar mandi yang letaknya persis di sisi kanan dapur.
Arumi bersandar di pintu kamar mandi sambil mengatur nafas dan memegangi dadanya. Detak jantungnya masih terasa begitu kencang hingga ia beberapa kali harus menarik nafas dalam-dalam. Ia membasuh wajahnya setelah berhasil mengendalikan hati dan pikirannya. Lalu ia keluar dan bersikap seperti biasa.
Menjelang siang, Arumi dan Arvan berpamitan pulang untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, mereka akan menjemput Lia di bandara.
***
Di bandara internasional Zurich.
Setelah check in, Lia dan Demian sedang bersiap untuk melakukan boarding sebelum pesawat yang mereka tumpangi take off. Pihak maskapai menunda jadwal penerbangan selama satu jam dikarenakan cuaca buruk.
"Apa kau sedang tidak enak badan Lia? Tanya Demian kepada Lia ketika tiba-tiba Lia menghentikan langkahnya dan berpegang pada kursi.
Demian mendekat dan memegang kening Lia. "Badanmu dingin sekali."
"Aku baik-baik saja Demy."Jawab Lia dengan melanjutkan langkahnya.
"Kita akan memerlukan 28 jam perjalanan untuk sampai di Indonesia Lia. Jika kau merasa kurang sehat, sebaiknya kita tunda dulu kepergian kita."
__ADS_1
Dan benar saja, beberapa langkah kemudian Lia ambruk dan Demian dengan sigap menangkapnya.
"LIA." Teriak Demian karena panik sekaligus mencemaskan keadaan Lia.
Demian segera membawa Lia ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Demian selalu menggenggam erat tangan Lia, dan sesekali mengecupnya dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, Lia menjalani serangkaian pemeriksaan. Dan dokter mengatakan jika Lia harus di rawat karena mengalami peradangan pada ginjalnya. Dan kondisinya memburuk karena kelelahan.
Di ruang perawatan, Demian menemani Lia hingga ia tertidur di sisi tempat tidur pasien yang Lia tempati.
Beberapa saat kemudian Lia tersadar dan mendapati Demian tengah tertidur di sisinya. Ia tersenyum dan mengusap lembut tangan Demian yang masih menggenggam tangannya. Pergerakan itu membuat Demian terbangun.
"Kau sudah bangun sayang? Aku sangat mencemaskan dirimu." Ucap Demian dengan suara serak.
"Aku merasa jauh lebih baik. Maaf sudah merepotkanmu."
"Aku tidak pernah merasa di repotkan."Jawab Demian dengan senyum yang mengembang.
"Kau mau minum?" Tawar Demian.
Lia mengangguk sebagai jawaban.
"Minumlah." Demian membantu Lia duduk dan minum. Lalu membaringkannya lagi.
"Hampir lima jam. Lain kali katakan padaku jika kau merasa sakit. Jangan seperti tadi."
"Jika aku mengatakannya, kau pasti tidak akan membiarkan aku pulang." Lia masih mencoba menampilkan senyum dalam kondisinya yang begitu lemah.
" Tentu saja. Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada kau seperti ini. Harusnya kau lebih peka dengan kondisi kesehatanmu Lia "
"Iya iya maaf. Lain kali aku akan mengatakan jika aku kurang sehat. Senyumlah, kau jelek sekali jika seperti itu." Lia berusaha menghibur Demian yang tampak khawatir berlebihan.
Demian tersenyum lalu beranjak dari duduknya. Ia mencium kening Lia cukup lama. Lia memejamkan mata dan merasai cinta yang begitu besar untuknya. Cinta yang selama ini ia tepis jauh-jauh. Tapi naluri tidak bisa mengelak kehadirannya yang begitu nyata.
"I love you ." Bisik Demian tepat di telinga Lia.
Lia membuka mata dan menatap intens Demian. "Mengapa kau mencintaiku?"
"Tidak ada jawaban untuk pertanyaanmu itu, dan tak ada alasan mengapa aku begitu mencintaimu Lia. Yang aku tau aku sangat mencintaimu." Ucap Demian.
"Aku juga merasakan hal yang sama." Jawab Lia dengan terisak. Tangisnya pecah. Ia tak bisa menutupi perasaannya lagi. Ia bisa gila jika selalu menutupi perasaannya yang semakin hari semakin dalam.
Demian begitu terkejut mendengar ucapan Lia. Ini seperti mimpi baginya. Dream come true.
__ADS_1
"Apakah aku sedang bermimpi Lia? Katakan padaku jika ini benar benar nyata." Ucap Demian dengan begitu bahagianya hingga matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ini nyata Demy. Aku sedang mengungkap kan cintaku padamu." Ucap Lia dengan hidung kembang kempis karena Isak tangis.
Demian naik ke bed dan tidur di samping Lia. Ia memeluk erat tubuh ramping Lia dan menautkan keningnya.
"Demy. Apa kau mau membunuhku? Aku tidak bisa bernafas jika kau memelukku seerat ini."
Demian mengendurkan pelukannya. "Maaf. Aku hanya terlalu senang."
Mereka berpelukan cukup lama hingga tertidur hingga keesokan hari. Ada satu hal yang terlupakan, ia belum memberi kabar orang rumah jika dirinya batal pulang.
Pagi pagi sekali, dua orang perawat memasuki kamar perawatan Lia dan hendak melakukan pemeriksaan.
"Permisi, kami harus memeriksa pasien." Ucap seorang perawat dengan suara sedikit di keraskan agar Demian terbangun dari tidurnya.
Lia mengerjapkan mata dan melihat Demian masih tertidur pulas.
"Demy, bangunlah." Ucapnya dengan mengusap lembut pipi Demian beberapa kali.
Demian terbangun dan tersenyum begitu manis.
"Maaf tuan, kami harus memeriksa pasien." Perawat mengulangi ucapannya.
Demian mencium kening Lia sebelum turun dari bed. "Ya, silahkan suster."
Kedua perawat itu tersenyum melihat manisnya interaksi sepasang kekasih di depannya itu.
"Jam berapa dokter datang?" Tanya Demian.
"Sebentar lagi tuan, sebelum jam praktek."Jawab salah satu perawat yang kini sedang mengganti cairan infus Lia.
Setelah selesai melakukan tugasnya, kedua perawat itu keluar dari ruang perawatan Lia.
" Good morning my dear." Ucap Demian dengan wajah berbunga-bunga.
"Apaan sih." Jawab Lia tersipu malu.
Demian melihat pipi lia bersemu merah. "Hei, kenapa harus malu seperti itu. Bukankah kita sepasang kekasih?" Tanya Demian dengan jahilnya.
Lia mengambil bantal dan memukulkannya ke arah Demian. Tapi justru Demian tertawa karena menurutnya tingkah Lia yang seperti ini sangat lucu dan menghibur.
Bersambung ..
__ADS_1